NovelToon NovelToon
My Cold Boss Is A Spicy Writer!

My Cold Boss Is A Spicy Writer!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wie Arpie

Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal buku pelajaran. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.

Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku sekali, Pak. Kurang rasa!"

Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.

Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membaca Ulang Halaman Pertama

Malam ini, apartemen terasa lebih sunyi dari biasanya. Di atas tempat tidur besar yang telah menjadi saksi bisu banyak diskusi larut malam mereka, Arkan sudah terlelap. Napasnya teratur, wajahnya yang biasa tegang karena urusan kantor kini tampak damai dalam balutan cahaya lampu tidur yang temaram.

Sia tidak bisa tidur. Ada perasaan campur aduk yang membuncah di dadanya—rasa haru, cemas, sekaligus bahagia yang sulit didefinisikan. Ia meraih laptopnya di atas nakas, mencoba mengalihkan perhatian dengan merapikan beberapa dokumen pribadi di emailnya. Namun, jemarinya justru berhenti pada sebuah folder lama yang tersimpan di arsip paling bawah.

Folder itu bernama: "Lamaran Kerja - 2023".

Sia mengeklik salah satu draf email. Matanya tertuju pada baris kalimat formal yang ia tulis tiga tahun lalu. Seketika, dinding kamar apartemen itu seolah memudar, digantikan oleh bayangan masa lalu yang berputar kembali seperti rol film tua di kepalanya.

POV SIA

Tiga tahun lalu, aku berdiri di depan cermin kamarku yang sempit, merapikan kemeja putih yang baru saja ku setrika. Hari itu adalah hari pertamaku di Dewangga Group. Aku hanyalah seorang lulusan baru yang beruntung bisa lolos seleksi ketat sebagai sekretaris CEO.

Aku masih ingat betapa megahnya lobi gedung itu. Lantai marmernya begitu mengkilap sampai aku bisa melihat bayangan wajahku yang penuh kecemasan. Di lantai 42, staf HRD memberiku pengarahan yang lebih mirip seperti pengarahan militer daripada orientasi kantor.

"Ingat, Saffiya. Pak Arkan benci keterlambatan. Dia benci aroma parfum yang terlalu menyengat. Dia benci pertanyaan yang jawabannya bisa kamu cari sendiri di Google. Dan yang paling penting, jangan pernah menyentuh meja kerjanya tanpa izin," pesan itu terngiang-ngiang di kepalaku.

Pukul 07.57 WIB. Aku sudah berdiri di depan pintu lift eksekutif. Di tanganku ada secangkir Americano panas, tepat 85 derajat Celsius. Aku bahkan membawa termometer milik ibu tiriku tadi pagi hanya untuk memastikan suhunya presisi. Bodoh memang, tapi aku butuh pekerjaan ini.

Ting!

Pintu lift terbuka. Detik itu juga, suasana di lorong lantai 42 berubah. Tekanan udara seolah meningkat. Sosok pria setinggi 185 cm melangkah keluar dengan langkah lebar yang angkuh. Arkananta Dewangga. Dia terlihat seperti baru saja keluar dari sampul majalah bisnis dunia. Setelan jas charcoal-nya tanpa cela, kacamata peraknya membingkai mata elang yang seolah bisa menembus tulang rusukku.

"Selamat pagi, Pak Arkananta," sapaku, berusaha menjaga agar suaraku tidak bergetar.

Dia tidak berhenti. Dia bahkan tidak melirik kopi yang kupegang. Dia hanya berjalan melaluiku sambil bertanya dengan suara baritonnya yang datar, "Apakah laporan evaluasi triwulan sudah di meja saya, Saffiya?"

Aku berjalan cepat di sampingnya, nyaris berlari untuk mengimbangi langkah panjangnya. "Sudah, Pak. Lengkap dengan catatan tambahan di bagian defisit."

"Bagus. Beri tahu Ayah saya, saya punya waktu tujuh menit untuknya sebelum rapat komisaris. Tidak lebih."

