NovelToon NovelToon
Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Hidup Santai Di Bukit Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MishiSukki

Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Roti Pertama dan Sebuah Penemuan

Keesokan paginya, Lin Cheng terbangun dengan semangat baru yang membuncah di dada. Mentari pagi menyelinap masuk lewat celah dinding Kuil Mukui yang usang, memandikan ruang utama dengan nuansa keperakan, menyiratkan hari yang penuh harapan. Ia segera bersiap, mengambil ransel kayunya yang kuat dan terbiasa menemani petualangannya mencari herbal.

Dengan hati-hati dan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan, ia mulai mengikat semua 'harta karun' barunya. Pertama, ia mengikatkan tiga karung tepung yang berat dan berisi ke punggungnya. Bau gandum yang harum samar-samar tercium, sebuah aroma kemewahan yang jarang ia hirup.

Kemudian, berbagai peralatan dapur baru — panci mengkilap, wajan kecil, dan kompor batu api – diikat sedemikian rupa agar tidak bergeser selama perjalanan. Tak lupa, bungkusan pakaian baru untuk Xiao An diselipkan di antara celah-celah.

Semua ini adalah kejutan besar untuk Xiao An. Lin Cheng tak sabar melihat ekspresi temannya itu. Ia membayangkan mata Xiao An yang akan membelalak kaget, mungkin juga berkaca-kaca, saat melihat semua perbekalan ini. Perasaan hangat menjalar di hatinya.

Ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan, ini tentang melihat senyum di wajah seorang teman yang telah lama menderita. Meskipun beban di punggungnya terasa berat, hati Lin Cheng terasa ringan dan melayang.

Permasalahan berikutnya adalah ketika dia harus menaiki tangga batu.

Lin Cheng terus mendaki, otot-ototnya menegang dengan setiap pijakan di ratusan anak tangga bukit yang terjal. Ransel beratnya, yang kini seolah dipenuhi batu, menariknya mundur dengan setiap langkah.

Meskipun ia adalah seorang kultivator dengan tubuh yang telah mencapai tahap Skin Tempering, beban yang hampir dua kali lipat berat tubuhnya itu benar-benar menguras tenaganya hingga ke batas.

Napasnya habis dan terengah-engah, paru-parunya serasa terbakar. Keringat deras membasahi sekujur tubuhnya, mengalir membasahi wajah dan membasahi pakaiannya. Wajahnya memerah, dan setiap gerakan terasa seperti perjuangan epik.

Bahkan untuk ukuran kultivator Skin Tempering, ini adalah ujian fisik yang brutal. Namun, dalam benaknya, wajah Xiao An dan semua kebutuhan yang ia bawa memberinya kekuatan untuk terus melangkah, satu tangga demi satu, tanpa menyerah.

Lin Cheng terus menahan beban, mengatupkan giginya rapat-rapat. Dia mencoba mengedarkan sirkulasi Skin Tempering keluarga Lin yang tidak lengkap itu, berharap bisa meringankan beban. Warna kulitnya memerah padam, bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga karena tekanan ekstrem pada setiap otot dan serat tubuhnya.

Pundaknya terasa sakit, kakinya gemetar, namun dia terus memaksakan diri, satu langkah, lalu langkah berikutnya. Akhirnya, setelah perjuangan yang sangat berat, ia berhasil mencapai puncak bukit. Perjalanan yang biasanya memakan waktu singkat tanpa beban, kini membutuhkan waktu hampir tiga kali lipat dari biasanya.

Dia ambruk di dekat pondok Xiao An, terengah-engah, tubuhnya berlumuran keringat, tapi dengan senyum puas di wajahnya. Semua barang bawaan selamat sampai tujuan.

Tak ada tanda-tanda Xiao An di halaman pondok. Lin Cheng, dengan napas yang masih terengah dan tubuh berlumuran keringat, mencoba mengetuk pintu pondok. Beberapa saat kemudian, pintu berderit terbuka dan Xiao An muncul, menatap Lin Cheng dengan tatapan bingung.

Melihat ekspresi terkejut Xiao An, senyum lebar Lin Cheng mengembang, mengalahkan semua rasa lelah yang baru saja ia rasakan.

"Lihat apa yang kubawa, Xiao An!" serunya, suaranya dipenuhi kebanggaan.

Ia sedikit menyingkir agar Xiao An bisa melihat tumpukan karung tepung, peralatan masak baru, dan bungkusan pakaian yang terikat di punggungnya.

Mata Xiao An membelalak. Mulutnya sedikit terbuka. Ia melangkah maju, memegang salah satu karung tepung dengan tak percaya, lalu mengalihkan pandangannya pada panci dan wajan yang berkilauan. Sebuah senyum perlahan merekah di wajahnya, disusul dengan seruan kagum tak percaya.

