masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Gali Sumur
20.
Kembali ke Targus, sepanjang jalan Gengi memikirkan siapa pria yang dimaksud Bou, kenapa pria itu melindungi mereka? Apa alasan dan hubungannya dengan mereka? Apakah pria itu adalah utusan dari raja?
Gengi merasa kemungkinan itu kecil, kalaupun raja diam-diam menaruh orang di sekitar mereka pasti Gengi mengetahuinya. Namun tidak! Dia tidak mengetahui siapa pria itu, bahkan Gengi tidak curiga pada siapapun di desa itu terkecuali kelompok Bou sendiri.
Mata gelap dan tatapan tajam? Ciri-ciri yang disebutkan Bou hanya itu, dan bukan satu dua orang yang memiliki mata gelap di Targus.
Di halaman, Gengi melihat Tande, Nina dan Morline justru sedang bermain bersama anak-anak desa. Eddy ada di sana berdiri menatap mereka.
Ini kesempatan bagus untuk Gengi bertanya pada pria bungkuk itu. Dia menghampiri. "Eddy."
Pria itu membalikkan sebagian tubuhnya, Gengi berdiri di sebelahnya. Menatap ke depan, melihat ratu muda itu sedang bermain bersama anak-anak desa. Mengabaikan dia sejenak, Gengi bertanya; "aku mendapat informasi ini dari nona Mor. Kenapa kau datang ke rumah Bou waktu itu dan bilang dengan tidak sengaja mendengar percakapan mereka pada nona Mor."
"Oh, aku ke sana mengantarkan surat untuk Akash, ibunya mengirim surat pada tetua desa. Dia menyuruhku untuk mengantarnya. Memangnya kenapa kau tanya begitu?" Mata gelap Eddy menatap Gengi, dia menatap tanpa berkedip dengan sorot mata penuh pertanyaan.
Gengi hanya diam saat menatap wajahnya lalu berpaling. "Bukan apa-apa, aku kira kau dekat dengan Bou sampai berkunjung ke rumahnya."
"Tidak, kami tak dekat. Bou sejak awal tak menyukaiku, hanya saja karena aku dekat dengan tetua desa dia tidak menggangguku seperti dia menganggu kalian."
"Ngomong-ngomong soal itu kenapa dia ingin mengusir kami, kau tentu tahu kan mengingat kau sudah cukup lama di sini."
Eddy mengangguk, "memang. Bou dan kelompoknya mengikuti tuan Brox yang ekstrim dan radikal. Tuan Brox sangat aktif menyuarakan pendapat-pendapatnya hingga para pemuda menjadi pengikutnya. Bou hanya takut bahwa kalian akan menjadi penghalang pergerakan mereka."
"Kau tau banyak, ya."
"Kenapa tidak? Justru kalau aku tak menceritakan ini padamu, berarti aku bodoh. Tuan Gengi, kadang kita harus melihat sesuatu lebih jeli lagi untuk bisa mengetahuinya."
Gengi kembali menatap Eddy lagi, kali ini dengan tatapan mata yang tajam dan intens, alisnya sedikit mengkerut. Mencoba menemukan sesuatu dari kata-kata Eddy, hanya saja Gengi tak memiliki kesimpulan apapun dari pria ini, selain seorang pria terpelajar yang pintar.
Eddy tersenyum kala melihat Morline tersandung dan jatuh menimpa Nina, lalu menolehkan kepala menatap Gengi. "Aku di sini karena aku peduli pada orang-orang yang tinggal, hanya saja aku tak berhasil menyelesaikan krisis kekeringan ini, adanya kalian sangat menguntungkan untukku. Selain aku bisa belajar hal baru aku juga ingin menikmati waktuku dengan sesuatu yang menyenangkan seperti ini." Mata Eddy kembali menatap ke depan, lurus pada objek yang terdiam tampak kelelahan di sana.
Gengi tidak membalas melainkan bertanya, "kau tau bahwa tuan Brox di bunuh bukan?"
Eddy mengangguk, "aku dengar Bou ingin membalas dendam pada orang yang ang telah melakukan itu."
