Di usianya yang ke-33, Raditya Mahardika harus menerima perjodohan konyol dengan Bianca Adyatama, gadis 20 tahun yang masih kuliah dan merupakan putri rekan bisnis keluarganya. Ragu dan curiga, Raditya punya rencana gila: menyamar menjadi supir di rumah keluarga Adyatama.
Sebagai 'Rio', supir barunya, Radit menyaksikan realitas yang mengejutkan. Bianca bukan hanya manja, tapi juga arogan dan suka merendahkan orang.
Namun, di tengah kekecewaannya, mata Radit justru tertuju pada sosok lain: Kirana Adyatama. Kakak Bianca yang berusia 27 tahun. Di mata keluarganya, Kirana hanyalah barista kafe, bahkan sering diperlakukan seperti pelayan. Tapi, di balik seragam kafe dan senyum hangatnya, Kirana menyimpan rahasia besar.
Mana yang akan dipilih Radit? Calon istri yang dijodohkan, atau kakak yang menyimpan mutiara tersembunyi? Bagaimana jika rahasia penyamarannya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Siang itu, aspal jalanan Surabaya seolah mengeluarkan uap panas yang memburamkan pandangan. Raditya menyeka keringat di pelipisnya menggunakan punggung tangan. Setelah drama omelan Bianca yang baru saja ia turunkan di depan rumah, ia tidak punya waktu bahkan untuk sekadar meluruskan punggung yang mulai terasa kaku.
Ia memutar kemudi kembali menuju Kafe Teras Senja. Di dalam mobil yang sejuk oleh AC, pikiran Raditya melayang. Selama tiga puluh tiga tahun hidupnya, ia hanya tahu duduk di kursi belakang yang empuk, tenggelam dalam laporan keuangan sementara supir pribadinya membelah kemacetan. Kini, baru beberapa jam menjadi Rio, ia merasakan betapa melelahkannya menjadi "pelayan" di balik kemudi.
Ternyata begini rasanya jadi Pak Tejo, batin Raditya, teringat supir pribadinya yang sudah bekerja belasan tahun. Dia selalu siaga, bahkan mungkin tidak sempat makan siang demi menungguku selesai meeting. Begitu penyamaran ini berakhir, aku akan menaikkan gajinya dan memastikan semua supir di Mahardika Group punya jam istirahat yang layak.
Refleksi itu buyar saat ia melihat sosok Kirana sudah berdiri di depan kafenya. Ia tidak menunggu di dalam ruangan ber-AC, melainkan berdiri di trotoar bawah naungan pohon kamboja, nampak memperhatikan jalanan dengan sabar. Begitu mobil hitam itu mendekat, Kirana tidak menunggu dibukakan pintu. Ia langsung menarik pintu depan—bukan pintu belakang—dan duduk tepat di samping Raditya.
"Siang, Mas Rio. Maaf ya, baru istirahat sebentar sudah saya panggil lagi," sapa Kirana dengan senyum manis yang seketika meluluhkan rasa lelah Raditya. Aroma kopi yang menempel di baju Kirana bercampur dengan parfum vanilla lembut, memenuhi kabin mobil.
Di tangan Kirana terdapat sebuah paper bag kecil dan satu cup kopi. "Ini, tadi saya sempat bikin Coffee Latte dan Sandwich roti gandum isi tuna selada. Mas Rio pasti belum makan siang kan? Buat ganjal perut dulu," ucap Kirana sambil menyodorkan bekal itu.
Raditya tertegun. Ia menerima bungkusan itu dengan perasaan campur aduk. "Terima kasih banyak, Mbak Kirana. Seharusnya saya yang melayani Mbak, bukan sebaliknya."
"Ah, jangan kaku begitu. Kita kan satu tim hari ini," jawab Kirana santai sambil memasang sabuk pengaman. "Tapi itu cuma buat bekal nanti sore kalau lapar lagi. Sekarang, kita cari makan siang yang beneran yuk. Mas Rio mau makan apa?"
"Saya ikut Mbak Kirana saja," jawab Raditya.
"Oke, kita ke rumah makan prasmanan langganan saya saja ya? Dekat sini, tapi suasananya enak," ajak Kirana.
