Dia melihat sisi gelapnya, dan seharusnya tidak selamat.
Tapi Zayn tidak menghapusnya dari dunia.
Dia memilih sesuatu yang lebih berbahaya menjadikannya miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ValerieKalea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali, Tapi Tidak Sama
Pagi itu datang dengan ritme yang lebih tenang. Tidak terburu-buru, tidak juga terasa berat. Aurora bangun seperti hari-hari sebelumnya di Swiss, dengan udara dingin yang menyusup pelan melalui celah jendela. Ia meregangkan tubuh sebentar sebelum akhirnya bangkit dan berjalan ke kamar mandi, membiarkan air hangat mengalir mengusir sisa kantuk yang masih menempel.
Setelah selesai mandi, Aurora langsung menuju dapur. Rina sudah lebih dulu ada di sana, menyiapkan sarapan dengan gerakan yang tenang dan terbiasa.
Aurora menghampiri, “Aku bantu, Ma.”
Rina tersenyum tipis, “Ya sini.”
Aurora mulai membantu memotong bahan, lalu tiba-tiba bertanya, “Ma, yang semalam ngobrol sama Mama itu siapa ya?”
Rina berhenti sebentar, lalu menoleh dengan sedikit kaget, “Kamu nggak ingat?”
Aurora menggeleng pelan.
“Itu Tante Dita. Temen dekat Mama dari SMA. Dulu dia sering banget main ke rumah. Kamu juga sering digendong sama dia waktu masih bayi” jelas Rina.
Aurora langsung tertawa kecil, “Ya mana mungkin aku ingat, Ma. Aku aja masih bayi.”
Rina ikut tersenyum, “Ya siapa tahu masih ada sisa-sisa ingatan.”
Percakapan itu berlanjut ringan sambil mereka memasak. Tidak ada beban, tidak ada topik berat. Hanya obrolan sederhana yang terasa hangat.
Sementara itu, di tempat lain.
Bandara Swiss terlihat sibuk seperti biasa. Orang-orang berlalu-lalang dengan tujuan masing-masing. Di salah satu sudut ruang tunggu, Zayn duduk bersama Evan, menunggu panggilan boarding.
Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di sana.
Aurora.
Nama itu muncul lagi tanpa diminta.
Ia mengingat pesan terakhirnya. Izin cuti satu minggu. Dan sekarang baru berjalan empat hari.
Zayn menghela napas pelan.
“Harusnya dia masih di sini…” batinnya.
Untuk sesaat, ia sempat berpikir, bagaimana kalau Aurora tiba-tiba muncul di bandara itu. Pulang di waktu yang sama. Duduk di kursi yang tidak jauh darinya.
Namun logikanya langsung menepis.
“Tidak mungkin.”
Tak lama kemudian, panggilan boarding terdengar. Zayn berdiri, berjalan masuk ke pesawat.
Beberapa menit setelah lepas landas, ia menoleh ke jendela. Awan putih terbentang luas.
“Aku bakal nunggu kamu, Flora…” ucapnya dalam hati.
“Kapan pun.”
Kembali ke Swiss.
Aurora sudah selesai sarapan bersama kedua orang tuanya. Arman berpamitan berangkat kerja, sementara Aurora membantu Rina mencuci piring.
Suasana dapur kembali diisi percakapan ringan. Hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, tapi terasa berarti.
Setelah selesai, Aurora masuk ke kamarnya.
Hari itu, ia hanya ingin beristirahat. Ia membuka laptop, menonton drama, dan membiarkan waktu berjalan tanpa tuntutan apa pun.
Rumah itu terasa nyaman. Tidak ada tekanan. Tidak ada hal yang memaksanya berpikir terlalu jauh.
Hari itu berlalu dengan tenang.
Dan tanpa terasa, dua hari berikutnya ikut terlewati.
Waktu berjalan lebih cepat dari yang ia sadari.
Kini, hari ketujuh tiba.
Aurora berdiri di depan koper yang terbuka di atas tempat tidur. Tangannya perlahan memasukkan pakaian satu per satu.
Ada rasa berat yang muncul.
Baru saja ia merasa tenang, kini ia harus pergi lagi.
Aurora duduk di tepi ranjang, menatap koper itu, “Cepat banget…” gumamnya pelan.
Setelah semuanya selesai, ia menutup koper dan membawanya keluar kamar.
Di ruang tamu, Rina sudah ada. Tak lama kemudian, Arman pulang kerja.
“Udah siap?” tanya Arman.
Aurora mengangguk, “Udah, Pa.”
Arman tersenyum, “Nanti habis makan, Papah sama Mamah anter ke bandara.”
