NovelToon NovelToon
Sistem Pilihan Takdir

Sistem Pilihan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:956
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Sinopsis
​Di Alam Fana, hukum rimba adalah satu-satunya kebenaran. Lin Chen, murid pelataran luar Sekte Pedang Awan, menyadari kenyataan pahit ini sejak hari pertama. Bakatnya pas-pasan, sumber dayanya selalu dirampas, dan nyawanya tak lebih berharga dari rumput liar. Saat maut hampir merenggutnya di ujung tebing, sebuah anomali tanpa asal-usul bangkit di dalam benaknya: Sistem Pilihan Takdir.
​Sistem ini menolak memberikan kekuatan instan. Setiap krisis hanya akan memunculkan tiga jalur pilihan di matanya, masing-masing membawa risiko dan hadiah yang berbeda. Hadiah tersebut bukanlah pil dewa yang langsung membuatnya kebal, melainkan teknik dasar, petunjuk tersembunyi, atau sekadar kesempatan bertahan hidup sesaat. Semuanya menuntut Lin Chen untuk memeras keringat, darah, dan akalnya sendiri. Dari kerasnya Alam Fana, merangkak naik menuju kemegahan Dunia Tengah para immortal hingga akhirnya mengincar keabadian sejati di alam dewa , Lin Chen mengukir jalannya selangkah demi selang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27 kabut ilusi dan tiga kelopak bunga di tengah badai

Aroma dupa spiritual yang menguar dari pipa giok Hua Ruge terasa memabukkan, dirancang khusus untuk melonggarkan pertahanan mental siapa pun yang menghirupnya. Di balkon VVIP Paviliun Bayangan Bulan yang remang-remang itu, jarak antara sang Nyonya Paviliun dan Lin Chen hanya tersisa beberapa jengkal.

Wanita bergaun sutra merah darah itu tersenyum dengan keanggunan seekor rubah betina. Ia melangkah sedikit lebih dekat, membiarkan ujung gaunnya yang terbelah tinggi menyingkap paha putihnya yang mulus. Dengan gerakan yang sangat lambat dan disengaja, Hua Ruge mengangkat tangan kirinya yang dihiasi kuku-kuku perak panjang. Jari telunjuknya yang lentik menyusuri kerah jubah hitam Lin Chen, turun perlahan hingga menyentuh tepi topeng besi kelabu pemuda itu.

"Ancaman yang keluar dari mulut seorang pria yang berani memotong lengannya sendiri... tentu saja aku tidak akan menganggapnya sebagai lelucon," bisik Hua Ruge. Napas hangatnya yang beraroma bunga melati malam menyapu sisi leher Lin Chen. Dada wanita itu, yang naik turun dengan ritme napas yang menggoda, nyaris bersentuhan dengan dada bidang Lin Chen.

Bagi kultivator muda manapun, berada dalam jarak sedekat ini dengan keindahan mematikan Hua Ruge sudah cukup untuk membuat darah mereka mendidih dan akal sehat mereka hancur. Namun, Lin Chen tetap bergeming layaknya patung es. Mata hitamnya yang mengintip dari celah topeng tidak memancarkan sepercik pun gairah, melainkan ketenangan yang mengevaluasi.

Lin Chen mengangkat tangan kirinya, menahan pergelangan tangan Hua Ruge dengan cengkeraman yang tidak menyakiti namun mustahil untuk dilepaskan. Ia menyingkirkan tangan wanita itu dari dadanya.

"Pesona dan ilusi adalah senjata yang bagus, Nyonya Hua," ucap Lin Chen datar, suaranya menggetarkan udara di antara mereka. "Tapi jangan gunakan senjata itu padaku. Simpan tenagamu untuk mengurus sisa-sisa pasukan Yan Wu setelah aku selesai dengannya."

Alih-alih merasa tersinggung, tawa merdu Hua Ruge justru kembali berderai. Ia menyukai tantangan, dan pemuda di depannya ini adalah teka-teki yang menolak untuk ditaklukkan oleh pesona fana. Wanita itu menarik tangannya dengan gemulai, lalu merogoh belahan kerah gaun merahnya. Dari balik sutra yang menutupi belahan dadanya, ia mengeluarkan sebuah kotak kayu cendana kecil yang masih menyimpan kehangatan tubuhnya.

