Larasati, gadis desa sederhana, percaya bahwa pernikahannya dengan Reza Adiguna akan membawa kebahagiaan. Namun semua harapan itu hancur di hari ia melahirkan—anaknya direbut, dirinya diceraikan, dan ia dicampakkan tanpa sempat memeluk buah hatinya.
Sendiri dan hancur, Larasati berjuang bertahan hidup di tengah kota yang asing. Hingga takdir mempertemukannya dengan Hajoon Albra Brajamusti, pria yang dulu pernah dikenalnya tanpa sengaja.
Dengan keberanian yang tumbuh dari luka, Larasati menyamar sebagai ibu susu demi bisa dekat dengan anaknya kembali.
Di tengah perjuangannya, hadir perasaan yang tak pernah ia duga.
Apakah Larasati sanggup merebut kembali anaknya sekaligus menemukan arti cinta sejati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat & Bahaya 30
Pyaaar!!!
"Non Laras, ada apa?"
Pak Jarwo terkejut bukan main ketika mendengar suara barang pecah. Dia langsung berlari ke arah Laras yang ada di dapur.
Mereka sampai di kampung halaman Laras kemarin siang menjelang sore. Laras langsung meminta tolong orang untuk membenahi makam ayahnya yang amblas. Dan pagi harinya Laras tengah sibuk di dapur, dia berniat membuatkan minuman untuk Pak Jarwo.
Tapi gelas yang sedang diisi air panas malah retak dan berakhir pecah.
"Nggak apa-apa Pak. Ini gelasnya kok diisi air panas malah pecah begini dan karena kaget jadi kesenggol terus jatuh," jawab Laras. Dia juga kaget, karena tiba-tiba gelas itu pecah.
"Ya udah biarin aja, Non. Biar bapak yang beresin," ucap Pak Jarwo menawarkan diri untuk membereskan.
Laras mengangguk, dia lalu menyingkir dan pergi ke teras. Laras menggenggam tangannya lalu menyentuh dadanya. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Pikiran Laras langsung tertuju kepada sang anak.
"Elio, apa dia baik-baik aja? Kenapa aku tiba-tiba punya firasat buruk kayak gini," gumamnya.
Laras mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya secra perlahan. Dia membuang semua pikiran buruknya dan berusaha untuk berpikir positif.
Meksipun kemarin sampai rumah masih sore dan berhasil meminta orang untuk memperbaiki makam, namun baru bisa dilakukan pagi ini. Maka dari itu Laras juga tidak bisa pergi begitu saja. Setidaknya dia harus menunggu sampai hari ini, sampai mereke menyelesaikan perbaikan terhadap makan sang ayah.
"Pak Jarwo makasih ya,"ucap Laras saat melihat Pak Jarwo keluar dari rumah sambil membawa pecahan gelas.
"Iya Non sama-sama."
"Oh iya Pak, kalau nanti siang udah selesai, kita sore langsung balik Jakarta ya. Pak Jarwo capek nggak?"
Laras ingin cepat-cepat bisa kembali ke Jakarta. Dia juga ingin langsung menghampiri Elio. Meski sudah berusaha untuk merasa baik-baik saja dan memutar pikiran negatifnya menjadi positif, tapi hati Laras tetap tidak tenang.
"Aman kok Non. Kapan aja Non Laras mau pulang, Pak Jarwo siap,"ucap supir keluarga Brajamusti itu dengan senyum lebarnya.
"Baik Pak, makasih ya. Setelah ini Pak Jarwo bisa istirahat sekalian tidur juga. Biar pas perjalanan pulang nanti seger," balas Laras.
Pak Jarwo menganggukkan kepalanya. Baginya yang sudah jadi supir bertahun-tahun itu tak ada masalah dalam menjalankan mobil. Tapi dia tak akan menolak kebaikan Laras yang memintanya untuk istirahat lebih dulu.
Setelah Pak Jarwo kembali masuk ke rumah untuk istirahat, Laras memutuskan untuk menghubungi Ani. Beruntung dia meminta nomor kontak Ani sehingga bisa menanyakan keadaan Elio.
"Maaf Mbak, kalau ganggu. Ini Saras, Elio gimana Mbak ya?" tanya Laras. Dia tidak menelpon karena takut menganggu, dan hanya sekedar mengirim pesan.
"Oh Mbak Saras, baik Mbak. Aman kok. Mbak nggak perlu khawatir. Elio minum susu dengan baik. Mbak Saras kapan pulang."
Laras menghembuskan nafasnya lega mendengar kabar Elio dari Ani. Dia mengucapkan syukur dan berterimakasih kepada Ani.
"Besok saya udah ke sana Mbak. Semoga nggak ada halangan apa-apa."
Setelah berbincang sejenak, Laras mengakhiri berbalas pesan. Setidaknya dai sudah tahu kabar dari Elio yang baik-baik saja dan tidak rewel.
Namun entah mengapa Laras tetap saja merasa tidak enak. Rasa tidak tenang dalam hatinya seolah tidak berkurang.
"Ada apa ini?" gumam Laras lirih sambil memegangi dadanya.
Berbeda dengan Laras yang merasa tidak tenang, Eva yang tengah bersantai di rumah nampak tersenyum dengan puas. Terlebih saat dia melihat Elio menyusu dengan lahap tanpa menolak.
"Hahaha, tahu gitu dari kemarin-kemarin. Aah akhirnya dia minum juga ASI ku meski nggak banyak,"ucap Eva dengan sangat puas.
"Maksud kamu apa Va?" tanya Rini yang baru saja datang.
Rini memang tidak tinggal satu rumah dengan anak dan menantunya. Jadi pasti ada kejadian yang tak diketahuinya.
"Mama, gini ceritanya Ma. Jadi ... ."
Eva menceritakan apa yang dilakukannya terhadap ASI ibu susu dan ASI miliknya. Sesuai rencananya kemarin soal mencampur ASI. Dan ternyata cara ini berhasil. Elio tidak menolak dan minum dengan lahap.
"Waah syukurlah Va. Akhirnya ya,"ucap Rini. "Next, kamu bisa tambahin biar lebih banyak lagi,"sambung Rini.
"Iya Ma, besok aku akan tambahin biar lebih banyak lagi. Dan lama-lama, ASI yang diminum Elio sepenuhnya ASI milikku,"ucap Eva
Rini dan Eva benar-benar puas sekarang. Terlebih Eva, dia sangat puas karena akhirnya Elio benar-benar bisa meminum ASI nya.
Malam harinya, Eva juga meminta Elio untuk tidur di kamarnya. Tentu saja Ani tidak masalah. Malahan dia merasa senang karena akhirnya Eva mau melakukan bonding dengan Elio.
Akan tetapi, tidurnya Elio di kamar Eva agaknya tidak berakhir baik. Di tengah malam, Elio kejang. Elio yang kejang sama sekali tidak menangis. Dan Eva baru sadar ketika dibangunkan oleh Reza.
"Eva, Elio kenapa??"
Mata Eva membulat sempurna ketika melihat Elio yang keja. Matanya melotot, tubuhnya kaku, dan seolah tidak merespon.
Reza langsung mengangkut tubuh Elio. Dia menyuruh Eva untuk menyiapkan mobil.
"Suster Ani!!!" pekik Reza
Ani yang baru saja tertidur lansung bangun dan berlari keluar. Mata Ani membelalak ketika melihat kondisi Elio.
"Ya Allah. Ayo cepat ke IGD Pak. Elio dalam bahaya!!"
TBC