NovelToon NovelToon
The Heiress'S Scents

The Heiress'S Scents

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Cintapertama
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik kemegahan High School Los Angeles, Issabelle Reichenbach menyembunyikan identitasnya sebagai pewaris tunggal klan mafia legendaris.

Demi bertahan hidup, ia menyamar sebagai murid beasiswa miskin yang patuh, sembari menahan penderitaan tinggal bersama ibu kandungnya yang lemah dan ayah tiri yang kasar.

Namun, penyamaran sempurna Issabelle terancam hancur saat ia berhadapan dengan Navarro Von-Riccardo, penguasa sekolah sekaligus pewaris tunggal terkuat di Pantai Barat.

Navarro menyimpan rahasia kelam klan Von-Riccardo: sebuah genetika yang membuatnya kehilangan indra penciuman sejak lahir.

Secara mengejutkan, aroma tubuh dingin menyerupai mawar es milik Issabelle menjadi satu-satunya wewangian yang bisa dicium oleh Navarro setelah 16 tahun hidupnya.

Terpikat oleh takdir yang tak terelakkan, Navarro mulai terobsesi untuk menguak topeng misterius gadis beasiswa tersebut, memicu perang insting yang mematikan di antara dua predator puncak.


Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Keheningan yang pekat kembali merayap, mengunci kabin Porsche 911 GT3 RS hitam itu dalam atmosfer yang begitu intim sekaligus menyesakkan.

Suara isakan lirih Issabelle yang tertahan di tenggorokan adalah satu-satunya melodi yang memecah kesunyian malam di sudut kompleks perumahan keluarga Wadde’.

Untuk seorang gadis yang dibentuk oleh disiplin klan Dark Dubois, menumpahkan air mata di depan orang lain—terutama di hadapan seorang Riccardo—adalah bentuk kekalahan mutlak.

Namun malam ini, benteng pertahanan itu telah runtuh bersama puing-puing markasnya di Frankfurt.

Navarro Von-riccardo tertegun di kursi kemudi.

Sepasang mata gelapnya, yang biasanya memancarkan kilatan keangkuhan gila dan obsesi yang menindas, kini meredup.

Ada rasa tidak nyaman yang asing yang tiba-tiba mencengkeram dadanya melihat bahu ramping Issabelle bergetar hebat.

Gadis ini tidak sedang bermain peran; ia benar-benar hancur, sendirian, dan terpojok di ujung dunia.

Tanpa sepatah kata pun, Navarro melepaskan sabuk pengamannya.

Dengan gerakan yang di luar dugaan sangat lembut, ia mencondongkan tubuhnya melintasi konsol tengah mobil, mendekat, dan langsung menarik tubuh Issabelle ke dalam pelukannya.

Lengan kekarnya melingkar kokoh di sekeliling punggung ramping gadis itu, menekan kepala Issabelle agar bersandar pada dada bidangnya yang hangat.

Tidak ada paksaan agresif kali ini.

Hanya sebuah dekapan protektif yang begitu erat, seolah-olah pria gila itu sedang membangun dinding pelindung tak kasat mata untuk menghalau seluruh badai dari Jerman yang sedang mengincar nyawa sang mawar es.

Issabelle membeku sesaat di dalam pelukan hangat itu.

Aroma maskulin khas Navarro yang bercampur dengan wangi jok kulit mobil sport menginvasi indra penciumannya, entah bagaimana memberikan sedikit rasa aman yang aneh di tengah kepanikannya.

Ia tidak menolak.

Tubuhnya terlalu lelah, dan jiwanya terlalu rapuh untuk terus mengobarkan api permusuhan.

Dalam posisi wajah yang terbenam di dada bidang Navarro, Issabelle memejamkan matanya rapat-rapat.

Setitik air mata kembali merembes, membasahi kain kemeja hitam yang dikenakan pria itu.

Teringat akan pesan terakhir Martha melalui telepon tadi, Issabelle akhirnya membuang seluruh ego besarnya ke dalam kegelapan malam Chicago.

"Aku... aku menerima tawaran itu," bisik Issabelle, suaranya terdengar sangat parau, bergetar, namun memiliki ketegasan yang kaku. Ia meremas kain kemeja Navarro dengan jemari rampingnya yang sedingin es.

"Bisakah kau melindungiku?"

Tubuh Navarro seketika menegang.

Jantungnya berdentum lebih keras tepat di bawah pipi Issabelle yang bersandar.

Pria itu terdiam selama beberapa detik, mencoba mencerna kata-kata yang baru saja keluar dari bibir gadis yang beberapa jam lalu mengutuknya sebagai bajingan sialan.

Tawaran?

Otak Navarro yang biasanya bekerja taktis mendadak mengalami jeda.

Tawaran yang mana?

Sebelum Navarro sempat menyuarakan pertanyaannya, Issabelle perlahan mendongakkan kepalanya, menjauhkan wajahnya beberapa senti dari dada Navarro agar bisa menatap langsung ke dalam manik mata gelap pria itu.

Di bawah temaram cahaya dasbor mobil, mata abu-abu Issabelle yang basah memancarkan binar keputusasaan yang bercampur dengan keberanian yang nekat.

"Satu hari satu ciuman, dan rahasia identitas serta keberadaanku aman di tanganmu..." ucap Issabelle, mengulang kontrak gila yang ditawarkan Navarro di bar tadi.

Ia menjeda kalimatnya sejenak, menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih menantang.

"Atau... atau kau ingin bercinta? Mari kita lakukan malam ini di mobil ini, Navarro. Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan dari tubuhku... tapi bisakah kau melindungiku?"

"Bisakah kau memastikan musuh-musuh Daddyku tidak menyentuhku?"

Mendengar penuturan yang begitu blak-blakan dan nekat dari Issabelle, Navarro menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kabut gairah yang biasanya cepat tersulut di dalam dirinya kini justru padam, digantikan oleh rasa hormat sekaligus keterkejutan yang mendalam.

Gadis di depannya ini benar-benar seekor singa betina yang terluka; ia rela menukar harga diri dan tubuhnya demi kelangsungan hidup klannya.

Navarro perlahan melepaskan pelukannya, menarik kedua tangannya mundur dan mencengkeram setir mobil dengan erat, seolah mencoba menahan diri dari dorongan insting gelapnya sendiri.

Ia memalingkan wajahnya sekilas ke arah jendela, mengembuskan napas panjang yang terasa berat sebelum kembali menatap Issabelle dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah sangat serius.

"Aku... aku tidak segila itu, Issabelle," kata Navarro, suaranya terdengar rendah, serak, dan tanpa nada main-main yang biasa ia gunakan di sekolah.

Pria itu menyugar rambut hitamnya dengan gusar, memperlihatkan gurat frustrasi yang jarang ia tunjukkan pada dunia.

"Aku memang bajingan yang terobsesi padamu, aku memang menginginkanmu sejak pertama kali kita berpapasan, tapi aku tidak serendah itu untuk memanfaatkan kehancuran keluargamu hanya demi menidurimu malam ini."

Navarro kembali mencondongkan tubuhnya, menangkup kedua sisi wajah pucat Issabelle dengan telapak tangannya yang hangat, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang memancarkan keyakinan mutlak.

"Aku akan melindungimu," ucap Navarro, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar bagai sebuah janji darah yang mengikat.

"Tanpa perlu kau menyerahkan tubuhmu malam ini, aku akan memastikan seluruh jaringan intelijen Riccardo bergerak untuk memblokir setiap informasi mengenai keberadaanmu di sini. Aku juga akan memerintahkan orang-orangku di Eropa untuk mencari tahu kondisi ayahmu di Frankfurt."

Navarro mengusap sisa air mata di pipi Issabelle menggunakan ibu jarinya, gerakannya begitu lembut seolah-olah gadis di depannya ini adalah barang pecah belah yang sangat berharga.

"Tenanglah, Mine..." bisik Navarro lagi, sudut bibirnya sedikit terangkat, mencoba mengembalikan sedikit aura keangkuhannya yang familier untuk menenangkan suasana.

"Kalo kau tidak tenang dan terus menangis seperti ini, aku bisa saja berubah pikiran dan benar-benar menagih tawaran bercintamu yang tadi."

Mendengar ancaman khas ala Navarro yang kembali muncul, Issabelle tertegun. Ketegangan yang tadinya mencengkeram dadanya perlahan sedikit mengendur, digantikan oleh rasa hangat yang aneh.

Di bawah naungan pohon ek tua yang gelap di Chicago, sebuah aliansi tidak resmi antara dua klan besar, Dark Dubois dan Von-riccardo, telah resmi terbentuk melalui sebuah janji di dalam kabin mobil sport yang hancur estetika.

Mendengar kalimat Navarro yang kembali menyerempet bahaya, kehangatan yang sempat merayap di dada Issabelle menguap seketika.

Perisai es dalam dirinya kembali naik, menutup rapat-rapat celah kerapuhan yang sempat terbuka. Ia menepis tangan Navarro dari wajahnya dengan sentakan kasar, menatap pria itu dengan tatapan membunuh yang biasa ia gunakan di medan latihan Frankfurt.

"Brengsek, omonganmu benar-benar tidak dapat dipercaya," ucap Issabelle, suaranya kembali dingin, kaku, dan sedalam palung laut.

Tanpa membuang waktu, tangan rampingnya langsung meraih tuas pintu Porsche, berniat menyudahi kegilaan malam ini dan turun dari kabin yang mendadak terasa menyesakkan.

Namun, refleks seorang Von-riccardo bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan.

Sebelum pintu sempat terbuka satu inci pun, tangan kekar Navarro bergerak secepat kilat, menyambar pergelangan tangan Issabelle dan menariknya kembali dengan sekali sentakan dominan.

Klik.

Navarro menekan tombol pengunci pintu otomatis dari dasbor, mengurung Issabelle kembali di dalam teritorinya.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke samping, menatap Issabelle dengan binar mata gelap yang kembali dipenuhi oleh kilatan nakal yang menuntut.

Navarro mengangkat tangan kirinya, lalu mengetuk-ngetuk bibir bawahnya sendiri yang seksi dengan telunjuknya secara berirama.

"Ucapan selamat malam, Mine," kata Navarro, suaranya merendah menjadi bisikan bariton yang sensual.

"Dan tentu saja, sebuah ciuman perpisahan sebagai tanda bahwa kontrak perlindungan kita malam ini resmi berjalan."

Issabelle mendengus sinis, matanya menyipit penuh penghinaan. "Dalam mimpimu," jawab Issabelle tajam tanpa keraguan sedikit pun.

Navarro justru terkekeh rendah, sebuah tawa maskulin yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Issabelle.

Ia memajukan wajahnya sedikit lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga embusan napasnya yang hangat menerpa permukaan kulit pipi Issabelle.

"Untuk apa harus bermimpi dulu baru bisa mendapatkan ciumanmu, Mine?" sahut Navarro dengan nada meremehkan yang sarat akan kepercayaan diri mutlak.

"Kita tidak perlu tidur dan bermimpi dulu hanya untuk bisa mendapatkan ciuman dari sepasang bibir yang secandu ini. Aku tipe pria yang mengeksekusi keinginanku secara nyata, bukan di alam bawah sadar."

Issabelle benar-benar tidak habis pikir dengan isi kepala pria di depannya ini.

Mengingat bagaimana angkuh, cuek, dan dinginnya tatapan mata Navarro saat awal pertemuan mereka di kantin Oakridge High School tempo hari—di mana pria itu memandangnya seolah-olah ia hanya seonggok sampah yang tidak sengaja lewat—Issabelle rasanya ingin tertawa keras meratapi ironi ini.

Bagaimana mungkin berandalan sekolah yang ditakuti seluruh Chicago karena reputasi kejamnya, bisa berubah menjadi makhluk super posesif, cerewet, dan berpikiran mesum saat berduaan dengannya?

Topeng dingin pria itu runtuh total, menyisakan sosok predator berdarah panas yang tidak tahu malu.

Karena ingin segera keluar dari mobil dan mengakhiri perdebatan yang tidak akan ada habisnya ini, Issabelle memutuskan untuk mengalah secara taktis.

Ia menarik napas pendek, memajukan tubuhnya dengan cepat, dan—

CUP.

Ia mendaratkan sebuah kecupan singkat, tak lebih dari satu detik, tepat di atas bibir Navarro.

Sebuah kecupan formalitas yang murni ia lakukan agar bajingan ini segera membuka kunci pintu mobilnya.

Namun, Issabelle meremehkan kelihaian seorang Riccardo.

Tepat saat ia menarik kepalanya ke belakang untuk melepaskan diri, tangan Navarro yang bebas bergerak secepat kilat ke belakang kepalanya.

Jemari panjang pria itu menyusup ke balik rambut abu-abunya, mencengkeram tengkuk Issabelle dengan cengkeraman kuat yang tidak bisa dibantah.

"Mmph—"

Navarro tidak membiarkannya pergi begitu saja.

Pria itu menahan tengkuk Issabelle, memiringkan kepalanya, dan langsung melumat bibir tipis itu dengan satu hentakan yang dalam dan basah.

Ciuman singkat itu dalam sekejap berubah menjadi perebutan kendali yang intens selama beberapa detik, sebelum akhirnya Navarro melepaskannya perlahan, membiarkan benang saliva tipis terputus di antara bibir mereka yang sama-sama memerah.

Navarro menjauhkan wajahnya beberapa senti, mengusap bibirnya sendiri dengan punggung tangan sambil menatap Issabelle dengan pandangan yang menggelap oleh gairah yang tertahan.

"Manis," bisik Navarro, suaranya terdengar serak dan berat.

Ia menjeda kalimatnya, menatap lekat-lekat pada bibir Issabelle yang sedikit terbuka karena kehabisan napas, lalu melanjutkan dengan nada yang sengaja dibuat bergumam misterius.

"Mungkin rasanya bakalan jauh lebih manis... kalau salah satu bagian tubuh... masuk ke dalam mulutmu."

Navarro sengaja tidak memperjelas kata "bagian tubuh" mana yang ia maksud, membiarkan kalimat itu menggantung di udara kabin dengan konotasi yang sangat liar dan ambigu, khusus ditujukan untuk mengacaukan isi kepala gadis Jerman di depannya.

Sistem saraf Issabelle sempat membutuhkan waktu satu detik untuk memproses kalimat tersebut.

Begitu otaknya berhasil menerjemahkan implikasi mesum di balik ucapan ambigu itu, matanya seketika membelalak lebar, memancarkan kilatan amarah yang bercampur rasa syok.

"Apa?!" gertak Issabelle, wajahnya yang pucat mendadak merona merah karena amarah yang memuncak.

"Kau bilang apa tadi, Bajingan?!"

Navarro yang melihat reaksi meledak-ledak dari mawar esnya justru menyunggingkan senyuman miring yang sangat menyebalkan.

Ia kembali bersandar pada jok kemudinya dengan santai, melipat kedua tangannya di depan dada seolah-olah tidak baru saja mengucapkan kalimat yang bisa membuatnya ditampar.

"Nggak jadi," jawab Navarro singkat tanpa dosa, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya yang sangat angkuh.

Issabelle mengepalkan tinjunya erat-erat, giginya mengatup rapat hingga terdengar suara gemertak yang halus.

Ia benar-benar ingin menghantam wajah tampan tanpa cela itu dengan kunci pas milik Harrison sekarang juga.

"Dasar bajingan mesum!" maki Issabelle dengan nada suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.

Ia menunjuk wajah Navarro dengan jari telunjuknya yang gemetar.

"Kau pikir aku tidak bisa mendengarnya?! Telingaku dilatih untuk mendengar bisikan terjauh di medan perang, Riccardo! Otak kotormu itu benar-benar perlu dibersihkan dengan timah panas!"

Navarro tidak membalas makian itu dengan kemarahan; ia justru melepaskan pengunci pintu mobil dengan satu ketukan jari, lalu mengerling nakal ke arah Issabelle yang kini sudah bersiap untuk melompat turun.

"Masuklah ke rumahmu, Mine. Dan ingat kontrak kita: satu hari, satu ciuman. Sampai jumpa di sekolah besok pagi."

1
Game Semut
semoga happy ending issabele dan navvaro serta putri nya Cassandra
Game Semut
ini cerita gmna ending nya nih thor kasian bngt kisah percintaan asmara antara issabele dan Navarro...semoga bs bersatu.
Mia Camelia
aduh isabel kok keras kepala banget sih mpe membenci navaro😔😔😔
gak adil nih klo navaro dan isabel trz salah paham mulu😔
ayolah thor bikin mereka baikan lagi😂😂😂
Game Semut
kaciaaan bngt navvaro
Ros 🌷🦋: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
semoga isabel cepet muncul lgi thor, kasian navaro jadi patung es bgtu🤣
Ros 🌷🦋: dicairin sama kak reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yah kasiah issa ternyata di jebak doang suruh pulang ke jerman😂😂😂😂😂
Ros 🌷🦋: huhuhu😅🤭
total 1 replies
BONBON
aku tunggu kak, 22nya setara dan gk jomplang. bukan kisah Cinderella, mafia x gadis yg dijual oleh keluarganya blabla. 🤣🤣🤭
Ros 🌷🦋: hihi ma'aciww kak atas dukungannya 🫶🥰
total 1 replies
Angela Ghunu
karya kakak bagus skli, semoga semakin maju dan karya " kk makin bnyk🥰🥰
Ros 🌷🦋: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
total 1 replies
Mita Paramita
navaro mati rasa sama perempuan 🤨 nunggu Isabella kembali.
Ros 🌷🦋: iyaaa kek nya 😅🤭
total 1 replies
Shusy Bharel
lanjut tho😍😍
Ros 🌷🦋: siap kak🥰
total 1 replies
Mita Paramita
see you again navaro 😘😘😘
Ros 🌷🦋: see you kak reader 🥰
total 1 replies
Mita Paramita
Isabella pecah perawan nya sama navaro 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: aku malah ngakak loh kak reader 🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
akhir nya 🥰🥰🥰
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
yah masa baru bucin udah perpisahan aja thor🤣😂😂😂
Ros 🌷🦋: Berpisah dulu biar tau artinya rindu 🤭🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
yaaah ketauan deh 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kwkwk😅
total 1 replies
Mita Paramita
sekarang Isabella punya tempat bersandar walaupun sih navaro plu mines 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: kesayangan reader 🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 💪💪💪
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Mita Paramita
navaro diem diem nyelidikin asal usul Isabella 🤣🤣🤣 saking penasarannya
Ros 🌷🦋: kwkwk🤣
total 1 replies
Debu Nakal
lagi.. lagi... lagi... lagi...
Ros 🌷🦋: padahal sudah didraf sampai bab 20 kak😅
total 1 replies
Mia Camelia
wah gak sangka kalo claire pacar nya skylar?? thor ceritaiin dong mereka juga🤔😄
Ros 🌷🦋: author selipin dikit2 nanti mereka 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!