"Pria yang membosankan, namun sangat bisa diandalkan," goda Hua Ruge seraya menyodorkan kotak itu ke dada Lin Chen. "Ini adalah *Mutiara Ilusi Bayangan*. Karena aku membatalkan pelelangannya secara sepihak malam ini demi dirimu, Fraksi Pasir Hitam di bawah sana sedang mengamuk. Aku harus turun tangan menenangkan mereka. Anggap saja ini investasi awalku untuk kepalamu, Lin Chen."

Lin Chen menerima kotak tersebut. Ia bisa merasakan sisa kehangatan dan aroma parfum tubuh Hua Ruge yang menempel pada kayu cendana itu. Ia membukanya sekilas; sebuah mutiara berwarna abu-abu yang memancarkan kabut tipis berputar lambat di dalamnya.

"Kau akan mendapatkan hasil investasimu," jawab Lin Chen. Tanpa membuang waktu untuk basa-basi atau berpamitan, ia memutar tubuhnya. Menggunakan sisa Qi di telapak kakinya, pemuda itu melesat melompat dari balkon, menyatu dengan bayang-bayang langit-langit paviliun, dan menghilang menembus jendela ventilasi di atas tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

Hua Ruge berdiri di balkon yang kini kosong, menatap ke arah jendela tempat pemuda itu menghilang. Ia menyentuh pergelangan tangannya sendiri yang tadi dicengkeram oleh Lin Chen. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.

"Iblis yang dingin..." gumam Hua Ruge, menjilat bibir merahnya dengan ujung lidahnya. "Mari kita lihat seberapa jauh kau bisa mengacaukan Kota Batu Hitam ini."

Langit malam Kota Batu Hitam masih dipenuhi debu bintang saat Lin Chen kembali menyusup masuk ke halaman belakang kediaman Keluarga Shen. Keadaannya kini jauh lebih stabil. Asimilasi Lengan Logam Abadi telah mencapai titik harmoni, dan *Mutiara Ilusi Bayangan* telah berada di tangannya.

Begitu ia mendorong pintu ruang rahasia bawah tanah, aroma herbal yang menenangkan menyambutnya. Ruangan batu itu telah dibersihkan. Di sudut ruangan, sebuah bak mandi kayu berisi air hangat yang dicampur dengan kelopak bunga penenang saraf dan daun giok penyembuh telah disiapkan.

Shen Yu sedang duduk di kursi kayu tak jauh dari sana, merapikan beberapa gulungan perban baru. Mendengar suara pintu terbuka, gadis bergaun biru muda itu segera berdiri. Wajahnya yang cantik dan polos sedikit merona saat melihat Lin Chen melangkah masuk.

"Tuan Lin... Anda sudah kembali," sapa Shen Yu dengan nada lega. Matanya secara refleks menyapu tubuh Lin Chen, memastikan tidak ada luka baru di tubuh penyelamatnya itu. "Ayah sedang berjaga di luar. Aku... aku telah menyiapkan air hangat dan ramuan herbal. Meridian Anda pasti tegang setelah menggunakan terlalu banyak Qi di luar."

"Terima kasih," ucap Lin Chen singkat. Ia berjalan mendekati bak mandi tersebut. Tanpa ragu, pemuda itu melepaskan jubah hitamnya dan melemparkannya ke atas kursi.

Shen Yu tersentak pelan. Wajahnya seketika memerah matang hingga ke telinga. Ia segera membalikkan badannya, menutup wajahnya dengan kedua tangan. "M-Maaf, Tuan! Aku... aku akan keluar sekarang!"

"Tunggu," suara Lin Chen menghentikan langkah gadis itu. Pemuda itu telah duduk di dalam bak mandi, membiarkan air hangat merendam tubuhnya sebatas dada. Lengan kirinya bersandar di tepi bak, sementara Lengan Logam Abadi di sebelah kanannya tetap berada di bawah air, tidak terpengaruh oleh suhu. "Kemari. Ada luka di punggungku yang sulit kujangkau untuk diolesi salep. Aku butuh bantuanmu."

