Di kehidupan sebelumnya, Li Hua adalah wanita yang dihina, dikucilkan, dan dianggap "buruk rupa" oleh dunia. Ia mati dalam kesunyian tanpa pernah merasakan cinta. Namun, takdir berkata lain. Ia terbangun di tubuh seorang Ratu agung yang terkenal kejam namun memiliki kecantikan luar biasa, mengenakan jubah merah darah yang melambangkan kekuasaan mutlak.
Kini, dengan jiwa wanita yang pernah merasakan pahitnya dunia, ia harus menavigasi intrik istana yang mematikan. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa diinjak. Di balik kecantikan barunya, tersimpan kecerdasan dan tekad baja untuk membalas mereka yang pernah merendahkannya. Apakah merah jubahnya akan menjadi lambang kemuliaan, ataukah lambang pertumpahan darah di istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitrika Shanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Dinasti Cahaya
Tiga tahun telah berlalu sejak runtuhnya Menara Sunyi dan jatuhnya intrik Ibu Suri. Kerajaan Li tidak lagi dikenal sebagai negeri yang penuh dengan sekat antara bangsawan dan rakyat jelata. Di bawah kepemimpinan Kaisar Tian Long dan Permaisuri Li Hua, tembok-tembok tinggi istana seolah runtuh secara metaforis.
Li Hua, yang kini dikenal sebagai Ibu bagi Rakyat Miskin, telah mengubah paviliun-paviliun mewah yang dulunya kosong menjadi pusat pendidikan dan balai pengobatan cuma-cuma. Ia tidak lagi membutuhkan Mata Emas untuk memerintah; kebijaksanaannya lahir dari pengalaman hidupnya sendiri di jalanan.
Kemakmuran yang Merata
Kota Jing kini menjadi pusat perdagangan paling makmur di daratan. Tidak ada lagi anak-anak pengemis yang dibiarkan kelaparan di gang sempit. Setiap distrik memiliki lumbung pangan yang diawasi langsung oleh utusan Permaisuri.
Tian Long, yang kini tampil lebih hangat namun tetap berwibawa, sering terlihat turun ke sawah atau pasar bersama Li Hua tanpa pengawalan yang berlebihan. Rakyat tidak lagi bersujud karena takut, melainkan karena rasa hormat yang mendalam.
"Lihatlah mereka, Tian Long," bisik Li Hua suatu sore saat mereka berdiri di balkon istana yang telah direnovasi. "Mereka tidak lagi melihat kita sebagai dewa, tapi sebagai pelindung. Itulah kemenangan kita yang sebenarnya."
Tian Long memeluk pinggang istrinya dari belakang. "Kemenangan ini berawal dari keberanianmu untuk bangun dari kematian, Li Hua."Tiba-tiba Li Hua mengeluh pusing dan mual kepada kaisar Tian Long,ada apa?kau sakit permaisuriku?
Kaisar Tian Long menyuruh pengawal untuk memanggil tabib istana,cepattt ....
Kabar Bahagia dari Tabib Istana
Suasana istana yang tenang mendadak dipenuhi kegembiraan saat Tabib Agung mengumumkan kabar yang telah dinantikan oleh seluruh negeri. Li Hua mengandung, dan bukan hanya satu nyawa, melainkan dua janin yang sehat sedang tumbuh di rahimnya. Selamat yang Mulia,,yang mulia permaisuri sedang mengandung bayi nya kembar. Kaisar Tian Long sangat senang mendengarnya lalu memeluk permaisuri.
Berita tentang kehamilan kembar sang Permaisuri disambut dengan perayaan tujuh hari tujuh malam. Rakyat mengirimkan doa-doa terbaik mereka, membuktikan bahwa "kutukan" yang dulu dituduhkan pada Li Hua telah berubah menjadi berkah yang melimpah. Tubuh permaisuri agak lemah,Tabib meresepkan obat untuk rutin diminum permaisuri agar kandungannya kuat.
Kaisar menyuruh dapur istana untuk menyiapkan makanan yang enak-enak dan sup obat untuk disiapkan kepada permaisuri Li. Istirhatlah,saya harus ke ruang kerja dahulu. Permaisuri Li Hua mengangguk lalu beristirahat dikamarnya.
Malam Kelahiran: Dua Bintang Baru
Sembilan bulan kemudian, di bawah langit yang dipenuhi bintang jatuh, suara tangisan bayi kembar memecah kesunyian istana.
Bayi pertama adalah seorang laki-laki, yang diberi nama Tian Shu (Cahaya Surgawi), dan bayi kedua adalah seorang perempuan yang diberi nama Li Mei (Kecantikan yang Abadi). Ajaibnya, meski Li Hua sudah melepaskan kekuatan Mata Emasnya, kedua bayi itu lahir dengan mata yang sangat jernih dan berbinar, seolah membawa warisan kebijakan sang ibu dan keberanian sang ayah.
Kaisar Tian Long menggendong kedua anaknya dengan air mata kebahagiaan. "Mereka akan menjadi masa depan kerajaan ini. Mereka tidak akan mengenal kebencian yang kita lalui."
Pertemuan Terakhir dengan Masa Lalu
Beberapa hari setelah kelahiran, saat Li Hua sedang menggendong anak-anaknya di taman, ia merasakan hembusan angin yang sangat akrab. Di bawah pohon plum yang sedang mekar, ia melihat bayangan transparan Mo Ran dan Xuan yang asli.
Mereka tidak lagi tampak penuh amarah atau luka. Mereka tersenyum damai.
"Kau telah menyelesaikan tugasmu dengan indah, Li Hua," suara Mo Ran terngiang di telinganya. "Cermin itu kini telah menjadi bagian dari sejarah, dan kau telah menulis takdir baru."
Xuan mengangguk, seolah memberikan restu terakhirnya pada raga yang kini telah menjadi milik Li Hua sepenuhnya. Bayangan mereka perlahan memudar, menyatu dengan kelopak bunga yang jatuh.