NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Kaisar Agung

Kembalinya Sang Kaisar Agung

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Action
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Devourer

Ia hanyalah seorang "murid sampah" di Sekte Pedang Giok, pemuda tanpa masa depan yang hidup dalam kehinaan dan penindasan. Hingga suatu hari ia mendapatkan kembali ingatan masa lalunya, ketika ia masih seorang Kaisar Agung di alam atas dan pernah memimpin jutaan pasukan di atas medan perang berdarah.

Namun, karena mendapatkan pengkhianatan yang kejam dari murid kepercayaannya sendiri, Ia kini harus memulai segalanya dari awal.

Sampah? Tidak! Ia menggunakan seluruh memori masa lalunya dan mengubah dirinya menjadi sosok tak tertandingi yang dapat menyapu bersih semua semut pengganggu dari jalannya.

"Aku adalah ... Qin Xiang."

Genre: Aksi, Kultivasi, Reinkarnasi, Balas Dendam, Harem.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7: Menagih Bunga!

Beberapa dupa berselang setelah ia memuaskan rasa laparnya dengan hidangan hangat di Kota Giok, Qin Xiang akhirnya kembali menapaki tangga batu menuju gerbang Sekte Pedang Giok. Meski tubuhnya terasa sedikit lelah, ia memilih untuk tidak langsung beristirahat di gubuknya yang sunyi. Langkahnya justru mantap menuju Aula Misi; ada sebuah kepuasan yang tertunda yang ingin ia tuntaskan hari ini.

Sesampainya di ruangan aula yang sejuk, sosok Tetua Sekte yang sebelumnya menyetujui misinya tampak sedang duduk di balik meja kayu hitam. Begitu melihat Qin Xiang melangkah masuk, perhatian pria tua itu langsung terpaku sepenuhnya. Ada sesuatu yang berbeda dari aura pemuda ini—lebih tajam dan terkendali.

"Ini." Qin Xiang meletakkan enam tangkai Mawar Giok Darah yang tersisa ke atas meja dengan gerakan tenang.

Mawar-mawar itu berkilau merah pekat di bawah cahaya lampu, memancarkan aroma darah yang manis dan menenangkan. Meski tanaman ini hanyalah herbal tingkat menengah, namun kualitas yang dibawa Qin Xiang benar-benar berada di level puncak. Tentu saja, ia hanya menyerahkan sisanya; mawar dengan kualitas paling sempurna sudah habis ia serap demi membersihkan meridiannya tempo hari.

Sang Tetua tertegun sejenak. Ia membelai kelopak mawar itu dengan ujung jarinya, lalu mengangguk puas. Pengalamannya selama puluhan tahun di sekte memungkinkannya untuk langsung mengenali harta karun medis yang autentik.

"Tetua, Anda tidak tahu betapa sulitnya mendapatkan ini," ujar Qin Xiang dengan ekspresi yang dibuat seserius mungkin, seolah-olah ia baru saja pulang dari neraka. "Demi mendapatkan mawar-mawar ini, aku harus mendaki tebing yang curam hingga kuku-kukuku hampir lepas, melewati setiap binatang buas yang haus darah, dan menghindari ular berbisa yang siap menerkamku dari balik bayang-bayang..."

Mendengar bualan dramatis itu, Tetua Sekte hanya bisa menghela napas panjang sembari menahan tawa kecil yang geli. Ia mendongak, menatap wajah Qin Xiang yang terlihat sangat "tulus" itu. Bocah nakal ini... dia jelas-jelas sedang berusaha memeras poinku, pikirnya dalam hati.

"Baiklah, baiklah. Aku akan memberimu bonus poin tambahan karena kualitasnya yang luar biasa, dasar bocah nakal." Sang Tetua mendengus dingin, seolah kesal, namun sebenarnya ia sangat terkesan. Sebagai tetua yang bijak, ia tahu bahwa memberi penghargaan lebih pada murid berbakat adalah investasi masa depan bagi sekte. "Berikan plat identitasmu."

Qin Xiang tersenyum puas—sebuah senyum kemenangan yang jarang ia tunjukkan—dan menyerahkan plat peraknya. Selang beberapa saat, Tetua mengembalikan plat tersebut sembari menjelaskan bahwa poin telah ditambahkan.

"Seratus lima puluh poin. Gunakanlah sebaik mungkin," imbuh Tetua dengan nada menasihati. "Karena kau baru saja resmi menjadi murid sekte luar, saranku pergilah ke Paviliun Teknik atau Paviliun Harta. Jangan biarkan poin itu membusuk tanpa gunanya, Nak."

"Enn," Qin Xiang membalas dengan anggukan singkat dan segera berjalan pergi sebelum sang Tetua berubah pikiran.

Melihat punggung Qin Xiang yang menjauh dengan langkah yang begitu ringan namun mantap, sang Tetua sedikit tertegun. Ia bergumam lirih dalam hatinya, "Ia tumbuh menjadi jauh lebih kuat hanya dalam hitungan minggu... sepertinya, naga kecil yang baru telah lahir di sekte ini."

...

Setelah keluar dari aula, Qin Xiang sempat memindai daftar misi baru di papan pengumuman. Namun, setelah melihat-lihat sebentar, ia segera bergegas pergi; tidak ada satu pun misi yang mampu memikat minatnya saat ini. Tujuannya kini sudah bulat: Paviliun Harta.

