NovelToon NovelToon
Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Dua Dunia Rama: Rem Ungu Di Lintasan Wana Asri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:52
Nilai: 5
Nama Author: prasfa

Bagi dunia, Rama Arsya Anta adalah definisi anak muda yang sempurna. Ia adalah siswa berprestasi, selalu menempati peringkat pertama, tutur katanya sopan, dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya di rumah. Namun, begitu bel sekolah berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, topeng kesempurnaan itu ia lepas.
Di luar pengawasan keluarganya, Rama berubah wujud menjadi pemimpin geng motor yang paling ditakuti di jalanan Bukit Selatan. Malam-malamnya dihabiskan untuk balapan liar, menenggak minuman keras, dan merajai jalanan aspal Wana Asri bersama sahabat-sahabat liarnya: Galang, Bagas, dan Cakra. Rama menikmati kehidupan ganda ini; memuaskan dahaga keluarganya di siang hari, dan memuaskan sisi pemberontaknya di malam hari. Hatinya sedingin mesin motornya, tak pernah tersentuh oleh romansa, menganggap cinta hanyalah omong kosong yang menghambat kebebasan.
Hingga suatu malam, di tengah panasnya balapan liar yang mempertaruhkan harga diri gengnya, seorang gadis muncul membawa cerita baru

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 - Surat Tantangan Beraroma Oli dan Jimat Ungu

Langit Yogyakerto siang itu tertutup awan abu-abu yang menggantung rendah, seolah merefleksikan ketegangan yang tengah berkecamuk di dalam kepala Rama Arsya Anta. Di dalam kelas XII IPA 1, suara guru biologi yang sedang menjelaskan materi genetika terdengar seperti dengungan lebah yang tak ada artinya. Fokus Rama sepenuhnya terpecah. Matanya menatap lurus ke papan tulis, tapi otaknya sedang merancang strategi paling mematikan untuk menghabisi Kobra Besi.

Di seberang deretan mejanya, Raka duduk dengan bahu merosot. Tidak ada lagi gaya sok jagoan atau tatapan meremehkan. Mantan kandidat Ketua OSIS itu terlihat seperti kerupuk yang melempem, pucat dan terus-terusan menghindari kontak mata dengan siapa pun, terutama dengan Rama. Ancaman video dari kamera tersembunyi milik Nayla benar-benar sukses membungkam mulut ular tersebut. Setidaknya, satu pion Tora di dalam sekolah sudah berhasil dicabut dari akarnya.

Bel tanda pulang akhirnya berbunyi, menyelamatkan sisa kewarasan murid-murid. Rama membereskan tasnya dengan gerakan efisien. Begitu ia melangkah keluar kelas, ia langsung mencari keberadaan kardigan ungu pastel yang sangat familier.

Nayla sedang berdiri di dekat mading, berpura-pura membaca pengumuman lomba mading antarsekolah. Begitu melihat Rama mendekat, gadis itu tak langsung menyapa, melainkan berjalan lebih dulu menuju arah parkiran, memberikan jarak yang aman agar tak mengundang gosip tambahan dari teman-teman seangkatan mereka. Rama mengekor dari belakang, menjaga jarak sekitar lima meter, mengawasi setiap orang yang berpapasan dengan gadisnya.

Setibanya di area drop zone gerbang utama, mobil sedan hitam milik keluarga Anta sudah menunggu dengan mesin menyala. Rama membukakan pintu belakang, membiarkan Nayla masuk lebih dulu sebelum ia menyusul.

Begitu pintu tertutup rapat dan mobil mulai melaju meninggalkan area sekolah, Nayla menghela napas panjang, merosot sedikit di jok kulit yang empuk.

"Akting pura-pura nggak kenal di koridor sekolah itu ternyata capek juga ya, Bos," keluh Nayla, memutar tubuhnya menghadap Rama. "Raka dari tadi diam aja tuh di kelas. Kayaknya jiwanya udah terbang ke dimensi lain. Aman deh sekolah kita."

