Di balik senyumnya yang lembut dan rumah tangga yang terlihat harmonis, Kiandra menyimpan luka yang tak kasat mata. Lima tahun menikah, pengorbanan dan cintanya pada Adam Mahendra, suaminya, seakan tak berarti.
Nadira, wanita manipulatif yang datang dengan sejuta topeng manis dan ambisi untuk merebut apa yang bukan miliknya.
Awalnya Kiandra memilih diam, berharap badai akan berlalu. Namun ketika suaminya mulai berubah, ketika rumah yang dibangunnya dengan cinta hampir runtuh oleh kebohongan, Kiandra sadar diam bukan lagi pilihan.
Dengan hati yang patah namun tekad yang utuh, Kiandra memulai perjuangannya. Bukan hanya melawan Gundik yang licik, tapi juga melawan rasa sakit yang suaminya berikan.
Di tengah air mata dan pengkhianatan, ia menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Harga diri, dan cinta yang layak di perjuangkan.
Kiandra kembali membangun karirnya, membuat gundik suaminya semakin tidak setara dalam segala hal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Pukul enam sore tepat, Adam akhirnya menghentikan pekerjaannya. Tatapannya terpaku pada layar laptop yang baru saja dia matikan. Tak lupa tumpukan dokumen di atas meja juga dia rapihkan, disusunnya kembali sesuai urutan, lalu diletakkan rapi di sisi meja. Ruangan yang sejak pagi dipenuhi ketegangan rapat dan angka-angka kini kembali sunyi, hanya menyisakan cahaya lampu temaram yang memantul di dinding kaca.
Adam bangkit dari kursi kebesarannya. Ia meraih jas yang tersampir di sandaran kursi, mengenakannya dengan sekali kibasan. Posturnya tegap, wajahnya tetap datar, menyimpan banyak hal yang sulit ditebak.
Dengan langkah mantap, ia berjalan keluar dari ruangannya, melewati lorong panjang perusahaan yang mulai sepi. Beberapa karyawan yang masih lembur menundukkan kepala hormat saat ia melintas, namun Adam hanya membalas dengan anggukan singkat.
Lift membawanya turun menuju lobi. Pintu lift terbuka perlahan, memperlihatkan area lobi perusahaan yang luas dan megah. Di depan pintu utama, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Pandu berdiri di sampingnya, sigap membuka pintu belakang begitu Adam mendekat.
Adam masuk ke dalam mobil tanpa banyak bicara. Pandu segera menutup pintu dan mengambil posisi di balik kemudi.
Mesin mobil dinyalakan, lalu kendaraan itu melaju perlahan meninggalkan halaman perusahaan, menyatu dengan arus lalu lintas Jakarta yang mulai padat oleh kendaraan pulang kerja. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke kaca mobil yang gelap.
Perjalanan berlangsung dalam keheningan. Adam memandang keluar jendela, menatap gedung-gedung tinggi yang berderet, pikirannya melayang pada seseorang yang akan temui sebentar lagi. Tak lama kemudian, mobil memasuki kawasan pusat kota. Sebuah restoran eksklusif berdiri anggun di sana, dengan pencahayaan hangat dan suasana yang tampak tenang, kontras dengan hiruk pikuk jalanan di sekitarnya.
Mobil berhenti tepat di depan pintu restoran.
Adam membuka pintu, lalu menoleh sedikit ke arah Pandu.
“Kau pergilah, nanti aku kabari lagi,” kata Adam dengan nada datar namun tegas.
“Baik, Tuan,” jawab Pandu hormat.
Adam melangkah keluar dari mobil, jasnya dirapikan sekali lagi sebelum ia berjalan masuk ke dalam restoran. Aroma masakan yang khas langsung menyambutnya, berpadu dengan alunan musik lembut yang mengisi ruangan.
Seorang pelayan menghampirinya dengan senyum profesional, lalu mempersilakannya mengikuti langkahnya.
Mereka melewati beberapa meja yang masih terisi pengunjung, hingga akhirnya berhenti di depan sebuah pintu kayu dengan ukiran sederhana.
Ceklek....
Pelayan itu membukakan pintu, memperlihatkan sebuah private room yang sepi dan tertutup dari keramaian. Tidak ada pengunjung lain di dalamnya, hanya sebuah meja yang telah tertata rapi, seolah memang sengaja dipersiapkan untuk Adam.
Adam melangkah masuk ke ruangan itu, pintu kembali tertutup di belakangnya, meninggalkan suasana sunyi yang sarat akan sesuatu yang akan segera terjadi.
Tak lama kemudian, pintu private room itu terbuka perlahan. Sosok seorang perempuan cantik melangkah masuk dengan anggun. Gaun yang dikenakannya membalut tubuhnya dengan sempurna, sementara rambutnya tergerai rapi di bahu. Kehadirannya seketika mengubah suasana ruangan.
