NovelToon NovelToon
Jodoh Beda Benua

Jodoh Beda Benua

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cinta Karena Taruhan / Romansa Fantasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: fadiez

Di sebuah kafe kecil yang tidak pernah benar-benar sepi, dua dunia yang berbeda perlahan saling bersinggungan.
Clay—dingin, tenang, dan terbiasa menjaga jarak.
Nindi—jujur, tegas, dan tidak suka sesuatu yang menggantung tanpa kepastian.
Mereka tidak pernah merencanakan apa pun. Tidak pernah mencari satu sama lain.
Namun setiap hari yang sama, percakapan yang sederhana, dan kebetulan yang berulang, perlahan mengubah batas antara “sekadar bertemu” menjadi “tidak ingin kehilangan”.
Dan ketika akhirnya mereka memilih untuk saling menggenggam, mereka juga harus belajar satu hal:
bahwa mempertahankan seseorang tidak pernah sesederhana memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fadiez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Malam sudah larut saat Nindi akhirnya sampai di rumah. Suasana jauh lebih sepi dibandingkan Cafe tadi. Nindi sudah di kamarnya. Tidak ada suara mesin kopi, tidak ada gelak tawa, tidak ada langkah kaki yang hilir mudik. Sekarang hanya ada dirinya dan keheningan.

Nindi meletakkan tasnya, lalu duduk di tepi ranjang. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya justru belum benar-benar ingin berhenti. Tanpa sadar, ia menghela napas pelan. Entah kenapa, bayangan hari ini kembali terlintas.

Tentang kafe yang ramai.

Tentang tawa teman-temannya.

Dan… tentang seseorang yang berdiri tak jauh darinya.

Nindi memejamkan mata sebentar, seolah mencoba mengusir pikiran itu. Namun yang muncul justru lebih jelas. Yaitu cara Clay berdiri bersandar di meja. Nada suaranya yang tenang, dan bagaimana dia menggeser gelas es kopi itu diam-diam, tanpa banyak kata. Sesuatu yang sangat kecil dan sepele, tapi justru itu yang terus teringat.

"Astaga!"

Nindi membuka mata cepat, sedikit mengerutkan keningnya sendiri.

“Aku mikirin apa sih…”

Nindi pun mencoba mengalihkan pikiran. Gadis itu mengambil ponsel, membuka sesuatu, lalu menutupnya lagi.

Ah, tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya.

Beberapa detik berlalu. Tangannya tanpa sadar menyentuh bibirnya sendiri, seolah masih mengingat dinginnya sedotan dan rasa kopi tadi. Dan entah kenapa, ada rasa hangat yang tersisa.

Nindi langsung menjatuhkan tangannya, sedikit tersadar.

“Kenapa jadi kepikiran sih??"

"Sudah, ini udah malem, lebih baik aku tidur."

Nindi berbaring, menarik selimut, memposisikan diri seolah siap tidur. Lampu dimatikan. Kamar berubah gelap dan sunyi. Matanya mencoba memejam. Namun di tengah keheningan itu, pikirannya kembali berputar.

Kalimat sederhana itu terngiang lagi.

“Minum dulu.”

Nada suara Clay.

Cara Clay melihatnya.

Nindi menghela napas panjang, lalu membalikkan badan.

“Pleasse Nindi, bukan waktunya buat mikirin hal - hal konyol kayak gini ...."

Nindi mulai frustasi.

***

Cafe sudah lama sepi. Lampu-lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya redup yang jatuh di meja bar. Semua sudah rapi, bahkan terlalu rapi, sampai tak ada lagi alasan bagi Clay untuk tetap di sana.

Tapi Clay belum pergi. Dia berdiri diam, kedua tangannya bertumpu di meja, menatap kosong ke permukaan kayu yang tadi seharian dipenuhi kesibukan.

Hening.

Untuk pertama kalinya hari itu, Clay benar-benar punya waktu untuk berpikir. Dan justru itu yang dia hindari beberapa waktu terakhir ini.

Clay menghembuskan napas pelan, lalu menutup mata sejenak. Namun yang muncul bukan keheningan. Melainkan bayangan yang terlalu jelas.

Nindi.

Cara gadis itu memejamkan mata saat mencicipi kopi. Cara Nindi tersenyum kecil setelahnya. Dan hal sederhana yang seharusnya sudah lewat, sebuah sentuhan singkat itu.

Clay membuka mata perlahan. Tatapannya berubah. Tidak lagi kosong. Dan bibirnya tertawa getir.

“Jadi benar."

Bukan pertanyaan. Lebih seperti kesadaran yang akhirnya sampai. Clay menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan, seolah mencoba menerima sesuatu yang tak bisa lagi dia abaikan.

Selama ini Clay terbiasa tenang. Terbiasa mengendalikan. Tidak membiarkan hal-hal kecil mengganggu ritmenya. Tapi yang satu ini… berbeda. Tidak berisik. Tidak memaksa.