Shen Yu menelan ludah. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah akan melompat keluar dari dadanya. Sebagai seorang gadis dari keluarga baik-baik, berada di satu ruangan tertutup dengan seorang pria yang sedang mandi adalah hal yang tabu. Namun, pria ini adalah sosok yang telah menyelamatkan keluarganya dari neraka Pemulung Gurun. Kepatuhan dan rasa hutang budi mengalahkan rasa malunya.

Dengan langkah ragu dan tangan yang sedikit gemetar, Shen Yu membalikkan badannya. Matanya menghindari menatap langsung, namun pandangannya tak sengaja menangkap bidang dada Lin Chen yang terekspos. Otot-otot pemuda itu terpahat sempurna layaknya perunggu, dipenuhi oleh garis-garis bekas luka pedang dan cakar monster yang menceritakan ribuan kisah pertarungan berdarah. Di pangkal bahu kanannya, batas antara daging manusia dan logam perak kehitaman terlihat menyatu dengan mengerikan sekaligus menakjubkan.

Gadis itu mendekat, mengambil mangkuk kecil berisi Salep Akar Giok. Tangannya yang lembut dan hangat mulai menyentuh punggung keras Lin Chen.

Saat jari-jari Shen Yu menyentuh kulitnya, Lin Chen memejamkan mata. Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa sedikit panas. Jari-jari Shen Yu bergerak dengan sangat hati-hati, mengoleskan salep dingin itu ke atas goresan luka melintang di punggung Lin Chen. Gadis itu menahan napasnya setiap kali ia merasakan lekuk otot punggung Lin Chen yang mengeras akibat refleks.

"Kau bergetar, Shen Yu," tegur Lin Chen pelan, tidak membalikkan wajahnya. "Jika kau takut padaku, kau bisa memanggil pelayan lain."

"T-Tidak, Tuan! Aku tidak takut," balas Shen Yu cepat, suaranya sedikit panik. Ia memberanikan diri menatap punggung tegap itu. "Aku hanya... aku hanya merasa sedih melihat seberapa banyak penderitaan yang harus Tuan tanggung di tubuh ini. Setiap bekas luka ini... rasanya tidak adil bagi seseorang yang begitu kuat harus menanggung rasa sakit yang begitu banyak."

Lin Chen membuka matanya. Tidak ada emosi yang beriak di wajahnya. "Kekuatan tidak lahir dari kedamaian. Bekas luka ini adalah bayaran yang aku berikan pada takdir untuk setiap napas yang masih kutarik hari ini."

Shen Yu terdiam. Ia melanjutkan usapannya dengan gerakan yang lebih lembut, seolah mencoba memberikan sedikit kehangatan dari tangannya untuk mendinginkan jiwa pemuda yang membeku itu. Kedekatan ini menciptakan sebuah gelembung ketenangan di tengah badai Kota Batu Hitam; sebuah ilusi kedamaian di mana sang Iblis membiarkan dirinya dirawat oleh tangan seorang gadis fana.

Tiba-tiba, langkah kaki tajam dan tergesa-gesa menuruni tangga batu memecahkan atmosfer tersebut.

Pintu terbuka. Xue Ziyan melangkah masuk. Gaun ungunya yang elegan terlihat kontras dengan suasana ruang bawah tanah yang lembap. Nona Muda Keluarga Xue itu melipat tangannya di depan dada, namun saat matanya menangkap pemandangan Lin Chen yang bertelanjang dada di dalam bak mandi, dan Shen Yu yang berdiri dengan wajah merah padam di belakangnya, langkah Xue Ziyan terhenti.

Semburat merah tipis menjalar di pipi wanita arogan itu. Ia berdehem keras, mencoba menutupi rasa canggungnya dengan memalingkan wajah ke arah dinding.