Adam yang sedari tadi sibuk menatap layar ponselnya langsung mengangkat kepala. Fokusnya teralihkan sepenuhnya ketika matanya menangkap sosok perempuan itu. Sudut bibirnya terangkat, senyum tipis namun penuh arti terukir jelas di wajahnya. Ia segera meletakkan ponsel di atas meja dan bangkit dari duduknya.
“Baby, aku merindukanmu,” ucap Adam hangat sambil melangkah mendekat. Tangannya langsung merengkuh tubuh perempuan itu, memeluknya dengan penuh rasa memiliki.
“Aku juga merindukanmu,” jawab Nayla dengan suara lembut, tubuhnya melekat tanpa penolakan. “Terlebih dengan sentuhanmu itu,” lanjutnya sambil menghembuskan napas manja di dekat telinga Adam.
Adam tersenyum semakin lebar. Ia mendekatkan wajahnya, lalu dengan nada menggoda berbisik, “Jangan menggodaku, baby,” ucapnya pelan. Ia menggigit ringan cuping telinga Nayla, sebuah kebiasaan kecil yang selalu berhasil membuat wanita itu bereaksi.
“Ah… sayang, sakit,” rengek Nayla manja, meski dari raut wajahnya jelas terlihat ia menikmatinya.
Adam terkekeh pelan. Ia kemudian melepaskan pelukannya, menatap Nayla dengan sorot mata penuh kepuasan sebelum melangkah mundur sedikit. Suasana di antara mereka terasa akrab, seolah tidak ada jarak dan batasan.
Faktanya, Adam tidak benar-benar lembur seperti yang selama ini ia katakan. Di balik kesibukannya sebagai pria berpengaruh, ada sisi lain yang ia sembunyikan rapi. Dan perempuan yang kini duduk di hadapannya tersenyum manis sambil menatapnya penuh harap.
Sosok wanita tersebut adalah Nayla Amira, sudah tiga tahun ini namanya mulai di kenal di dunia modeling. Wajah cantiknya sering terpampang di billboard kota, langkahnya anggun, pembawaannya penuh percaya diri. Banyak yang mengagumi sosoknya, bukan hanya karena paras rupawannya, tetapi juga karena ambisinya yang begitu kuat.
Dunia gemerlap membuatnya terbiasa dikelilingi pujian, sorotan kamera, dan kesempatan-kesempatan besar. Dari situlah ia mulai terlibat dalam berbagai proyek besar, terutama proyek promosi produk dari perusahaan yang ingin dia promosikan.
Di situlah namanya semakin naik. Tidak sedikit pekerjaan yang mempertemukannya dengan Adam, CEO sekaligus pemilik perusahaan yang memproduksi produk-produk yang kini ia promosikan.
Adam dikenal ramah, santun, dan mudah bergaul dengan siapa pun. Senyum simpelnya bisa membuat siapa saja merasa dihargai. Namun keramahannya itu juga sering disalahartikan, terutama oleh mereka yang mudah terlena.
Dan di antara semua orang yang salah paham, ada satu yang paling berani mengambil langkah lebih jauh, yaitu Nayla.
Awalnya hanya tatapan kecil, pujian singkat, atau kesempatan ngobrol ketika sesi pemotretan selesai. Namun seiring waktu, perhatian itu berubah menjadi kedekatan yang tidak seharusnya ada.
Nayla bukan tipe perempuan yang ragu. Ia terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan saat ia melihat Adam yang mapan, berwibawa, perhatian, dia melihat peluang, bukan batasan.
Ia tahu Adam sudah menikah dan memilki seorang anak. Ia tahu ada seorang istri sah yang telah berdiri disamping laki-laki itu sejak sebelum keduanya sukses. Tapi bagi Nayla, itu bukan halangan, melainkan tantangan.
Yang terpenting baginya hanya satu, tujuannya tercapai.
Mendapatkan laki-laki yang bisa mengangkat derajatnya lebih tinggi lagi. Mendapatkan kehidupan stabil, uang, kekuasaan, dan posisi terhormat.
Cinta? Bukan itu yang dia kejar. Yang dia cari adalah nama dan kekuasaan. Dan Adam, laki-laki beristri itu adalah target paling berharga yang pernah ia bidik.
Seiring kedekatannya dengan Adam semakin intens, Nayla mulai menunjukkan sikap yang lebih berani. Pesan singkat yang dulu hanya sekadar basa-basi tentang pekerjaan, kini berubah menjadi perhatian pribadi. Ucapan selamat pagi, pengingat makan siang, hingga kalimat manis yang hanya pantas dibaca oleh sepasang kekasih, bukan dua orang yang terikat janji dengan orang lain.
Dan setiap langkah yang ia ambil, bukan tanpa restu.Justru kedua orang tuanya berdiri tepat di belakangnya, menjadi pendorong dan sekaligus penentu arah.
Rumah Nayla bukan tempat yang dipenuhi kasih sayang, melainkan ambisi. Aria, Ibu Nayla pernah berkata dengan penuh keyakinan, “Perempuan itu harus pintar memilih laki-laki. Laki-laki kaya bukan sekadar pasangan, tapi investasi masa depan.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Nayla setiap kali ia memandang Adam.