"Sampai hari ini kenapa bou dan kelompok belum mengumumkan tuan Brox sudah mati?" Gengi bertanya lagi, bukannya di desa kematian seseorang itu selalu di umumkan? Kenapa justru tetap menyimpan mayatnya dalam gua?
"Bou tidak bisa melakukannya karena takut kelompok mereka kehilangan pengikut. Entahlah aku juga kurang mengerti, tapi yang jelas mereka tidak mau mengumumkan kematian tuan Brox."
Mendengar jawaban Eddy, Gengi jadi berpikir bahwa Bou dan kelompoknya memang sengaja tak mengumumkan kematian itu agar kelompoknya tidak terpecah belah, karena pasti mereka akan berdebat untuk menggantikan tuan Brox sebagai ketua.
Di sana, Morline kelelahan bermain. Melihat Eddy dan Gengi di bawah pohon, dia menghampiri. "Aku lelah sekali." Morline menjatuhkan dirinya di dekat kaki Eddy yang berdiri. "Hausnya."
Eddy segera merogoh tas raminya dan mengambil air minumnya sendiri. "Kalau kau mau silahkan."
"Terimakasih." Morline segera menarik air itu dari tangan Eddy.
Gengi yang melihat mengernyit, merasa ratu muda ini tidak cukup hati-hati menerima barang dari orang asing. "Nona Mor, lebih baik kau jangan menerima minuman dari sembarang orang." Kata Gengi.
"Dia itu Eddy, bukan orang asing. Kau jangan khawatir Gen. Oh, ya hari ini kau menggali sumur bersama Tande ya."
Alis Gengi bertaut. "Gali sumur? Hanya kita berdua?"
"Ya, mau bagaimana lagi mereka sepertinya enggan melakukan itu jadi aku meminta kalian untuk melakukannya. Barang kali melihat kalian, mereka jadi termotivasi untuk membantu. Kita coba saja. Mau ya?"
Gengi terdiam, berpikir kegiatan itu pasti akan melelahkan. Belum lagi dia harus mencari informasi tentang Bou dan pria misterius itu. Namun...Gengi menghela nafas, "baiklah, saya lakukan."
"Bagus! Eddy terimakasih minumannya. Airnya segar kau dapat dari mana?"
"Aku hanya merebus airnya dan diletakkan ke dalam gentong lalu di simpan suhu ruang."
Morline manggut-manggut saja.
Karel celingukan mencari Morline, saat menatapke arah pohon, gadis itu ada di sana sedang duduk bersama pria bungkuk. Karel segera berlari, membuat Nina di samping terkesiap mengira Karel pergi. Namun saat melihat ke arah Karel berlari, Nina tak mengejar bocah itu.
Karel berlari, matanya hanya menatap ke depan hingga tidak menyadari bahwa ada batu yang menancap di tanah, kakinya tersandung dan dia jatuh tersungkur. Morline memekik dan segera mendekat. "Karel, kau tidak apa-apa?"
Belum sempat Morline mendekatinya, Karel segera bangkit tanpa menyadari lututnya berdarah. Dia mendekati Morline. "Aku tak apa-apa."
Morline berjongkok, "bagian mana yang tidak apa-apa? Lututmu berdarah nih." Morline dengan sengaja menyentuh lukanya, Karel meringis lalu menunduk. Baru menyadari bahwa lututnya berdarah. "Sakit kan? Lebih hati-hati ya, jangan sampai melukai diri sendiri. Ayo obati."
"Hem."
Mereka mengobati luka Karel di bawah pohon, Morline membersihkan lukanya dan membalutnya dengan kain seadanya. "Sudah, hati-hati lain kali."
"Aku tidak apa-apa, tidak sakit." Bisik Karel yang bahkan hampir tak terdengar olehnya, Morline hanya membaca gerak bibirnya.
"Inikan tubuhmu sendiri, alangkah baiknya kau jaga. Tadi kau meringis, itu jelas sakit. Jangan terluka lagi ya."
Karel tak menjawab, tapi dia menunduk.
Peringatan! sisa waktu 18 jam lagi.