"Maaf mengganggu momen... santai Anda, Tuan," ucap Xue Ziyan dengan nada sinis yang khas, meskipun matanya diam-diam mencuri pandang ke arah garis otot bahu Lin Chen yang kokoh. "Tapi kita memiliki masalah yang mendesak. Mata-mataku di pusat kota baru saja mengirim pesan pembakar jiwa."

Lin Chen tidak merasa terganggu sedikit pun. Ia bangkit dari bak mandi. Air menetes dari tubuh perunggunya dan Lengan Logam Abadinya. Shen Yu buru-buru mengambilkan jubah hitam kering dan menyerahkannya dengan wajah tertunduk, lalu berlari mundur ke sudut ruangan.

Sambil mengikat sabuk jubahnya, Lin Chen menatap Xue Ziyan. "Katakan."

Xue Ziyan menelan ludah, berusaha mengalihkan fokusnya kembali pada urgensi situasi. Kutukan Segel Darah di dahinya berdenyut pelan, mengingatkannya pada dominasi absolut pria di depannya ini.

"Yan Wu telah mempercepat jadwalnya," lapor Xue Ziyan, suaranya kembali serius. "Penyembuhan bahu kirinya selesai lebih cepat karena ia mengorbankan Esensi Darah Seratus Budak. Sepuluh menit yang lalu, ia menaiki menara pusat kota. *Jaring Langit Hitam* akan diaktifkan malam ini juga."

Mata Lin Chen menyipit tajam. "Malam ini? Berapa lama waktu yang kita miliki sebelum pemindaian itu mencapai distrik ini?"

"Kurang dari setengah jam," jawab Xue Ziyan dengan nada cemas. "Gelombang energi Jaring Langit Hitam itu tidak hanya melacak fluktuasi Qi, tapi juga mendeteksi memori jiwa yang berbau darah pembantaian. Jika Tuan tertangkap oleh pindaian itu, posisi ruang bawah tanah ini akan terekspos. Lima ribu penjaga elit kota akan mengepung tempat ini dalam hitungan menit."

Lin Chen berjalan mendekati meja batu di tengah ruangan. Ia mengeluarkan kotak kayu cendana dari balik jubahnya dan membukanya. Mutiara Ilusi Bayangan memancarkan kabut abu-abu yang berputar magis.

"Kita akan menggunakan ini," kata Lin Chen.

Layar holografik biru dari Sistem Pilihan Takdir kembali berpendar di hadapannya, memberikan analisis krisis yang mematikan.

**[Ancaman Deteksi Massal: Jaring Langit Hitam Aktif.]**

**[Kondisi: Artefak Mutiara Ilusi Bayangan membutuhkan katalis energi ganda (Yin dan Yang) untuk menciptakan perisai yang cukup tebal menyembunyikan anomali Lengan Logam Abadi milik Anda.]**

**[Silakan tentukan metode aktivasi artefak:]**

**[Pilihan 1: Gunakan energi Qi Dantian Anda sendiri sepenuhnya.

Hadiah: Anda berhasil mengaktifkannya. Risiko 80% Dantian Anda mengalami kekeringan ekstrem, membuat Anda lumpuh selama pindaian berlangsung dan tidak bisa melawan jika artefak gagal.]**

**[Pilihan 2: Hancurkan Mutiara Ilusi Bayangan dan telan serbuknya.

Hadiah: Anda akan menjadi tidak terlihat dari deteksi selamanya. Risiko: Racun ilusi akan menghancurkan kewarasan Anda, mengubah Anda menjadi monster tanpa akal.]**

**[Pilihan 3: Tarik energi Yin murni dari dua wanita yang ada di ruangan ini sebagai penyumbang katalis, sementara Anda menyalurkan energi Yang. Aktivasi formasi resonansi tiga pilar dalam jarak sentuhan fisik.

