NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persahabatan yang mulai goya

Ayah Aira selalu percaya bahwa emosi adalah kelemahan yang paling mahal.

Ia belajar itu sejak lama, jauh sebelum Aira lahir, bahkan sebelum ia tahu bagaimana rasanya dipanggil “Ayah”. Dunia tempat ia tumbuh tidak memberi ruang untuk ragu.

Yang bertahan adalah mereka yang tahu kapan harus diam, kapan harus menekan, dan kapan harus mengorbankan sesuatu yang dicintai demi sesuatu yang dianggap lebih besar.

Malam itu, ia duduk sendirian di ruang kerja.

Lampu meja menyala redup. Berkas-berkas tertata rapi. Tidak ada yang berantakan. Tidak ada yang salah tempat. Semua sesuai dengan caranya bekerja, hidup yang tertib adalah hidup yang bisa dikendalikan.

Ia membuka laci paling bawah. Mengambil sebuah map tua berwarna cokelat. Sudah lama tidak disentuh. Tapi malam ini, sesuatu di dada kirinya terasa tidak tenang.

Di dalam map itu, ada foto-foto lama. Hitam putih. Wajahnya sendiri, lebih muda, berdiri di depan bangunan yang belum selesai. Ada wajah Arum, istrinya, tersenyum kecil, ragu, seperti tahu kebahagiaan mereka tidak akan lama.

Ia menutup map itu kembali.

“Kesalahan terbesar manusia,” gumamnya pelan, “adalah mengira cinta cukup untuk bertahan.” tiba-tiba Pintu diketuk.

Ayah tidak menoleh. “Masuk.” ujar ayah

Arum berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, matanya lelah.

“Kamu terlalu keras pada Aira,” kata Arum tanpa basa-basi.

Ayah mendengus kecil. “Aku mendidiknya.”

“Kamu menekannya.”

“Tekanan membentuk berlian.”

“Dan juga menghancurkan yang rapuh,” balas Arum cepat.

Ayah akhirnya menoleh. Tatapannya dingin, tapi bukan marah, lebih seperti seseorang yang terlalu lama menahan sesuatu.

“Dia mulai berani melawan,” kata Ayah. “Itu bukan pertanda baik.”

“Atau justru pertanda dia mulai hidup.”

Ayah berdiri. “Hidup bukan tentang perasaan, Arum. Hidup tentang keberlanjutan.”

“Keberlanjutan siapa?” suara Arum bergetar. “Keluarga ini, atau egomu?”

Kalimat itu seperti pisau tipis.

Ayah melangkah mendekat. “Jangan menyederhanakan perjuanganku.”

“Aku tidak,” Arum menatapnya lurus. “Aku hanya tidak ingin anak kita tumbuh dengan luka yang sama sepertimu.”

Ayah terdiam.

Luka.

Kata itu berbahaya. Terlalu dekat.

“Kamu tidak tahu apa-apa tentang itu,” katanya akhirnya.

“Aku tahu,” balas Arum pelan. “Karena aku hidup bersamamu.” Seperti biasa Sunyi selalu menggantung percakapan mereka.

“Aira bertemu seseorang,” kata Ayah tiba-tiba.

Arum tersentak. “Kamu mengikutinya?”

“Aku melindunginya.”

“Dengan mengawasinya?”

“Dengan memastikan tidak ada orang yang merusak fokusnya.”

Arum menggeleng. “Kamu tidak pernah takut Aira hancur. Kamu hanya takut dia keluar dari kendalimu.”

Ayah menghela napas panjang. Untuk sesaat, pundaknya tampak berat.

“Aku tidak bisa kehilangan dia,” katanya pelan, nyaris seperti pengakuan.

Arum terdiam.

“Aku sudah kehilangan terlalu banyak,” lanjut Ayah. “Dan setiap kali aku membiarkan sesuatu berjalan tanpa kendali, aku membayar mahal.”

“Dan sekarang kamu menagihnya pada anakmu?” Ayah tidak menjawab.

Karena sebagian dirinya tahu, Arum benar.

...####...

Di tempat lain, di kamar kosnya yang sempit, Raka menatap layar ponsel tanpa benar-benar melihatnya.

status Instagram Aira terakhir masih terbuka.

Malam ini berat. Tapi tidak sendirian.

Kalimat itu pendek. Tidak menyebut nama. Tidak menjelaskan siapa yang menemani. Dan justru karena itulah Raka merasa dadanya sesak.