Rama melonggarkan dasinya, membuang napas kasar. "Raka emang udah aman. Tapi Tora belum. Semalam gue udah suruh Galang nyari info soal aliansi yang lagi dibangun Kobra Besi. Mereka beneran ngumpulin geng-geng kecil dari pinggiran utara buat ngepung Wana Asri."

Raut wajah santai Nayla seketika berubah serius. Ia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan yang selalu muncul saat gadis itu sedang cemas. "Terus, lo beneran mau ngajuin tantangan satu lawan satu? Ke sarang mereka?"

"Nggak ke sarangnya. Di jalanan, kalau mau duel adil antar pemimpin, kita pakai jalur netral," jawab Rama. Ia menatap Nayla lekat-lekat, mencoba menyalurkan ketenangan lewat sorot matanya. "Ada satu lintasan di pinggiran Yogyakerto, namanya Jalur Jurang Merah. Tempat itu nggak masuk wilayah Wana Asri, juga bukan wilayah Kobra Besi. Malam ini, gue bakal ngirim kurir buat nganterin surat tantangan resmi ke markas Tora."

Nayla membelalakkan matanya. "Jalur Jurang Merah? Namanya aja udah horor begitu, Ram! Lo yakin tempat itu aman buat balapan? Maksud gue... aman dari jurang beneran?"

"Nggak ada lintasan balap liar yang aman, Nay. Tapi di situlah poinnya," Rama tersenyum tipis, sebuah senyum miring yang penuh dengan arogansi sang penguasa aspal. "Semakin berbahaya lintasannya, semakin ciut nyali musuh. Dan Tora... dia itu pengecut yang cuma berani main keroyokan atau sabotase. Di jalur ekstrem kayak Jurang Merah, keahlian murni yang bakal bicara. Dan gue nggak pernah kalah kalau urusan naklukin aspal murni."

Nayla terdiam. Ia merogoh saku kardigannya, mengotak-atik sesuatu di dalamnya cukup lama. Tangannya terlihat sedikit gemetar sebelum akhirnya ia menarik keluar sebuah benda kecil dan menyodorkannya ke arah Rama.

Itu adalah sebuah gantungan kunci berbentuk boneka rajut kecil berwarna ungu. Warnanya sudah sedikit pudar, tapi bentuknya masih utuh dan rapi.

Rama mengerutkan kening, menatap benda itu lalu menatap Nayla dengan pandangan penuh tanda tanya. "Apa ini?"

"Jimat," jawab Nayla ketus, pipinya memerah seketika. Gadis itu menjejalkan gantungan kunci itu ke telapak tangan Rama secara paksa. "Itu gantungan tas gue waktu masih SMP. Dibikinin sama almarhum nenek gue. Gue selalu bawa itu ke mana-mana kalau lagi ada ujian atau lagi ngerasa takut. Berhubung otak gue nggak bisa tenang mikirin lo bakal nekat balapan di pinggir jurang, lo bawa ini. Taruh di saku jaket lo. Jangan sampai hilang."

Rama menatap boneka rajut ungu di telapak tangannya. Benda itu terlihat sangat rapuh dan tidak pada tempatnya jika disandingkan dengan jaket kulit hitam, rantai besi, dan aroma oli jalanan. Namun, bagi Rama, benda kecil itu terasa lebih berat dan berharga dari emas seberat apa pun.

Jemari Rama perlahan menggenggam boneka rajut itu dengan erat. Ia menatap Nayla, merasakan desiran hangat yang meledak-ledak di dalam dadanya. "Lo ngasih jimat paling berharga lo buat preman aspal kayak gue?"

Nayla memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca yang gelap, menyembunyikan senyumnya yang tertahan. "Bukan buat preman. Tapi buat babu gue. Awas aja kalau lo pulang tinggal nama, gue bakal suruh arwah lo ganti rugi itu gantungan kunci."

Rama tertawa pelan. Tawanya terdengar begitu renyah dan tulus, menggema di dalam kabin sedan mewah tersebut. "Siap, Majikan. Gue bakal bawa jimat ini balik ke lo tanpa lecet sedikit pun."