Hadiah: Perisai ilusi terbentuk sempurna tanpa menguras Dantian Anda. Membutuhkan sinkronisasi spiritual tingkat tinggi dan kontak fisik intens selama 10 menit tanpa terputus.]**

Sistem kembali menyodorkan jalan yang menuntut efisiensi di atas segalanya. Membuang energi Dantiannya sebelum pertarungan besar melawan Yan Wu adalah kebodohan. Meminjam energi Yin (dingin/feminin) dari Xue Ziyan dan Shen Yu adalah taktik yang logis secara kultivasi, meskipun syarat eksekusinya mengharuskan penyatuan aura dari jarak yang sangat intim.

"Pilihan ketiga," batin Lin Chen mengunci keputusannya. Layar biru meredup.

Lin Chen menatap kedua wanita di ruangan tersebut. Xue Ziyan dan Shen Yu memandangnya dengan raut penuh tanda tanya.

"Nona Xue, Shen Yu. Kemari," perintah Lin Chen.

Keduanya melangkah mendekat. Xue Ziyan dengan langkah anggun dan hati-hati, sementara Shen Yu dengan patuh menurut.

"Mutiara ini membutuhkan energi ganda untuk menutupi aura Lengan Logam Abadiku yang terlalu mencolok," jelas Lin Chen, suaranya datar dan profesional. "Aku membutuhkan energi Yin murni dari kalian berdua untuk menstabilkan formasi. Duduklah di lantai, saling berhadapan membentuk segitiga denganku."

Xue Ziyan mengerutkan keningnya. Sebagai kultivator Tahap Transformasi Fana Awal, ia mengerti teori fusi energi. "Menyatukan aura Yang ekstrim milik Tuan dengan energi Yin kami... itu membutuhkan resonansi meridian langsung. Kami harus menyentuh Tuan?"

"Tepat," jawab Lin Chen. Ia duduk bersila di atas lantai batu, meletakkan Mutiara Ilusi Bayangan di tengah-tengah mereka. "Waktu kita hampir habis. Duduklah dan berikan tangan kalian."

Shen Yu tanpa ragu duduk di sebelah kanan Lin Chen, sementara Xue Ziyan, meskipun ragu, perlahan duduk di sebelah kirinya. Ruang di antara mereka bertiga sangat sempit. Udara di bawah tanah yang lembap membuat napas mereka terdengar jelas satu sama lain.

Lin Chen mengulurkan Lengan Logam Abadinya ke arah Shen Yu. Gadis itu menelan ludah, lalu dengan tangan bergetar, ia meletakkan kedua telapak tangannya yang hangat di atas permukaan logam perak kehitaman yang terasa dingin namun berdenyut dengan energi misterius.

Di sisi lain, Lin Chen mengulurkan tangan kirinya—tangan manusianya yang masih utuh—ke arah Xue Ziyan. Nona Muda yang angkuh itu menggigit bibirnya pelan, lalu menyentuhkan telapak tangannya yang lembut ke telapak tangan kasar pemuda itu. Kulit bertemu kulit. Xue Ziyan tersentak pelan; tangan Lin Chen terasa sangat panas, dipenuhi oleh esensi api bumi yang meletup-letup.

"Fokuskan pikiran kalian," perintah Lin Chen. Matanya tertutup. "Alirkan Qi kalian ke tanganku. Jangan melawannya."

Tepat saat detik berganti, suara dengungan yang sangat mengerikan terdengar dari arah langit Kota Batu Hitam, menembus lapisan tanah hingga ke ruang bawah tanah tersebut. Itu adalah suara *Jaring Langit Hitam* yang mulai menyapu kota. Rasa merinding yang luar biasa menyerang tengkuk mereka. Rasanya seperti ada jutaan mata tak kasat mata yang sedang merayapi kulit mereka, mencari celah dosa dan fluktuasi Qi untuk ditangkap.

"Mulai!" desis Lin Chen.

Shen Yu dan Xue Ziyan secara serempak mengalirkan energi Yin mereka. Energi dingin yang murni mengalir masuk melalui kedua lengan Lin Chen. Di saat yang sama, pemuda itu meledakkan energi Yang vulkaniknya dari Dantian.

Tiga aliran energi yang berbeda bertabrakan di dalam dada Lin Chen.

