NovelToon NovelToon
Sistem Membuat Sekte Terkuat

Sistem Membuat Sekte Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Epik Petualangan / Harem
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Demon Heart Sage

Di dunia kultivasi yang kejam, bakat adalah segalanya.

Bagi Xu Tian, seorang murid rendahan tanpa bakat, dunia hanya berisi penghinaan.
Ia dibully, diinjak, dan dipermalukan—bahkan oleh wanita yang ia cintai.

Hari ia diusir dari sekte tingkat menengah tempat ia mengabdi selama bertahun-tahun, ia menyadari satu hal:

Dunia tidak pernah membutuhkan pecundang.



Dengan hati hancur dan tekad membara, Xu Tian bersumpah akan membangun sekte terkuat, membuat semua sekte besar berlutut, dan menjadi pria terkuat di seluruh alam semesta.

Saat sumpah itu terucap—

DING! Sistem Membuat Sekte Terkuat telah aktif.

Dalam perjalanannya, ia bertemu seorang Immortal wanita yang jatuh ke dunia fana. Dari hubungan kultivasi yang terlarang hingga ikatan yang tak bisa diputus, Xu Tian melangkah di jalan kekuasaan, cinta, dan pengkhianatan.

Dari murid sampah…
menjadi pendiri sekte yang mengguncang langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Murid Pertama

Malam itu tidak bergerak.

Api kecil di sudut gubuk bergetar lemah, nyalanya memanjang lalu kembali mengecil. Asap tipis naik lurus sebelum menghilang di antara celah atap. Tidak ada angin. Tidak ada suara serangga. Seolah dunia sengaja menahan napas.

Chen Yu masih berlutut.

Dahinya menempel di tanah, kedua telapak tangannya terbuka di depan, jari-jarinya kotor oleh debu lembap. Tubuhnya tidak bergerak, namun napasnya terdengar jelas—pendek, tertahan, seolah ia takut menarik udara terlalu dalam dan merusak sesuatu yang tidak terlihat.

Aku berdiri di hadapannya.

Kakiku terasa berat, bukan karena lelah, tapi karena satu kesadaran yang menekan perlahan dari dalam dada. Sujud itu bukan permohonan. Bukan pula sandiwara. Ia sudah memilih sebelum lututnya menyentuh tanah.

Dan sekarang, pilihan itu menunggu jawabanku.

Aku tidak segera berbicara.

Api berderak pelan. Kayu tua di dinding mengeluarkan bunyi halus, seolah mengeluh karena usia. Bayanganku dan bayangan Chen Yu saling bertumpuk di lantai tanah, menyatu lalu terpisah mengikuti goyangan nyala api.

Jika aku diam terlalu lama, ini akan berubah menjadi penolakan tanpa kata.

Jika aku menjawab sembarangan, hidup seseorang akan terikat pada kebodohanku.

Aku menarik napas pelan.

“Chen Yu,” panggilku.

Tubuh di hadapanku tersentak halus. “Aku di sini,” jawabnya cepat, suaranya teredam tanah.

“Aku tidak punya altar.”

Ia diam.

“Aku tidak punya sekte yang bisa ditunjukkan.”

Keheningan tetap bertahan.

“Aku tidak punya tetua untuk menjadi saksi, tidak punya aturan tertulis, tidak punya warisan.”

Api kembali berderak, lebih keras sesaat.

“Apa yang kau lakukan sekarang,” lanjutku, “tidak akan diakui siapa pun. Tidak oleh kota. Tidak oleh sekte mana pun.”

Aku berhenti sejenak, memastikan setiap kata jatuh ke tempatnya.

“Jika kau bangkit dan pergi malam ini, tidak ada yang akan menertawakanmu.”

Chen Yu tidak bergerak.

Aku menatap rambutnya yang kusut, pundaknya yang kurus, pakaian lusuh yang masih basah di bagian lutut. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang akan mengubah apa pun di dunia ini.

Dan justru karena itu, sujud ini terasa lebih berat.

“Kalau kau tetap di sini,” kataku, lebih pelan, “jalanmu akan lebih sempit.”

Api mengecil. Bayangan kami merapat.

“Aku tidak akan menjanjikan perlindungan mutlak. Aku tidak akan menarikmu keluar setiap kali kau jatuh.”

Tanganku mengepal, lalu mengendur.

“Aku hanya bisa berjanji satu hal.”

Chen Yu menarik napas dalam, seolah menyiapkan dirinya.

“Aku tidak akan mengkhianati pilihanmu.”

Hening.

Beberapa detik berlalu. Atau mungkin lebih lama. Aku tidak menghitung.

Lalu Chen Yu menggeser telapak tangannya, mendorong tubuhnya sedikit ke atas. Dahinya terangkat, namun lututnya tetap menempel tanah. Ia menatapku dari posisi rendah, matanya merah, namun jernih.

“Aku tidak datang untuk dijanjikan,” katanya. Suaranya bergetar tipis, tapi tidak pecah. “Aku datang karena tidak ada jalan lain yang ingin kupilih.”

Aku menatapnya lurus.