Sore harinya, bengkel Sakti Jaya dipenuhi oleh ketegangan yang pekat dan menyesakkan. Rama duduk di atas kap mobil rongsokan, matanya tajam menatap Galang, Bagas, dan Cakra yang berdiri melingkar di depannya. Di tangannya terdapat sebuah rantai motor berkarat yang ia lilitkan di selembar kertas tebal.

"Lo serius mau ngirim ini sekarang, Bos?" tanya Galang, menatap rantai itu dengan kening berkerut dalam. "Tora pasti lagi panas-panasnya karena anjing pelacaknya kita hajar kemarin. Kalau kita ngirim kurir ke sana sekarang, kurirnya bisa habis dikeroyok."

"Makanya gue nyuruh lo yang pergi, Lang. Lo tangan kanan gue, nyali lo paling gede di sini," ucap Rama santai, melemparkan lilitan rantai itu yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Galang. "Lo nggak perlu turun dari motor. Lempar aja rantai itu ke kaca depan markas mereka, terus langsung tancap gas. Mereka bakal baca pesannya."

Di dunia balap liar Yogyakerto, melempar rantai motor berkarat yang dililit kertas merah adalah deklarasi perang mutlak. Tantangan satu lawan satu yang tidak bisa ditolak tanpa kehilangan harga diri di mata seluruh preman jalanan.

"Jalur Jurang Merah," gumam Cakra, memijit pelipisnya yang mendadak pusing. Mekanik andalan The Ghost itu menatap Rama dengan wajah pucat. "Ram, lo tahu kan jalur itu belum selesai diaspal ujungnya? Tikungannya buta, nggak ada pembatas jalan, dan sebelahnya langsung jurang batu. Kalau Tora main kotor di sana..."

"Gue udah memperhitungkan semuanya, Cak," potong Rama tegas, melompat turun dari kap mobil. "Tora bakal pakai motor merahnya yang udah lo hafal spesifikasinya. Gue mau lo cek motor gue malam ini. Ganti oli, kencengin rantai, dan pastiin rem cakram depan yang kemarin disabotase itu diganti pakai part kualitas kompetisi. Gue butuh motor gue ngerespons di hitungan milidetik."

Cakra mengangguk mantap. "Beres, Bos. Gue bakal begadang semalaman buat mastiin mesin lo siap tempur. Tarikannya bakal lebih gila dari biasanya."

"Gas, lo koordinasiin anak-anak," Rama beralih menatap Bagas. "Malam duel nanti, gue mau anak-anak The Ghost bikin perimeter sejauh dua kilometer dari garis start. Jangan biarin geng aliansinya Tora masuk ke area lintasan. Kalau mereka maksa masuk buat main keroyokan, halau mereka pakai cara apa pun."

"Siap, Bos!" Bagas memukul dadanya dengan bangga.

Galang memasukkan rantai deklarasi perang itu ke dalam tas selempangnya, memakai helmnya, dan menstarter motor maticnya. "Gue berangkat sekarang, Bos. Biar Tora nggak bisa tidur nyenyak malam ini."

Rama mengangguk, melihat tangan kanannya itu melesat pergi meninggalkan bengkel. Perang urat saraf telah resmi dimulai. Ia tidak akan mundur satu sentimeter pun.

Malam harinya, sekembalinya Rama ke rumah mewahnya, suasana langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Ayahnya, Pak Hardi, sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca koran. Begitu melihat anak tunggalnya masuk, Pak Hardi langsung meletakkan korannya.

"Rama, ke sini sebentar," panggil ayahnya dengan nada otoriter yang tak menerima bantahan.

Rama menghela napas tanpa suara, mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi topeng anak penurut. "Iya, Ayah. Ada apa?"

"Ayah dengar dari grup komite sekolah, nilai simulasi ujian nasional minggu ini sudah keluar. Kenapa kamu belum lapor ke Ayah?" tatapan Pak Hardi setajam silet, menelisik setiap inci wajah anaknya. "Jangan bilang nilai kamu turun lagi di mata pelajaran Kimia."