Pemuda itu menggunakan metode *Napas Karang Esensi* untuk memaksa ketiga aliran itu bersatu, lalu menyalurkannya langsung ke dalam Mutiara Ilusi Bayangan di tengah mereka.

Mutiara itu merespons. Asap abu-abu seketika meledak keluar dari mutiara tersebut, membentuk kubah kabut semi-transparan yang membungkus tubuh ketiga orang itu dalam radius yang sangat sempit.

Di dalam kubah kabut tersebut, ruang menjadi sangat intim. Energi Yin dan Yang yang saling bertukar secara intens menciptakan resonansi spiritual yang aneh. Suhu tubuh Lin Chen meningkat drastis akibat kompresi energi. Hawa maskulin yang kuat, bercampur aroma belerang dan darah pertempuran, menguar kuat dari tubuhnya.

Xue Ziyan merasakan napasnya memburu. Kutukan Segel Darah di dahinya beresonansi dengan detak jantung Lin Chen, membuat pertahanan mentalnya runtuh. Jarak yang sangat dekat ini memaksanya mencium aroma pemuda itu. Ia bisa merasakan lekuk otot tangan Lin Chen yang sedang dicengkeramnya. Kekuatan absolut yang mengalir dari telapak tangan pria itu membuat kaki Xue Ziyan lemas. Rasa segan, ketakutan, dan sebuah kekaguman yang aneh bercampur aduk, membuat rona merah matang membakar seluruh wajah dan leher wanita aristokrat tersebut.

*Pria ini... dia seperti matahari yang menyembunyikan dirinya dalam bayangan,* batin Xue Ziyan, menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan aneh yang hampir keluar dari tenggorokannya akibat lonjakan aliran Qi yang melintasi meridiannya.

Di sisi lain, Shen Yu mengalami hal yang sama. Gadis itu menundukkan wajahnya, tidak berani menatap wajah tegas Lin Chen yang berjarak hanya sejengkal darinya. Lengan Logam Abadi yang ia pegang tidak lagi terasa dingin. Energi dari tubuh Lin Chen memanaskan logam tersebut, menghantarkan kehangatan yang mengalir ke seluruh tubuh Shen Yu. Keringat halus bermunculan di dahi gadis itu. Sensasi spiritual ini terlalu kuat baginya yang memiliki kultivasi rendah, membuatnya merasa seolah ia sedang dipeluk sepenuhnya oleh aura pemuda tersebut.

Lin Chen tidak terpengaruh oleh atmosfer yang memabukkan itu. Pikirannya setajam silet. Ia memfokuskan seluruh kesadarannya pada kubah kabut di sekitar mereka.

*ZINGGGG!*

Gelombang pelacak *Jaring Langit Hitam* menghantam ruang bawah tanah itu.

Tekanan yang luar biasa tak kasat mata menekan kubah ilusi mereka. Kabut abu-abu dari mutiara bergetar hebat.

"Pertahankan aliran Qi kalian!" perintah Lin Chen dengan suara parau, mengeratkan cengkeramannya pada tangan Xue Ziyan, membuat wanita itu tersentak kecil namun patuh mengalirkan energi lebih kuat.

Gelombang pelacak itu merayapi kabut abu-abu, berusaha mencari anomali Lengan Logam Abadi. Namun, fusi sempurna dari energi Yin Shen Yu dan Xue Ziyan yang membungkus energi Yang Lin Chen berhasil meniru fluktuasi energi penduduk lokal biasa yang sedang bermeditasi.

Selama sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh abad, ketiga orang itu terjebak dalam resonansi yang membakar. Napas Xue Ziyan dan Shen Yu menjadi semakin berat dan tidak beraturan. Keringat membasahi gaun mereka, menempel ketat pada lekuk tubuh masing-masing. Mereka berdua nyaris mencapai batas pertahanan fisik dan mental akibat intensitas energi Yang Lin Chen yang mendominasi tubuh mereka secara pasif.

Tepat saat lutut Shen Yu mulai goyah dan Xue Ziyan nyaris pingsan karena kelebihan muatan sensorik, suara dengungan mengerikan di udara itu akhirnya mereda dan menghilang.