Ia tidak butuh Paviliun Teknik. Baginya, memori masa lalunya sudah lebih dari cukup; itu adalah perpustakaan ilahi yang berjalan. Namun, ia butuh senjata. Sebuah pedang fisik untuk menyalurkan energinya sebelum ia cukup kuat untuk memanggil kembali pedang hitam aslinya dari alam atas.

Paviliun Harta berdiri megah di pusat sekte, menjadi satu-satunya tempat di mana murid luar maupun murid sekte dalam bisa berbaur. Suasana di dalamnya sangat hidup, penuh dengan denting senjata yang diuji dan tawar-menawar poin yang sengit. Paviliun ini terdiri dari tiga tingkat, dan Qin Xiang hanya diperbolehkan menginjakkan kakinya di lantai pertama.

Ia mulai berjalan di antara rak-rak senjata, mengamati pedang kelas rendah hingga menengah yang tertata rapi. Namun, setelah berkeliling hampir ke setiap sudut, hatinya mulai mengerut. Semua pedang itu tampak sangat sederhana, bahkan terasa rapuh di matanya yang pernah menggenggam senjata tingkat dewa. Sementara itu, beberapa pedang yang terlihat 'cukup baik' justru memiliki label harga yang mengerikan—sekitar 1.000 sampai 1.500 poin.

Sang Kaisar tiba-tiba merasa sangat 'miskin'. Ratusan tahun bermandikan kekayaan di alam atas membuatnya merasa ironis saat harus memutar otak demi beberapa ratus poin sekte.

Saat suasana hatinya sedang merosot, matanya tanpa sengaja menangkap sosok di sudut ruangan. Di sana, tiga orang pemuda sedang mematung, menatapnya dengan wajah pucat seolah sedang melihat hantu di siang bolong.

Xiao Jing! Bersama kedua antek-antek setianya—Gu Weian dan Weian Gu!

Ketiganya seolah tertancap di lantai. Ingin melarikan diri, namun aura Qin Xiang yang tiba-tiba mengunci area tersebut membuat kaki mereka terasa seberat timah.

"Xiao Jing." Suara Qin Xiang memecah keheningan sudut itu, terdengar seperti dentuman lonceng kematian di telinga Xiao Jing. "Bukankah beberapa hari lalu di kota kau berkata bahwa seorang pria sejati harus bertarung secara adil di arena sekte? Kenapa kita tidak menyelesaikannya sekarang saja di sini?"

Qin Xiang melangkah perlahan ke arah mereka, setiap hentakan kakinya membuat detak jantung Xiao Jing semakin liar.

"Qi-Qin Xiang..." Xiao Jing gemetar, suaranya naik beberapa oktav karena trauma yang belum sembuh. "Pe-Pertarungan apa? Aku tidak ingat pernah bicara begitu... Kau pasti salah dengar, ha-ha..." Xiao Jing mencoba tertawa, namun suaranya justru terdengar seperti rintihan ketakutan.

"Benarkah... kau lupa?" Qin Xiang mencondongkan wajahnya, menyunggingkan senyum mengancam yang menyerupai seringai iblis tepat di hadapan hidung mereka bertiga.

Xiao Jing merasa bulu kuduknya berdiri. Ia yakin, jika ia terus berlagak gila, Qin Xiang tidak akan ragu untuk mematahkan beberapa tulangnya lagi tepat di tengah Paviliun Harta ini. Dengan nada penuh putus asa dan air mata yang hampir jatuh, ia berseru, "Tunggu! A-Aku akan memberimu semua poinku! Kau sedang mencari pedang, bukan? Ambillah poinku!"

Qin Xiang segera menarik kembali wajahnya. Ekspresinya berubah seketika menjadi senyum sipit yang penuh arti. Tanpa basa-basi, ia mengangguk puas. Dengan kekuatan yang mendominasi, ia memaksa Xiao Jing dan kedua temannya untuk mentransfer seluruh poin mereka ke plat miliknya.

Setelah berhasil menguras tabungan "trio pengacau" tersebut, Qin Xiang akhirnya memiliki poin yang cukup untuk membeli sebuah pedang kelas menengah yang memiliki kualitas baja cukup solid.

Ia memegang pedang barunya, merasakan beratnya yang pas di tangan, lalu berjalan pergi meninggalkan Paviliun Harta tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, Xiao Jing dan kedua anteknya hanya bisa duduk bersimpuh di lantai, menangis tanpa suara seperti anak kecil yang permennya baru saja dirampas oleh pereman pasar.

"He-he..." Qin Xiang mendengus pelan dengan senyum puas yang tersungging di bibirnya saat melintasi gerbang paviliun. Ini adalah pelajaran yang adil. Bertahun-tahun mereka menindasnya sebagai sampah, sekarang saatnya mereka membayar bunga dari hutang-hutang lama tersebut. Langit memang punya cara yang menarik untuk memutar roda nasib.

Bersambung!

1
budiman_tulungagung
sepuluh mawar 🌹
budiman_tulungagung: oke.. masama brother
total 2 replies
budiman_tulungagung
lima mawar 🌹
Nanik S
Awal yang bagus
Devourer Is Back: Thanks udah mampir🙏🏻
total 1 replies
T28J
saya kasih like dan hadiah 👍
Devourer Is Back: Thanks ya🙏
total 1 replies
Devourer Is Back
Janji deh, sampai tamat 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!