Misi; 0 terselesaikan.
Suara magnetis kembali bergema dalam kepalanya. Saat ini Karel bahkan tak tertawa satu kalipun, membuat Morline sedikit frustasi. Bagaimana kalau gagal? Vitalitasnya akan menurun 15%.
Sudahlah, toh aku tak bisa memaksa Karel untuk tertawa kan?
***
Langit melukiskan keindahannya di atas sana, warna oranye keemasan bercampur ungu kemerahan membentuk gradasi warna luar biasa indah.
Untuk sesaat Morline merenung di bawah langit sore, sendiri tanpa ada Nina ataupun Karel bersamanya. Dia menatap matahari yang sebagian telah terbenam, awan-awan berkumpul melayang pelan melintasinya. Burung-burung yang kembali ke sarang menambah kesan harmoni.
"Indah bukan?"
Morline menoleh, Eddy berdiri di sebelahnya. Matanya menatap ke depan. "Kau hebat, caramu memperlakukan anak-anak berbeda dari wanita manapun yang pernah aku lihat."
"Mungkin karena aku berusaha mengerti mereka, itulah kenapa aku lebih berhati-hati dalam bersikap di depan anak-anak."
"Soal Karel, apa aku boleh tanya sesuatu tentangnya?"
"Tanya saja, memangnya apa yang kau tanyakan?"
"Dia tampak berbeda dari anak lain di desa, apa karena dia berasal dari kota?"
"Bukan, dia memang berbeda...." Morline menjeda kalimatnya, berpikir apakah dia harus menceritakan latar belakang Karel atau tidak. "Em, aku menemukannya di jalan. Sepertinya dia dijadikan budak oleh para bandit, untuk memancing kereta kuda berhenti. Karena dia teluka aku membawanya dan merawatnya. Tapi tolong kau jangan katakan ini pada warga desa ya."
"Aku tak akan melakukannya. Apa kau menyayangi nya?"
Morline menoleh, sedikit terkejut karena Eddy ternyata sedang menatapnya dari tadi. "Menyayangi? Apa aku terlihat begitu?"
"Kau terlihat sangat perhatian padanya, seolah-olah dia adalah anakmu sendiri."
Morline justru terkekeh. "Benarkah? Aku tak menyadari itu, aku hanya peduli padanya. Aku ingin dia tumbuh menjadi pria yang berani dan hebat, hanya itu."
"Hatimu baik sekali."
"Tidak juga tuh, aku sering memaki dalam hati kalau ada orang yang mengejek tubuhku."
Eddy tertawa lepas. Suara beratnya mencair hingga terdengar begitu ringan. Pria itu menunduk, bahunya terguncang karena tawa.
Di sebelahnya Morline kebingungan dengan apa yang pria itu tertawakan. "Apa yang lucu?"
"Tidak, hanya saja aku membayangkan wajahmu ketika marah. Itu lucu menurutku."
"...." Morline kembali menatap mentari yang kini semakin tenggelam di barat sana, membuat langit semakin gelap. "Sudah gelap, lebih baik kita pulang."
"Ayo pulang bersama."
****
"Kalian sedang apa?"
"Menggali sumur, apa anda tidak melihatnya?" Jawab Tande dengan nada memendek kesal.
"Aku tau, maksudku untuk apa kalian menggali sumur itu tak ada gunanya sama sekali. Kita ini sedang kekeringan, tidak ada air!"
"Setidaknya kami berusaha dan tidak putus asa. Kalau tak mau membantu jangan ajak bicara!" Kembali Tande membalas dengan kesal. Seharusnya dia istirahat di rumah, bukannya menggali sumur bersama Gengi di sini.
Ditambah lagi warga desa yang tak membantu, justru mereka malah mengatai mereka bodoh membuat Tande memendam rasa kesal sendiri.
"Bukannya putus asa, tapi kalau susah-susah menggali sumur dan tak dapat airnya? Ya itu namanya percuma. Mending kalau ada bayaran, sudah pasti aku mau-mau saja."
Tande hendak membelas kembali ketika suara Morline terdengar sebelum orangnya muncul. "Benarkah?"
