Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 1_Mutiara di Tengah Lumpur
Matahari baru saja menampakkan diri di ufuk timur, menyirami kota Jakarta dengan cahaya oranye yang lembut.
Namun bagi Arumi pagi hari bukanlah waktu untuk bersantai atau menikmati secangkir kopi hangat.
Pukul lima pagi, ia sudah berkutat di dapur sempit rumah keluarganya, menyiapkan sarapan untuk orang tua dan adik perempuannya yang selalu menuntut banyak hal.
Arumi adalah definisi gadis yang "terlupakan" di rumahnya sendiri.
Parasnya cantik alami yaitu matanya jernih seperti telaga, kulitnya bersih meski tanpa perawatan mahal, dan rambut hitamnya selalu diikat rapi.
Namun kecantikan itu seolah tertutup oleh pakaian lusuh dan beban pekerjaan rumah tangga yang ditumpukan padanya sejak ia masih remaja.
"Arumi! Mana kopiku? Kenapa lama sekali?" Suara melengking itu berasal dari Siska, adik kandung Arumi.
Siska keluar dari kamarnya dengan piyama sutra mahal sangat kontras dengan daster katun Arumi yang sudah memudar warnanya.
Siska adalah anak kesayangan, di mata ibunya Siska adalah tiket menuju kekayaan, sementara Arumi hanyalah "asisten rumah tangga gratis" yang kebetulan memiliki hubungan darah.
"Sebentar, Siska. Ini sedang dituang," jawab Arumi lembut.
Ia meletakkan secangkir kopi di meja makan, lalu kembali membalikkan telur di penggorengan.
Tak lama kemudian, Ibu mereka, Bu Ratna, keluar dengan wajah masam, ia langsung memeriksa meja makan.
"Hanya telur dan roti? Arumi, kau tahu kan Siska harus makan makanan bergizi untuk audisi modelnya siang ini? Kenapa kau begitu pelit dan malas?"
Arumi menunduk. "Maaf, Bu. Uang belanja yang Ibu berikan kemarin sudah habis untuk membayar tagihan listrik yang menunggak. Ini sisa yang bisa kubeli."
Plakk!
Bu Ratna menggebrak meja. "Alasan! Kamu pasti menyisihkan uang itu untuk keperluanmu sendiri, kan? Dasar anak tidak tahu diuntung. Padahal kami sudah berbaik hati memberimu tempat tinggal."
Hati Arumi mencelos. Tempat tinggal? Seingatnya, rumah ini dicicil menggunakan gaji Arumi selama tiga tahun pertama ia bekerja sebagai buruh cuci dan pelayan toko, sebelum akhirnya ia dipecat karena sering diminta pulang mendadak oleh ibunya untuk melayani Siska.
Kini, Arumi hanya bekerja serabutan sebagai pembersih taman di sebuah kompleks perumahan elit.
Meskipun diperlakukan tidak adil, Arumi tidak pernah melawan.
Bukan karena ia lemah, tetapi karena ia sangat menghargai konsep keluarga, ia percaya bahwa suatu saat, kebaikan akan berbuah manis.
Setelah selesai membereskan dapur dan mencuci piring bekas sarapan keluarganya, Arumi segera bersiap.
Ia mengenakan kemeja flanel yang sudah sikutnya menipis dan celana kain hitam.
Ia mengambil sepeda tuanya dan mengayuh menuju kawasan perumahan mewah Emerald Estate.
Di sana, Arumi bekerja sebagai perawat taman di salah satu rumah besar milik seorang pengusaha tua yang baik hati.
Namun hari ini ada pemandangan yang berbeda, di mana di gerbang kompleks ia melihat seorang pria terduduk di pinggir jalan.
Pria itu mengenakan kaos oblong putih yang sedikit kotor dan celana jeans belel.
Di sampingnya ada sebuah tas ransel yang tampak berat, wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan hidung mancung, namun matanya memancarkan kelelahan yang luar biasa.
Arumi berhenti, sifat penolongnya tiba-tiba saja muncul. "Permisi, Mas? Apa Mas baik-baik saja?"
Pria itu mendongak, matanya bertemu dengan mata Arumi yang tulus.
Pria itu adalah Adrian, yang sebenarnya merupakan CEO dari Arkadia Group, perusahaan properti terbesar di negeri ini.
Namun saat ini ia sedang melakukan "penyamaran" atas wasiat kakeknya untuk mencari pasangan yang mencintainya tulus tanpa melihat harta.
