Setelah mengalami kecelakaan, mata batin Nino terbuka. Pemuda berusia 20 tahun itu jadi bisa melihat makhluk astral di sekitarnya.
Sejak tersadar dari komanya, pemuda itu selalu diikuti oleh arwah seorang wanita muda yang dilihatnya ketika kecelakaan terjadi.
Karena tak kuat terus menerus harus melihat makhluk astral, Nino meminta bantuan Pamannya untuk menutup mata batinnya. Sang Paman pun memberikan doa agar bisa menutupi mata batin.
Alih-alih menutup mata batin, kemampuan Nino yang awalnya hanya bisa melihat, justru berkembang jadi bisa berkomunikasi dengan para arwah.
Tak mau menderita sendirian, Nino pun meminta sahabatnya yang penakut, Asep untuk ikut membaca doa dengan dalih supaya menjadi berani. Dan ketika Asep mengamalkannya, sama seperti Nino, pemuda itu juga bisa melihat makhluk halus.
Kejadian demi kejadian aneh terus menimpa kedua sahabat tersebut. Lewat petunjuk dari makhluk astral, mereka bisa mengungkap kejahatan kasus kriminal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas Terungkap
Miko menepikan mobilnya di tepi jalan. Pria itu turun dari kendaraan roda empatnya lalu berjalan mendekati warung makanan yang posisinya ada di pinggir jalan. Sejak sehabis shubuh Miko berangkat dari Bandung menuju Bekasi. Pria itu hendak mendatangi keluarga Maya untuk mengetahui keadaan wanita itu.
“Permisi Bu.”
“Iya, Mas.”
“Maaf mau bertanya, apa benar ini Desa Mangunjaya?”
“Iya betul.”
“Apa Ibu tahu alamat ini?”
Miko menunjukkan alamat rumah orang tua Maya. Wanita penjual makanan itu membersihkan dulu tangannya baru kemudian mengambil kertas di tangan petugas polisi tersebut.
“Oh ini rumahnya almarhum Pak Tri. Mas masuk aja ke gang yang ini, lurus aja, nanti ketemu pertigaan belok ke kiri. Rumahnya ngga jauh dari belokan, rumah ketiga yang cat warna hijau.”
“Terima kasih, Bu.”
Setelah mendapatkan informasi, Miko bergegas menuju rumah keluarga Maya sesuai petunjuk Ibu tadi. Lima menit kemudian dia sudah sampai di depan rumah keluarga Maya. Rumah tersebut nampak sepi.
TOK
TOK
TOK
“Assalamu’alaikum.”
TOK
TOK
TOK
“Waalaikumussalam,” terdengar suara seorang wanita menjawab salam dari dalam rumah.
Tak lama kemudian pintu rumah terbuka. Dari dalamnya keluar seorang wanita bertubuh kurus, mengenakan daster dengan rambut dicepol asal. Wanita itu tengah menggendong seorang anak berusia setahun.
“Dengan rumah Bapak Tri?” tanya Miko.
“Iya, benar.”
Miko segera mengeluarkan kartu tanda pengenalnya pada wanita itu. Seketika wanita itu menjadi gugup ketika tahu pria yang berdiri di hadapannya adalah seorang petugas polisi. Dia segera mempersilakan Miko untuk masuk.
“Silakan duduk, Pak.”
Setelah mempersilakan Miko, wanita itu masuk ke dalam kamar. Dia segera mengambil ponselnya lalu menghubungi suaminya.
“Bang, cepat pulang. Ada polisi di rumah kita.”
“Polisi? Mau ngapain?”
“Mana aku tahu. Cepat pulang!”
Usai menghubungi suaminya, wanita bernama Erna itu keluar dari kamar. Lebih dulu dia membuatkan minuman untuk tamunya sambil menunggu suaminya sampai ke rumah.
“Silakan diminum, Pak.”
“Terima kasih. Maaf merepotkan.”
“Tidak apa-apa. Euung.. ada apa Bapak datang ke sini? Apa suami saya melakukan kesalahan?”
“Oh bukan, Bu. Saya datang kemari mau menanyakan soal Maya. Maya Indira, dia kerabat Ibu kan?”
“Dia adik ipar saya. Ada apa ya? Saya sudah lama tidak bertemu dengannya.”
“Kapan terakhir kali Ibu bertemu dengannya?”
“Euung.. sekitar empat tahun yang lalu, waktu dia mau pergi kuliah ke Bandung. Setelahnya saya belum bertemu dengan dia lagi. Dia ngga pernah pulang ke sini setelah pindah ke Bandung.”
