Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.
Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.
Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.
Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejar Tayang Medsos
Suasana di ruang kerja tim kreatif hari itu terasa begitu intens. Sejak satu jam yang lalu, potongan backsound yang sedang tren di TikTok diputar berulang-ulang dari komputer Ivan, sang editor, beradu dengan bunyi klik mouse yang brutal.
Sebagai atasan yang bertanggung jawab penuh atas proyek ini, Arini berdiri bersedekah dada di belakang kursi Ivan. Di sampingnya, Rian ikut berdiri tegak, memantau setiap jengkal proses penyuntingan dengan dahi berkerut. Karena model influencer kemarin batal dan Arini terpaksa turun tangan menjadi pengganti, tim Rian harus bergerak ekstra cepat. Di dunia media sosial, telat beberapa jam saja bisa membuat momentum algoritma hilang.
"Potong di detik ketiga, Van. Langsung masukin teks hook-nya di atas kepala Bu Arini," instruksi Rian tegas kepada editornya.
"Teksnya pakai warna kontras ya, biar pas orang scrolling, mata mereka langsung kecantol," tambah Arini, ikut memberikan arahan sebagai atasan yang paham strategi digital. Namun, begitu matanya fokus melihat potongan video di monitor, dahi Arini berkerut.
"Bentar, Rian. Itu... pipi saya kelihatan terlalu tembem di sudut pengambilan gambar yang itu. Bisa agak di-crop dikit atau pakai trik lighting pas grading?" tanya Arini ragu, sisi manusianya sedikit terusik melihat wajah sendiri terpampang besar di monitor kantor.
Ivan sang editor langsung melirik Rian, meminta kode.
Rian berdeham pelan sebelum menjawab atasannya itu. "Mohon maaf, Bu Arini, tapi untuk video Reels dan TikTok, sudut itu yang justru bikin kelihatan natural dan ramah di kamera. Penonton medsos sekarang lebih suka yang kelihatan nyata daripada yang terlalu sempurna kayak manekin. Kalau kita crop, esensi review jujurnya malah hilang."
Arini diam sejenak, menimbang penjelasan logis dari bawahannya itu, lalu akhirnya mengangguk profesional. "Oke, masuk akal. Lanjutkan."
Ketegangan belum usai. Rian tiba-tiba teringat sesuatu dan mengecek ponselnya yang terhubung dengan grup koordinasi antar-divisi. Dahinya langsung berlipat ganda.
"Van, gawat. Musik yang lo pakai di draft awal ini ternyata gak bisa dipakai buat akun bisnis. Barusan ada info dari tim sebelah kalau audio ini rawan kena copyright komersial," seru Rian panik.
"Hah? Serius, Mas?" Ivan langsung kelabakan. "Kalau kita nekat upload, videonya bakal langsung di-mute sama sistem."
"Ganti backsound cadangan yang tipenya mirip sekarang, yang aman untuk commercial use," perintah Arini dengan nada tenang namun tegas, berusaha menjaga ritme tim agar tidak makin panik. "Kita cuma punya waktu tiga puluh menit sebelum jam makan siang—itu golden hour terbaik buat upload hari ini."
Suasana langsung berganti tegang. Ivan dengan cekatan mengganti instrumen musik, menyelaraskan kembali ketukan video (beat-matching) agar tetap pas dengan transisi wajah Arini saat mengusap serum ke pipinya.
"Oke, aman! Teks Call to Action 'Klik keranjang kuning' juga udah masuk di akhir video," lapor Ivan sambil menyeka keringat dingin di dahi. "Saya render sekarang ya, Bu, Mas?"
"Gasss, Van!" sahut Rian setelah mendapat anggukan mantap dari Arini.
Mereka bertiga menahan napas, memandangi progress bar proses rendering di layar komputer yang bergerak lambat. Begitu jarum persentase menyentuh angka 100%, semua orang kompak mengembuskan napas lega.
Tanpa membuang waktu, Rian langsung memindahkan file final untuk dijadwalkan tayang, memasang caption dan hastag yang sudah disetujui Arini sebelumnya.
"Saya tekan tombol publish sekarang ya, Bu?" tanya Rian meminta persetujuan akhir dari sang atasan.
Arini mengangguk pasti. "Bismillah. Publish, Rian."
Satu klik. Video iklan skincare darurat yang menampilkan wajah Arini itu resmi mengudara di jagat medsos. Kini, tinggal menunggu bagaimana algoritma bekerja dan menyelamatkan reputasi proyek mereka.