NovelToon NovelToon
Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Kembali Ke Masa Muda, Tak Lagi Mengejarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Selama enam tahun, Kinara hidup sebagai istri dari Zergan Airlangga, seorang direktur sekaligus CEO muda yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Pernikahan mereka bukanlah kisah cinta yang indah, melainkan hasil perjodohan dua keluarga besar.
Sejak awal, Kinara mencintai Zergan seorang diri. Ia bertahan dengan harapan bahwa suatu hari hati suaminya akan luluh. Namun, harapan itu tak pernah menjadi kenyataan. Bagi Zergan, hatinya telah terkubur bersama wanita yang pernah ia cintai dan telah meninggal dunia. Kehilangan itu mengubahnya menjadi pria yang dingin, acuh, dan tak pernah benar-benar melihat keberadaan Kinara sebagai istrinya.
Hingga sebuah kejadian tak terduga mengakhiri segalanya.
Saat membuka mata, Kinara mendapati dirinya kembali ke masa lalu saat usianya baru dua puluh tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Ia kembali ke waktu sebelum perjodohan itu terjadi, sebelum enam tahun penuh luka dan penantian.
Kali ini, Kinara bertekad mengubah takdirnya. Ia tidak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Seila yang sejak tadi mengamati interaksi itu dengan hati yang mendidih segera berdiri dari duduknya. Senyuman manis yang tampak polos kembali ia pasang di wajah cantiknya.

​"Ayah, Ibu, biar Seila saja yang mengantar Kak Nara ke kamarnya," ucap Seila dengan suara yang dilembut-lembutkan, terdengar begitu perhatian di telinga kedua orang tuanya. "Kak Nara pasti capek setelah seharian di kampus. Biar Seila bantu tunjukkan kamar yang sudah disiapkan untuk Kakak."

​Kinara menatap Seila, dan sebuah senyuman licik terukir samar di sudut bibir cantiknya. Ia tahu betul isi kepala busuk adik kandungnya ini. Di kehidupan lalu, kamar yang disiapkan untuknya bukanlah kamar mewah di lantai dua seperti milik Seila, melainkan sebuah ruang sempit dan pengap yang tidak layak.

​"Oh, ya? Baik sekali kamu, Seila. Silakan, antar aku," sahut Kinara dengan nada santai, berdiri dari sofa beludru dan meladeni permainan sang adik.

​Seila melangkah lebih dulu, menuntun Kinara melewati ruang tengah yang megah. Namun, bukannya membawa Kinara menuju tangga besar yang mengarah ke lantai atas, langkah kaki Seila justru berbelok menuju lorong remang-remang di bagian belakang rumah, tepat di bawah kolong tangga yang berbatasan langsung dengan area servis dan gudang penyimpanan barang bekas.

​Seila berhenti di depan sebuah pintu kayu tripleks yang kusam dan sedikit berdebu. Ia membuka pintu itu, menampilkan sebuah ruangan yang teramat sempit. Di dalamnya hanya ada sebuah kasur busa tipis tanpa ranjang, sebuah lemari plastik miring, dan udara yang terasa sangat pengap karena bercampur dengan aroma karbit serta debu dari gudang.

​"Nah, Kak, ini kamar buat Kakak," ucap Seila berbalik menghadap Kinara. Suara lembutnya seketika lenyap, berganti dengan nada meremehkan yang sangat kentara. Bibirnya tersenyum penuh kemenangan. "Maaf ya, kamar di atas sudah penuh. Lagian, Kakak kan sudah terbiasa tinggal di tempat orang tua angkat yang miskin dan kos-kosan sempit, jadi kamar di bawah tangga belakang ini pasti rasanya sudah sangat mewah buat ukuran anak panti asuhan seperti Kakak."

​Kinara menatap ruangan itu, lalu beralih menatap wajah sombong Seila. Alih-alih menangis terhina seperti di kehidupan lalunya, tatapan mata Kinara mendadak berubah menjadi sangat tajam dan sedingin es.

​Plakkk!

​Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sunyi itu.

​Kinara melayangkan tangan kanannya dengan kekuatan penuh, menghantam telak pipi mulus Seila hingga kepala gadis itu terparah ke samping. Seila terpekik nyaring, tubuhnya terhuyung mundur hingga menabrak pintu tripleks di belakangnya. Pipi kirinya langsung berubah merah padam dan terasa panas membakar.

​"K-kamu... Kamu berani nampar aku?!" jerit Seila histeris, memegangi pipinya yang berdenyut sakit dengan mata yang membelalak syok. Ia tidak pernah menyangka Kinara yang dikiranya lemah akan berani bermain fisik.

​Kinara maju satu langkah, menekan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat Seila refleks menciut ketakutan. "Itu pelajaran karena mulutmu kurang ajar, Seila. Kamu pikir aku ini pengemis yang bisa kamu injak-injak dengan memberikan tempat sampah ini sebagai kamar?" ucap Kinara dengan suara rendah yang sangat menakutkan.