Hari-hari pertamaku adalah rangkaian ujian kesabaran. Arkan bukan pria yang kasar dalam artian membentak, tapi dia kasar dalam artian "dingin". Dia adalah definisi robot yang terperangkap dalam tubuh manusia. Baginya, setiap orang di kantor ini adalah komponen dalam mesin korporasi yang harus bekerja tanpa cela.

Aku pernah menangis di toilet lantai 42 hanya karena dia mengembalikan laporan setebal lima puluh halaman dengan satu kalimat: "Gunakan tanda baca yang benar, Saffiya. Kesalahan ini membuat mata saya tidak efisien saat membaca."

Aku sangat membencinya saat itu. Aku benci cara dia menggulung lengan kemejanya saat lembur seolah-olah dia adalah satu-satunya orang yang sibuk di dunia ini. Aku benci cara dia menatapku saat aku membawakannya salad ayam—menu wajib setiap hari Selasa—seolah aku hanyalah alat pengantar makanan.

Tapi di balik rasa benci itu, ada rasa kagum yang tak mau kuakui. Aku sering mendapati diriku memperhatikannya diam-diam dari meja antechamber-ku. Cara rahangnya mengeras saat dia berpikir, atau bagaimana jarinya mengetuk meja dengan irama yang selalu sama. Dia sangat tampan, sekaligus sangat menyebalkan.

Aku ingat satu siang di tahun kedua, saat dia tiba-tiba bertanya tentang diksi "bergelora" untuk riset pribadinya. Aku hampir menjatuhkan botol minumku.

"Menurut pendapat Anda sebagai seorang wanita... apakah kata 'bergelora' terdengar terlalu berlebihan?" tanyanya tanpa menoleh dari layar laptop.

Saat itu aku hanya tertawa dalam hati. Aku pikir, robot ini mungkin sedang mencoba belajar cara menjadi manusia untuk urusan bisnis. Aku tidak pernah membayangkan, di balik kacamata peraknya dan tumpukan laporan keuangan itu, ada seorang pria yang sedang berjuang menulis adegan romantis.

Aku terus bertahan, menganggapnya sebagai tantangan karier. Aku tidak tahu bahwa malam yang akan mengubah segalanya segera tiba. Malam di mana aku akan menemukan bahwa pria ini memiliki rahasia paling memalukan—dan paling manis—yang pernah ada.

POV UMUM

Sia menghela napas panjang, jarinya berhenti mengetik di atas keyboard. Kenangan tentang tahun-tahun awal yang melelahkan itu kini terasa lucu jika diingat kembali. Ia menutup laptopnya perlahan, lalu berbalik menyamping untuk menatap Arkan.

Arkan bergerak sedikit dalam tidurnya, tangannya secara insting mencari keberadaan Sia di sampingnya. Begitu tangannya menyentuh lengan Sia, Arkan kembali tenang.

Sia tersenyum. Dulu, Arkan benci disentuh oleh sembarang orang. Sekarang, dia tidak bisa tidur tanpa memegang tangan Sia.

"Selamat tidur, Robotku," bisik Sia pelan.

Sia tidak langsung memejamkan mata. Ia memandangi jemari Arkan yang kini bertaut dengan jemarinya di atas sprei sutra. Jemari yang dulu hanya ia lihat menari dengan kaku di atas keyboard komputer, memberikan instruksi-instruksi dingin yang membuat Sia harus lembur hingga larut malam.

Dulu, melihat Arkan menggulung kemeja putihnya hingga siku adalah sinyal bahaya. Itu artinya, ada badai pekerjaan yang akan datang, dan Sia harus siap siaga menjadi tamengnya. Namun sekarang, melihat Arkan dalam kondisi paling rentannya—tanpa kacamata perak, tanpa jas charcoal yang kaku, hanya dengan kaos rumah yang lembut—Sia menyadari betapa jauh mereka telah melangkah.

Pernah suatu kali, di tahun kedua masa kerjanya, Sia jatuh sakit. Kepalanya berdenyut hebat karena flu berat, namun ia tetap memaksakan diri datang ke kantor hanya karena ia tahu Arkan tidak akan bisa menemukan dokumen penting tanpa bantuannya. Hari itu, Arkan hanya menatapnya sekilas, menyadari hidung Sia yang memerah dan matanya yang sayu.