INI

"Ini... ini semua untukku, Lin Cheng?"

Lin Cheng tak menyia-nyiakan waktu. Sambil menjatuhkan ransel beratnya dengan suara gedebuk di ambang pintu, ia mulai bercerita dengan antusias.

"Xiao An, kau tidak akan percaya! Lukisanmu itu, sketsa pemuda kultivator itu... dibeli oleh seorang Hakim Prefektur!" Lin Cheng berhenti sejenak untuk mengambil napas, matanya berbinar-binar.

"Dia bahkan tidak membuka gulungannya! Langsung memberiku satu keping perak! Satu keping perak, Xiao An! Itu setara seratus keping perunggu!"

Ia kemudian merinci bagaimana kepingan perak itu diubah menjadi tumpukan tepung, minyak, garam, panci, wajan, kompor, dan bahkan pakaian baru untuk Xiao An. Setiap kalimatnya dipenuhi kebanggaan dan kelegaan.

Mata Xiao An berbinar-binar mendengarkan kisah itu. Sebuah senyum lebar merekah di wajahnya saat ia mengambil kendi dan menuangkan air bersih ke dalam mangkuk.

"Minumlah dulu, Lin Cheng. Kau pasti lelah sekali," katanya, menyerahkan mangkuk itu kepada Lin Cheng.

Lin Cheng meneguk air itu hingga tandas.

Dan astaga, saat itu juga, keajaiban terjadi. Semua rasa lelah yang menghimpit tubuhnya, napas yang terengah-engah, dan otot-otot yang pegal, tiba-tiba hilang begitu saja. Sensasi kelelahan itu lenyap, digantikan oleh vitalitas yang meletus dalam dirinya.

Energi membuncah dari setiap pori-pori kulitnya, membuatnya merasa seolah-olah dia siap berperang, bahkan melawan naga sekalipun! Ini bukan hanya efek air biasa, melainkan hasil dari kekuatan tubuh Skin Tempering-nya yang baru saja diperkuat oleh kebahagiaan dan lega yang luar biasa.

Xiao An, dalam euforia tak percayanya, tidak terlalu memperhatikan lonjakan vitalitas Lin Cheng. Dia terlalu sibuk dengan semua barang bawaan yang baru.

"Cepat, Lin Cheng! Bantu aku!" serunya, suaranya dipenuhi kegembiraan.

Dia dengan lincah mulai menarik karung-karung tepung dan peralatan dapur ke dalam pondoknya. Xiao An segera mencari tempat yang pas, menata setiap barang dengan rapi.

Karung tepung diletakkan di sudut kering, peralatan masak digantung di dinding, dan kompor batu api kecil diletakkan di dekat tungku lama. Wajahnya berseri-seri, membayangkan semua masakan lezat yang bisa ia buat mulai sekarang.

Lin Cheng tersenyum melihat antusiasme Xiao An. Ia mengambil tempat duduk di bangku kayu di pojok, mengistirahatkan tubuhnya setelah perjuangan mendaki bukit.

"Lin Cheng, aku akan membuatkan beberapa roti untuk kita santap!" seru Xiao An, wajahnya berseri-seri. Dia sudah meraih karung tepung dan mulai mengeluarkannya.

Setelah belajar mengoperasikan kompor batu api kecil yang baru—proses yang cukup menarik dengan sedikit kepulan asap dan tawa—Xiao An menjadi lebih bersemangat. Tangannya lincah mengaduk adonan, matanya fokus pada api yang mulai menyala. Sambil sibuk mengaduk adonan roti, Xiao An teringat sesuatu.

"Lin Cheng, kau membawakan begitu banyak barang untukku," katanya, menoleh ke arah temannya.

"Bagaimana denganmu dan kakekmu? Apakah kalian sudah cukup makan?" Nada suaranya penuh perhatian.

Lin Cheng tersenyum lebar.

"Jangan khawatir, Xiao An. Aku makin kuat sekarang! Dan kakekku juga makin sehat!" jawabnya penuh semangat. Ia kemudian menjelaskan,

"Kami berdua sudah cukup makan untuk saat ini. Tapi dengan kami berdua yang mencari nafkah di masa depan, kita akan mendapatkan lebih banyak uang untuk memperbaiki kuil dan rumah kami." Matanya berbinar memandang masa depan yang lebih cerah.

Mendengar penjelasan Lin Cheng, rasa khawatir Xiao An akhirnya sirna. Senyum tulus merekah di wajahnya. Pikiran tentang masa depan yang lebih baik untuk Lin Cheng dan kakeknya, serta dirinya sendiri, memenuhi hatinya dengan kehangatan.