Gadis itu berhenti di dekat mereka. "Anda mau menggali sumur kalau di bayar?"
"Ya tentu saja, aku tentu tak mau bekerja tanpa mendapatkan apapun."
"Kalau begitu, apakah anda mau dibayar 1 perak per lima meter?" Morline merasa 1 perak kurang untuk menggali 5 meter di atas permukaan tanah. Bagaimanapun pekerjaan itu berat, rasanya tak cocok memberi 1 perak. "Baiklah, mungkin 2 pe..."
"1 perak lima meter? Aku akan ambil cangkul sekarang!"
Morline melongo menatap kepergian pria itu. Dia menatap Gengi.
Gengi menjatuhkan cangkulnya, menghapus keringat dengan punggung tangannya. "Di desa 1 perak itu sangat berharga. Bagi mereka menggali sumur adalah pekerjaan ringan."
"Tapi 1 perak tetap saja sedikit. Apalagi di tengah krisis begini."
"Jika anda merasa 1 perak itu kurang untuk pekerjaan mereka. Anda bisa menambahkannya, tapi jangan terlihat seolah-olah anda mengasihani mereka. Gaji mereka sesuai kemampuan mereka."
"Aku mengerti."
Tak di sangka, pria itu mengajak satu temannya untuk membantu. Mereka bersama Tande dan Gengi menggali sumur di sungai kering.
Karena pengalaman serta tenaga yang setiap hari ditempa, mereka mengerjakan jauh lebih cepat dan rapih di banding Tande dan Gengi.
Di siang hari, mereka istirahat. Morline dan Nina ke sana untuk mengantarkan makan siang dan air. "Kira-kira sudah berapa meter?"
"Mungkin sekitar 12 meter. Oh, ya bagaimana kami bisa menentukan 5 meter per orang kalau tak ada patokannya?"
"Benar juga, baiklah ubah saja. Per jam. 8 jam bekerja 3 perak bagaimana?"
"3 perak? Tidak masalah!" Kata pria itu dengan semangat, bagaimanapun 3 perak adalah yang yang besar bagi mereka.
"Aku juga tak masalah."
"Baiklah, kita sepakat delapan jam dengan bayaran 3 perak."
"Tuan anda tidak ke sana?"
Eddy melirik pria tua itu, tatapannya jauh lebih tajam dan ada karisma yang tersembunyi dalam dirinya. "Jangan panggil aku begitu saat seperti ini."
"Kau tidak ke sana?"
"Akan terlihat mencurigakan jika aku bergabung ke sana tanpa alasan, Gengi sudah menaruh curiga padaku." Kata Eddy sambil menatap sekumpulan orang di tepi sungai kering.
"Tapi bukannya anda sudah sangat hati-hati?"
"Aku sedang melakukannya, bagaimanapun semua ini hanya sandiwara. Hampir setiap malam Gengi keluar dan bisa saja dia menemukannya."
Tetua tak membalas, dia mengerti maksud Eddy. Memang benar semua ini hanya sandiwara mereka. Hanya saja, dia tak menyangka jika akan melibatkan orang-orang yang seharusnya tidak terlibat di sini.
Yang awalnya hanya untuk menyembunyikan identitasnya, sekarang justru Eddy di depannya ini menjadi sebuah identitas baru.
*****
Sepertinya biasanya, setiap malam Gengi akan selalu pergi, kali ini dengan tujuan mencari tahu siapa pria misterius yang meneror Bou.
Dia berkeliling desa, pergi ke rumah orang yang sudah Gengi tandai.
Menurut Bou, pria itu memiliki mata gelap. Dia pergi ke rumah seorang pria yang juga memiliki ciri yang sama.
Gengi menguping balik tembok tanah, di dalam sana lentera yang tamaram hanya memperlihatkan pria itu dengan istrinya. Mereka sedang berbincang sembari memakan sup sayur liar mengenai keuangan yang semakin hari semakin menipis.