​Mendengar keributan dan jeritan histeris dari arah belakang, langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Surya dan Mika Adijaya bergegas menyusuri lorong dengan wajah penuh kepanikan.

​"Ada apa ini?! Seila!" teriak Mika langsung menghambur memeluk putri kesayangannya begitu melihat Seila yang sudah berlinang air mata.

​Melihat kehadiran orang tuanya, insting drama Seila langsung bekerja dengan sempurna. Ia sengaja merosot duduk di lantai, menangis terisak-isak dengan tubuh yang dibuat gemetar hebat seolah-olah ia adalah korban penganiayaan yang teramat menderita.

​"Ibu... Ayah... Hiks, Kak Nara kejam banget..." adu Seila dengan suara yang sengaja dibuat parau dan tersendat-sendat. "Seila cuma mau menunjukkan kamar ini... Seila bilang kalau untuk sementara Kakak tidur di sini dulu karena kamar atas belum sempat dibersihkan. Tapi... tapi Kak Nara langsung marah, dia maki-maki Seila dan nampar Seila sampai pusing, Bu... Hiks, sakit banget..."

​Mika yang melihat pipi anak emasnya memar merah langsung menoleh ke arah Kinara dengan mata melotot marah. "Kinara! Keterlaluan kamu, ya! Baru satu jam kamu menginjakkan kaki di rumah ini, kamu sudah berani berbuat kasar pada adikmu sendiri?! Di mana hati nuranimu?!"

​Surya Adijaya maju ke depan, berdiri kokoh di hadapan Kinara dengan rahang yang mengatup rapat menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun. Sorot matanya seolah ingin menguliti Kinara hidup-hidup. "Anak tidak tahu diuntung! Kami menjemputmu baik-baik, tapi kamu malah membawa tabiat kasar panti asuhanmu ke rumah ini dan memukul anak saya! Minta maaf pada Seila sekarang juga, atau saya akan—"

​"Atau apa, Tuan Surya?" potong Kinara dengan suara yang teramat tenang, memotong gertakan sang ayah tanpa rasa takut sedikit pun.

​Kinara menatap lurus ke dalam mata Surya, lalu beralih menatap Mika dan Seila yang masih asyik dengan dramanya di lantai. Kinara bersedekap, memperlihatkan pergelangan tangan kirinya yang masih terbalut kain kasa putih akibat luka bakar kemarin.

​"Kalian menyebut menjemputku dengan 'baik-baik'?" Kinara mendengus mencela, senyuman sinis terukir jelas di wajahnya. "Menyiapkan kolong tangga belakang yang pengap, berdebu, dan berbatasan dengan gudang penyimpanan untuk anak kandung yang baru kembali... apakah ini yang dinamakan menyambut dengan baik-baik oleh keluarga terhormat Adijaya? Jika media atau rekan bisnis Anda tahu bagaimana cara Anda memperlakukan anak kandung Anda sendiri, menurut Anda apa yang akan terjadi pada saham perusahaan kalian besok pagi?"

​Ancaman tersirat yang keluar dari bibir Kinara seketika membuat kata-kata kemarahan Surya tertahan di tenggorokan. Pria paruh baya itu tertegun membeku, menyadari bahwa anak perempuan yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah pion lemah yang bisa mereka kendalikan dan gertak dengan mudah.

"Karena kamar di atas penuh dan kamar yang kalian siapkan ini tidak lebih baik dari tempat sampah," ucap Kinara memecah keheningan dengan suara yang teramat tenang namun sarat akan penekanan yang mutlak. Ia melangkah maju, melewati Surya yang masih mematung, lalu menatap lurus ke arah Seila yang terduduk di lantai.

​"Aku memutuskan untuk menempati kamarmu, Seila."

​Mendengar kalimat itu, tangisan dramatis Seila seketika terhenti seketika. Ia mendongak dengan mata membelalak sempurna, seolah baru saja mendengar lelucon paling gila abad ini. Rasa syok dan tidak terima langsung mengubur rasa sakit di pipinya.

​"Nggak! Nggak bisa!" tolak Seila dengan nada suara yang meninggi, melupakan sejenak akting polosnya. Ia langsung berdiri dibantu oleh Mika, menatap Kinara dengan tatapan penuh permusuhan. "Kamar itu punya aku! Aku sudah menempati kamar itu selama bertahun-tahun, semua barang-barang mewahku ada di sana! Kamu nggak berhak sewenang-wenang mengusir aku dari kamarku sendiri, Kak!"

​Kinara hanya menatap penolakan berapi-api adiknya dengan pandangan malas, seolah sedang melihat anak kecil yang sedang tantrum. "Kamar itu seharusnya menjadi milikku kalau saja aku tidak hilang, Seila. Kamu hanya menempatinya sebagai pengganti. Sekarang pemilik aslinya sudah kembali, jadi sudah sewajarnya kamu pindah. Lagipula, bukankah kamu tadi bilang kalau kamar di bawah tangga belakang ini sudah sangat mewah?" sindir Kinara menukik tajam, membalikkan kata-kata Seila sebelumnya.