Miko mencatat semua keterangan yang diberikan oleh Erna. Jika wanita itu sudah empat tahun tidak kembali, berarti pengajuan cuti Maya bukan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
Baru saja Miko akan bertanya lagi, terdengar orang mengucapkan salam dari luar. Suami Erna alias Kakak dari Maya tiba. Bengkel tempatnya bekerja memang tidak terlalu jauh dari rumah, karenanya dia bisa tiba dengan cepat.
Pria itu langsung menyalami Miko sambil memperkenalkan dirinya. Pria bernama Heri itu segera duduk di samping istrinya.
“Bapak ini tanya-tanya soal Maya,” Erna menjelaskan pada suaminya.
“Maya? Memangnya ada apa dengan adik saya?”
“Saya sedang menyelidiki sebuah kasus. Dan adik Bapak masuk dalam daftar orang yang saya selidiki.”
“Apa Maya membuat masalah?”
“Sebelumnya saya minta maaf kalau menanyakan hal sensitif. Kenapa Maya tidak pernah pulang ke rumah setelah pergi kuliah ke Bandung?”
Sesaat Heri hanya terdiam. Dia melirik istrinya yang duduk di sebelahnya. Hubungan Maya dan Erna memang tidak akur sejak pria itu menikahi Erna. Setelah kedua orang tuanya meninggal dan Heri resmi kembali tinggal di rumah orang tuanya, hubungan Erna dan Maya semakin memburuk.
Puncaknya setelah Maya lulus sekolah, adiknya itu meminta jatah warisan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah. Erna menolak Maya meminta jatah warisan lebih awal, pasalnya uang warisan sudah dibayarkan hutan kedua orang tua Maya dan hanya tersisa sedikit saja.
Pertengkaran hebat pun terjadi. Erna mencoba mencari dukungan dari dua adik Heri yang lain. Wanita itu bersikap playing victim di depan kedua iparnya. Maya yang memang terkenal sebagai anak pembangkang, tentu saja mendapat omelan dari dua Kakaknya yang lain.
Sakit hati mendengar ucapan Kakak dan juga Kakak iparnya, Maya memilih pergi. Wanita itu pergi dengan membawa sisa uang warisan kedua orang tuanya yang diambil secara paksa. Dia lalu pergi ke Bandung dan tidak pernah kembali. Bahkan Maya tidak pernah berkirim kabar pada ketiga Kakaknya.
“Karena masalah keluarga saja, Pak. Eeuung.. sebenarnya apa yang terjadi dengan Maya? Apa dia baik-baik saja?”
“Maya mengajukan cuti kuliah dan sampai sekarang belum ditemukan keberadaannya. Saya sudah mencoba mengontak teman-temannya tapi tidak ada yang tahu keberadaannya. Dua hari yang lalu di kampus tempat Maya kuliah ditemukan mayat seorang wanita yang meninggal lima bulan lalu. Waktu menghilangnya Maya sama dengan waktu kematian wanita itu.”
“Apa itu Maya? apa Maya sudah meninggal?”
Wajah Heri nampak panik. Pria itu benar-benar takut kalau adik bungsunya sudah meninggal dunia. Sebagai Kakak tertua, dia tidak bisa menjaga adiknya dengan baik.
“Kami masih melakukan penyelidikan. Kami juga belum tahu pasti kalau mayat yang kami temukan adalah Maya. karenanya kami datang kemari untuk mencari informasi. Karena Bapak dan Ibu juga belum bertemu Maya dalam waktu lama, saya bermaksud untuk mengambil sample DNA Bapak untuk dicocokkan dengan mayat yang kami temukan. Apa Bapak bersedia?”
“Boleh.. boleh.”
Miko mengambil sebuah wadah kecil dan meminta Heri memasukkan air liurnya di wadah itu. Nantinya air liur itu akan dijadikan pembanding untuk DNA Maya.
“Kalau tes DNA nya sudah keluar, tolong kabari saya.”
“Tentu saja, Pak. Saya permisi dulu.”
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkannya, Miko pun berpamitan. Pria itu akan segera kembali ke Bandung untuk melakukan tes DNA dan melanjutkan penyelidikan.
***
“Apa kamu sudah menemukan Adela?” tanya Miko pada Iqbal, rekannya.
“Keluarganya belum bertemu lagi dengannya sejak lima bulan lalu. Tapi kemarin ada seseorang yang menelpon kalau mengetahui di mana Adela sekarang. Aku sedang menunggu kabar lanjutan darinya.”
Baru saja Iqbal selesai berbicara, ponsel pria itu berdering. Setelah menjawab panggilan, pria itu segera bangun dari duduknya. Dia baru saja mendapatkan informasi tentang Adela dan hendak memastikannya dulu.
