Kenanga mengabdikan hidupnya pada sang suami dan anak sambungnya, tapi pada akhirnya dia dihianati juga. Suami yang dia kira mencintainya dengan tulus nyatanya hanya kebohongan. Di dalam hatinya ternyata masih tersimpan nama sang mantan yang kini telah kembali dari luar negeri.
Rahasia yang selama ini ditutupi sang suami dan keluarga pun terbongkar. Kenanga memilih mundur dan memulai kehidupan yang baru meskipun semua itu terasa sulit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon husna_az, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
"Bibi jangan ngomong seperti itu. Kita melakukannya juga karena terpaksa. Kalau kita menolak pasti Tuan Bima akan memecat kita. Nanti kita mau kerja di mana lagi, biar bisa dapat gaji besar. Kalau di tempat lain gajinya kecil. Belum lagi majikannya yang kasar dan berbuat semena-mena."
"Justru itu yang membuatku semakin merasa bersalah pada Nyonya Kenanga karena dia juga memperlakukan kita dengan sangat baik. Pasti nanti dia akan sangat kecewa pada kita," ujarnya dengan perasaan bersalah.
"Sekarang kita berdoa saja, semoga suatu saat jika Nyonya Kenanga mengetahui kebenarannya beliau mengerti keadaan kita dan mau memaafkan kita."
"Semoga saja saat itu terjadi Nyonya Kenanga benar-benar mau mengerti dan memaafkan kita."
Kenanga yang berada di seberang sana berdecih, dia tertawa sumbang. Semudah itukah mereka berkata demikian, setelah bertahun-tahun kejahatan yang dilakukan padanya. Bukan hanya satu atau dua tahun, tapi dua puluh tahun dan itu sangat menyakiti hatinya.
Kenanga pun mematikan ponsel miliknya dan menatap kosong ke arah depan. Dia sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa pada Bima dan rumah tangganya. Sepertinya kesempatan untuk mempertahankan pria itu sudah tidak ada lagi karena memang nyatanya sang suami sudah tidak mau dipertahankan.
Bima lebih memilih mantan istrinya yang dulu meninggalkannya karena impiannya sebagai model, daripada dirinya yang selama ini sudah mengabdikan hidupnya untuk keluarga ini. Kenanga hanya bisa berdoa semoga saja pilihan Bima tidak salah dan bisa berbahagia.
Di sini dirinyalah yang salah karena telah masuk ke dalam hubungan mereka. Tidak seharusnya Kenanga hadir dalam kehidupan Bima, tapi bukankah dulu pria itu yang mendekatinya dan berusaha meyakinkan dia bahwa mereka akan bahagia selamanya, tapi sekarang apa? Semua hanya janji-janji palsu.
Kenangan melajukan mobilnya menuju sebuah rumah sakit ternama. Dia sengaja memilih rumah sakit yang bagus untuk memeriksakan diri. Di tempat ini pasti perlengkapannya sudah lengkap, jadi dirinya sudah percaya sepenuhnya.
Kenanga tidak tahu jenis pil KB apa yang diberikan Bima padanya. Dia belum memeriksakan tubuh khawatir jika terjadi masalah dalam tubuhnya, mengingat sudah dua puluh tahun dia mengonsumsi obat tersebut. Mudah-mudahan saja hasilnya baik-baik saja jika tidak Kenanga pasti akan menyimpan dendam pada suaminya itu.
***
Davina sudah pulang. Namun, gadis itu tidak melihat keberadaan Kenanga di rumah, biasanya wanita itu selalu menyambutnya dengan senyum dan menanyakan banyak hal mengenai kegiatan di sekolah. Sekarang dia teringat jika akhir-akhir ini Kenanga sudah tidak memperhatikan aktivitasnya seperti dulu lagi, bahkan sekarang tidak pernah menanyakan kegiatannya.
Entah kesibukan apa yang membuat wanita itu melupakannya. Davina jadi kesel sendiri. Seharusnya tadi dia tetap di rumah Alicia saja, jadi bisa bermanja-manja pada ibu kandungnya itu. Kalau bukan karena Alicia yang memaksanya agar cepat pulang, pasti Davina masih tetap berada di sana. Padahal tanpa gadis itu ketahui sebenarnya Alicia ingin mengusir putrinya karena dia memiliki janji untuk jalan-jalan bersama dengan teman-temannya.
"Bik, apa tadi mama bilang mau ke mana?" tanya Davina.
"Tidak. Katanya cuma mau pergi sebentar."
"Sejak kapan perginya?"
"Kira-kira dari jam sembilan, Non."
"Dari jam sembilan, tapi sampai sekarang belum pulang juga. Memang Mama punya kesibukan apa, sih? Sok sibuk sekali padahal ...."
