NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:767
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: API PURBA DI PUNCAK ARJUNO

Matahari baru saja jatuh di ufuk Barat Kota Batu, menyisakan garis jingga yang perlahan padam.

Di teras rumah kayu itu, Arka berdiri diam menatap ke Utara. Puncak Arjuno terlihat angkuh di balik kabut, seolah sedang menantangnya untuk datang.

Di pergelangan tangannya, bekas luka lama yang kini menjadi pusat energinya mulai berdenyut. Bukan lagi sekadar hangat, tapi panas yang menyengat kulit.

"Segel Ketiga sudah memanggil," suara Reyna terdengar dari ambang pintu. Ia membawa bungkusan kain mori putih.

"Tapi Arjuno bukan Selo Gilang. Di sana tidak ada air yang menyejukkan. Arjuno itu api. Kau akan berhadapan dengan kemarahanmu sendiri yang selama ini kau tutup-tutupi."

Arka menoleh. Wajahnya terlihat lebih lelah, namun matanya jauh lebih tajam. "Aku sudah menceraikan Siska. Aku sudah menghancurkan bisnis mereka. Apa itu belum cukup untuk memadamkan api ini, Rey?"

Reyna menggeleng pelan. "Hukum dunia itu perkara mudah, Arka. Tapi melepaskan akar dendam di dasar nyawa itu urusan lain."

"Penjaga di puncak itu adalah wujud dari amarahmu. Kalau kau datang ke sana hanya untuk pamer kekuatan, kau akan pulang jadi abu."

Arka menerima bungkusan itu. Isinya sebuah keris kayu tua tanpa pamor, tapi saat dipegang, rasanya lebih berat dari besi meteorit.

"Aku berangkat. Kalau langit di atas Arjuno berubah merah, jangan susul aku," ucap Arka pendek.

***

Di Jakarta, suasana kamar VIP rumah sakit itu justru terasa dingin meski pendingin ruangan sudah dimatikan. Nenek Lastri terbaring pucat, napasnya berat di balik masker oksigen.

Siska duduk bersimpuh di lantai, kepalanya bersandar di pinggiran tempat tidur. Matanya kosong.

"Habis, Nek... Semuanya habis," bisik Siska. Suaranya pecah, bukan karena ingin menangis, tapi karena sudah tidak ada lagi air mata yang tersisa.

"Nirwana Foundation tidak cuma beli saham kita. Mereka pegang semua utang Papa. Besok pagi, gedung pusat harus dikosongkan."

Ratna, ibunya, hanya bisa terduduk lemas di pojok ruangan. Tidak ada lagi teriakan makian. Kesombongan yang selama ini menjadi tamengnya runtuh seketika.

"Kita membuang naga karena mengira dia cacing," gumam Siska sambil meremas surat cerainya. "Dia mencuci kaki kita selama setahun, dan kita menganggap itu sebagai kehinaannya. Padahal itu adalah kesabarannya."

Siska melihat tanda tangan Arka di surat itu. Begitu bersih, seolah Arka memang sudah tidak sabar ingin menghapus nama Adiningrat dari hidupnya.

Penyesalan itu datang bukan karena mereka jatuh miskin, tapi karena Siska sadar bahwa ia telah menyia-nyiakan satu-satunya pria yang benar-benar tulus menjaganya.

***

Puncak Arjuno merintih di ketinggian 3.300 meter. Arka mendaki tanpa jaket, hanya kaos hitam yang kini basah oleh keringat dan uap panas dari tubuhnya sendiri. Bau belerang menusuk hidung, membuat dadanya sesak.

Tanah di bawah kakinya bergetar. Retakan-retakan kecil mulai mengeluarkan uap merah. Dari balik kabut asap, muncul sosok raksasa yang seolah terbuat dari bebatuan vulkanik dan lava pijar. Banaspati Agung.

Makhluk itu tidak bicara seperti di film-film, tapi kehadirannya mengirimkan gelombang tekanan yang membuat tulang rusuk Arka terasa mau remuk.

"Aku tidak datang untuk bertarung, Penjaga!" teriak Arka di tengah badai angin.

BANG!

Banaspati itu menghantam tanah. Ledakan api menjalar cepat ke arahnya. Arka melompat, gerakannya tidak lagi kaku.

Ia bergerak seperti air, menghindar dengan insting yang tajam. Namun, udara yang terlalu panas mulai membakar paru-parunya. Darah segar menetes dari hidungnya, tubuh manusianya mulai mencapai batas.

BRUAAKKK!

Arka terhempas ke dinding kawah saat satu pukulan angin panas mengenainya. Ia terbatuk, darah menyembur ke tanah. Di tengah rasa sakit itu, ia teringat doa Reyna di kaki gunung. Ia teringat wajah anaknya.

Ia berhenti melawan. Arka menurunkan tangannya, membiarkan pertahanannya terbuka. Ia tidak lagi menganggap api di depannya sebagai musuh, melainkan bagian dari dirinya yang sedang meronta.

"Tenanglah..." bisik Arka, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada raksasa itu.

Perlahan, panas yang membakar itu mulai mereda. Raksasa batu itu terdiam, lava yang mengalir di tubuhnya membeku menjadi batu hitam.

Banaspati itu perlahan hancur menjadi butiran pasir, menyisakan sebuah permata merah delima yang berdenyut di tengah kawah.

Segel Ketiga: Api Kehidupan.

***

Satu jam kemudian, Arka turun ke kaki gunung dengan sisa tenaga yang ada. Reyna masih di sana, bersujud di atas rumput yang basah oleh embun fajar. Ia berdiri saat melihat bayangan Arka muncul dari balik kabut.

Wajah Arka penuh jelaga, kaosnya robek, tapi matanya memancarkan kedamaian yang aneh.

"Minumlah," Reyna menyodorkan kendi tanah liat. "Kau baru saja menelan amarahmu sendiri."

Arka meminum air itu sampai habis. Dinginnya air kendi itu terasa seperti mukjizat. "Aku melihatnya, Rey. Aku melihat betapa menjijikkannya aku saat hanya memikirkan dendam pada Siska."

"Sekarang?"

"Sekarang, mereka bukan siapa-siapa lagi," Arka menatap ke arah Malang yang mulai terang oleh matahari. "Tujuanku ke Singapura. Ada yang harus kupastikan di sana."

Wironegoro sudah menunggu di dalam mobil, menyodorkan tablet. "Richard Tan, Gusti. Taipan kasino di Singapura. Dia yang bersama Maya sekarang."

Arka hanya melirik foto pria itu sebentar, lalu mematikan layar. "Ayo jalan. Aku ingin tahu, sekuat apa dia sampai berani menyentuh milikku."

Mobil meluncur membelah kabut pagi Batu, meninggalkan Arjuno yang kembali sunyi. Di dalam mobil, Arka tidak lagi merasa panas. Apinya sudah terkendali, siap untuk membakar orang-orang yang memang pantas menerimanya.

***

Dukung terus perjalanan Arka dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!