Ia membanting ponselnya ke kasur.

“Kenapa selalu begitu?” gumamnya.

Ia bangkit, mondar-mandir. Tangannya mengepal, lalu terbuka lagi. Ia ingin marah. Tapi tidak tahu pada siapa.

Pada Ayah Aira?

Atau Pada orang asing yang di sebutkan Aira?

Atau pada dirinya sendiri, karena terlalu lama memilih diam?

“Aku cuma teman,” katanya pada udara kosong. “Cuma teman.” Kalimat itu terasa seperti hukuman.

Raka duduk di lantai, bersandar ke ranjang. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku cuma ingin dia tidak sendirian,” bisiknya. “Itu saja.” Ujar Raka memastikan perasaan nya, Tapi hidup tidak pernah sesederhana niat.

...####...

Kembali ke rumah besar itu, Ayah Aira berdiri di depan jendela. Hujan turun lagi. Kota tampak buram dari balik kaca.

“Aira bukan milikmu,” kata Arum lembut tapi tegas.

Ayah tersenyum tipis. “Dia tanggung jawabku.”

“Tidak,” Arum mendekat. “Dia manusia. Dan manusia yang ditekan terlalu lama akan mencari jalan keluar. Entah dengan cara baik, entah dengan cara yang menghancurkan.”

Ayah menatap bayangannya sendiri di kaca.

“Aku hanya ingin dia aman.”

“Keamanan tanpa kebebasan bukan perlindungan,” balas Arum. “Itu penjara.”

Ayah memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri, tanpa suara:

Apakah aku membesarkannya untuk hidup… atau untuk patuh?

Pertanyaan itu lebih tajam dari pisau mana pun.

Dan malam itu, tanpa disadari siapa pun, retakan pertama benar-benar terbentuk.

Bukan di antara Aira dan Ayah.

Tapi di dalam diri Ayah sendiri.

Karena sajam paling berbahaya bukan yang diarahkan keluar, melainkan yang perlahan mengikis dari dalam.

...####...

Dua Minggu berlalu, Tidak ada yang benar-benar berubah di pagi itu.

Langit kampus masih sama. Bangku taman masih dingin. Deru motor mahasiswa masih bersahutan. Namun Aira merasakan sesuatu bergeser halus, nyaris tak terlihat, tapi cukup untuk membuat langkahnya ragu.

Ia tiba paling akhir di ruang diskusi kecil mereka.

Naya sudah di sana, duduk dengan tangan terlipat. Bima menyandarkan punggung ke dinding, memainkan pulpen. Raka berdiri di dekat jendela, membelakangi pintu.

“Maaf,” kata Aira singkat. “Aku terlambat.”

“Tidak apa-apa,” jawab Bima cepat. Terlalu cepat.

Naya tidak tersenyum.

“Kita mulai?” ujar Raka tanpa menoleh.

Aira duduk. Laptop dibuka. Catatan dibentangkan. Semuanya tampak normal, terlalu normal untuk suasana yang jelas tidak baik-baik saja.

“Proposal kita perlu direvisi,” kata Naya akhirnya. “Beberapa poin keberlanjutan masih lemah.”

“Aku sudah perbaiki itu,” sahut Aira. “Di draf terakhir.”

Naya menatapnya. “Draf terakhir yang kamu kirim ke aku… jam dua pagi?”

Aira terdiam. “Iya.”

“Kamu ke mana saja akhir-akhir ini?” tanya Naya, nada suaranya datar, tapi tajam.

“Aku”

“Bukan soal jamnya,” potong Naya. “Tapi soal kamu makin sering menghilang.”

Bima melirik Raka.

“Nay” panggil Aira

“Tidak,” Naya mengangkat tangan. “Aku capek pura-pura semuanya baik-baik saja.”

Aira menegakkan punggung. “Maksudmu apa?”

“Maksudku,” Naya menarik napas, “kamu berubah, Ra.”

Ruangan mendadak terasa sempit.

“Aku masih di sini,” balas Aira pelan. “Aku masih ngerjain proyek ini. Aku masih ikut rapat.”

“Tubuhmu, iya,” sahut Naya. “Tapi pikiranmu entah di mana.”

Raka akhirnya berbalik. “Kita fokus ke proyek dulu, ya?”

Naya menoleh padanya. “Justru ini soal proyek. Soal komitmen.”