Gengi berada di sana dalam waktu yang lama, hingga mereka tertidur Gengi mengendap-endap masuk ke rumahnya. Melihat setiap sudut untuk menemukan barang yang mencurigakan, tidak ada. Hanya ada peralatan tani biasa di pojok ruangan, semuanya tampak normal dan biasa di matanya.
Dia lalu masuk ke kamar suami istri itu, dan tidak melihat apapun yang mencurigakan. Gengipun kembali.
Menurut pengamatannya, pria itu tidak mungkin menjadi pelaku karena hanya petani biasa.
Malam itu Gengi melihat dua pemuda yang pergi dari desa malam-malam. Salah satunya adalah orang yang Gengi tandai, dia mengikuti mereka hingga sampai ke kota.
Ternyata mereka bekerja di sebuah bar sebagai pegawai shift malam. Gengi mengurungkan niatnya untuk memata-matai mereka.
Dia keluar dan berpikir, siapa pria dengan mata gelap itu? Namun satu-satunya orang yang belum Gengi pastikan adalah Eddy, bagaimanapun pria itu memiliki mata gelap. Namun kondisi fisiknya membuat Gengi meragukan Eddy.
Akan tetapi instingnya sebagai seorang mata-mata dan prajurit mendorong Gengi untuk pergi ke rumah Eddy. Pria bungkuk itu ternyata sedang membaca buku dengan lentera di samping kanannya.
Gengi memperhatikan pria itu selama 30 menit dan Eddy hanya duduk di sana sambil membaca tanpa beranjak sedikitpun.
Gengi menghilangkan seluruh kecurigaannya. Dia pergi dari sana dengan gerakan yang pelan dan sunyi, tanpa tahu bahwa Eddy melirik ke arah Gengi berada. Meski tak dapat melihat keberadaan Gengi, tapi Eddy bisa merasakannya.
Senyum di bibirnya muncul, matanya yang gelap berkilat di bawah sinar lentera, tajam dan gelap. Eddy lalu mematikan lenteranya, membuat ruangan itu jadi gelap.
Merasa malam ini tak mendapatkan sedikitpun infomasi, Gengi kembali ke rumahnya. Mungkin dia akan melanjutkan penyelidikan besok.
....
Besoknya.
Morline terkejut ketika pergi ke sungai, melihat banyak pria desa menggali sumur dengan cangkul-cangkul mereka.
Dia mendekat. "Tuan, kenapa ada banyak orang di sini?"
5 pria itu, menghentikan pekerjaannya. Seorang pria yang Morline kenal, menjawab. "Saya yang ajak mereka bekerja di sini, mereka juga membutuhkan uang jadi tidak apa-apakan mereka berkerja?"
"Tentu saja tidak, tapi kenapa kalian mau menggali sumur? Sebelumnya kalian menolak."
"Saat mendengar tuan Bas dibayar hanya untuk menggali sumur saya jadi memohon padanya untuk ikut, nona izinkan saya bekerja! Saya membutuhkan uang untuk membeli beras."
"Ah! Kalian tidak perlu memohon, tentu aku senang bisa membantu tapi...." Morline memikirkan uang yang dia punya, tidak yakin apakah akan cukup untuk membayar mereka semua. "Uang yang tersedia mungkin tak akan cukup membayar kalian semua."
Mereka terdiam, tapi Morline bisa melihat kesediaan dan kepasrahan di mata mereka.
"Kami tak masalah jika harus di bayar kecil. Tak masalah."
"Ya, tidak masalah. Toh kalau ada air di sumur ini, kamipun kebagian berkahnya juga."
Morline tersenyum, menyembunyikan perasaan sedih dan haru di saat yang bersamaan. Dirinya memang tak tahu bagaimana rasanya menjadi mereka, tapi melihat mereka bekerja keras bahkan rela dibayar rendah, rasanya dada Morline sesak.
"Ya sudah, saya ke sini mau memberikan ini untuk tuan Bas dan tuan Kroner." Morline memberikan 3 perak seperti yang dia janjikan sebelumnya pada kedua pria itu kemarin.
Melihat 3 koin perak di tangan, mata keduanya berbinar senang penuh rasa syukur.
Merekapun melanjutkan bekerja. Dibantu 3 pria lain. Mereka menggali sumur.
