NovelToon NovelToon
Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Ayah Tiriku, Sugar Daddy-ku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Terlarang
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wandhansari

Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 : Satu Juta Untuk Kepala Dexter Hendrick

Pagi itu, Veliora bangun lebih awal. Agak terkejut Veliora mengetahui tangan berotot kekar berada di atas perutnya. Nafasnya turun-naik. Veliora memperhatikan pria sesusia Papinya itu dengan seksama.

Nyaris tanpa cacat dan cela. Tapi, Veliora agak pesimis. Mana mungkin, pria dewasa yang matang di sebelahnya ini mencintai dirinya?. Seorang anak manja. Yang selalu dimanjakan Papinya selama hidupnya.

Veliora merapatkan tubuhnya pada Kaelric. Dia pun melingkarkan tangannya ke tubuh pria itu. Seolah, dia ingin mengatakan. Daddy, jangan jauh dariku. Aku takut kehilangan Daddy.

Wajahnya ia benamkan ke ceruk leher dan menggesekkan kepalanya. Sontak, yang empunya leher terbangun. Karena, merasa geli dengan ulah gadis itu.

"Iissshhh... Kamu sudah bangun rupanya. " Masih memejamkan matanya

"Aku rasanya gak mau bangun. Nyaman banget ada di dekat Daddy. Apalagi dipeluk kayak gini."

"Yaudah. Jangan bangun. Bobok lagi! "

Kaelric bicara dengan malas. Lalu, tangannya melingkar di tubuh Veliora.

"Tapi, hari ini kamu kan ada kuliah?"

Tanyanya. Veliora menggesekkan kepalanya ke dada Kaelric. Hingga membuat pria itu kegelian.

"Iih, udah ah!. Geli tau! "

"Aku gak mau bangun, Dad! "

"Emang kamu gak masuk kuliah hari ini. Kamu bilang ada tugas kemarin."

"Kemarin malam ada pesan di grup whatsapp. Hari ini libur, dosenku ada tugas ke Italia, Dad!. Jadi, tugas di tunda minggu depan."

"Hmmm... Libur ya???. Yaudah.. Lanjutin bobok. Aku mau pergi sebentar. "

"Kemana, Dad?. Aku ikut! "

"Jangan, ini darurat. Kamu gak boleh ikut. Bik Isa udah masuk kerja. Semua orang komplit hari ini. Jadi, kamu gak sendirian. Anggap saja, ini rumah kamu sendiri. Nanti kalau semua selesai, kita hang out bareng, oke? ".

Veliora mengangguk, lalu membenamkan diri tidur lagi.

Sementara itu, Kaelric berjalan menuju ruang kerjanya. Dibukanya laci meja dengan gerakan tenang.

Sebuah Walther PPK, pistol kecil semi otomatis tergeletak dengan rapi di dalamnya. Begitu juga pisau lipat premium. Nampak bersih, dingin, dan siap. Ia melakukanya tidak dengan terburu-buru. Tidak juga ragu. Karena baginya,

persiapan adalah hal yang paling dasar.

Semua demi keamanan dirinya yang bertarung dengan maut.

Diambilnya dia senjata andalannya. Lalu turun ke bawah. Menuju basement Mansion kediamannya.

Disitu berderetlah mobil-mobil mewah koleksinya. Kakinya melangkah mantap menuju Rolls-Royce Cullinan warna hitam. Kaelric membuka laci kecil di dalam mobil.

Sebuah pistol hitam SIG Sauer P66 terbaring rapi di sana, tidak mencolok, juga tidak berlebihan.

Ia mengambilnya tanpa ekspresi, memastikan semuanya pada tempatnya.

Bukan karena berniat untuk menggunakannya.

Tapi karena ia tidak pernah datang tanpa persiapan.

Rolls-Royce Cullinan warna hitam meraung-raung membelah jalanan Jakarta di pagi yang gelap. Seolah seperti Malaikat maut mencari mangsa.

Dengan mantap, Kaelric menuju tempat Gerard. Karena, semua barang sudah direbut kembali oleh Ravian, sekarang giliran Kaelric yang mencari perhitungan.

Gerard sudah berkali-kali mengusik Kaelric. Entah, apa yang ada dalam pikirannya. Dia lupa, terakhir kali memohon agar pria itu membantunya untuk kesembuhan Ibunya.

