NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Tiba-tiba Berubah ( Transmigrasi)

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Fantasi / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

"What? Masa gue mati cuma gara-gara keselek air minum sih? Nggak estetik banget!"
Itu umpatan terakhir Arcelia sebelum jiwanya "nyasar" ke tubuh Alzena—seorang istri pajangan yang hidupnya lebih tragis dari drama sabun. Alzena yang asli mati karena menyerah, tapi Arcelia yang baru bangun dengan satu prinsip: Siapa yang nyenggol, bakal kena hack sampai ke akar.

Tak ada lagi Alzena yang penurut. Arcelia menggunakan otak hacker-nya untuk membongkar borok keluarga Halim dan membuat Shania kena mental. Sementara Keano, suami dingin yang biasanya menganggapnya sampah, mulai dibuat pusing tujuh keliling karena istrinya berubah jadi singa betina yang tak lagi memuja dirinya.

Game baru dimulai. Arcelia tidak datang untuk minta maaf, dia datang untuk berkuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Adu jotos di toilet mewah itu benar-benar merusak estetika gaun *couture* merah gue. Wanita yang mengaku sebagai Subjek Satu itu bukan lawan sembarangan. Gerakannya presisi, dingin, dan tanpa emosi—berbanding terbalik dengan gaya bertarung gue yang mengandalkan insting liar dan improvisasi bar-bar.

"Alexander selalu bilang kamu adalah anomali yang gagal, Arcelia," bisiknya sambil melayangkan tendangan memutar yang nyaris mengenai rahang gue. "Dia bilang kamu terlalu manusiawi. Dan manusia itu lemah."

Gue menunduk, lalu menyapu kakinya sampai dia kehilangan keseimbangan. "Manusia itu nggak lemah, Suster. Manusia itu punya alasan buat berjuang. Sedangkan lo? Lo cuma robot daging yang diprogram kakek-kakek gila!"

*DOR!*

Pintu toilet hancur berantakan. Evan—atau Arthur—masuk dengan senjata di tangan, tapi dia tidak menembak karena posisi gue dan Subjek Satu terlalu rapat.

"Nyonya! Kita harus pergi! Sistem *lockdown* sudah aktif!" teriak Evan.

Gue mengambil kesempatan saat Subjek Satu teralih oleh kedatangan Evan. Gue hantamkan kepalanya ke dinding marmer dengan keras sampai dia limbung, lalu gue sambar laptop mini gue yang tadi tergeletak.

"Ayo!" gue lari keluar toilet, menyingsingkan gaun merah gue sampai setinggi paha agar bisa lari lebih cepat.

...----------------...

Aula gala amal yang tadinya tenang kini berubah jadi zona perang. Tamu-tamu undangan berteriak histeris, berlarian ke sana kemari saat gerbang besi raksasa mulai turun perlahan untuk menutup seluruh akses keluar bank.

"Ké! Jalur keluar!" teriak gue ke mic sambil melompati meja prasmanan yang penuh dengan kaviar mahal.

"Lia, pintu utama sudah tertutup! Lo harus ke arah dapur, ada lift barang yang terhubung langsung ke terowongan pembuangan air di bawah Danau Zurich!" Suara Keano di telinga gue terdengar sangat cemas. Gue bisa denger suara ketikan cepat di seberang sana. Dia pasti lagi berusaha keras buat meretas sistem *lockdown* Swiss dari New Ardent.

"Evan, lindungi belakang!" perintah gue.

Kami menembus dapur yang riuh. Para koki bengong melihat wanita dengan gaun pesta merah darah berlari sambil memegang laptop, diikuti pria berjas rapi yang memegang senjata. Begitu kami sampai di depan lift barang, pintu lift terbuka dan keluarlah tiga pria bersenjata lengkap dengan seragam taktis hitam.

"Turunkan senjata!" teriak salah satu dari mereka.

Gue nggak nunggu lama. Gue tendang tumpukan panci besar di dekat gue ke arah mereka untuk menciptakan distraksi, sementara Evan melepaskan dua tembakan akurat ke arah bahu mereka.

"Masuk, Nyonya!" Evan mendorong gue masuk ke lift barang yang sempit.

Begitu pintu lift tertutup, gue jatuh terduduk di lantai lift yang kotor. Napas gue memburu. Gue liat kaki gue—sepatu hak tinggi gue udah patah sebelah. Gue lepas keduanya dan melemparnya ke pojok lift.