Mobil itu melaju perlahan menuju sebuah rumah makan prasmanan yang terletak agak tersembunyi namun memiliki parkiran yang luas. Begitu masuk, Raditya disambut oleh pemandangan yang tak terduga. Rumah makan itu sederhana namun asri, dengan paviliun terbuka yang menghadap ke sebuah danau buatan kecil yang dipenuhi ikan koi.
Suara gemericik air dan semilir angin siang itu memberikan ketenangan yang kontras dengan hiruk-pikuk Surabaya. Anehnya, para karyawan di sana menyapa Kirana dengan sangat ramah, bahkan beberapa memberikan anggukan hormat yang tulus.
Apa rumah makan ini milik Kirana juga? tanya Raditya dalam hati. Dia benar-benar kotak rahasia yang tidak habis-habis.
Kirana mengambil baki dan mulai mengantre di meja prasmanan. "Ayo Mas Rio, ambil yang banyak. Jangan sungkan," ajaknya.
Raditya mengambil nasi dan beberapa lauk pauk sederhana, lalu mereka berjalan menuju meja di pinggir danau. Suasana sangat hangat. Kirana makan dengan sangat lahap tanpa ada kesan jaim (jaga image). Raditya memperhatikan cara Kirana berbicara, cara dia menghargai makanan, dan bagaimana dia tidak merasa risih sedikit pun duduk di tempat umum seperti ini.
"Mbak Kirana..." Raditya memulai percakapan, meletakkan sendoknya sejenak.
"Ya, Mas?"
"Mbak tidak malu makan bareng supir di tempat terbuka seperti ini? Maksud saya... bagaimana kalau ada teman Mbak atau relasi bisnis Pak Haris yang melihat?" tanya Raditya, mencoba memancing reaksi.
Kirana menghentikan kunyahannya, menatap Raditya dengan tatapan heran yang kemudian berubah menjadi tawa kecil yang renyah.
"Malu? Kenapa harus malu, Mas Rio?"
"Ya... karena status kita beda. Saya supir, Mbak Kirana anak majikan," sahut Raditya pelan.
Kirana meletakkan sendoknya, menatap Raditya dalam-dalam. "Mas Rio, dengerin ya. Pekerjaan itu cuma label di atas kertas. Di depan makanan, kita semua cuma orang lapar. Kenapa status harus jadi pembatas untuk sekadar makan siang bareng?"
Ia melanjutkan dengan nada yang lebih serius namun tetap lembut. "Bagi saya, tidak ada yang berbeda antara saya, Mas Rio, atau siapa pun. Mas Rio sudah membantu saya seharian, bekerja keras menjemput saya dan Bianca. Itu pekerjaan yang mulia. Kenapa saya harus malu dengan orang yang sudah memudahkan hidup saya? Justru saya yang beruntung punya supir yang sopan dan sigap seperti Mas."
Raditya terdiam. Jawaban Kirana menampar sisi arogan dalam dirinya yang selama ini tumbuh di lingkungan jetset. Ia terbiasa melihat orang diukur dari merek jam tangan atau jenis mobilnya. Namun wanita di depannya ini—justru memiliki pandangan hidup yang begitu membumi.
"Tidak usah merasa kecil hati kalau sama saya, Mas Rio," tambah Kirana sambil tersenyum tulus. "Kita itu sama. Hanya nasib dan jenis tanggung jawabnya saja yang beda. Di luar sana mungkin orang lihat jabatan, tapi di sini, kita cuma dua orang yang lagi istirahat makan siang. Oke?"
Raditya mengangguk, sebuah senyum tipis yang jarang ia perlihatkan muncul di wajahnya.
"Iya, Mbak. Terima kasih."
"Nah, gitu dong. Senyum kan lebih enak dilihat. Sekarang habiskan makanannya, habis ini perjalanan kita makin padat. Saya butuh bantuan Mas Rio dan... mungkin Mas Rio harus sedikit sabar karena saya akan sangat merepotkan Mas Rio," ucap Kirana memberi kode soal identitas rahasianya.
Raditya merasakan kehangatan yang aneh di hatinya. Di bawah semilir angin dan pemandangan danau buatan itu, ia mulai merasa bahwa penyamaran ini bukan lagi tentang menghindari perjodohan, melainkan tentang perjalanan menemukan makna hidup dari seorang wanita bernama Kirana Adytama.