Sampai juga dia di tempat Gerard. Anak buah Gerard nampak memberi jalan. Karena, mereka tahu, siapa yang mendatangi tempat bos mereka.

Anak buah satunya lagi masuk ke dalam, memberi tahu kedatangan Kaelric.

Akhirnya, Kaelric disuruh masuk ke dalam rumah.

Mereka berdua duduk berhadapan. Gerard nampaknya duduk tidak tenang. Gelisah. Sedangkan Kaelric, seperti biasa. Dan ini adalah ciri khasnya.

Duduk tenang menghadap ke depan. Diam, dengan kaki sebelah menumpu pada sebelahnya lagi. Tangan di dagunya. Tangan satunya lagi bertumpu di pegangan kursi.

"Bro... Aku aku minta maaf karena kejadian kemarin. Aku salah. Aku benar-benar minta maaf. "

Kata Gerard.

"Kau ingin Ibumu tetap sehat bukan? "

Kata Kaelric dengan tenang.

"Tentu, bro! "

"Lalu, kenapa kau berani mengusik sesuatu yang bukan milikmu? "

"Oh, atau kau sudah bosan hidup? "

Gerard menggelengkan kepalanya.

"Tidak tidak... Jangan lakukan itu padaku."

"Aku sangat menyayangi ibuku, bro! "

"Lalu, kenapa kau berani mengusik sesuatu yang bukan milikmu? "

"Aku disuruh, bro. Aku disuruh dengan imbalan yang tinggi. "

"Oh ya?. Lalu bagaimana dengan ibumu?. Oh, atau kau lupa siapa yang membebaskan ayahmu dari cengkeraman Juan Carlos yang gila itu? "

"Gerard, aku sebenarnya tidak akan pernah mengusik hidupmu. Apalagi dengan adanya ibumu di paviliun ku. Tapi, apa yang kamu lakukan sekarang ini. Sungguh membuat aku marah. "

"Kamu benar-benar sudah melewati batas! "

Kaelric bangun dari duduknya. Ia hendak pergi dari tempat itu.

"Jaga dirimu baik-baik, Gerard. Urusan kita pagi ini harus selesai. Atau darahmu akan tumpah detik ini juga. Ingat, ibumu ada di tanganku

Jika kau tak menuruti aturanku, kau tahu apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitar Ibumu jika habis kesabaranku."

Segera Gerard mengejar Kaelric, lalu duduk bersimpuh. Menangis, menyesal dengan perbuatannya kemarin malam. Hanya karena hasutan dari Dexter Hendrick dia sudah merubah arah. Seharusnya, sebelum melakukan sesuatu dia ingat pada ibunya. Dan dimana ibunya tinggal saat ini.

"Dibayar berapa kau oleh Dexter Hendrick?"

"Setengah juta USD. Bahkan, dia memberi kelebihan jika usahaku berhasil."

Kaelric mendengus kesal

"Cih!!. Murah sekali upah yang kamu terima?"

Gerard diam saja. Dia sama sekali tidak berani bergerak.

"That's low. Not worth it. And you risk your life for that? "

Kaelric sekali lagi mengulangi ucapannya. Dia benar-benar kecewa dengan tindakan Gerard.

"Kau mempertaruhkan hidupmu hanya untuk angka sekecil itu? "

Gerard diam. Dia nampak bingung dengan ini semua. Dia sudah menyerah dan pasrah dengan apa yang terjadi.

"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku, bro?"

“Kau ingin menebus kesalahanmu?”

Gerard menelan ludah. “Iya…”

Kaelric menatapnya datar.

"Bawa kepalanya di hadapanku”

Sunyi sejenak.

“Satu juta untukmu.”

Ia menyandarkan tubuhnya perlahan.

“Dan aku anggap kita tidak pernah bertemu.”

" Jika gagal, kau tahu apa yang akan terjadi. Entah ibumu atau dirimu sendiri. "

Gerard diam. Dia sudah kehilangan akal. Rasanya mau hidup susah, mati pun susah.

Yang ada dipikirannya sekarang adalah ibunya.

