Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panah Api
WHUSSH!!
Panah api meluncur melewati langit malam dan jatuh tepat ke kereta perang yang terbakar.
DUAAARRR!!
Api langsung membesar.
Orc-orc di sekitar kereta mundur sambil meraung kasar.
“Mereka benar-benar takut api…” gumam Elias tak percaya.
“Tentu saja,” jawab Gerald sambil menyiapkan panah berikutnya.
“Mereka bukan monster tak berpikir.”
WHUSSH!!
Panah kedua meluncur.
Kali ini menghantam tumpukan kain dan minyak di dekat kelompok orc lain.
Api langsung menyebar cepat.
Medan perang berubah kacau.
Asap hitam memenuhi udara.
Orc mulai kehilangan arah.
“Sekarang!” teriak Gerald.
Boris langsung berdiri.
“AKHIRNYA GILIRANKU!”
Pria gendut itu berlari menuruni bukit sambil membawa kapaknya.
Elias melongo.
“Kenapa dia cepat banget turun?!”
“Karena gravitasi membantu,” jawab Gerald datar.
“Hah?”
“Lupakan.”
Gerald ikut turun sambil membawa pedang.
Di bawah sana, kelompok tentara yang terkepung mulai kebingungan melihat orc-orc panik karena api.
“Siapa yang menyerang?!” teriak salah satu tentara.
“Mana kutahu!”
“Fokus bertahan!”
Namun sebelum mereka sadar—
BRAKK!!
Boris menghantam kepala seekor orc dengan kapaknya.
Monster itu langsung roboh.
“HAHAHAHA!!”
“KENAPA DIA MALAH SENANG?!” teriak Elias.
Gerald menerobos masuk dari sisi kanan.
Gerakannya cepat dan efisien.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Satu tebasan.
Satu kematian.
Darah hitam muncrat ke tanah.
“Belakangmu!” teriak Elias.
Seekor orc besar mencoba menyerang Gerald dari belakang.
Namun Gerald langsung merunduk.
Kapak monster itu justru menghantam orc lain.
“Monster bodoh,” gumam Gerald.
CRASSHH!!
Pedangnya memotong lutut orc.
Lalu menusuk tenggorokannya.
Monster itu jatuh sambil meraung kesakitan.
Tentara manusia yang tadi terkepung mulai membalas serangan.
Semangat mereka kembali muncul.
“Dorong mereka!”
“Jangan mundur!”
“Kita masih hidup!”
Namun Gerald langsung sadar sesuatu.
Jumlah orc mulai bertambah lagi.
Api hanya menahan mereka sementara.
“Elias!” teriak Gerald.
“Hah?!”
“Ambil tombak!”
“Untuk apa?!”
“LEMpar KE ORC YANG BAWA TANDUK!”
Elias menoleh cepat.
Di belakang kelompok orc, ada satu monster lebih kecil yang membawa tanduk tulang.
Setiap kali tanduk itu dibunyikan—
Orc lain bergerak lebih teratur.
“Itu komandannya?” tanya Elias.
“Kurang lebih.”
“KENAPA ORC PUNYA KOMANDAN?!”
“Karena hidup kita memang sial.”
Elias langsung mengambil tombak dari tanah.
Lalu melempar sekuat tenaga.
WHUSSH!!
Tombak itu meleset jauh.
“….”
“….”
Gerald menatapnya datar.
“Aku gugup.”
“Ambil lagi.”
Elias langsung mengambil tombak kedua.
Namun sebelum sempat melempar—
WHUSSH!!
Kapak kecil meluncur dari samping dan menghantam kepala orc pembawa tanduk.
BRAKK!!
Monster itu langsung tumbang.
Semua menoleh.
Boris berdiri sambil nyengir bangga.
“Aku jago lempar.”
Elias menunjuk dirinya sendiri.
“TERUS AKU NGAPAIN?!”
“Jadi saksi.”
“SETAN!”
Namun efeknya langsung terasa.
Orc-orc mulai bergerak kacau.
Sebagian menyerang sembarangan. Sebagian malah saling bertabrakan.
Gerald menyipitkan mata.
“Sekarang mundur.”
“Hah?” Elias bingung.
“Kita menang kan?!”
Gerald menunjuk kejauhan.
Ratusan orc lain mulai bergerak ke arah mereka.
Wajah Elias langsung pucat.
“Oh.”
“LARI WOI!!” teriak Boris duluan.
Mereka semua langsung kabur bersama tentara lain.
Namun kali ini berbeda.
Para tentara mulai mengikuti Gerald.
Karena di tengah neraka medan perang…
Pria itu satu-satunya yang terlihat tahu apa yang harus dilakukan.
“Siapa namamu?!” tanya salah satu tentara sambil berlari.
Gerald diam sesaat.
Lalu menjawab pendek:
“Gerald.”
“Gerald apa?”
“…Belum terkenal.”
“Hah?”
“Lari saja dulu.”
Dan malam itu…
Tanpa ada yang sadar—
Benih pertama The 10th Battalion mulai terbentuk.