NovelToon NovelToon
Rahasia Terbesar

Rahasia Terbesar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Misteri / Epik Petualangan
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: YUKARO

Lin Tian sadar dari tidur panjangnya selama 200 tahun dan mendapati tubuhnya masih seperti pemuda 18 tahun. Satu hal yang paling mengganjal: di istana ratu ular, semua makhluk memiliki tubuh ular, tapi ia berkaki dua sempurna. Siapa ayahnya? Siapa sebenarnya Kakek Han yang begitu ia rindukan? Ibunya, Ratu Medusa, mengurungnya berabad lamanya hanya untuk menyembunyikan sesuatu. Kini Lin Tian pergi ke dunia manusia. Bukan untuk bertualang, tapi untuk menggali satu rahasia yang ibunya lebih memilih membekukannya daripada mengakuinya. Rahasia terbesar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertanyaan Tanpa Jawaban

Lao Hui menghela napas panjang kemudian matanya yang teduh menatap Lin Tian dengan lembut. "Rekan Kelong, sebaiknya tuan muda ini anda persilahkan duduk. Tidak sopan membiarkannya berdiri lama-lama seperti tamu yang terabaikan."

Bai Kelong menepuk jidatnya sendiri lalu tertawa malu-malu. "Rekan Hui benar. Mari kita masuk berbincang-bincang. Aku terlalu asyik berdiri di pintu sampai lupa etika."

Lin Tian mengangguk sopan. Pelayan segera membuka tirai bambu yang memisahkan ruang tamu depan dengan ruang keluarga utama. Bai Feng memimpin jalan, diikuti Bai Kelong yang berjalan berdampingan dengan Lao Hui. Lin Tian berada di paling belakang, matanya tidak lepas dari punggung pria tua bernama Lao Hui itu. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, tapi ia tidak tahu apa.

Ruang keluarga keluarga Bai cukup luas. Lantai kayu jati mengkilap, dinding dihiasi lukisan pemandangan gunung dan sungai. Di tengah ruangan ada meja bundar dari batu giok hijau, dikelilingi empat kursi kayu dengan bantalan sutra tebal. Seorang pelayan wanita datang membawa nampan berisi teko porselen putih dan enam cangkir kecil, diikuti pelayan lain dengan piring berisi kue kering dan manisan buah.

Setelah semua duduk, Bai Feng mendekatkan kepalanya ke ayahnya. Suaranya berbisik pelan, hampir tidak terdengar.

"Ayah, Pak Tua ini apakah sedang berbisnis dengan Ayah?"

Bai Kelong membalas bisikan dengan suara sama pelannya.

"Dia baru datang sehari yang lalu. Katanya tertarik membantu untuk menjadi negosiator ayah, agar bisnis pil keluarga kita melesat ke langit. Orangnya aneh, tapi sejauh ini terbukti membawa keberuntungan."

Bai Feng menyipitkan mata. "Aku tidak yakin, Ayah."

"Kau itu tau apa?" Bai Kelong menyenggol pinggang anaknya dengan siku. "Kemarin ayah berdebat dengan pelanggan baru yang menjanjikan dari Kota Terapung. Saat itu negoisasi hampir gagal total, karena pil produksi kita kualitasnya menurun drastis. Tapi untung saja Rekan Hui datang dan menengahi perdebatan. Kalau tidak... kita rugi besar. Tapi sekarang, kita untung banyak."

Bai Feng mengernyit. "Berarti Lao Hui itu benar-benar orang bijak, ayah?"

Bai Kelong mengangguk mantap, matanya berbinar. "Kau dengar sendiri kata-katanya tadi. Orang ini bicara seperti sungai yang mengalir... tenang tapi dalam."

"Ehem."

Lao Hui berdehem pelan, jari telunjuknya mengetuk meja giok dua kali. Matanya yang teduh menatap Bai Kelong dan Bai Feng bergantian dengan senyum tipis yang tidak bisa ditebak maknanya. Seperti seseorang yang tahu persis apa yang dibisikkan orang lain meski tidak mendengar sepatah kata pun.

Bai Kelong terkekeh gugup. "Maaf, Rekan Hui. Pembicaraan ayah dan anak memang sedikit... panas di sini. Tidak sopan rasanya berbisik-bisik di depan tamu."

Bai Feng mengangguk cepat, wajahnya sedikit memerah karena ketahuan.

"Maaf."

Lao Hui menghela napas panjang lalu mengambil cangkir teh di hadapannya. "Di dunia yang Fana ini, bisikan antara ayah dan anak adalah salah satu suara terindah yang bisa didengar oleh telinga tua seperti milikku. Tidak perlu minta maaf."