​"Kamu—!" Seila berniat memaki, namun ia menahan kalimatnya saat melihat sudut mata Surya yang memberi isyarat untuk diam.

​Surya Adijaya mengepalkan tangannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Sebagai kepala keluarga, harga dirinya sangat terusik melihat bagaimana Kinara mendikte situasi di rumahnya sendiri. Namun, mengingat krisis pasokan bahan baku perusahaan Adijaya yang saat ini berada di ujung tanduk dan membutuhkan nama Kinara sebagai kartu as untuk kesepakatan bisnis minggu depan, Surya terpaksa menelan mentah-mentah amarahnya.

​"Seila," panggil Surya dengan suara berat yang menahan gejolak emosi. "Pindahkan barang-barangmu ke kamar tamu di lantai dua untuk sementara waktu. Biarkan kakakmu menempati kamarmu malam ini."

​"Ayah?!" Seila menjerit tidak percaya, menatap sang ayah dengan pandangan terkhianati. Bahkan Mika pun ikut terperangah dengan keputusan suaminya. "Tapi, Yah—"

​"Lakukan saja, Seila! Jangan membantah!" potong Surya dengan nada mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

​Seila beralih menatap Kinara yang kini sedang tersenyum tipis sebuah senyuman kemenangan yang terlihat begitu menyebalkan di matanya. Dada Seila bergemuruh hebat, napasnya memburu naik-turun menahan gelombang kekesalan dan rasa muak yang teramat sangat yang kini menyumbat tenggorokannya. Ia ingin sekali mencakar wajah Kinara saat ini juga, namun otoritas sang ayah membuatnya terpaksa mengatupkan bibirnya rapat-rapat hingga memutih.

​Dengan hentakan kaki yang kasar dan tangan yang mengepal erat hingga kukunya memutih, Seila membalikkan badan dan berjalan cepat menuju lantai atas untuk mengemas barang-barangnya, menahan badai kemarahan yang bersiap ia tumpahkan nanti.

1
si mesteri
semoga kau hidup bahagia kedepan nya kinara oh iya thor ini yg terbagus dalam ending sad bikin haru dan mau aku baca berkali-kali tapi radak nyesek sama endingnya semoga thor nya juga sehat selalu dadah /Smile//Sob/
Uthie
Lagiiii dong 😍
heyyykau
crazy up kak🫰
Dwi Agustina
Allah pasti trlah menyiapkan takdir yg lbh indah utkmu Nara😥💪
heyyykau
crazy up kak, gk sabar liat kinara menghilang dri kehidupan zergan trs kinara jadi sukses sm ada seseorang mencintai kinara dengan tulus dan juga sebaliknyaa🫰😭
Dedi Dahlia
nanti setelah kinara pergi,zergan ingat kembali massa lalu kehidupan pertama, dan menyadari sipat Haura tak seperti yang diharapkan,baru lah sadar hanya kinara gadis yang tulus dan mengerti tapi,sayang terlambat baru menyadarinya,sip di tunggu momennya thorr itu terjadi🙂🙂
Uthie
Saya sihhh paling gak sabar nunggu pas moment Kinara pergi dari Zergan, dan ia baru menyadari siapa yg paling tulus pada nya nanti 😏😏

kayanya Haura ada main di belakangnya, dengan Arsen pula!
Dwi Agustina
Sesakit ini y Nara nyampe kesini😥🤣😂😂
putmelyana
bodoh bukannya menjauh malah masuk kedalam masalahnya bodoh bnget lu kinara
Devi..
harusnya Kinara memastikan dulu gmna hub Haura dg Arsen.. terlalu buru" klo lngsung menghadap Oma..😌
heyyykau
crazy upp kak gk sabar kinara pergi jauh, sukses dan punya pasangan yang menerima dia apa adanya dan yg terpenting mencintai diaa🫰
aku
kenapa nara smpe segitunya sih. bukannya udh ckup smpe haura batal diculik ja? kesannya jd ikut campur bgt. agk kurang respect 🙏 mf cm berpendapat 🙏
Uthie
Sepertinya Kinara malah membuat masalah baru nantinya untuk Zergan... bahwa Haura sebenarnya tidak sebaik yg terlihat!!
ada pengkhianatan sebenarnya...
Uthie
Kalau menurut aku, berubah nya Takdir ini adalah saat Haura batal di culik, dan tidak jadi meninggal tragis...
Namun sesudahnya sebenarnya terkuak hubungan rahasia Haura dan Arsen....
dan itu belum di ketahui oleh Ze 👍

dan...bisa jadi di takdir kedua ini, sebenarnya menghubungkan antara 2 tokoh utamanya 👍😁
Dwi Agustina
Nyesek bngt jd Kinara😥
Uthie
Lagiiii dongggg 😍🙏🙏
Lippe
Kinara malah bikin Zergan jadi tambah beban pikiran 🤣
Uthie
Bagussss... keren tuhhhh pembalasan nya 👍👍😍😍😍
aku
🌹 ayo tor biar semangat 🙏
Yuyun Suprapti
masih kurang kk...
besok² crazy up dong kk thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!