Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
Pernyataan Kensington sembari tersenyum tipis itu seolah melempar bola panas ke arah Audrey.
Di meja panjang itu, suasana mendadak senyap selama beberapa detik. Para senior yang tadinya sibuk bercanda kini menoleh, menatap Audrey dengan tatapan yang sulit diartikan.
Mereka tidak terbiasa melihat seorang mahasiswa baru, yang tampak begitu "lurus", berani membalas ucapan Kensington dengan nada sedatar itu.
Pria yang merangkul Vivian—pria yang Audrey tebak sebagai teman tidur Vivian semalam—melepaskan rangkulannya sejenak dan tertawa keras.
"Wah, Ken! Sepertinya teman baru Vivian ini punya nyali juga. Jarang-jarang ada maba yang tidak gemetar saat kau ajak bicara."
Kensington tidak mengalihkan pandangannya dari Audrey. Ia menyesap kopi hitamnya perlahan, lalu meletakkan gelas itu kembali ke meja dengan bunyi denting yang pelan namun terdengar jelas.
"Nyali adalah aset yang bagus di Fakultas Hukum, Marco," sahut Kensington pelan. "Tapi tanpa strategi, nyali hanya akan membawamu ke gerbang kehancuran lebih cepat."
Vivian menyenggol lengan Marco, pria itu, lalu mengerling ke arah Audrey. "Sudahlah, jangan menakut-nakuti dia. Audrey ini aset berharga. Dia punya otak yang encer. Aku bertaruh dia akan menjadi bintang di kelasnya."
Odetta, yang sejak tadi berdiri mematung di samping Audrey, akhirnya menemukan suaranya kembali. Dengan nada yang sedikit bergetar karena kegembiraan yang tertahan, ia berbisik, "Drey, ayo kita duduk. Antrean di belakang sudah mulai menggerutu."
Mereka akhirnya duduk di meja yang tidak jauh dari kelompok Kensington. Odetta segera merapatkan kursinya ke arah Audrey, wajahnya tampak merah padam.
"Demi Tuhan, Audrey! Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan? Kau baru saja menantang Kensington Valerio di depan umum! Dan dia... dia menanggapi mu! Biasanya dia mengabaikan orang-orang seperti kita seolah kita ini hanya partikel debu di udara."
Audrey menghela napas, mencoba menenangkan detak jantungnya yang sebenarnya tidak seatas kelihatannya.
"Aku tidak menantangnya, Det. Aku hanya menjawab pertanyaannya. Aku tidak suka dianggap remeh, apalagi soal komitmenku pada kuliah ini."
"Tapi tatapannya itu, Drey," Odetta mendesis sambil mengintip ke belakang. "Dia masih sesekali melirik ke arahmu. Kau harus hati-hati. Di universitas ini, perhatian dari seorang Valerio bisa berarti berkah, atau bisa berarti kutukan yang akan membuatmu tidak betah tinggal di asrama."
Audrey mencoba mengabaikan peringatan Odetta dan mulai memakan saladnya. Namun, konsentrasinya buyar saat ia melihat dari sudut matanya, seorang gadis cantik dengan rambut merah menyala mendekati meja Kensington.
Gadis itu—yang semalam Audrey lihat berciuman dengan pria lain dalam permainan Truth or Dare—langsung duduk di pangkuan Kensington tanpa permisi.
Anehnya, Kensington tidak menolak, namun ia juga tidak memberikan respon yang hangat. Ia membiarkan gadis itu melingkarkan lengan di lehernya, sementara tangannya sendiri tetap sibuk memutar-mutar ponsel di atas meja.
"Lihat itu," bisik Odetta lagi, seolah ia adalah komentator pertandingan bola. "Itu Bianca. Dia adalah salah satu orbit Kensington. Dia cantik, kaya, dan sangat terobsesi pada Ken. Tapi seperti yang kukatakan tadi, bagi Kensington, Bianca hanyalah bagian dari dekorasi pestanya. Tidak ada cinta di sana. Hanya kebutuhan visual."
