Rain menjadi ketua, dari geng yang dibuat sendiri, Rksabi. Yang berkecimpung pada tugas jasa, geng yang terdiri enam orang itu mencari klien dengan berbagai masalah demi mengumpulkan pundi-pundi uang. Sampai satu tugas yang menawarkan bayaran mahal, membawanya pada gadis muda, dan Rain merasa terjebak disana, di dalam rumah mewah keluarga Vick sebagai Pengawal pribadi Yasmin Celia. Dia datang untuk menyelesaikan misi sebagai Pengawal pribadi yang melindungi, tapi selesai tugas justru jadi Bapak yang mencari keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrar Atma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Rain mengunci pintu ruangan sembari melepaskan kancing kemeja yang terasa lengket oleh keringat, karena ia tidak sempat menggantikan dari kemaren pagi. Pekerjaan kemaren seolah tidak ada habis nya sampai ia tidak kebagian istirahat meski sebentar. Lalu pakaian itu dilepas dan jatuh dilantai begitu saja, samar terlihat cipratan darah menodai warna putih nya.
Dada bidang disertai otot perut itu pun terpampang nyata, tangan Rain lantas berpindah melepaskan celana nya. Kantuk serta rasa lelah menyerang nya, namun ia bahkan hanya punya waktu untuk mandi sebelum berkumpul di lapangan atas perintah tuan Vick.
Kejadian malam tadi tentang putrinya yang pergi ke pesta sampai tengah malam tanpa izin lah, yang pasti menjadi penyebab nya. Dengan telanjang bulat dan Meninggalkan pakaian nya teronggok begitu saja, pria itu masuk ke kamar mandi. Dibawah shower ia melepaskan seluruh letih yang membuat pusing, malam tadi setelah mengantar gadis cerewet itu, ia pergi lagi ke hutan menuju ruang bawah tanah rumah singgah persetan.
"Taka kenapa kau memberi pesan begitu?" Ketika tiba ia langsung disambut pertanyaan penasaran Alex. Pria berwajah manis itu rupanya penasaran sedari dirumah gadis yang mereka siksa. Kening nya bahkan berkerut dalam, seolah pesan yang dikirim setelah missed call itu bukan dari Rain.
"Cukup Kamandaka, cepat kembali! Jangan lupa dia perempuan, ada pertimbangan khusus dalam penyiksaan"
"Sejak kapan kita punya pertimbangan khusus? Apa aku yang lupa atau bagaimana?"
"Itu hanya khusus untuk Kamandaka" jawab Rain.
"Nah dengar kalian yang tidak percaya pada ingatan ku " tuding nya pada yang lain.
"Lagi pula mana mungkin begitu, ada pertimbangan segala."
"Tapi kenapa Taka ada perbedaan untuk nya?" Tanya Sandi.
Pandangan mereka serempak tertuju pada Haneul yang tengah bereksperimen dengan kuku-kuku Daniel, pemuda itu menarik kuku dan mengiris telunjuk Daniel sampai pria itu melengking kesakitan. Tidak hanya itu, karena Haneul juga akan menabur garam pada luka yang dibuat, dan juga menusuk lengan korban menggunakan jarum dengan gerakan cepat.
"Dia terlalu muda untuk merasakan jeruji besi, kalian lihat sendiri bocah itu gila" jawab Rain, mereka serempak setuju dengan pendapat ketua mereka.
Sebengis-bengis nya mereka tidak akan masalah jika sampai ke hukum karena ketahuan, tapi Haneul, tentu Bapaknya yang kaya raya dan punya kuasa tidak akan membiarkan itu. Bisa saja dengan semua kemudahan malah mengkambing hitamkan orang lain, dan menghancurkan Rksabi yang belum punya kekuatan sekuat itu untuk bertempur.
"Aku urus dulu korban nya" mereka menatap satu sama lain mendengar usulan ketua mereka, dalam hati berpendapat apa bedanya pria itu dengan Haneul.
"Mungkin kalau seandainya korban melapor dan pelakunya tertangkap, ketua akan berkorban untuk anggotanya " ujar Sandi tiba-tiba, seolah menjawab pertanyaan dikepala mereka.
"Dan Rksabi akan tetap berjalan semestinya dibawah komando Kamandaka" tutur Alex menatap ngeri saat Rain menyiram air panas pada kaki Daniel.
"Lalu menyelamatkan ketua" sambung Bintang merinding, melihat senyuman Haneul yang tengah memegang palu, lalu sedetik setelahnya ia meringis sambil menyentuh pusatnya, ikut ngilu melihat palu dijatuhkan dan menghantam inti tubuh Daniel.