"Ké, gue di lift. Berapa lama lagi sampai bawah?"

"Tiga puluh detik, Lia. Tapi dengerin gue... Subjek Satu nggak sendirian. Alexander mengirim tim pembersih. Mereka sudah menunggu di pintu keluar terowongan. Gue bakal aktifkan protokol pengalihan suhu di terowongan itu. Begitu pintu lift terbuka, jangan berhenti lari!"

Gue menatap Evan. "Siap, Arthur?"

Evan mengangguk, mengisi ulang peluru senjatanya. "Selalu siap, Nyonya."

Pintu lift terbuka dan hawa dingin yang luar biasa langsung menyergap. Terowongan bawah tanah ini adalah labirin beton yang lembap dan gelap, hanya diterangi lampu darurat berwarna merah yang berkedip-kedip.

Gue lari tanpa alas kaki di atas beton dingin. Rasanya kayak kaki gue ditusuk ribuan jarum es, tapi adrenalin membuat rasa sakit itu mati rasa.

"Sepuluh meter lagi, ada pintu baja kecil di sebelah kiri!" teriak Keano. "Itu akses ke dermaga pribadi di tepi Danau Zurich. Evan, ada *speedboat* yang sudah disiapkan tim Alpha di sana!"

Kami sampai di pintu itu. Evan menendangnya sampai terbuka. Di depan kami, pemandangan Danau Zurich yang gelap membentang luas. Salju mulai turun dengan lebat, menutupi permukaan air dengan lapisan tipis es.

Tapi rencana nggak pernah berjalan mulus.

Di dermaga, Subjek Satu sudah berdiri di sana. Entah lewat mana dia bisa sampai lebih dulu. Dia berdiri dengan tenang, memegang sebuah alat kendali jarak jauh. Di sampingnya, empat orang tim pembersih menodongkan senapan ke arah kami.

"Kalian tidak akan pergi ke mana-mana," suara Subjek Satu terdengar datar, nyaris seperti suara mesin. "Serahkan laptop itu, atau aku akan meledakkan *speedboat* itu sekarang."

Gue berhenti, napas gue beruap di udara dingin. Gue angkat laptop itu tinggi-tinggi. "Lo mau ini? Data yang bisa bikin kakek lo jadi Tuhan? Ambil kalau lo bisa!"

"Lia, jangan!" bisik Keano di telinga gue. "Gue lagi coba ambil kendali *drone* di sekitar sana, tapi butuh waktu!"

Gue melangkah maju perlahan. "Lo bilang gue manusia lemah karena punya emosi, kan? Tapi lo tau nggak apa yang bikin manusia lebih unggul dari mesin?"

Subjek Satu menyipitkan mata.

"Manusia bisa nekat!"

Gue tiba-tiba melempar laptop itu bukan ke arah Subjek Satu, tapi ke tengah danau yang mulai membeku.

"TIDAK!" Subjek Satu berteriak—untuk pertama kalinya gue denger dia punya emosi: panik.

Dia refleks berlari menuju tepi dermaga untuk melihat laptop itu jatuh. Di saat itulah, Evan melepaskan tembakan ke arah tim pembersih. Gue nggak tinggal diam, gue menerjang Subjek Satu dan kami berdua jatuh ke dalam air danau yang membeku.

*BYURRR!*

Dinginnya air Danau Zurich langsung menghisap seluruh kehangatan tubuh gue. Rasanya seperti jantung gue berhenti berdetak seketika. Di dalam air yang gelap, gue bergulat dengan Subjek Satu. Dia mencoba mencekik gue, tapi di dalam air, berat badan dan teknik beladiri jadi kacau.

Gue melihat laptop itu tenggelam perlahan. Tapi mereka nggak tahu satu hal... laptop yang gue lempar tadi adalah *decoy*. Laptop yang asli masih ada di dalam tas kecil yang gue lilitkan di pinggang di balik gaun.

Gue hantamkan siku gue ke perut Subjek Satu, membuatnya melepaskan pegangannya karena butuh oksigen. Gue berenang sekuat tenaga menuju permukaan.

"LIA! LIA, JAWAB GUE!" suara Keano di *earpiece* terdengar sangat putus asa. Gue bisa ngerasain getaran suaranya yang ketakutan setengah mati.