Bai Kelong tersenyum mendengar itu.

Suasana mencair, Bai Feng menepuk pundak Lin Tian lalu menunjuk ke arah ayahnya.

"Lin Tian, ini ayahku. Namanya Bai Kelong. Orang yang pernah menaklukkan sepuluh gadis sekaligus di masa mudanya!"

Lin Tian tersenyum dan mengangguk sopan ke arah Bai Kelong. "Salam kenal, Paman."

Bai Kelong berdehem keras. "Cerita masa lalu tidak perlu diungkit-ungkit, anak muda. Fokus pada masa depan."

Pembicaraan basa-basi pun berlangsung. Tentang cuaca yang akhir-akhir ini tidak menentu, tentang harga bahan pil yang naik turun seperti ombak, tentang gosip sekte-sekte besar di Lingzhao, tentang Ratu Liu Mei yang muncul di dua tempat sekaligus. Lin Tian hanya mendengarkan, sesekali mengangguk atau tersenyum ketika Bai Feng melontarkan lelucon yang tidak terlalu lucu.

Arah obrolan berubah ketika Lao Hui meletakkan cangkir tehnya, kemudian mulai berbicara dengan nada yang lebih dalam.

"Jika ratu dari sekumpulan lebah diambil oleh seekor singa, apa yang akan dilakukan lebah-lebah itu?"

Bai Kelong menjawab lebih dulu. "Tentu saja mereka akan menyengatnya. Tapi di jalan keabadian, aura singa spiritual saja mampu membunuh lebah spiritual. Jadi tindakan lebah hampir dipastikan sia-sia."

Bai Feng mengangguk setuju. "Singa tetaplah singa, meskipun seribu lebah menyerang, mereka hanya akan mati sia-sia."

Lao Hui tersenyum tipis. "Bagaimana jika lebah-lebah itu mempersiapkan diri selama ratusan tahun, mengasah racun mereka, melatih formasi, dan menyerang di saat singa sedang tertidur lelap? Apakah hal ini masih terhitung sia-sia?"

Bai Kelong terdiam sejenak, jarinya mengetuk meja kayu. "Ini... tapi tetap saja singa itu kuat, Rekan Hui. Racun lebah tidak akan menembus kulit singa."

Lao Hui terkekeh pelan, lalu matanya beralih ke Lin Tian. "Bagaimana pendapatmu, tuan muda?"

Lin Tian mengernyitkan dahinya. "Saya masih junior dalam nilai kehidupan dan di jalur keabadian. Jadi menyimpulkan hal seperti ini... saya belum mampu."

Lao Hui menggelengkan kepalanya pelan, senyumnya tidak luntur.

"Kau hanya ragu, bukannya tidak mampu. Itu dua hal yang berbeda. Keraguan adalah awan yang menghalangi matahari, sementara ketidakmampuan adalah tanah yang tandus. Kau bukan tanah tandus, Lin Tian. Kau hanya membiarkan awan menutupi matamu."

Lin Tian terdiam. Jari-jarinya mengepal di bawah meja.

Lao Hui berbicara lagi. "Kau hanya ragu, bukan tidak mampu. Di jalan keabadian ini... jangan berikan sedikit pun tempat untuk keraguan. Karena jika sedikit saja kau ragu, bisa saja orang terdekatmu menghilang pada saat itu. Atau mungkin... mati di depan matamu tanpa bisa kau tolong."

Lin Tian mengepalkan tangannya lebih erat. Kukunya nyaris menusuk telapak tangan.

"Saya tidak ragu. Saya benar-benar tidak tahu jawabannya."

Lao Hui menatap dalam, matanya seperti dua sumur tua yang menyimpan ribuan cerita.

"Jika hal seperti ini saja kau katakan tidak tahu... bagaimana jika kau harus menilai sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih berat dari sekadar singa dan lebah?"

Lin Tian tidak menjawab.

Lao Hui menatap dalam ke mata Lin Tian. Tatapan yang terasa seperti menembus lapisan demi lapisan, sampai ke inti yang paling dalam.

"Katakanlah jika ayahmu... menjadi seorang penjahat. Bukan penjahat biasa, tapi penjahat yang membunuh banyak orang, termasuk orang-orang terdekatmu di masa depan. Apa yang akan kau lakukan? Membunuhnya... atau menghentikannya?"

Udara di ruangan itu terasa membeku.

Bai Kelong terdiam, cangkir tehnya berhenti di bibir. Bai Feng membuka mulut tapi tidak ada suara keluar.

Lin Tian muram. Wajahnya yang biasanya santai kini berubah keras. Matanya menyipit, rahangnya mengeras. Suaranya keluar dingin, berbeda dari biasanya.

