Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
POV Ardan.
Ardan tidak pernah menyangka, bahwa yang paling sulit setelah bercerai bukanlah kesepian. Melainkan sunyi yang tidak bisa dijelaskan.
Ia pernah hidup dengan banyak suara, rapat, proyek, target, angka. Semua itu datang bersamaan dengan keberhasilannya. Nama Ardan kini dikenal. Uang tidak lagi menjadi soal. Pintu terbuka di mana-mana. Wanita pun begitu.
Tapi setiap kali ada yang mendekat, ada satu hal yang selalu sama: ia tidak betah. Bukan karena mereka kurang cantik, bukan karena tidak cerdas. Justru sebaliknya. Mereka terlalu berusaha mengisi ruang yang dulu ia kosongkan sendiri.
Ardan selalu mengakhiri semuanya dengan alasan yang rapi, tidak cocok terlalu cepat dan belum siap, hingga sampai saat ini ia masih sendiri.
Ia tidak tahu cara tinggal di dalam kehangatan. Dulu, ia mengira rumahnya dingin karena Nara terlalu diam, tenang, dan tidak banyak menuntut. Namun sekarang ia tahu, dingin itu berasal dari dirinya, ia sendiri yang merasa tidak tenang jika diperhatikan, dan menganggap semua perhatian Nara berlebihan.
Ia pulang ke kamar penginapan malam itu dengan langkah pelan. Jas ia gantung sembarangan. Lampu hanya ia nyalakan satu. Duduk di tepi ranjang, punggungnya sedikit membungkuk.
Ia mengusap kepalanya dengan kasar, di saat hati mulai mengingat wajah wanita itu, bagaimana ia menunggu, menyiapkan sarapan, menyiapkan piyama, semuanya itu menjadi penyesalannya hingga 9 tahun ini, bahkan untuk mendekat dengan lawan jenis pun sangat susah, karena masalalu yang menjadi satu alasan ia jadi pelaku bukan korban.
"Nara ... dia ada ... dia punya anak," ucapnya dengan nada bergetar.
Pikirannya tidak ke mana-mana. Tapi berhenti di satu titik. Seorang anak, caranya berjalan yang teratur, bicara sopan layaknya orang dewasa, dan menunduk kecil sebelum pamit.
Dan ketika tahu siapa ibunya, air matanya keluar satu tetes, anak itu terlihat berwibawa, karena ada di tangan yang tepat, ada ditangan ibu yang penuh kasih dan cinta.
"Maafkan aku yang sudah menaruh luka, dulu aku pikir akan bisa tenang setelah kita berpisah," ucapnya sambil tersenyum getir. "Ternyata tidak, hidupku hambar." Tangannya langsung mengusap air mata yang mengalir di pipinya.
Ardan menutup mata. Ia membayangkan puing-puing ingatan masa lalu yang tidak pernah ia rawat. Makan malam tanpa percakapan panjang. Pagi tanpa pertengkaran. Istri yang tidak banyak meminta. Ia dulu menyebut itu hambar.
Tapi kini ia sadar, itu bukan hambar. Itu damai, dan ia tidak tahu cara menjaganya. tangannya mengepal pelan.
“Aku sing nggawe adhem kuwi,” gumamnya lirih.
(Aku yang membuat semua itu dingin.)
Ia tidak menyesali perpisahan, namun ia menyesali ketidakdewasaan dirinya saat itu.
Ardan bangkit, berdiri di depan jendela. Desa Bunga terbentang tenang. Tidak memamerkan apa-apa. Tidak berisik.
Dan di desa ini, entah kenapa, ia merasa seperti orang yang datang terlambat, tidak untuk seseorang ataupun cinta, tapi untuk kesadaran, dan entah kenapa ia seperti merasa terlambat, meskipun ia belum memastikan, anak siapa bocah laki-laki itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya, mentari sudah bersinar, di atas ranjangnya seorang pria sedang berdiri menatap indahnya pemandangan di pagi hari melalui jendela kamar inapnya, Arsan tersenyum masam.seolah tidak ingin menyapa dunia yang menurutnya terlalu rumit, dan berada di dalam posisi sulit.
"Ah, kenapa tidak ku cari sedari dulu," pikirnya dengan tatapan yang menghunus, kontrak dengan cahaya pagi yang menghangatkan.