Justru datang pelan, diam-diam, dan saat dia menyadarinya, sudah terlalu dekat untuk dihindari.

"Ya, aku suka sama dia.”

Kalimat itu keluar begitu saja. Pelan, tapi jelas.

Dan anehnya, setelah diucapkan, tidak terasa salah. Clay menunduk sebentar, menggeleng kecil, mengingat beberapa hal yang sudah dia lakukan tanpa disadari untuk demi dekat dengan Nindi.

“Sepertinya… akan sedikit merepotkan,”

Bayangan ucapan Peter dan Sonya kembali terlintas. Peringatan yang sejak awal sudah Clay dengar, tentang Nindi yang katanya tak sepadan untuknya. Dan akan segera pulang ke negaranya. Kalimat-kalimat itu seharusnya cukup untuk membuatnya mundur.

Tapi anehnya, tidak. Sudut bibir Clay terangkat tipis. Bukan karena ia menganggap semuanya ringan, juga bukan karena ia mengabaikannya.

Lebih seperti, Clay sudah tahu risikonya, dan tetap memilih untuk tidak menjauh.

Clay meraih ponselnya, layarnya menyala dalam genggamannya. Nama Nindi langsung muncul di benaknya, tanpa perlu dicari.

Clay mengetik pelan.

“Sudah tidur?”

Satu Kalimat sederhana. Terlalu sederhana, bahkan. Namun entah kenapa, terasa lebih berat dari seharusnya.

Clay menatap layar itu cukup lama. Tombol kirim sudah di depan mata. Hanya butuh satu sentuhan untuk bisa menyampaikan pesan. Tapi jari Clay terhenti. Diam.

Pikirannya berputar, bukan tentang kata-kata yang dia tulis, melainkan tentang apa yang akan datang setelahnya. Tentang kemungkinan. Tentang jarak yang mungkin berubah. Dan tentang peringatan yang sempat Clay dengar, yang seharusnya membuatnya berpikir dua kali.

Apakah ini keputusan yang tepat?

Apakah dia benar-benar ingin melangkah lebih jauh, bukan sekadar diam di tempat dan berpura-pura semuanya biasa saja?

Clay menghembuskan napas pelan, matanya masih terpaku pada layar. Nama itu tetap di sana. Menunggu. Dan untuk pertama kalinya, sesuatu yang terlihat sederhana, hanya mengirim sebuah pesan, terasa seperti sebuah pilihan yang tidak bisa ditarik kembali.

Clay melirik jam di dinding. Pukul dua belas malam. Sudah larut.

“Sepertinya… dia sudah tidur,” gumamnya pelan.

Namun kalimat itu tak benar-benar menghentikannya. Tanpa banyak berpikir lagi, jarinya akhirnya bergerak, menekan tombol kirim.

Pesan itu terkirim. Singkat. Sederhana. Tapi cukup untuk mengubah segalanya.

Clay menatap layar ponselnya, napasnya tertahan sejenak. Kali ini, ia tidak menarik kembali keputusannya. Ia membiarkannya pergi. Membiarkan semuanya berjalan, apa adanya. Biarkan Nindi yang menjawab.

Jika setelah ini ada balasan dari Nindi, maka Clay akan memutuskan bahwa dia tidak akan mundur lagi. Dia akan benar-benar melangkah.

Mengejar. Dan menerima apa pun yang datang setelahnya. Termasuk risiko yang sejak awal sudah ia pahami.

Clay menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak lagi ragu. Yang tersisa hanya menunggu. Dan entah kenapa itu justru terasa lebih menegangkan.

Beberapa detik berlalu. Semenit, dua menit,

Clay masih menatap layar ponselnya, seolah takut melewatkan sesuatu.

Hening. Hanya suara detak jam yang terdengar pelan di ruangan. Clay, hampir mengalihkan pandangannya, hampir meyakinkan diri bahwa tidak akan ada balasan malam ini. Tapi,

Ting.

Satu notifikasi muncul.

Jantungnya seolah berhenti sesaat. Nama itu kembali muncul di layar.

Nindi.

Jari Clay bergerak cepat, membuka pesan itu tanpa sempat berpikir dua kali.

“Belum. Kenapa?”

Balasan yang sangat sederhana. Tapi cukup untuk membuat napasnya berubah. Clay menatap kalimat itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah memastikan bahwa ini benar-benar nyata. Sudut bibirnya perlahan terangkat. Bukan senyum lebar, hanya cukup untuk menunjukkan bahwa sesuatu di dalam dirinya baru saja bergeser.

Keputusan yang tadi ia buat, kini terasa semakin nyata. Dia tidak punya alasan lagi untuk mundur.

Clay menarik napas pelan, lalu mulai mengetik.

Kali ini, tidak ada jeda yang terlalu lama.

Tidak ada keraguan yang menahannya.

Karena sekarang, Clay tahu, dia sudah benar-benar melangkah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!