Ia menyuap nasinya dengan perasaan lebih ringan. Dalam hatinya, Raditya bertekad. Ia tidak akan hanya menjadi supir yang mengantar jemput. Ia akan menjadi pelindung bagi wanita luar biasa ini, apa pun risikonya.
**
Perjalanan siang itu melintasi jantung kota Surabaya terasa berbeda bagi Raditya. Di sampingnya, Kirana tampak sibuk dengan tablet di pangkuannya. Jemarinya menari lincah di atas layar, sesekali keningnya berkerut serius, sangat kontras dengan sosoknya yang tadi pagi tertawa renyah sambil menyuapi nenek di panti lansia.
"Mas Rio, tolong antar saya ke alamat ini ya," ucap Kirana sambil menunjukkan sebuah lokasi di peta digital.
Raditya melirik layar itu. Alamatnya menuju ke kawasan industri dan perkantoran elit yang sedang berkembang pesat. Ia hanya mengangguk tanpa banyak tanya, meskipun rasa penasarannya mulai menggelitik dasar hatinya.
Setengah jam kemudian, mobil sedan hitam itu memasuki sebuah area gerbang tinggi dengan sistem keamanan berlapis. Di depan mereka berdiri sebuah gedung megah berdesain minimalis modern yang didominasi kaca gelap. Di bagian atas gedung, terpasang logo besar dengan tipografi elegan yang sangat mencolok: KIRAPHARMA.
Raditya menahan napas sejenak. Ia mengenal nama itu. Sebagai pewaris Mahardika Group yang bergerak di bidang teknologi, ia sempat mendengar rumor tentang perusahaan farmasi rintisan yang sedang naik daun karena inovasi obat-obatan herbalnya yang menembus pasar internasional. Ternyata... ini.
Sebelum membuka pintu, Kirana menoleh ke arah Raditya. Wajahnya kini terlihat sangat profesional, auranya berubah drastis menjadi seorang pemimpin yang berwibawa.
"Mas Rio, tolong tunggu di sini sebentar ya. Saya ada urusan yang harus diselesaikan," Kirana terdiam sejenak, menatap mata Raditya dengan serius. "Dan satu hal lagi... tolong, jangan katakan apa pun tentang tempat ini kepada Ayah, Mama, atau Bianca. Bagi mereka, saya sedang berada di kafe. Bisa saya pegang janji Mas Rio?"
Raditya terpaku. Permintaan itu bukan sekadar instruksi majikan, tapi lebih seperti sebuah kepercayaan yang diletakkan di pundaknya.
"Bisa, Mbak Kirana. Rahasia Mbak aman bersama saya."
Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh syukur, lalu ia keluar dari mobil. Raditya memperhatikan dari balik kaca kemudi. Kirana melangkah dengan tegas. Langkah kakinya yang tadinya santai kini berirama mantap.
Pemandangan di depan lobi membuat Raditya semakin terperangah. Begitu Kirana mendekati pintu otomatis, dua petugas keamanan langsung berdiri tegak dan memberikan hormat yang sangat dalam. Beberapa karyawan yang sedang berdiri di area lobi langsung menunduk sopan saat Kirana melintas. Tidak ada yang berani menyapa dengan sembarangan; mereka semua tampak menaruh rasa hormat yang luar biasa besar pada wanita itu.
Setelah Kirana menghilang di balik lift, Raditya tidak bisa lagi membendung rasa ingin tahunya. Ia keluar dari mobil, berpura-pura ingin meregangkan otot, lalu berjalan santai menuju pos satpam yang berada di dekat pintu masuk area parkir.
"Siang, Pak," sapa Raditya ramah. Ia sengaja memasang wajah polos agar penyamarannya tetap terjaga.
"Siang, Mas. Supirnya Mbak Kirana ya?" tanya satpam senior itu, melihat seragam sederhana yang dikenakan Raditya. Namanya tersemat di seragam: Pak Agus.
"Iya, Pak. Saya baru hari ini kerja," jawab Raditya sambil menawarkan sebotol minuman dingin yang tadi sempat ia beli. "Gedungnya besar ya, Pak. Mbak Kirana memangnya kerja di bagian apa di sini? Kok tadi saya lihat semua orang pada hormat sekali?"
Pak Agus menerima minuman itu, lalu tertawa kecil hingga bahunya berguncang. Ia menatap Raditya seolah-olah pria muda di depannya ini baru saja menanyakan apakah matahari itu panas.