Pekerjaan jauh lebih cepat dari sebelumnya, belum setengah hari mereka sudah menggali sekitar 18 meter.
"Morline."
Gadis itu menoleh. Dia tersenyum melihat Eddy membawakan sesuatu di tangannya.
"Ini untukmu."
Alis Morline bertaut, menatap kotak kecil yang disodorkan Eddy. "Apa ini?"
"Bukalah."
Morline membukanya, matanya melebar nafasnya tercekat ketika sebuah miniatur gadis kecil membawa bunga besar mencuat dan berputar dirinya alunan merdu. "Indah sekali, dari mana kau mendapatkannya?"
"Aku membuatnya sendiri."
Morline menatap Eddy tak percaya. "Benarkah? Kau buat ini sendiri? Hebat sekali. Ini keren, maksudku indah."
"Sejak kapan kau memiliki keterampilan membuat miniatur itu, Ed? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya?" Seorang pria yang sedang bergantian menggali, memperhatikan miniatur di tangan Morline.
Eddy menatap pria itu. "Aku memang tak pernah menunjukkannya karena malu."
"Luar biasa, jika aku tau kau pandai membuat kerajinan tangan, aku akan meminta jasamu untuk membuat patung, alih-alih pergi ke kota."
"Aku tak bisa membuat patung dewa, rasanya tak pantas."
"Jangan merendah begitu, meski kau cacat tapi kau punya keterampilan bagus."
Eddy tak membalasnya, hanya tersenyum simpul. Lalu kembali menatap Morline yang memperhatikan Eddy. "Kenapa?" tanyanya dengan kerutan samar di dahi.
"Aku hanya terkesan padamu, kau...dengan kondisi fisikmu... pokoknya kau hebat!" Morline memalingkan wajah karena segan kepada Eddy, dia tak sanggup membahas kondisi fisiknya Eddy di depan orangnya, takut jika kata-katanya menyinggung pria itu.
Senyum di bibir pria itu menjadi lebih lembut, dia melihat Morline dengan salah tingkah memainkan miniatur kotak. Di matanya dia sangat lucu sekaligus menggemaskan. "Oh, aku tak melihat Tande dan Gengi. Dimana mereka?" Dengan sengaja Eddy memutuskan rasa tak nyaman Morline.
Gadis itu kembali menatapnya. "Oh, mereka sedang pergi ke kota untuk membeli persediaan. Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya bertanya. Oh, ya. Aku ke sini bukan hanya untuk memberikannya hadiah, menyampaikan pesan dari tetua. Katanya, Bou dan kelompoknya sedang mencari seseorang, kalian berhati-hatilah."
"Kalau mereka tidak menyinggung kami duluan." Balas Morline dengan sedikit nada bercanda.
Di kota, setelah memberi persediaan untuk bulan selanjutnya. Gengi dan Tande ingin bergegas pulang.
Di pasar, mereka melewati begitu banyaknya orang, harus berdesak-desakan dengan manusia-manusia yang juga memiliki tujuan serupa.
Di salah satu bangunan tua, Tande melihat seorang pria bungkuk, memakai jubah abu-abu gelap. "Bukannya itu Eddy?" Tande menunjukkan dengan tatapan matanya, Gengi mengikuti arah itu dan melihat pria serupa.
"Sedang apa di sana?"
"Mungkin bersama tetua? Bukannya dia sering pergi bersama pria itu, ya?"
"Apa kita perlu menyapanya?" Tanya Tande.
"Untuk apa?"
Tande tidak membalas, dia melihat pria bungkuk itu masuk ke dalam bangunan tanpa menoleh.
Gengi dan Tande kembali ke desa dengan menggunakan kuda mereka agar perjalanan jauh lebih cepat.
Mereka mampir ke rumah untuk meletakkan persediaan pangan laku pergi ke sungai kering untuk membantu menggali sumur. Namun langkah keduanya terhenti saat melihat Eddy justru sedang bersama Morline.
Mereka saling menatap, membatin hal yang sama. Apakah pria yang mereka lihat tadi adalah pria yang sama?
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