Audrey teringat kembali pada rak buku di kamar Kensington. Ribuan halaman yang menceritakan tentang pengorbanan, kerinduan, dan kesetiaan.
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu mendalami literatur romansa bisa menjadi sedingin itu dalam kehidupan nyata? Apakah buku-buku itu adalah jendela menuju sesuatu yang ia inginkan namun tidak bisa ia miliki? Atau justru buku-buku itu adalah bentuk ejekannya terhadap dunia yang ia anggap palsu?
Sore harinya, setelah jadwal kuliah yang padat berakhir, Audrey memutuskan untuk pergi ke perpustakaan pusat. Ia butuh ketenangan untuk menyusun catatan hukum perdatanya.
Namun, saat melewati lorong menuju ruang referensi, ia melihat sosok yang sangat ia kenali sedang berdiri di depan sebuah jendela besar yang menghadap ke taman kampus.
Itu Kensington. Kali ini dia sendirian, tanpa pengawal-pengawalnya, tanpa gadis-gadis yang bergelayutan di lengannya. Ia tampak sedang membaca sebuah buku kecil bersampul kusam.
Audrey berniat untuk terus berjalan dan pura-pura tidak melihatnya. Namun, rasa penasaran yang dipupuk oleh cerita Odetta dan apa yang ia lihat di penthouse semalam mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang berani.
Ia berjalan mendekat, lalu berhenti beberapa langkah di samping pria itu. "Buku hukum lagi?" tanya Audrey pendek.
Kensington menoleh perlahan. Ia tidak tampak terkejut. "Bukan. Ini tentang sejarah arsitektur kuno. Hukum terkadang terlalu kaku untuk dinikmati di sore hari yang mendung seperti ini."
Audrey mengangguk kecil. "Aku dengar dari seseorang... kau punya banyak koleksi buku di rumahmu. Terutama novel cinta."
Untuk pertama kalinya, Audrey melihat ekspresi Kensington berubah.
Ada kilatan emosi yang melintas cepat di matanya—mungkin sedikit rasa terkejut, mungkin sedikit rasa tidak nyaman—sebelum kembali ke topeng dinginnya yang biasa.
"Kau melihat-lihat lebih banyak dari yang seharusnya semalam, Audrey," ucap Kensington. Suaranya tidak marah, tapi mengandung peringatan yang jelas.
"Maafkan aku soal itu. Aku hanya mencari udara segar dan tersesat," bela Audrey. "Tapi aku penasaran. Seseorang yang dikatakan tidak percaya cinta oleh seluruh kampus, justru mengoleksi ratusan novel yang membahas tentang itu. Itu sebuah kontradiksi yang menarik."
Kensington menutup bukunya dengan suara pelan. Ia melangkah satu langkah lebih dekat ke arah Audrey, membuat gadis itu harus sedikit mendongak. Aroma parfumnya yang maskulin dan berkelas kembali menyergap indra Audrey.
"Kau ingin tahu rahasianya?" tanya Kensington dengan nada berbisik. "Novel-novel itu bukan untuk dipelajari agar aku bisa jatuh cinta, Audrey. Aku membacanya untuk memahami bagaimana cara kerja delusi manusia. Cinta adalah delusi yang paling terorganisir di dunia ini. Orang-orang menciptakan ribuan halaman hanya untuk membenarkan perasaan yang sebenarnya hanyalah reaksi jangka pendek."
Audrey terpaku. "Delusi? Jadi kau pikir cinta yang dirasakan orang-orang... yang mungkin dirasakan ibuku, atau teman-temanmu, itu semua tidak nyata?"
Kensington tersenyum, kali ini sebuah senyum yang terasa pahit.
"Ibumu mencintaimu karena dia takut pada kesepian atau mungkin kegagalan. Teman-temanku? Mereka mencintai karena mereka takut menghadapi dunia sendirian. Itu bukan cinta, Audrey. Itu adalah mekanisme pertahanan diri."
"Lalu bagaimana denganmu?" tantang Audrey. "Kau punya segalanya. Apa yang kau takuti sampai kau harus menutup diri dari hal itu?"
