Tujuh tahun pernikahan, tak pernah terbayangkan dirinya akan menjumpai hal yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidupnya.
Arimbi, ia menemukan jejak wanita lain dalam biduk rumah tangganya. Bahkan wanita tersebut telah memiliki anak yang usianya sudah lebih dari setahun.
"Kita masih merintis usaha, jadi kita jangan punya anak dulu ya."
Ucapan sang suami terngiang begitu jelas di telinganya. Arimbi yang naif menyetujui. Namun itu jadi bumerang bagi dirinya karena oleh keluarga suami Arimbi di cap mandul.
Dan yang lebih mengejutkannya lagi, nama perusahaan yang didirikan suaminya ternyata ada unsur dari nama wanita itu.
Apakah Arimbi akan terpuruk? Atau dia akan bangkit dan membalas rasa sakit hatinya dan menemukan cinta lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampah ... Dibuang Lah 34
"Selamat sayang, akhirnya semuanya sudah berakhir. Setelah ini, kami harap kamu bisa sepenuhnya bahagia menjalani hari-harimu."
Ucapan selamat disampaikan oleh Aliya dan Arga ketika mereka sudah sampai rumah. Untuk merayakan perceraian Arimbi, Aliya sudah memesan hidangan. Sejenis syukuran.
Lucu memang, karena bukannya bersedih tapi Aliya dan Arga berbahagia anaknya bercerai. Akan tetapi apa juga yang ingin disedihkan? Berpisah dengan pria yang jelas berselingkuh dan bahkan tak meminta maaf dengan benar, jelas harus dirayakan.
"Terimakasih Pak, Bu. Terimakasih banyak karena udah dukung aku buat sampai di sini. Terimakasih untuk Bapak dan Ibu yang selalu ada di sisi aku hingga aku kuat menghadapi semuanya,"ucap Arimbi sambil memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
Arimbi benar-benar sangat bersyukur memiliki orang tua yang mengerti an juga memahaminya. Mereka juga mendukung penuh keputusan Arimbi. Bahkan sang ayah kembali menjual asetnya untuk tambahan modal bagi usaha yang didirikan Arimbi.
Bagi Arga tentu tidak masalah, miliknya jika bukan untuk anaknya mau digunakan untuk siapa lagi. Terlebih Arimbi adalah anak satu-satunya yang dimilikinya.
"Aku bener-bener sayang Bapak dan Ibu," ucap Arimbi dengan mata yang berkaca-kaca. Orangtua sungguh merupakan support system terbaik dalam setiap permasalahan yang dihadapinya.
"Kami juga menyayangimu, Nak. Hiduplah dengan bahagia mulai sekarang."
tring
tring
tring
Beberapa pesan masuk ke handphone miliki Arimbi. Ia langsung membacanya satu demi satu. Senyum mengembang dengan begitu lebarnya di bibir Arimbi ketika membaca dari pesan-pesan tersebut.
Semuanya adalah ucapan selamat untuk perceraian yang baru saja dilakukannya. Ucapan-ucapan tersebut berasal dari Farhan, Surya, Dina dan Tasya. Lalu pesan yang terkahir berasal dari Bhumi.
"Selamat Mbak Arimbi atas perceraiannya. Semoga setelah ini kamu bisa lebih bahagia lagi dari sekarang. Dan kedepannya hanya akan ada hal-hal baik saja yang datang pada mu. Aamiin."
Arimbi merasa sangat senang dan juga bersyukur karena masih banyak orang baik di sekelilingnya. Mereka bukan saudara, bahkan juga bukan teman. Akan tetapi sekarang mereka adalah orang-orang terdekat yang dimiliki oleh Arimbi.
"Kayaknya aku harus ngasih sesuatu buat dia untuk semua bantuan yang udah dia kasih,"ucapnya lirih.
"Siapa, Rimbi?" tanya Arga yang teryata mendengar gumaman putrinya.
"Ah Bapak denger ya. Itu lho, cowok yang pernah aku ceritakan ke Bapak dan Ibu. Dia udah bantu banyak perihal perceraianku. Dia juga yang ngenalin aku sama Kak Ran. Namanya Bhumi, dia juga merupakan sepupu kak Ran. Aku pengen ngasih sesuatu buat ucapan terimakasih. Tapi apa ya, dia kan orang kaya banget. Semua-semuanya udah punya pasti,"jawab Arimbi sambil berpikir bingung.
"Ngasih orang itu nggak usah mikir dia kaya apa enggak. Dia punya apa enggak. Kamu nggak harus mikir sejauh itu untuk memberikan sesuatu. Dalam sebuah pemberian itu mau wujudnya apapun, yang terpenting adalah tulus dan ikhlas. Ibarat kata, kamu mau ngasih sebuah benda yang mungkin umum dimiliki setiap orang, tapi jika itu diberikan dengan tulus maka pasti akan sangat menyenangkan bagi si penerima."
Penjelasan Arga sangat mudah dipahami oleh Arimbi. Dengan itu, Arimbi menjadi lebih percaya diri untuk memberikan sesuatu kepada Bhumi.
"Oke Pak, aku ngerti. Mumpung hari ini aku nggak ke kantor, aku mau nyoba nyari-nyari hadiah buat Mas Bhumi,"ucapnya riang.
Arga dan Aliya tersenyum cerah ketika melihat putri mereka bersemangat. Sudah lama keduanya tak melihat senyum penuh semangat dari sang anak.
Arimbi juga terlihat lebih leluasa dalam mengungkapkan perasaannya. Aliya bisa melihat dengan jelas akan hal tersebut.