Davina tidak melanjutkan kalimatnya karena tiba-tiba dia mendengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dari suaranya gadis itu yakin jika itu adalah mobil Kenanga. Benar saja, tidak berapa lama tampak ibu sambungnya itu memasuki rumah. Wanita itu terus saja melangkah dengan lesu memasuki rumah, hendak menuju kamar tanpa menyapa Davina.
Davina pun dibuat heran dengan tingkah laku Kenanga. Tidak biasanya wanita itu mengacuhkan dirinya padahal sebenarnya Kenanga sama sekali tidak menyadari keberadaan Davina. Wanita itu terlalu larut memikirkan masalah dengan sang suami.
"Ma, Mama kenapa pergi begitu saja dan tidak menanyakan keadaanku? Apa Mama sudah tidak peduli padaku lagi?" tanya Davina sambil mengejar Kenanga.
Saat itulah Kenanga sadar jika ada Davina di sana. Dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja meski semua orang kerja di dirinya sedang tidak sehat.
"Oh, kamu sudah pulang? Maaf, Mama sedang capek, pengen segera beristirahat."
"Mama dari mana saja? Kata bibi, Mama sudah pergi dari pagi, kenapa baru sekarang pulangnya? Aku lihat Mama juga tidak membawa apa-apa."
Kenanga menatap dingin ke arah Davina. "Tidak semua urusan Mama harus kamu ketahui dari mana dan melakukan apa. Kamu harus tahu batasan-batasan apa yang perlu kamu ketahui dan tidak," ucap Kenanga dengan nada tegas dan itu cukup membuat Davina terkejut.
Biasanya wanita itu selalu berkata dengan lembut, tapi sekarang malah memarahinya.
"Ma, kenapa sih dengan Mama? Mama ada masalah?"
"Sudah, jangan ganggu Mama! Mama capek,"
Kenanga pergi begitu saja meninggalkan Davina dengan sejuta pertanyaan yang ada di kepalanya. Tidak biasanya Kenanga seperti itu dan hal tersebut cukup mengganggu pikiran gadis itu pun. Davina segera mengirim pesan pada gambar dan menceritakan apa yang sedang terjadi.
Sore hari saat Bima pulang, Kenanga masih saja diam. Tadinya Bima kira apa yang dikatakan Davina hanya perasaan anak itu saja, tapi ternyata memang benar adanya. Kenanga tidak terlihat seperti biasanya. Wanita itu banyak diam. Jika ditanya pun hanya menjawab sekedarnya saja.
"Kenanga, kamu sedang ada masalah? Kenapa dari tadi kamu diam saja?" tanya Bima.
Saat ini mereka sedang menikmati makan malam dan Kenanga tampak tidak begitu berselera. Padahal malam ini menunya adalah makanan kesukaan istrinya itu. Tadi sengaja Bima meminta bibi untuk memasaknya karena khawatir jika istrinya itu sedang menghadapi masalah karena tampak begitu sedih.
"Nanti saja setelah selesai makan malam. Aku ingin bicara sesuatu dengan kamu, Mas."
"Mau bicara apa?"
"Nanti saja setelah selesai makan, takutnya nanti mau nggak jadi makan jadi sebaiknya kamu segera selesaikan makannya."
Bima pun segera menghabiskan makanannya karena dia sangat penasaran apa yang ingin dikatakan oleh istrinya. kenangan apa hadiah sudah memutuskan untuk mengakhiri rumah tangganya dan dia akan mengatakannya pada Bima dia akan kehilangan ini jujur Dia sangat sedih bagaimanapun juga sudah 20 tahun jadi seorang ibu rumah tangga di rumah ini dan sekarang dirinya harus melepaskannya. Berbeda dengan dua orang di depannya ini, pasti mereka akan sangat bahagia nanti setelah mendengar rencananya.
"Aku sudah selesai, sekarang katakan kamu mau bicara apa," kata Bima membuat Kenanga tersadar dari lamunannya.
"Sebentar," ucap Kenanga yang kemudian mengakhiri makanannya meski hanya tersentuh beberapa saja tadi. Tidak lupa juga dia meminum airnya. Kenanga pun berdiri dan berkata, "Kita bicara di kamar saja."
Kenanga pun berjalan lebih dulu menuju kamar mereka. Bima pun mengikutinya. Davina sangat penasaran apa yang ingin dibicarakan kedua orang tuanya, tapi sepertinya Kenanga tidak akan mengizinkannya untuk ikut.
semoga iya dan berjodoh dan bisa punya baby sekarang banyak bngt usia puber ke dua pada tekdung
tapi jaman sekarang yg kepala 4 tuh lagi wow kaya umur 25 th ga kelihatan tuir
ayo kenangan do something temui tuh wanita yg di cintai suamimu