"Lho, Mas Rio ini bagaimana? Masa supirnya sendiri tidak tahu bosnya siapa?" Pak Agus menggeleng-gelengkan kepala.
Raditya hanya cengengesan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Hehe, maaf Pak. Saya benar-benar baru. Tadi di rumah cuma dibilang antar Mbak Kirana ke kafe, eh tapi kok malah ke sini."
Pak Agus mendekat, suaranya sedikit merendah seolah sedang membicarakan sosok legenda. "Mas Rio, dengerin ya. KiraPharma ini bukan punya orang lain. Gedung ini, perusahaan ini, semuanya... itu punya Mbak Kirana sendiri. Beliau itu pendiri sekaligus CEO-nya. Mas jangan tertipu sama gayanya yang sederhana kalau di rumah. Di sini, beliau itu macan, Mas. Pintar sekali, tegas, tapi memang hatinya sangat baik."
JEDARRRR!
Raditya merasa seperti disambar petir di siang bolong. Ia berdiri mematung, menatap tulisan 'KiraPharma' di puncak gedung itu dengan perasaan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Pendiri dan pemilik...?" gumam Raditya lirih.
"Iya! Mbak Kirana itu membangun ini dari nol, Mas. Saya sudah ikut beliau sejak kantornya masih di ruko kecil. Beliau itu hebat, Mas. Tidak pernah sombong, gaji karyawan di sini juga tinggi-tinggi. Tapi ya itu, beliau tidak suka pamer. Kabarnya keluarganya sendiri pun tidak ada yang tahu kalau beliau ini bos besar," lanjut Pak Agus dengan bangga.
Raditya kembali ke mobil dengan pikiran yang berkecamuk. Ia menyandarkan punggungnya di jok kemudi, mencoba menarik benang merah dari semua kejadian hari ini.
Sekarang semuanya menjadi masuk akal. Pantas saja Kirana bisa menyumbang puluhan juta rupiah ke panti asuhan dan panti lansia tanpa kedip. Pantas saja dia bisa merawat mobil Mercedes-Benz Fintail klasik yang biaya perawatannya selangit. Pantas saja dia memiliki wibawa yang begitu tenang meski terus-menerus diremehkan oleh ibu tiri dan adiknya.
Kirana Adytama... siapa sebenarnya kamu? batin Raditya kagum.
Ia merasa terenyuh sekaligus miris. Bagaimana bisa seorang wanita sehebat ini, yang memimpin ratusan karyawan dan memberikan dampak besar bagi kesehatan masyarakat melalui farmasi, harus memakai apron barista dan direndahkan sebagai "pelayan kopi" saat berada di rumahnya sendiri? Mengapa ia memilih untuk menyembunyikan identitasnya?
Raditya melihat ke arah gedung itu sekali lagi. Di dalam sana, Kirana mungkin sedang memimpin rapat direksi atau menandatangani kontrak bernilai miliaran. Sementara di rumah Adytama, ia dianggap tidak ada apa-apanya dibanding Bianca yang hanya tahu cara menghabiskan uang.
"Kamu luar biasa, Kirana," bisik Raditya pelan. Sebuah senyum bangga tersungging di bibirnya.
Kekaguman itu kini berubah menjadi rasa penasaran yang semakin dalam. Jika Kirana memiliki rahasia sebesar ini, mungkinkah ada alasan lain di baliknya? Raditya merasa beruntung. Penyamarannya sebagai Rio memberinya kursi barisan depan untuk melihat sisi Kirana yang tidak diketahui dunia.
Ia tidak lagi merasa bosan menunggu. Justru sekarang, ia tidak sabar menunggu Kirana keluar dari gedung itu. Ia ingin melihat bagaimana wanita hebat itu kembali bertransformasi menjadi Mbak Kirana yang sederhana, yang tetap ramah pada supirnya, seolah-olah ia tidak baru saja menggerakkan roda ekonomi perusahaan farmasi raksasa.
Raditya mengeluarkan ponselnya, membatalkan semua janji pertemuannya sebagai CEO Mahardika Group untuk sore ini. Ia tidak ingin melewatkan satu detik pun sisa hari ini bersama Kirana. Ia ingin menjadi saksi, bagaimana sang "Mutiara di balik Apron" ini menjalani hidupnya yang penuh rahasia.
***