"Nilai Rama sempurna, Yah. Seratus di semua mata pelajaran," jawab Rama tenang, menatap lurus mata ayahnya. "Rama belum lapor karena tadi Rama langsung ikut bimbingan belajar tambahan bersama teman-teman Klub Sains untuk persiapan olimpiade."

Pak Hardi mengangguk pelan, meski tak ada senyum bangga yang terbit di wajahnya. Baginya, nilai sempurna adalah sebuah keharusan, bukan prestasi yang patut dirayakan. "Bagus. Pertahankan itu. Masa depan perusahaan keluarga Anta ada di pundakmu. Kamu tidak boleh bergaul dengan anak-anak rendahan yang hanya akan membawa pengaruh buruk. Fokus pada studimu."

"Baik, Ayah. Rama ke kamar dulu mau mereview materi," pamit Rama sopan.

Begitu pintu kamarnya tertutup dan terkunci rapat, Rama langsung bersandar di daun pintu. Ia memejamkan matanya, merasakan dada yang sesak akibat tekanan yang selalu menyekiknya di rumah ini. Hidupnya benar-benar seperti boneka yang talinya ditarik dari dua arah yang berbeda.

Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan boneka rajut ungu milik Nayla. Rama menatap benda kecil itu di bawah cahaya lampu kamarnya. Sentuhan kasar benang rajut itu seolah menyalurkan kehangatan dari tangan pemiliknya, perlahan meruntuhkan sesak di dadanya.

Ponsel di atas kasurnya bergetar pelan. Sebuah panggilan masuk dari Majikan Rese.

Rama segera menekan tombol hijau dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya. "Halo?"

"Woy, Babu. Lo lagi sibuk jadi preman apa lagi jadi anak sholeh di rumah?" suara renyah Nayla langsung menyapa gendang telinganya, mengusir sisa-sisa hawa dingin dari ayahnya.

Sebuah senyum lebar tanpa sadar langsung merekah di bibir Rama. "Lagi jadi babu yang nungguin perintah dari majikannya. Kenapa belum tidur lo? Udah malam."

"Gue lagi revisi naskah drama kita nih. Ada beberapa bagian yang ternyata kepanjangan, gue potong dikit biar nggak bosenin pas dipentasin nanti," terdengar suara ketikan keyboard dari seberang sana. "Oh ya, surat tantangan lo udah dikirim ke musuh lo itu?"

"Udah," jawab Rama pelan, merebahkan tubuhnya di atas kasur. "Besok malam jam sebelas. Eksekusi di Jalur Jurang Merah."

Terdengar helaan napas panjang dari Nayla. Suara ketikan keyboard terhenti. "Ram... lo seriusan bakal menang kan? Jimat gue udah lo simpan yang bener?"

Rama menggenggam boneka rajut ungu itu, mendekatkannya ke dadanya. "Aman. Jimat lo ada di tangan gue. Lo tenang aja, Nay. Gue bakal nepatin janji gue."

"Awas aja kalau bohong," ancam Nayla, meski suaranya terdengar sangat lembut dan sarat akan kecemasan. "Gue bakal nunggu kabar lo besok malam. Kalau sampai jam dua belas lo belum ngabarin, gue nekat nyari lo ke bengkel."

"Nggak usah aneh-aneh. Lo di rumah aja," tegur Rama cepat. "Gue bakal telepon lo begitu urusan gue selesai. Janji."

"Oke. Janji. Night, Bos Besar," ucap Nayla pelan.

"Malam, Nay," balas Rama.

Panggilan terputus. Rama menatap langit-langit kamarnya. Detak jantungnya berirama tenang. Ketakutannya akan kematian di lintasan aspal kini benar-benar telah hilang, digantikan oleh tekad membaja untuk memastikan bahwa hari esok, ia masih bisa melihat senyum gadis berjilbab ungu itu. Besok malam, Tora akan belajar dengan cara yang paling menyakitkan, bahwa membangunkan iblis yang sedang melindungi malaikatnya adalah kesalahan paling fatal yang bisa dilakukan oleh siapa pun di Wana Asri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!