NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)

Jiwa Yang Kembali (Replay 2004)

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romantis / Time Travel / Mantan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rita Sri Rosita

Raisa Swandi harus menghadapi kenyataan di gugat cerai suaminya Darma Wibisono, 11 tahun pernikahan mereka sirna begitu saja. Dia harus menerima kenyataan Darma yang dulu sangat mencintainya kini membuangnya seperti sampah. Tragedi bertubi-tubi datang dalam hudupnya belum sembuh Raisa dari trauma KDRT yang dialami dia harus kehilangan anak semata wayangnya Adam yang merupakan penyandang autis, Raisa yang putus asa kemudian mencoba bunuh diri locat dari jembatan. Tubuhnya terjatuh ke dalam sungai tiba-tiba saja fazel-fazel ingatan dari masalalu terlintas. Sampai dia terbangun di kosannya yang dulu dia tempati saat masih Kuliah di Bandung di tahun 2004

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penguntit

Raisa menyusuri jalanan di sekitar kos Digta. Pagi masih buta, embun masih menempel di dedaunan, dan lampu-lampu jalan belum sepenuhnya padam. Entah dorongan apa yang membawanya ke sana, tapi kakinya terus melangkah.

"Astaga, apa yang sedang aku lakukan?" bisik Raisa pada dirinya sendiri. Ia merasa aneh, sangat aneh. 

"Tapi... aku ingin bertemu Digta. Aku penasaran, apa yang sedang dia lakukan?"

Gadis itu berbicara dalam hati, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini bukan ide yang buruk. 

Ia mengenakan hoodie abu-abu dan kacamata hitam besar, berusaha menyamarkan diri. Penampilannya seperti seseorang yang hendak jogging pagi.

"Ah, sudahlah! Bodo amat!" ucapnya pelan, namun penuh tekad. "Yang penting, aku ingin melihat Digta. Aku tidak mau melewatkan sedetik pun tanpa melihatnya."

Tanpa terasa, Raisa sudah cukup lama berdiri di depan pagar kos Digta. Ia mulai celingukan, memperhatikan situasi di sekitarnya dari balik sela-sela pagar. Jantungnya berdegup kencang.

"Jangan sampai Digta tahu," bisiknya. "Kalau sampai dia tahu, dia pasti menganggapku orang gila." Padahal, dengan melakukan ini saja, ia sudah terlihat seperti orang aneh.

Tiba-tiba, pintu gerbang terbuka. Raisa terkejut dan langsung berlari kecil menjauh, mencari tempat bersembunyi.

Seorang pria paruh baya keluar dari kosan sambil membawa beberapa kantong plastik besar. Sepertinya, ia sedang membuang sampah.

"Hmm, sepertinya ini pemilik kosan," gumam Raisa dalam hati, merasa yakin. Ia terus memperhatikan pria itu diam-diam. Tak lama kemudian, pria itu hendak kembali masuk ke dalam kosan.

Raisa bergerak cepat menghampiri pria itu. "Eugh!" Pria itu sedikit kaget melihat Raisa tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Permisi, Pak," kata Raisa, berusaha bersikap sopan.

"Iya, Dek," sahut pria itu sambil menatap Raisa dengan tatapan menyelidik.

"Ini... kosan untuk...?" Raisa menggantungkan kalimatnya. Tenggorokannya tiba-tiba tercekat. Ia gugup.

Pria itu tersenyum, seolah mengerti apa yang ingin Raisa tanyakan. "Kebanyakan sih laki-laki, tapi perempuan juga ada."

"Oh, campur?" tanya Raisa, tampak antusias.

"Iya, Dek," jawab pria itu singkat.

Tiba-tiba saja, sebuah ide gila muncul di kepala Raisa. "Masih ada kamar yang kosong, nggak, Pak?" Ia menanyakan hal itu dengan percaya diri, padahal ia tidak punya uang sama sekali.

"Ada, Dek. Kebetulan kamar nomor 5 baru saja kosong. Yang menempati baru wisuda, jadi tidak diteruskan ngekosnya," jawab pria itu.

Wajah Raisa tampak sumringah. Kesempatan untuk bisa selalu dekat dengan Digta sudah di depan mata. "Wah, kebetulan sekali!" serunya semangat.

"Adek lagi cari kosan?" tanya pria itu. Raisa mengangguk cepat sambil tersenyum lebar.

"Adek mau lihat?"

"Iya, Pak. Kalau boleh," sahut Raisa, masih terlihat sangat antusias.

"Ya, boleh dong, Dek," kata pria itu sambil tertawa kecil. Kemudian, ia membuka pagar dan mempersilakan Raisa masuk. Mereka pun berjalan beriringan.