Gelombang *Jaring Langit Hitam* telah berlalu. Mereka lolos.

Kubah kabut abu-abu memudar. Mutiara Ilusi Bayangan di tengah mereka retak menjadi dua, kehabisan energinya secara permanen.

Lin Chen membuka matanya dan menarik kedua tangannya.

Hilangnya penyangga energi secara tiba-tiba membuat Shen Yu kehilangan keseimbangan. Gadis itu jatuh terjerembab ke depan, kepalanya mendarat tepat di atas dada bidang Lin Chen. Napas Shen Yu tersengal-sengal, wajahnya yang semerah tomat bersembunyi di balik jubah pemuda itu.

Xue Ziyan, yang berusaha menjaga gengsinya, menopang tubuhnya dengan kedua tangan di lantai. Keringat membanjiri pelipisnya. Ia mendongak menatap Lin Chen, matanya yang biasa tajam kini terlihat sayu dan berair, napasnya memburu mengangkat dadanya dengan ritme yang menggoda. Ia tidak pernah merasakan pengalaman kultivasi yang begitu intens dan mendominasi seumur hidupnya.

"Kita berhasil," ucap Lin Chen dengan nada yang benar-benar datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh pemandangan dua wanita cantik yang terengah-engah dalam posisi rapuh di dekatnya. Ia menepuk pundak Shen Yu dengan ringan untuk menyuruh gadis itu bangun. "Kalian berdua telah bekerja dengan baik. Istirahatkan meridian kalian."

Shen Yu buru-buru bangkit mundur dengan wajah yang siap meledak karena malu. "M-Maafkan kelancanganku, Tuan Lin!"

Xue Ziyan menelan ludah, merapikan gaun sutranya yang basah oleh keringat. Ia memaksa dirinya berdiri, mencoba kembali menjadi Nona Muda yang angkuh, meskipun kakinya masih sedikit gemetar.

"Kau benar-benar monster, Lin Chen," desis Xue Ziyan, memalingkan wajah untuk menyembunyikan rona merahnya. "Menyatukan Qi Abadi dengan cara sebrutal itu... kau nyaris membuat jantung kami meledak."

"Kelangsungan hidup menuntut ketegasan," jawab Lin Chen dingin, berdiri dari posisinya. Ia merapikan jubah hitamnya. "Yan Wu baru saja membuang kartu truf pelacakannya malam ini. Ia sekarang yakin bahwa Iblis Satu Tangan tidak berada di Kota Batu Hitam."

Lin Chen berjalan menuju meja batu, mengambil topeng besi kelabunya dan memasangnya kembali ke wajahnya. Matanya yang gelap memancarkan bayangan pembantaian yang akan datang.

"Waktu untuk bersembunyi telah habis," ujar Lin Chen, suaranya bergema di dinding batu. "Nona Xue, sampaikan pesan rahasia kepada Nyonya Hua di Paviliun Bayangan Bulan. Katakan padanya untuk menyiapkan pasukannya dan memblokir jalur pelarian di gerbang utara kota besok malam."

Xue Ziyan mengerutkan kening, keterkejutannya mengalahkan rasa lelahnya. "Besok malam? Apa yang akan kau lakukan?"

Pemuda itu memutar tubuhnya, menatap lurus ke arah pintu ruang bawah tanah yang mengarah ke permukaan. Lengan Logam Abadinya berdenting pelan saat ia mengepalkan tinjunya.

"Yan Wu merasa aman di menara istananya. Besok malam, aku akan memanjat menara itu," deklarasi Lin Chen dengan kedinginan absolut seorang algojo. "Aku akan memenggal kepalanya, dan kita akan meruntuhkan hierarki Kota Batu Hitam menjadi debu."

Udara di ruang bawah tanah itu seolah membeku. Sang Iblis telah selesai menyatukan kekuatannya. Badai yang sesungguhnya di Dunia Tengah akan dipicu esok hari, dan darah seorang penguasa akan menjadi tinta pertama yang menuliskan nama Lin Chen di tanah keabadian ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!