"Baiklah. Aku akan cari Dexter Hendrick. Aku akan membawa kepalanya di hadapanmu. "

"Oh iya. Satu hal lagi. Kamu harus segera mengosongkan rumah ini. Sepupuku dari Italia akan datang kesini. Dia akan menggantikan kamu yang sudah berani dihasut."

Belum selesai perbincangan mereka, suara deru mobil memasuki halaman rumah itu.

Seorang wanita tua masuk tergesa-gesa. Yang tak lain adalah ibu dari Gerard. Karena, wanita tua itu tadi mendengar berita dari orang-orang yang tinggal di Mansion Kaelric.

Wanita itu terlihat menangis dan menghampiri Kaelric. Jujur, Kaelric lemah dengan air mata. Apalagi wanita tua di depannya ini sudah dia anggap seperti ibunya sendiri.

"Bunuh, bunuh saja aku nak. Tak ada gunanya aku hidup di dunia ini. Aku tak punya siapa-siapa lagi. "

"Sshhhtt!. Apa yang Ibu katakan?" Kaelric mendekati ibu Gerard. Lalu memeluknya erat.

"Tenang, bu. Siapa yang mau membunuh Ibu? "

"Aku dengar orang-orang di Mansion tadi. Kamu kesini, akan membunuh anak tidak tahu diri itu! "

"Sudahlah, tenang Ibu. Ibu akan baik-baik saja, oke? "

"Sekarang, ayo kita pulang. Aku pastikan Ibu akan baik-baik saja. "

Kaelric membawa Ibu Gerard kembali ke Mansion. Dia menoleh ke belakang sambil memberi isyarat pada Gerard. Bahwa perintahnya adalah mutlak. Tak boleh diganggu gugat. Sambil menunjukkan Glock yang bersarang di celananya

Kaelric dan Ibu Gerard keluar rumah menuju mobil. Dia mengantar wanita tua itu ke mobil yang membawanya tadi.

"Smith. Bawa Ibu pulang ke Mansion. Pastikan Ibu tetap aman. Aku ada urusan sebentar."

"Baik Bos! "

Kaelric masuk Rolls-Royce miliknya. Lalu ia melaju kendaraannya ke Vorn Aegis Tower. Di tengah jalan, dia menghubungi Ravian.

"Ya Bos. "

"Kamu sudah di kantor? "

"Sudah. Bagaimana kabar Gerard hari ini Bos?. Asisten di Mansion menghubungi aku, Bos. Mereka bilang, Ibu pergi dari rumah. Karena, mendengar perbincangan mereka sendiri."

"Ya, Ibu sudah aku suruh kembali ke Mansion. Gerard harus pergi dari tempat itu. Kalau ingin ibunya hidup lebih lama."

"Kepala Dexter Hendrick harus dia bawa ke hadapanku untuk menebus kesalahannya. Dan, kau Ravian. Mulai hari ini, bayang-bayangi dia. Ikuti kemana pun dia pergi. Aku tidak mau melepaskan orang itu. "

"Baik, Bos. "

"Hari ini, ada kerjaan buatku tidak? "

"Sepertinya untuk hari ini tidak ada, Bos. Apakah Bos ingin istirahat sejenak? "

"Sebenarnya aku ingin ke kantor pagi ini. Tapi,.... ! "

"Iya, aku tahu Bos. Hari ini Nona Veliora tidak masuk kampus. Katanya, libur. "

"He, bangsat! Kenapa pikiran kamu sampai kesana? "

Umpat Kaelric. Tapi, Ravian hanya tersenyum di seberang sana. Jangan tanya, Kaelric dan Ravian. Saling mendukung satu sama lain. Buat Kaelric, Ravian adalah mata dan kakinya. Sedangkan, buat Ravian. Kaelric adalah dewa penyelamat yang membuat hidupnya seperti sekarang ini.

Pokoknya, mah! Si Kaelric ini yang membuat Ravian sekarang ikut tajir melintir. Hingga, bisa membantu beban hidup ke dua orang tuanya di kampung.

Bahkan, sudah beberapa kali Kaelric ikut bersambang di kampungnya.

Dan, satu lagi orang-orang di kampung Ravian mengenal siapa Kaelric. Dia nampak humble di depan semua orang. Kaelric bahkan membantu pembangunan di kampung Ravian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!