"Jangan sebut-sebut ayahku. Dia tidak ada hubungannya dengan pembahasan tidak masuk akal seperti ini. Aku bahkan tidak tahu siapa dia. Tapi satu hal yang aku tahu... dia bukan penjahat."

Lao Hui justru tersenyum. Bukan senyuman mengejek, tapi senyuman seorang bijak yang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa. "Bagus. Kau membela seseorang yang bahkan tidak kau kenal. Itu... adalah kebaikan hati yang langka di jaman sekarang."

Lin Tian berdiri. Jubah putihnya berkibar meski tidak ada angin. "Saya pamit, Paman Kelong, Pak Tua. Ada urusan di sekte."

Bai Feng ikut berdiri dengan bingung. "Hei, Lin Tian... kita baru sampai..."

Lin Tian sudah berjalan menuju pintu. Langkahnya cepat tapi tidak terburu-buru. Bai Feng mencuri pandang ke arah ayahnya, lalu ke Lao Hui, lalu memutuskan untuk mengikuti Lin Tian.

"Permisi, Ayah. Permisi, Pak Tua," ucap Bai Feng sambil membungkuk cepat.

Bai Kelong hanya menggelengkan kepala.

"Anak muda... emosinya masih meninggi."

Lao Hui mengambil cangkir tehnya lagi, menyeruput pelan. Matanya menyipit ke arah pintu yang sudah ditinggalkan Lin Tian.

"Dia tidak sedang emosi, Rekan Kelong. Dia sedang... mencari."

"Mencari apa?"

Lao Hui tersenyum tanpa menjawab. Di luar jendela, daun pohon tua berguguran satu per satu, dibawa angin yang dingin. Sesuatu yang besar sedang bergerak di dunia ini, dan orang tertentu yang tahu itu. Tapi beberapa hal memang sebaiknya tidak diucapkan. Biarkan waktu yang menjawab.

1
🧚Shi Yin 🧚
Eyu.. Lin Han pernah menyebutnya 🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
jangan2 pemimpin kegelapan itu Lin Han 🤔🤔🤔
🧚Shi Yin 🧚
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🧚Shi Yin 🧚
😎😎😎😎😎😎
🔵༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Hadir..
Aiby Kushina Uzumaki
kalau di bandung mah jigong itu jejak iler kalau bangun tidur 😅🤣🤣🤣
YAKARO: Waduh🤣🤣🤣
Anggota nya tian ada yang jigongan berarti/Facepalm/
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
udah kehabisan nama ya Thor 😁😁
🧚Shi Yin 🧚: hehe kirain arti yg lain, aroma terapi 🤣🤣
total 2 replies
🧚Shi Yin 🧚
panggillah dia bibi Mu Wan, dia tu seniornya ayahmu 😁
YAKARO: Adik Tian gak tau itu kak🤣
total 1 replies
🧚Shi Yin 🧚
tiap kali baca lavender saya teringat obat nyamuk 🤣🤣 lavender salah satu tanaman pengusir nyamuk 😁
YAKARO: Wkwkwk. Warnanya ungu lavender soalnya😆
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
kau tak merasa... justru kau yg aneh, bocah yg sok dewasa/CoolGuy/
Dragon🐉 gate🐉: kata-kata yg familiar ini, jangan-jangan kau ...../Scare/
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
whaatttt thefff..!!! 🤣🤣🤣🤣🤣 Ji Gong 🤣🤣🤣🤣🤣 Thor... 🤣🤣🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: tp gw gak kesana pikirannya Thor 🤣 jigong yg ada di otak gw tuh ya jigong yg itu🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
nah kan, kompak... masukin Jiyue ke dlm kelompok Lin Tian biar mereka rame trs tiap hari😁
YAKARO: Nanti masuk dia/Determined/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣hancur sudah martabat sang Komandan krn julukan 🤣🤣🤣
Dragon🐉 gate🐉: bestie adu mulut.. mereka😁
total 2 replies
Dragon🐉 gate🐉
keluarganya si gadis Lavender... Jiyue 🤔
YAKARO: insting tajam/CoolGuy/
total 1 replies
Dragon🐉 gate🐉
M = P
Dragon🐉 gate🐉: siap komandan ✅
total 2 replies
Bagas Jionju
👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Bagas Jionju
👍👍👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Dragon🐉 gate🐉
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣ANJIIIRRR kata kata keramat ini ternyata udh smpe di univers nya dia🤣🤣🤣🤣🤣
YAKARO: Wooo, ya jelas. Kata kata legend ini/Casual/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!