Aurora langsung menggeleng, “Nggak usah, Pa. Papah pasti capek.”
“Tetap anter. Papah mau nikmatin hari terakhir sama kamu” jawab Arman tegas, tapi hangat.
Aurora terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. Ia tidak bisa menolak.
Tak lama kemudian, Arman masuk ke kamar mandi. Sementara itu, Aurora kembali ke dapur membantu Rina menyiapkan makan malam lebih awal.
“Aurora minta maaf ya, Ma. Jadi makan malamnya dimajuin.”
Rina tersenyum lembut, “Nggak apa-apa. Justru Mamah senang.”
Aurora menoleh, “Kenapa?”
“Karena bisa makan bareng kamu lagi” jawab Rina.
Aurora terdiam sejenak.
“Kamu harus sering-sering ke sini ya” lanjut Rina.
Aurora mengangguk, “Nanti kalau libur, aku usahain datang.”
Ia lalu menambahkan, “Mamah sama Papah juga harus ke Indonesia.”
Rina mengangguk, “Iya. Tapi kerjaan Papa kamu…”
Aurora tersenyum kecil, “Aku ngerti.”
Obrolan terus berlanjut sampai makan malam tertata rapi di meja makan.
Makan malam itu terasa hangat. Obrolan ringan terus mengalir. Tawa kecil sesekali muncul, seolah menahan waktu agar tidak berjalan terlalu cepat.
Setelah selesai, Aurora membantu mencuci piring, sementara Arman bersiap.
Tak lama kemudian, mereka bertiga masuk ke mobil.
Perjalanan menuju bandara terasa lebih singkat dari biasanya.
Aurora menatap ke luar jendela, “Padahal rasanya baru kemarin aku dijemput…” batinnya.
“Eh sekarang udah harus pergi lagi” batinnya.
Mobil berhenti di area parkir bandara. Arman turun, mengambil koper Aurora dari bagasi, lalu memberikannya.
Mereka berjalan bersama hingga ke area drop-off keberangkatan, batas di mana keluarga hanya bisa mengantar.
Aurora berdiri di sana, menatap kedua orang tuanya.
Percakapan ringan masih terjadi, tapi perlahan berubah menjadi diam yang berat.
Hingga akhirnya, waktu benar-benar tidak bisa ditunda lagi.
Aurora memeluk ibunya terlebih dahulu. Lalu ayahnya.
“Jaga diri” ucap Rina.
“Iya, Ma.”
“Kalau capek, pulang lagi” tambah Arman.
Aurora mengangguk.
Ia berbalik, menarik kopernya, dan berjalan masuk.
Orang tuanya tetap berdiri di sana, menatapnya hingga sosoknya menghilang di dalam.
Baru setelah itu, mereka kembali ke mobil.
Sementara Aurora, berjalan lebih dalam ke bandara.
Langkahnya pelan.
Ada rasa berat, tapi juga ada sesuatu yang berbeda.
Ia tidak lagi datang dengan hati yang hancur. Ia pulang dengan sesuatu yang mulai tersusun kembali.
Beberapa waktu kemudian, pesawatnya lepas landas.
Langit malam Swiss perlahan menjauh.
Enam jam kemudian. Pesawat itu mendarat di Indonesia.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.
Aurora berjalan keluar dari pesawat, melewati lorong panjang, lalu masuk ke area kedatangan.
Langkahnya tenang, tapi pikirannya mulai kembali ke rutinitas lama.
Saat hampir keluar dari pintu bandara, ponselnya bergetar.
Aurora berhenti. Ia membuka layar. Pesan masuk dari Zayn.
“Selamat datang kembali.”
Aurora mengernyit.
Ia langsung menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok itu di antara keramaian.
Tapi tidak ada.
“Dia tahu aku sampai? Dari mana dia tau?” batinnya.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, ponselnya kembali bergetar. Pesan kedua masuk.
“Besok jangan telat masuk kantor.”
Aurora menatap layar itu beberapa detik. Lalu menghela napas panjang.
“Ya, tetap aja kulkas tujuh pintu” gumamnya pelan.
Ia menggeleng kecil, “Pasti kebetulan.”
“Nggak mungkin Zayn ngawasi aku. Nggak ada gunanya juga dia lakuin itu” batin Aurora.
Aurora memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Di luar, taksi yang ia pesan sudah menunggu.
Sopir membantu memasukkan koper ke bagasi.
Aurora masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang.
Pintu tertutup. Mobil mulai bergerak meninggalkan bandara.
Kota itu kembali menyambutnya.
Dan tanpa ia sadari kepulangannya kali ini bukan hanya tentang kembali ke tempat lama.
Tapi juga awal dari sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya.