Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 "DIMANA AKU?!"
Aku menatap Sekar Mayang sesaat. Ke dua mata merah cerahnya saling bertatapan dengan ke dua mataku.
Tangan kirinya ia angkat perlahan, lalu dengan lembut jari telunjuk Sekar Mayang menyentuh tepat di tengah dahiku, tepat di antara ke dua alis mataku.
Entah apa yang hendak ia lakukan padaku di depan Dayang Putri...
Hembusan angin di sekitarku berhenti...
Suara jangkrik pun ikut menghilang...
Seketika, alam di sekitarku menjadi hening...
Sangat hening...
.
🌕🌕🌕🌕🌕
🌳🌳🕌🌳🌳
.
Sekar Mayang bertanya padaku...
"Benarkah kau ingin mengetahui tentang diriku Nisa?"
"Iya Sekar Mayang..." jawabku.
Lalu, Dayang Putri berjalan perlahan ke arah belakang punggungku. Kini terasa tangan kanannya kini menyentuh tepat di tengah punggungku...
"A-apa yang akan kalian lakukan?" tanyaku.
"Bukankah kau ingin tahu Nisa?" tanya Dayang Putri.
"I-iya... Tapi, kalian ingin melakukan apa sekarang?"
Baik Dayang Putri yang ada di belakangku saat ini, dan Sekar Mayang yang masih di depanku dengan menyentuh dahiku, mereka berdua tak menjawabku.
Dan... Tiba-tiba...
"Aaaggghhh... Aaakkkhhh..."
Aku merasakan hentakan energi yang amat besar melalui dahi dan punggungku...
Ke dua mataku terbuka lebar dengan wajahku terangkat mendongak ke langit...
Tepat memandang bulan purnama bulat sempurna...
.....
.....
.....
🌕🌔🌓🌒🌑
🔴🔴🔴🔴🔴
"Aaaaakkkkkhhhhh..."
Tubuhku menegang hebat...
Wajahku mendongak ke atas...
Mulutku menganga lebar...
Dan kulihat bulan purnama cerah di atas sana, berubah menjadi purnama merah...
"Aaaakkkkhhhh... Aaaaggghhh..."
Aku ingin berteriak...
Merasakan tekanan energi sangat besar dari Sekar Mayang dan Dayang Putri yang bersamaan...
"To-to... To... Tolong... Aaaggghhh... He-hen... Aaakkkhhh... Henti... Hentikan..."
Tak ada jawaban dari Sekar Mayang, maupun Dayang Putri...
Justru...
Kini terasa sangat dingin energi Dayang Putri yang merasuk di punggungku...
Dan terasa sangat panas energi Sekar Mayang yang merasuk di dahiku...
"Aaakkkhhh... Aaaggghhh... Ak-aku... Aaaggghhh..."
Dan...
.....
.....
.....
.....
.....
🌳🌳🌳🌳🌕🌕🌕🌕🌳🌳🌳🌳
"Eemmhh... Aduuuhhh..."
Aku tersadar perlahan dalam keadaan terbaring di atas tanah kering. Dengan kepalaku yang amat terasa sakit. Bagaikan dihantam oleh ratusan pukulan palu.
"Uuuggghhh..."
Napasku terasa amat sesak. Rasanya bagaikan hampir berhenti total napasku. Aku mencoba bangun. Mencoba duduk. Sambil kucoba menajamkan pandanganku yang amat buram ini.
"Aduuuhhh.... Ap-apa yang terjadi?"
Beberapa saat, perlahan bisa kembali jelas pandanganku. Akan tetapi, saat aku bisa melihat dengan jelas itu...
"Hah? Di-dimana aku?"
Aku berada entah di mana sekarang...
Sekelilingku terlihat barisan pepohonan yang sangat rimbun...
Dan... Gelap...
Aku memandang ke atas langit...
Bulan purnama di atas sana sangat cerah dan bulat sempurna...
Tapi, aku tak bisa ingat, apa dan bagaimana diriku bisa ada di sini?
"A-aku ada di manaaa...?"
Seketika itu juga merinding hebat tubuhku, mengalir rasa takut ke dalam hatiku...
"Tolooong... Tolooong..." teriakku.
Tapi, seolah seluruh area di sekitarku menelan suara teriakanku itu. Suaraku ditelan keheningan hutan yang terasa sangat mencekam.
Aku masih terduduk di atas tanah, di antara barisan pepohonan tinggi yang seolah hidup dan sedang menatapku.
Tiba-tiba...
Terdengar suara yang amat berisik di depanku. Aku menajamkan pendengaranku sesaat, mencoba memastikan suara apa itu.
Lama-kelamaan, suara berisik itu semakin keras terdengar...
Suara yang sangat mirip...
Dengan suara...
"Hah?! Suara peperangan?!" kataku dengan kaget dan terheran-heran.
Aku coba untuk bangkit berdiri, kemudian berjalan perlahan menembus lebatnya hutan ini. Terus berjalan ke depan, dan semakin lama semakin jelas.
"Suara peperangan apa itu?!" kataku.
Dan... Tak lama kemudian... Nampak sebuah wilayah di ujung sana...
Wilayah yang dipenuhi oleh kobaran api, melahap seluruh bangunan yang ada...
Dan terlihat dengan mata kepalaku sendiri, puluhan orang, sedang berlarian ke sana kemari dengan ketakutan dan kepanikan...
Ada yang menjerit meminta tolong...
Ada yang sedang beradu pedang...
Ada yang tergeletak di atas tanah...
"Hah?! Apa... Apa yang terjadi sebenarnya?! Kenapa mereka berperang?!"
Rasa penasaranku menjadi jauh lebih kuat dari rasa takutku saat melihat pemandangan mengerikan itu. Aku terus melangkah mendekat.
Dan saat aku sibak sebuah semak yang menghalangi pandanganku, tiba-tiba...
"Aaaaa!!! Jangaaan!!!" seorang wanita berteriak sambil terbaring di atas tanah tepat di depanku.
Lalu...
"Craaaattt!!!"
KEPALA WANITA ITU PUTUS SEKETIKA OLEH TEBASAN PEDANG DARI SEORANG PRAJURIT...
Menyembur darahnya dengan deras dari lehernya yang kini terputus itu...
Aku hanya berdiri diam, terpaku, terbelalak mataku, melihat mayat sang wanita itu di depan mata kepalaku sendiri.
Aku mengangkat wajahku perlahan, dan sangat jelas, aku melihat prajurit itu sangat persis dengan prajurit yang ada di zaman kerajaan di masa lalu.
Lalu prajurit itu kembali mencari target lain yang masih hidup...
Aku masih berdiri diam dan kaku, melihat kengerian yang tak pernah ku saksikan seumur hidupku...
Seluruh bangunan terbakar hebat...
Jeritan manusia di mana-mana...
Suara dentingan pedang-pedang tajam saling beradu...
.....
.....
.....
Lama-lama...
Semuanya menjadi hening...
Tak ada lagi suara jeritan...
Tak ada lagi suara dentingan pedang...
Kini hanya tersisa suara kobaran api yang semakin meredup perlahan...
.....
.....
.....
Sampai semua kobaran api itu benar-benar redup...
Tersisa tumpukan-tumpukan bangunan yang rata dengan tanah...
Seluruhnya berubah menjadi arang dan abu...
Suasana menjadi hening...
Sangat hening...