Aira mengepalkan tangan di bawah meja. “Aku tidak pernah meninggalkan kalian.”

“Belum,” kata Naya. “Tapi kamu sudah berdiri di ambang pintu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang Aira duga.

“Apa aku harus izin setiap kali aku bernapas?” suara Aira mulai bergetar. “Apa aku tidak boleh punya urusan di luar kalian?”

“Boleh,” jawab Naya cepat. “Tapi jangan bawa urusan itu ke sini sampai kita semua ikut merasakannya.”

Bima menghela napas panjang. “Kita ini teman, bukan musuh.”

“Justru karena teman,” balas Naya. “Aku tidak mau kita hancur pelan-pelan karena semua orang memilih diam.”

Sunyi seakan memilih jatuh.

Raka melangkah maju setengah langkah. “Naya, cukup.”

Naya menatapnya tajam. “Kamu juga, Rak. Jangan berpura-pura netral.”

“Aku tidak”

“Kamu selalu membelanya,” kata Naya. “Apa pun yang dia lakukan.” Raka terdiam.

Aira menoleh cepat. “Apa maksudmu?”

Naya berdiri. “Kamu tidak sadar, Ra? Setiap kali kamu menghilang, Raka yang menutupinya. Setiap kali kamu terlambat, Raka yang mencari alasan. Seolah-olah kamu tidak pernah salah.”

“Itu tidak adil,” kata Raka akhirnya, suaranya rendah.

“Yang tidak adil adalah aku merasa seperti orang luar,” balas Naya. “Padahal ini juga proyekku.”

Aira bangkit dari kursinya. “Aku tidak pernah minta Raka melakukan itu.”

“Tapi kamu membiarkannya,” kata Naya. “Dan itu bedanya.”

Kalimat itu membuat Aira terdiam.

Karena di suatu sudut hatinya, ia tahu—Naya tidak sepenuhnya salah.

“Aku minta maaf,” kata Aira akhirnya. “Kalau aku membuat kalian merasa ditinggalkan.”

Naya menghela napas, bahunya turun sedikit. “Aku tidak mau minta maafmu. Aku mau kejujuranmu.”

Aira membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Ia tidak tahu harus mulai dari mana.

Dari Ayahnya?

Dari rumah yang menyesakkan?

Dari orang asing bernama Langit yang tiba-tiba mengerti tanpa bertanya?

“Aku lagi berantakan,” kata Aira pelan. “Dan aku tidak tahu cara menjelaskannya tanpa… membuka semuanya.”

Bima melunak. “Kita bisa pelan-pelan.” ujar Biman

Naya menatap Aira lama. “Aku harap kamu tidak lupa, Ra. Kita juga rumah. Jangan pergi tanpa pamit.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi bagi Aira, itu seperti peringatan.

...####...

Usai rapat, mereka keluar tanpa banyak bicara.

Raka menyusul Aira di lorong.

“Ra,” panggilnya.

Aira berhenti, tapi tidak menoleh. “Kalau kamu mau membelaku lagi, jangan.”

“Aku tidak mau membelamu,” jawab Raka.

“Aku mau jujur.”

Aira menoleh.

“Aku salah,” lanjut Raka. “Aku terlalu sering menutupimu. Bukan karena kamu lemah. Tapi karena aku takut kamu pergi.”

“Aku tidak pernah minta kamu takut,” kata Aira lirih.

“Aku tahu,” Raka tersenyum pahit.

Mereka berdiri saling berhadapan, menyisakan jarak satu langkah.

“Kalau suatu hari aku benar-benar pergi,” tanya Aira pelan, “kamu akan marah?”

Raka menatapnya lama. “Aku akan hancur.”

Aira menelan ludah. “Aku tidak ingin menyakiti siapa pun.”

“Tapi hidup bukan soal itu,” jawab Raka. “Hidup soal memilih luka mana yang sanggup kamu tanggung.” Aira memejamkan mata sejenak.

Di kejauhan, Naya dan Bima berjalan lebih dulu. Tidak menoleh. Tidak menunggu.

Retakan itu tidak besar.

Belum.

Tapi Aira tahu, retakan tidak butuh ukuran untuk menjadi berbahaya. Ia hanya butuh waktu.

Dan per

sahabatan mereka, yang selama ini menjadi tempat paling aman setelah rumah, kini berdiri di tepi yang rapuh.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!