Sepeninggal Iqbal, Miko juga bangun dari duduknya. Pria itu hendak kembali ke kampus. Dia curiga kalau orang yang menguburkan mayat itu masih berhubungan dengan kampus itu. Entah staf pengajar, pegawai, mahasiswa atau pedagang yang berjualan di sana. Dengan menggunakan kendaraan roda empatnya, pria itu meluncur menuju kampus Tunas Harapan.
Ketika dalam perjalanan, Miko mendapat telepon dari dokter forensic. Hasil pemeriksaan DNA Heri dan mayat yang ditemukan sudah selesai. dari hasil tes ditemukan kecocokan dari dua DNA tersebut. Bisa dipastikan kalau mayat wanita itu adalah Maya Indira, mahasiswa tingkat IV di kampus Tunas Harapan.
Miko menambah kecepatan mobilnya setelah mengetahui identitas mayat yang ditemukan. Dalam waktu dua puluh menit, pria itu sudah tiba di kampus. Dia langsung menuju ruang Dekan. Orang pertama yang akan ditanyai olehnya.
“Silakan masuk, Pak.”
Miko segera masuk ke ruang Dekan dan duduk di depan meja kerja pria tu.
“Apa identitas mayat itu sudah diketahui, Pak?”
“Ya. Itu adalah jasad Maya Indira, mahasiswi jurusan Administrasi Niaga di kampus ini. Dia masuk sejak tahun 2021. Lima bulan yang lalu dia mengajukan cuti kuliah.”
Wajah sang dekan nampak shock. Dia sama sekali tidak menyangka kalau mayat yang ditemukan di taman fakultas adalah salah satu mahasiswinya.
“Apa Bapak yakin?”
“Ya, kamu sudah mencocokkan DNA nya dengan keluarganya.”
“Lalu apa yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin melihat siapa yang sudah membayarkan uang cuti kuliah Maya. Apa bisa?”
“Bisa, mari Pak.”
Dekan tersebut segera berdiri kemudian mengajak Miko keluar dari ruangannya. Pria itu membawa Miko menuju bagian keuangan kampus yang berada di gedung lain.
Dari data yang masuk, diketahui kalau uang cuti Maya dibayarkan melalui transfer m-banking dan uang tersebut berasal dari rekening Maya sendiri.
“Apa saya bisa menemui dosen pengajar di jurusan Administrasi Niaga untuk dimintai keterangan?”
“Tentu saja.”
Dengan cepat Dekan memberikan pengumuman pada semua dosen dan staf jurusan Administrasi Niaga untuk berkumpul di ruang dosen. Mereka akan menjalani interogasi oleh petugas kepolisian terkait kematian Maya.
Sambil menunggu para dosen siap untuk menjalani interogasi, Miko memeriksa rekaman cctv kampus lima bulan terakhir. Mencoba mencari jejak Maya sebelum wanita itu menghilang.
Satu per satu dosen dan staf pengajar menghadap Miko. Mereka semua ditanyai tentang Maya. Sebagian dari pada dosen hanya mengenal Maya sebatas pengajar dengan mahasiswinya. Begitu pula dengan para staf yang tidak terlalu dekat dengan Maya.
Anton yang baru saja menjalani perkuliahan terakhir diminta untuk menemui Miko. Dengan langkah tenang, pria itu menarik kursi di depan Miko.
“Dengan Bapak Mulyawan?”
“Benar.”
“Apa Bapak mengenal Maya Indira?”
“Maya Indira, mahasiswi angkatan akhir?”
“Bapak kenal dekat dengannya?”
“Tidak terlalu.”
“Kapan terakhir kali Bapak bertemu dengannya?”
“Saya tidak ingat pastinya, tapi sudah beberapa bulan yang lalu.”
“Apa Bapak pernah bertengkar dengannya?”
“Bertengkar? Tentu saja tidak,” wajah Anton nampak terkejut.
Miko memutar laptop di depannya, kemudian memperlihatkan rekaman cctv yang didapat dari pihak kampus. Rekaman yang ditunjukkanya adalah rekaman lima bulan lalu. Di rekaman terlihat kalau Anton dan Maya sedang berdebat di bagian belakang gedung fakultas.
“Apa yang Bapak perdebatkan dengan Maya?”
***
Doakan ya novel ini bisa dikontrak entun, aamiin🤲🏻
Ini aku kasih penampakan Miko versi ku
Upin ipin lgi sibuk liburan 🤣
eeehh🤔
belum waktunya kamu ke tangkep Anton...tunggu aja gk bakal lama juga kamu akan mendekam jd penghuni hotel prodeo...karena apartemen mu udah di pindah sewakan ke orang lain...untuk meniggalkan jejak ke jahatanmu....ementara kamu tinggal gretongan di bui 😂
pintar sekali kamu ya Anton /Curse/