Ardan tidak langsung melakukan apa pun setelah pagi pertemuan itu. Ia belajar dari dirinya sendiri, bahwa setiap langkah tergesa selalu berakhir dengan kehilangan. Maka kali ini, ia memilih diam.
Desa bunga itu tidak besar. Orang-orang saling mengenal, tapi juga tahu kapan harus tidak ikut campur. Ardan memanfaatkan satu hal yang selalu ia kuasai: cara bertanya tanpa terlihat bertanya.
Ia melangkah ke kamar mandi, dan beberapa menit kemudian, ia sudah berganti dengan kemeja rapih lalu siap melangkah ke luar penginapan.
Ia berhenti di warung kopi dekat pasar, duduk di bangku kayu yang menghadap jalan utama. Namun beberapa detik kemudian ia sengaja menundukkan pandangannya karena, ada seseorang yang lewat, siapa lagi kalau bukan ibu dan anak seperti kemarin. Untuk kali ini ia tidak berusaha menyapa, namun mencoba menggali dari sumber lain.
Kopi hitamnya hampir dingin ketika ia membuka percakapan ringan.
“Sekolah di sini ramainya pagi, ya?” katanya santai.
Pemilik warung mengangguk. “Iya, apalagi anak-anak SD. Jam segitu rame.”
Ardan mengangguk pelan. “Yang tadi lewat sama ibunya… anak laki-laki. Namanya siapa ya?”
Tidak ada tekanan di suaranya. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan. Seolah pertanyaan itu bisa ditarik kembali kapan saja.
“Arbani,” jawab si bapak warung tanpa curiga. “Anak Albi.”
Ardan mengaduk kopinya sekali. Nama itu terlalu familiar, seketika ia teringat masa SMA dan kuliah, di mana ia tahu lelaki itu memang sangat dekat dengan Nara pada waktu itu.
“Albi?” ulangnya, memastikan.
“Iya. Orang ladang. Tapi dulu ia sempat sekolah dan kuliah di kota, tapi ujung-ujungnya tetap jadi petani," ujarnya seolah merasa sayang, dengan pendidikan yang sudah ditempuh.
Ardan tidak bertanya lebih jauh. Ia tahu batas. Terlalu banyak pertanyaan akan menyalakan lampu waspada, namun kalimat barusan membuatnya yakin jika Albi yang ia pikir memang itu.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Hari-hari berikutnya, Ardan memilih mengamati dari jauh. Ia mencatat hal-hal yang perlu ia ketahui bukan lebih.
Ia tahu kapan Nara pergi ke pasar. Ia tahu jam Arbani pulang sekolah. Ia tahu ladang mana yang paling sering didatangi Albi. Bukan karena ia mengintai, melainkan karena desa itu berjalan dengan pola yang bisa dibaca oleh orang yang mau diam.
Dari pengamatan itu, satu kesimpulan muncul dengan jelas dibenaknya.
Nara hidup tenang. Tidak berlebih, tidak kekurangan. Tidak ada tanda seseorang yang menunggu masa lalu kembali. Hidupnya berjalan teratur, seperlunya, tanpa ruang kosong yang menganga.
Ardan melihatnya suatu sore, membantu seorang ibu tua menata bunga. Geraknya cekatan. Tidak tergesa, tidak canggung. Ia tahu apa yang harus dilakukan, lalu selesai.
Itu cukup bagi Ardan untuk berhenti menafsir lebih jauh.
Sementara tentang Arbani, Ardan mencatat hal lain. Anak itu tenang. Tidak banyak bicara, tetapi selalu memperhatikan.
Cara anak itu menatap, berdiri dan berjalan, semuanya ada di dalam dirinya waktu kecil, namun satu perkataan pun tidak berani ia simpulkan.
Untuk saat ini ia masih belum tahu siapa Arbani, namun catatan kecil itu sudan cukup mengantongi bukti, hanya saja hatinya belum sanggup untuk menerima semua kenyataan.
"Tidak ... Ini tidak mungkin," tolaknya.
Tapi saat ia memperhatikan wajah itu dari kejauhan, tak sedikitpun ia ragu dengan kemiripan itu.
Bersambung ....
Sore semoga suka ya