Selama masih menjadi istri Amar, Arimbi lebih banyak diam. Dia juga tidak pernah mengungkapkan perasaannya kepada kedua orangtuanya. Bahkan ketiak disudutkan oleh mertua dan iparnya pun, Arimbi hanya diam.
Pribadi Arimbi yang awalnya ceria itu seketika berubah menjadi pendiam. Hanya senyum simpul yang diberikan ketika ditanya.
"Bapak, Ibu makasih untuk makannya. Aku pergi dulu ya, nggak lama kok,"pamit Arimbi kepada Aliya dan Arga.
"Pergilah, gunakan waktumu sebanyak mungkin. Lama pun juga nggak apa-apa. Kamu bebas buat jalan-jalan,"ucap Aliya.
Arimbi tersenyum senang. Setelah berpamitan, dia melenggang pergi meninggalkan rumah. Tujuannya adalah pusat perbelanjaan. Di sana banyak toko yang bisa membuatnya mencari apa yang diinginkannya untuk diberikan Bhumi.
Sepanjang berjalan menyusuri pusat perbelanjaan, Arimbi berjalan dengan langkah ringan. Dia bahkan bersenandung kecil sambil melihat-lihat toko yang berjajar.
"Jadi enaknya mau ngasih apa ya?" gumam Arimbi lirih setiap melewati toko. Sambil mengingat tentang sosok Bhumi, Arimbi mencoba mencari barang yang tepat dengan pria tersebut.
Tring
Seolah ada lampu di atas kepalanya, Arimbi akhirnya menemukan sesuatu yang sekiranya pas. Arimbi ingat beberapa kali dia melihat Bhumi mengenakan pakaian formal dengan dasi yang menggantung di leher.
Meski tidak sering, tapi sepertinya Arimbi sudah menentukan pilihan. Sebuah dasi dan juga pin nya.
"Kayaknya itu akan cocok dengannya,"ucap Arimbi lirih.
Dia kemudian masuk ke dalam sebuah toko, memilih apa yang diinginkan tadi dan membungkusnya. Tak perlu waktu lama bagi Arimbi untuk menyelesaikan apa yang dikerjakan. Dia adalah tipe orang yang kerja cepat dan tepat.
"Udah dapet, waktunya pulang. Apa sebaiknya aku muter-muter aja sekalian ya? Iya deh gitu aja sekali-kali keliling mall."
Pilihan sudah diputuskan, Arimbi akhirnya memilih menghabiskan waktunya sejenak di pusat perbelanjaan tersebut. Meski sendirian, ternyata itu cukup mengasyikkan.
Bruk
"Ah maaf saya tidak sengaja,"ucap Arimbi ketika tubuhnya menabrak seseorang.
"Arimbi?
Degh!
Arimbi langsung mendengus ketika mendengar suara orang tersebut. Suara yang sangat dikenalnya dan sangat enggan dia dengar lagi.
"Oh kamu, maaf ya nggak sengaja,"ucapnya ketus.
"Oh nggak apa-apa. Sedang apa kamu di sini?"
"Jalan-jalan. Permisi."
Tak ingin terlibat lebih jauh lagi karena memang dia enggan berurusan dengan orang itu, Arimbi cepat-cepat ingin pergi. Namun pepatah yang mengatakan bahwa malang tak dapat ditolak itu agaknya benar adanya.
Saat hendak bergegas pergi, seseorang lainnya muncul dan berteriak memanggil dirinya.
"Arimbi!! Ngapain kamu di sini sama suamiku?"
Haaah
Arimbi membuang nafasnya kasar. Niat hati ingin menyegarkan pikiran, yang ada malah dia mendapatkan kesialan.
"Cih, Mbaknya yang terhormat. Suami mu itu udah sesuatu yang seperti sampah bagiku. Nyatanya udah aku buang kan, jadi nggak usah khawatir. Ngerti!!" ucap Arimbi tajam.
"Farrah, kamu apa-apaan sih. Jangan bikin ribut, jangan buat malu,"kecam Amar kepada Farrah.
Ya dua orang yang ditemui oleh Arimbi di pusat perbelanjaan itu adalah Amar dan Farrah. Orang-orang yang sangat enggan ditemuinya. Namun bumi ini luas, bukan hal mustahil untuk bertemu dengan mereka. Hanya saja waktunya sangat tidak pas sehingga rasanya membuat kesal.
"Prinsip ku, yang namanya sampah itu ya dibuang ke tempat sampah. Dan kamu Farrah, sampai saat ini nyatanya kamu nggak pernah ngerasa bersalah udah jadi gundik. Agaknya memang urat malu mu udah putus ya. Ya gimana nggak putus urat malunya, bersedia jadi gundik aja udah nunjukin bahwa kamu itu nggak tahu malu. Nah jaga baik-baik tuh suami kamu, jangan sampai punya gundik di belakangmu."
Arimbi sebenarnya enggan ribut seperti ini. Akan tetapi agaknya Farrah memang mencari gara-gara dengannya. Tatapan mata wanita itu menunjukkan permusuhan yang sangat dalam.
Dengan elegan, Arimbi melenggang pergi setelah berkata demikian kepada Farrah dan Amar. Dia tersenyum puas karena melihat wajah Farrah yang sangat kesal. Tak hanya itu, agaknya Amar dan Farrah juga terlibat keributan kecil.
"Aku beneran nggak peduli sama kalian. Tapi kalau kalian ngusik aku, aku nggak akan tinggal diam."
TBC
baru ✓
asal mula pura pura jd pacsr ato calon istri
lama lama kok beneran ada rasa🤣🤣🤣
rejeki nomplok mbak mbi dapat berondong tajir👏👏masih ori lho