Dengan hati ringan, Xiao An kembali fokus pada adonan rotinya. Ia mengambil tepung yang lembut, menuangkannya ke dalam mangkuk besar. Lalu, ia menambahkan air secukupnya, sejumput garam, dan sedikit minyak yang baru Lin Cheng beli.

Tangannya yang canggung mulai menguleni adonan itu dengan ritmis, membentuknya menjadi bulatan-bulatan pipih yang siap dipanggang. Dia hanya mengikuti resep dasar dari YouTube di masa lalu. Bahkan dia tak tahu apakah takarannya akan pas.

Kompor batu api kecil sudah menyala, memancarkan panas yang stabil. Xiao An meletakkan wajan di atasnya. Setelah wajan cukup panas, ia meletakkan adonan roti pipih itu satu per satu. Aroma gurih roti yang mulai terpanggang perlahan memenuhi pondok, menciptakan suasana nyaman yang belum pernah Xiao An rasakan sebelumnya di tempat itu.

Gelembung-gelembung kecil mulai muncul di permukaan roti, menandakan bahwa roti itu sedang matang sempurna.

Sambil menunggu roti matang dan aroma harumnya memenuhi pondok, Lin Cheng melirik ke meja tempat Xiao An tadi sibuk mencoret-coret. Ia melihat beberapa lembar perkamen berserakan. Penasaran, Lin Cheng meraih salah satu kertas yang berisi catatan dan sketsa gambar tubuh manusia.

Ia mulai membaca pelan. Di sana, Xiao An menulis dengan rapi tentang teknik kultivasi Body Tempering, lengkap dengan diagram jalur meridian yang rumit. Lin Cheng membaca tentang Skin Tempering, Bone Tempering, hingga konsep-konsep baru seperti Muscle Refining, Organ Forging, Nerve Awakening, Vascular Tempering, dan Blood Refining.

Setiap detail, setiap penjelasan, dan setiap analogi imajinatif dari Xiao An membuat matanya membelalak.

INI

Jantung Lin Cheng berdegup keras manakala dia tenggelam oleh lembar demi lembar catatan itu. Ini adalah sesuatu yang sama sekali baru, sebuah pemahaman yang jauh lebih mendalam daripada apa pun yang pernah dia dengar tentang kultivasi tubuh.

Jika ini benar, jika semua langkah ini bisa dicapai, maka potensinya akan sangat luar biasa. Ia merasa seperti baru saja menemukan peta harta karun yang selama ini tersembunyi.

Lin Cheng terus menelusuri catatan-catatan Xiao An. Matanya membelalak saat ia menyadari sesuatu yang mengejutkan. Guratan sketsa anatomi manusia yang detail di perkamen itu, dengan jalur-jalur Qi yang ditandai, persis seperti guratan yang membentuk tubuh perkasa kultivator pedang dalam lukisan yang baru saja ia jual kepada Hakim Prefektur.

"Benar-benar ini adalah buatannya," gumam Lin Cheng dalam hati, sebuah realisasi yang menamparnya. Bagaimana bisa Xiao An, yang terlihat begitu rapuh, menciptakan sesuatu yang begitu hidup dan mendalam?

Dia mendongak, melihat Xiao An yang sedang asyik, terlihat happy memanggang roti, wajahnya berseri-seri karena aroma hangat yang mulai mengisi pondok. Lin Cheng tersenyum kecil. Ada begitu banyak hal yang belum ia ketahui tentang sahabatnya ini.

Lin Cheng kemudian kembali fokus pada selembar kertas yang menjelaskan tentang Skin Tempering. Dia ingin benar-benar memahami bagian yang telah ia lalui, kini dengan penjelasan yang jauh lebih detail dan sistematis dari Xiao An.

Konsentrasi Lin Cheng bubar seketika ketika Xiao An meletakkan roti yang masih mengepul, mengeluarkan aroma gurih yang memikat, di atas meja. Aroma hangat itu langsung memenuhi pondok. Lin Cheng pun berseru kagum.

"Wah, wanginya luar biasa, Xiao An!"

Tanpa menunggu lama, mereka berdua segera menyantapnya. Gigitan pertama terasa begitu nikmat.

"Enakkkk!" seru Lin Cheng, matanya berbinar.

Bagi Xiao An, ini adalah pertama kali dia membuat roti, dan juga pertama kalinya dia merasakan hasil karyanya sendiri. Ada kebanggaan sederhana namun mendalam di wajahnya. Bagi Lin Cheng, roti ini adalah makanan yang "benar" setelah sekian lama ia hanya bisa memakan roti ban karet yang keras dan hambar.

Keduanya saling memandang, senyum lebar terukir di wajah masing-masing, dan kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak, mengisi pondok dengan suara kebahagiaan yang tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!