Kensington menatap Audrey dalam-dalam. Tatapannya begitu intens seolah-olah ia sedang membedah setiap lapisan pemikiran gadis di depannya.
"Aku tidak takut, Audrey. Aku hanya sudah melihat akhir dari setiap cerita dalam buku-buku itu. Dan aku tidak tertarik untuk menjadi karakter di dalamnya."
Sebelum Audrey sempat membalas, ponsel Kensington bergetar. Ia melirik layar ponselnya, lalu kembali menatap Audrey.
"Kembalilah ke buku hukummu, maba. Belajarlah dengan giat agar kau tidak mengecewakan ibumu. Tapi saranku satu, jangan terlalu banyak membaca novel cinta jika kau tidak ingin berakhir menjadi seseorang yang kecewa pada realitas."
Kensington berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Audrey yang masih terpaku di lorong perpustakaan yang sunyi. Kata-kata pria itu terasa sangat tajam dan dingin, namun di saat yang sama, Audrey merasa ada kesedihan yang tersembunyi di baliknya.
Malam itu di asrama, Audrey tidak bisa fokus pada bukunya. Vivian baru saja pulang, wajahnya tampak lelah namun bahagia. Ia langsung merebahkan diri di ranjangnya tanpa melepas sepatunya.
"Kau bicara dengan Kensington di perpustakaan tadi, ya?" tanya Vivian tiba-tiba.
Audrey tersentak. "Bagaimana kau tahu?"
"Berita menyebar cepat di sini, Drey. Apalagi jika itu melibatkan Ken. Marco memberitahuku tadi," Vivian bangkit dan duduk bersila, menatap Audrey dengan serius. "Dengar, sebagai teman sekamarmu, aku ingin memberi peringatan sedikit."
Audrey menutup bukunya. "Tentang apa?"
"Kensington itu seperti api yang indah. Kau bisa mengaguminya dari jauh untuk menghangatkan diri, tapi jika kau mencoba menyentuhnya atau mencari tahu dari mana api itu berasal, kau akan terbakar hebat. Dia punya banyak luka yang dia tutupi dengan kemewahan dan sikap dingin. Jangan mencoba menjadi pahlawan yang ingin menyembuhkannya."
Audrey terdiam sebentar. "Aku tidak ingin menyembuhkannya, Vi. Aku hanya tidak suka dengan cara dia memandang rendah perasaan orang lain."
Vivian menghela napas. "Dia memandang rendah karena mungkin dia tidak sanggup merasakannya lagi. Kau tahu, dulu ada sebuah cerita tentang Salah Satu Sahabat baiknya... tapi itu bukan konsumsiku untuk bercerita. Intinya, Audrey, fokuslah pada tujuanmu ke sini. Jangan sampai kau menjadi salah satu novel cinta yang dia simpan di raknya hanya untuk dia baca akhirnya, lalu dia lupakan."
Malam itu, Audrey tertidur dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia teringat wajah ibunya dan tekanan untuk menjadi yang terbaik. Di sisi lain, ia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Kensington tentang cinta sebagai delusi.
Dan di kejauhan, di sebuah penthouse mewah, Kensington Valerio duduk di balkonnya, menatap lampu-lampu kota.
Di tangannya bukan lagi buku arsitektur, melainkan sebuah novel klasik tua yang halamannya sudah mulai menguning. Ia membuka halaman terakhir, membacanya sebentar, lalu menutupnya dengan helaan napas panjang.
"Cinta," gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan angin malam. "Hanya sebuah kata indah untuk sebuah penderitaan yang panjang."
Keesokan harinya, kehidupan kampus dimulai kembali. Namun kali ini, Audrey merasa ada yang berbeda.
Setiap kali ia melewati kantin atau lorong-lorong fakultas, ia merasa sedang diamati. Dan benar saja, di setiap sudut, ia mulai sering berpapasan dengan Kensington. Seolah-olah takdir sedang mencoba mempertemukan mereka dalam sebuah permainan yang hasilnya belum bisa diprediksi oleh siapa pun.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