"Rksabi beberapa tahun lagi pasti semakin berjaya "tambah Irfan yang lantas memalingkan wajah kala Rain memukul pinggang Daniel dengan besi yang di panaskan.
"Aku harap anak orang tidak mati"
Pukul 2 dini hari setelah memastikan Daniel cukup meyakinkan untuk dilepas, mereka mengantarnya ke rumah sakit, sekalian mengawasi korban agar menutup mulut. Lalu mereka kembali ke kediaman masing-masing, tepat pukul 4 pagi Rain tiba di tempat nya bekerja-rumah Tuan Vick.
Dalam balutan handuk Rain keluar dari kamar mandi, bersamaan dengan itu pintu ruangan nya diketuk keras. Tanpa menunggu memakai pakaian ia lantas membuka pintu, seorang gadis yang paling menjengkelkan dimuka bumi tampak dihadapan nya. Gadis itu bersiul sambil menatap badannya dari bawah ke atas dan sebaliknya.
"Oh my gosh, it's so hot, pak Taka" puji nya sambil mengerling. Jari lentik nya bahkan dengan tidak sopan mendarat pada perut Rain dan menekan-nekan perut keras itu.
"Ada apa Nona?" Rain menahan jari lentik itu yang beralih mengusap dada nya.
"Pelit banget,padahal cuma daging dibalut kulit"
"Jika tidak ada apa-apa saya akan tutup pintunya"
"Ngga apa-apa tutup aja, nanti aku ikut masuk" melihat wajah muak pria itu, Yasmin tergelak lalu mengibas-ibas tangannya.
"Bercanda Pak Taka, aku kemari mau bantu kamu lepas dari hukuman Papi. Anggap aja sebagai tips setelah mendengar keluhan ku tadi malam, jadi cepatlah bersiap keringkan naga kamu. Aku akan menunggu di taman, kita jalan bareng temui Papi " ujarnya sambil berjalan mundur, lalu berkedip genit sebelum berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Rain.
"Apakah aku perlu bantuan Rksabi juga untuk menghilangkan bocah itu" ujarnya mendengus.
Ketika harus melewati jalan taman, Rain tidak bisa menahan dirinya dari menghela napas. seakan dengan cara begitu bisa menarik kesabaran, kala melihat Yasmin melambaikan tangannya sambil berjalan menghampiri.
"Nona tidak perlu membantu apapun, karena seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa saya siap menerima konsekuensi dari lalai nya saya menjalankan tugas."
"Iya? Padahal mau di bantuin kok nolak."
"Untuk apa repot-repot membantu Nona, bukan kah ini yang anda harapkan?"
"Oh...kamu nuduh aku ngadu" tuding nya dengan wajah galak, "Memang iya aku bilang gitu, tapi aku ngga sungguh-sungguh ya Pak Taka. Itu cuma ancaman belaka, mulut ku ngga selemes itu. Kalau ngga percaya kamu bisa coba" katanya, lalu memajukan wajah dengan bibir dimonyongkan.
Rain pun membekap mulut Yasmin yang maju karena begitu memaksa sampai menarik kerah baju nya, lalu mendorong bahu itu menjauh sampai nyaris terhuyung. "Sombong, sok suci" gumam gadis itu melengos.
"Papi itu tentunya tahu sendiri Pak Taka, jadi jangan berpikiran buruk tentang aku. Gadis semanarik aku paling bisa dipercaya, kamu bisa pegang dada aku, eh...maksudnya ucapan ku"ujarnya, melipat bibir ke dalam, menahan rasa geli melihat mata Rain yang sudah melotot.
"Ya, kalau begitu saya harus pergi menemui Tuan Vick. Silahkan menyingkir dari jalan saya!" Begitu Yasmin menepi, Rain kembali melanjutkan langkahnya, namun gadis itu begitu berani menjegal langkahnya hingga nyaris saja ia tersandung.
"Ops...." kata Yasmin. Tawa nya pecah saat itu juga bahkan Bahu gadis itu sampai bergoncang, sudut matanya pun ber air saking puas nya.
Sedangkan yang ditertawakan menatapnya sengit, lalu tanpa aba-aba membalas perbuatannya. Gadis itu terjatuh ditanah yang lembah, mengaduh, tampak sangat terkejut sebelum berteriak marah sambil mengusap bokong nya yang sakit, apalagi Rain hanya menanggapi nya bagai angin lalu.