Gue muncul ke permukaan, terengah-engah, memegang tepian dermaga yang licin. "Gue... gue di sini, Beruang... dingin banget... gila..."

Tangan Evan yang kuat langsung menarik gue ke atas dermaga. Dia menyelimuti gue dengan jaket tebalnya.

"Kita harus pergi sekarang, Nyonya! Dia akan muncul lagi!" Evan menggendong gue menuju *speedboat*.

Begitu mesin *speedboat* menderu, gue liat dari kejauhan Subjek Satu muncul ke permukaan air, menatap kami dengan tatapan dendam yang belum pernah gue liat sebelumnya. Dia nggak ngejar. Dia cuma berdiri di sana, basah kuyup, di tengah salju yang makin lebat.

"Ké... gue aman," gumam gue sambil menggigil hebat di dalam pelukan jaket Evan.

"Jangan pernah... jangan pernah ngelakuin itu lagi, Arcelia," suara Keano terdengar bergetar. Gue bisa ngerasain dia lagi nangis di ujung sana. "Gue hampir mati jantungan liat lo loncat ke danau itu."

Gue tersenyum kecil, meskipun bibir gue biru karena kedinginan. "Demi kebebasan kita, Ké. Dan gue dapet datanya. Laptop yang gue lempar itu cuma umpan."

"Lo bener-bener gila, Lia. Tapi itu kenapa gue cinta sama lo," Keano narik napas lega. "Evan, bawa dia ke *safe house* di pegunungan. Hangatkan badannya. Gue akan terbang ke Swiss sekarang juga. Persetan dengan rapat pemegang saham."

"Siap, Tuan," jawab Evan.

Gue memejamkan mata saat *speedboat* membelah ombak kecil Danau Zurich. Salju yang jatuh di wajah gue nggak lagi terasa dingin, karena gue tahu, sebentar lagi "Beruang" gue akan datang.

Tapi di balik kemenangan kecil ini, gue tahu Alexander Crowe nggak akan tinggal diam melihat "Subjek Satu" gagal. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai, dan kali ini, lokasinya bukan di New Ardent atau Zurich, tapi di dalam kode genetik yang ada di pinggang gue ini.

...****************...

TBC

1
Istrinya Tamon 🥰😍
yah ketahuan deh 🗿😍
Istrinya Tamon 🥰😍
langsung terkam aja bang udah 🗿
Istrinya Tamon 🥰😍
Omak aku pun di buat salting😍
A.R
umurnx arselia brpa tahun Thor??
Arieee
bagus, 👍👍👍👍👍👍👍👍
A.R
cari cowok yg lain aja,cwok cakep2 di luar sana banyak,giliran berubah baru di perhatiin cihhh
💟노르 아스마💟
woahhh...tamat
mksh cerita serunya👏👏👏
💟노르 아스마💟
sumpah yakkk...ini cerita keren menurut bayikk👏👏👏
beybi T.Halim
cerita yg benar2 luar biasa...aku fikir ditutup dengan hadirnya malaikat kecil keano dan arcelia ternyata hanya diisi dgn kebahagiaan ,terbaik lah buat penulisnya ,sehat2 sll👍
beybi T.Halim
cerita yg sungguh keren👍👍👍 sepanjang cerita tahan.nafas terus🤭
💟노르 아스마💟
huuuhhh tegang🤣🤣🤣🤣
💟노르 아스마💟
woaw...di luar dugaan ini plot twistnya
💟노르 아스마💟
waow...makkkkiin seruu seru
💟노르 아스마💟
Seru banget ...
Bayikk itu suka eman crta bgini ...ini keren ...
semoga endingnya jg keren ...
penasaran
💟노르 아스마💟
siapa shania ini sihhh...adik tiri dr mna?
Iryani levana khrisna Khrisna
terimakasih Thor tetap semangat dalam berkarya
Iryani levana khrisna Khrisna
semoga tidak menggantung ya thor pernyataan cinta aja butuh jawaban apa lagi aku yang membaca cerita mu 😄
Nessa
visulnya 👍🏻👍🏻👍🏻
Nessa
wiiihhh badass
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir....crtanya seru mskpn pnuh misteri,tp ga sbar krna pnsran....
d tnggu up'ny kk....smnggttt.....😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!