"Saffiya, kinerja Anda menurun tiga puluh persen hari ini. Suara bersin Anda mengganggu konsentrasi saya," ujar Arkan saat itu tanpa ekspresi.

Sia sudah siap untuk merasa sakit hati dan mengemasi barang-barangnya. Namun, Arkan melanjutkan, "Pergi ke klinik di lantai dasar. Biayanya akan dipotong dari tunjangan kesehatan perusahaan, bukan gaji Anda. Dan jangan kembali ke meja Anda sampai Anda berhenti mengeluarkan suara-suara berisik itu."

Itu adalah cara "Robot" Arkan menunjukkan perhatian. Sangat kaku, sangat administratif, namun entah kenapa membuat Sia bertahan di sana lebih lama dari yang seharusnya. Sia sering bertanya-tanya, apakah di balik kesempurnaan itu, Arkan pernah merasa kesepian? Apakah dia pernah ingin meledak dan berteriak seperti manusia biasa?

Jawabannya baru ia temukan ketika ia mulai masuk ke dalam dunia Nightshade. Melalui tulisan-tulisan Arkan yang awalnya sangat membosankan, Sia melihat upaya seorang pria yang ingin memahami emosi manusia melalui kata-kata. Arkan mencoba membedah cinta seperti dia membedah laporan rugi-laba. Dan tugas Sia, yang awalnya hanya sekadar sekretaris, perlahan berubah menjadi pemandu bagi Arkan untuk menemukan hatinya sendiri.

Tiba-tiba, Arkan bergumam pelan dalam tidurnya. Ia menarik tangan Sia sedikit lebih dekat ke dadanya. Sia bisa merasakan detak jantung Arkan yang tenang melalui telapak tangannya.

"Kamu tahu, Kan?" bisik Sia lagi, kali ini lebih pelan, seolah hanya bicara pada kegelapan malam. "Aku pernah hampir menyerah. Aku pernah menulis surat pengunduran diri dan menyimpannya di laci paling bawah. Aku pikir, aku tidak akan pernah bisa menjadi karyawan yang cukup baik untukmu."

Sia tersenyum getir mengenang masa itu. Surat itu kini sudah lama hancur di mesin penghancur kertas, dan akan digantikan oleh undangan pernikahan yang sedang mereka siapkan. Perubahan ini terasa seperti sebuah plot twist yang bahkan tidak sanggup ditulis oleh seorang Nightshade sekalipun.

Sia teringat malam pertama mereka makan malam di luar setelah pulang dinas. Bukan di restoran mewah dengan reservasi satu bulan sebelumnya, melainkan hanya di pinggir jalan karena mobil Arkan mogok di tengah hujan. Arkan tampak sangat tidak nyaman dengan setelan jas mahalnya duduk di kursi plastik, tapi ketika dia melihat Sia tertawa karena kuah bakso yang tumpah, matanya melembut. Untuk pertama kalinya, Sia tidak melihat bos yang bagai robot. Ia melihat seorang pria yang sedang bingung bagaimana caranya bersikap santai.

"Dulu aku takut padamu," Sia bergumam, jemarinya kini mengusap punggung tangan Arkan dengan lembut. "Sekarang, aku hanya takut kalau suatu pagi aku bangun dan ternyata semua ini hanyalah draf novel yang belum selesai kamu tulis."

Keheningan malam itu kembali menyelimuti. Sia akhirnya meletakkan kepalanya di bantal, menghadap Arkan. Ia menutup mata, membiarkan memori-memori itu tersimpan rapi kembali di dalam hatinya.

Sia menarik napas dalam, menghirup aroma sandalwood yang kini terasa seperti aroma rumah, bukan lagi aroma kantor yang kaku. Dengan satu tarikan napas lega, ia akhirnya menyerah pada kantuk, siap untuk menyongsong hari di mana ia tidak lagi sekadar membantu Arkan menulis cerita, tapi menjadi bagian utama dari cerita itu sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!