"Yang ngekos di sini kebanyakan anak UTB. Adek anak UTB juga?" tanya pria itu sambil terus berjalan. Raisa menggeleng cepat.

"Adek kuliah atau kerja?"

"Kuliah, Pak."

"Kuliah di mana, Dek?"

"Di UPAS, Pak."

"Lho, jauh, Dek," sahut pria itu, tampak terkejut.

"Saya lagi mau cari suasana baru, Pak," sahut Raisa sambil tersenyum menatap pria itu.

Akhirnya, mereka sampai di depan sebuah kamar. Di pintu kamar itu terpasang sebuah nomor: 5. Raisa tak sengaja melirik ke arah rak sepatu di depan kamar sebelah. Ia melihat helm yang pernah ia lihat beberapa hari yang lalu.

"Sepertinya itu kamar Digta," ucap Raisa dalam hati, sedikit syok. Walaupun waktu itu ia hanya menunggu di luar pagar, ia yakin kalau helm yang disimpan di rak sepatu itu milik Digta.

"Kita bersebelahan," Raisa tampak sumringah. Senyumnya terlihat licik.

Pria itu membuka kunci kamar nomor 5. "Silakan, Dek," ia mempersilakan Raisa masuk untuk melihat-lihat kamar itu.

Raisa mulai mengamati setiap sudut ruangan, tak lupa ia memeriksa kamar mandi. "Saya sih cocok, Pak," ungkap Raisa. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah bisa melihat Digta setiap hari.

"Sebulan berapa, Pak?" tanya Raisa.

"700 ribu, Dek," jawab pria itu singkat.

"Haaah?!" Raisa tampak terkejut. "Uang jajan aku saja cuma 1 juta sebulan," Raisa membatin dalam hati.

"Gimana, Dek, mau ambil?" tanya pria itu lagi.

"Ehh... jadi, Pak," jawab Raisa ragu. "Tapi, aku baru masuk bulan depan, Pak," sambungnya.

"Boleh, Dek, tapi DP dulu ya," ungkap pria itu.

Raisa tampak berpikir sejenak. "200 ribu dulu boleh, Pak?" Raisa tampak ragu menanyakan hal itu.

"Boleh, tapi masuk langsung bayar ya," kata pria itu mengingatkan.

"Ooh, iya, Pak," sahut Raisa sambil mengeluarkan uang dari saku celananya.

"Uangnya Bapak terima ya, Dek. Nanti kwitansinya Bapak ambil dulu di rumah," sambung pria itu sambil beranjak.

"Iya, Pak."

"Nama Adek siapa?" tanya pria itu lagi.

"Raisa, Pak."

"Kalau saya Pak Haji Asep, kebetulan saya yang punya kosan," Pak Haji Asep mulai menjelaskan siapa dirinya.

"Ooh, terima kasih, Pak Haji. Nanti kalau sudah mau pindah, saya SMS atau telepon Pak Haji," ungkap Raisa meyakinkan.

Setelah itu, mereka bertukar nomor telepon.

"Dek, tunggu ya," Pak Haji Asep meminta Raisa untuk menunggu di depan kamar. Ia mengunci kamar itu. "Bapak rumahnya di depan sana, Dek."

"Ooh, iya, Pak."

Kemudian, Pak Haji Asep, sang pemilik kosan, pergi untuk mengambil kwitansi untuk Raisa.

Tiba-tiba saja, Digta keluar dari kamarnya. Raisa reflek berjongkok, pura-pura membetulkan tali sepatunya.

"Digta, sehat?" sapa pemilik kosan itu.

"Sehat, Pak," Digta menghampiri pemilik kosan itu kemudian mencium tangannya.

"Mau berangkat kuliah?"

"Iya, Pak," kata Digta seraya tersenyum.

"Ini ada penghuni baru, mulai masuk bulan depan."

Digta melirik ke arah Raisa yang berjongkok, kepalanya menunduk. "Oo, iya, Pak. Saya berangkat dulu ya," ucap Digta sambil berlalu dengan sepeda motornya.

"Akh, hampir saja!" ungkap Raisa, tampak lega.

1
kalea rizuky
sama sama balik ternyata
kalea rizuky
jd inget cerita sebelah yg persis ini abis cerai trs balik ke masa lalu ngejar cinta pertama ny.. judulnya aku ingin. jodohku cinta pertama ku.. mantan suami nya kaku cuek gt lah makanya cerai
lin sya
pemeran utama nya bodoh, lemah gmpng ditindas kyk sidarma cowok satu satunya didunia pdhl GK hrs kyk gtu ngadepin suami kejam yg gk tau trimakasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!