Adrian tertegun melihat gadis di depannya, ei tengah lingkungan elit ini, ada seorang gadis yang penampilannya sangat sederhana namun memiliki aura yang sangat tenang.
"Saya... saya hanya sedikit pusing. Saya baru sampai di kota ini untuk mencari kerja, tapi saya tersesat," bohong Adrian dengan lancar.
Arumi tersenyum tipis, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah botol air mineral yang masih segel dan sebungkus roti kecil yaitu sarapannya sendiri yang belum sempat ia makan.
"Ini, Mas. Diminum dulu. Jakarta memang keras kalau baru pertama kali datang. Kalau Mas tidak keberatan, di dekat sini ada warung milik Pak De yang biasa menerima pekerja serabutan. Mas bisa coba tanya di sana," ujar Arumi sambil memberikan roti itu.
Adrian menerima roti tersebut dengan ragu. "Terima kasih... namamu siapa?"
"Arumi. Saya harus segera bekerja, Mas. Semoga beruntung dengan pencarian kerjanya," ucap Arumi sebelum kembali mengayuh sepedanya.
Adrian memperhatikan punggung Arumi yang menjauh, ia tersenyum sinis, namun ada kilatan ketertarikan di matanya.
'Biasanya wanita akan menghindariku jika aku berpenampilan seperti gembel begini, atau setidaknya merasa jijik. Tapi dia... dia memberikan sarapannya sendiri padaku?' gumamnya dalam hati.
Sore harinya, Arumi pulang dengan tubuh lelah, namun ia tidak disambut dengan kehangatan.
Di ruang tamu, Bu Ratna dan Siska sedang berbincang dengan seorang pria paruh baya bertubuh tambun yang dikenal sebagai Juragan peminjaman uang di kampung mereka, Pak Broto.
"Nah, ini dia anaknya baru pulang!" seru Bu Ratna dengan wajah sumringah yang dibuat-buat.
Arumi merasa perasaannya tidak enak. "Ada apa ini, Bu?"
Pak Broto menatap Arumi dengan pandangan lapar. "Arumi, ibumu bilang kau bersedia menikah denganku untuk melunasi hutang keluarga kalian yang lima puluh juta itu. Benar begitu?"
Dunia Arumi seolah runtuh, lima puluh juta? Seingatnya mereka tidak pernah meminjam uang sebanyak itu, ia menatap ibunya dengan nanar.
"Bu... apa maksudnya ini? Aku tidak pernah setuju," bisik Arumi bergetar.
Bu Ratna menarik Arumi ke dapur dan berbisik tajam, "Dengar, Arumi! Siska butuh biaya untuk masuk sekolah model internasional. Ini kesempatan kita! Pak Broto kaya, kau akan hidup enak. Jangan jadi anak durhaka! Kalau kau menolak, Ibu akan mengusirmu dan menganggapmu bukan anak lagi!"
Arumi terdiam, air mata menetes di pipinya. Inilah hidupnya, dianggap sebagai barang dagangan oleh ibunya sendiri demi kepentingan adik kesayangannya.
Malam itu, Arumi melarikan diri ke taman kota, tempat ia biasa menenangkan diri.
Ia duduk di bangku taman yang sama di mana ia melihat pria "miskin" tadi pagi.
Tanpa disangka, pria itu masih ada di sana, sedang memakan roti pemberian Arumi tadi pagi dengan perlahan.
"Mas... masih di sini?" tanya Arumi dengan suara serak karena habis menangis.
Adrian menoleh dan ia melihat mata Arumi yang sembab. "Arumi? Ada apa? Kenapa menangis?" tanyanya.
Arumi menggeleng, mencoba menghapus air matanya. "Hanya masalah kecil. Mas sendiri, kenapa belum pulang?"
Adrian menatap langit malam. "Saya tidak punya tempat tinggal, saya baru saja ditolak di penginapan karena uang saya kurang." ucap Adrian.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
YEYYY AKHIRNYA UPLOAD CERITA BARU NIHHHH....
JANGAN LUPA MAMPIR BACA, FAVORITKAN, JANGAN LUPA VOTE JUGA, ULASAN BINTANGNYA, LIKE, KOMEN SAN HADIAH BIAR TAMBAH SEMANGAT BUAT UPDATE BAB SELANJUTNYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE IG AKU YAAA DI
@Lala_Syalala13
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