“Kalau kau menerima aku,” lanjutnya, “aku akan berjalan. Kalau aku tersesat, itu karena kakiku sendiri.”

Ia menelan ludah. “Aku tidak meminta ditarik. Aku hanya meminta… diizinkan mengikuti.”

Kata-kata itu sederhana. Tidak indah. Tidak disusun untuk mengesankan.

Namun justru karena itu, aku tahu ia tidak berbohong.

Aku melangkah satu langkah ke depan.

Tanah berderak pelan di bawah kakiku. Chen Yu refleks menegakkan punggungnya sedikit, seolah bersiap menerima apa pun.

Aku berhenti tepat di hadapannya.

“Dengar baik-baik,” kataku. “Jika aku menerimamu, itu bukan karena bakat, bukan karena masa depan yang bisa dijual.”

Ia mengangguk.

“Dan bukan karena aku yakin bisa membawamu jauh.”

Ia kembali mengangguk, lebih pelan.

“Aku menerimamu,” kataku akhirnya, “karena kau memilih untuk berdiri di sini tanpa paksaan.”

Api bergetar lebih kuat sesaat, lalu stabil.

Chen Yu membeku.

Aku melihat dadanya naik turun cepat, matanya melebar sekejap sebelum ia menunduk lagi, lebih dalam dari sebelumnya.

Namun aku mengangkat tanganku.

“Belum,” kataku.

Ia berhenti.

“Jika kau ingin menjadi muridku,” lanjutku, “kau harus tahu apa arti sumpah itu.”

Aku berlutut perlahan di hadapannya.

Tanah dingin menekan lututku. Posisi kami kini sejajar, hanya dipisahkan jarak satu lengan. Tidak ada yang lebih tinggi. Tidak ada yang lebih rendah.

“Sumpah murid,” kataku, “bukan penghapusan diri.”

Chen Yu mengangkat kepala, menatapku dengan mata yang berusaha memahami.

“Bukan pula penyerahan hidup tanpa sisa,” lanjutku. “Kau tidak menjadi bayangan.”

Aku menatap wajahnya, memastikan ia tidak hanya mendengar, tapi menerima.

“Sumpah itu berarti kau memilih berjalan bersamaku. Bukan di depanku. Bukan di bawah kakiku.”

Api memantulkan cahaya di matanya.

“Jika suatu hari kau merasa jalan ini salah,” kataku, “kau boleh berhenti.”

Chen Yu terdiam lama.

“Dan jika aku yang tersesat?” tanyanya akhirnya.

Aku menjawab tanpa ragu. “Kau boleh mengingatkanku.”

Keheningan kembali turun. Kali ini, lebih berat. Lebih dalam.

Chen Yu menunduk. Bahunya bergetar pelan. Aku tidak tahu apakah itu dingin atau sesuatu yang lain. Aku tidak bertanya.

“Aku mengerti,” katanya akhirnya.

Aku mengangguk.

“Kita tidak punya altar,” kataku. “Jadi tanah ini cukup.”

Aku menepuk lantai tanah di antara kami.

“Kita tidak punya saksi,” lanjutku. “Jadi malam ini cukup.”

Api kecil di sudut gubuk bergetar, seolah mengakui kata-kata itu.

Aku berdiri kembali. Chen Yu tetap berlutut, punggungnya lurus, pandangannya terangkat.

“Kau tidak perlu berteriak,” kataku. “Tidak perlu bersumpah pada langit.”

Aku menarik napas.

“Ucapkan hanya apa yang bisa kau pegang.”

Chen Yu menelan ludah. Tangannya mengepal di atas paha, lalu perlahan terbuka.

“Aku, Chen Yu,” katanya. Suaranya serak, namun jelas. “Dengan pilihanku sendiri, menerima Xu Tian sebagai orang yang akan kutempuh jalannya.”

Ia berhenti sejenak, seolah mencari kata berikutnya.

“Aku tidak menjanjikan kesetiaan buta,” lanjutnya. “Aku menjanjikan langkah yang jujur.”

Dadanya naik turun.

“Jika aku maju, itu karena aku mau. Jika aku jatuh, itu karena aku salah.”

Ia menunduk sedikit. “Dan selama aku masih berjalan, aku tidak akan berpaling.”

Kata-kata itu jatuh satu per satu, tanpa hiasan.

Tidak ada kilat. Tidak ada gemuruh.

Namun saat kalimat terakhir selesai, api kecil itu tiba-tiba mengecil, nyalanya merapat, lalu kembali stabil—lebih tenang dari sebelumnya.

Aku merasakan tekanan halus di dada. Bukan kekuatan. Bukan ancaman.

Kesadaran.

Sekarang giliranku.

Aku menatap Chen Yu, murid yang belum resmi, namun sudah memilih.

“Aku, Xu Tian,” kataku, suaraku lebih rendah dari biasanya, “menerima pilihanmu.”

Aku berhenti sejenak.

“Aku tidak menjanjikan keselamatan,” lanjutku. “Aku tidak menjanjikan jalan yang lurus.”

Api berderak pelan.

“Aku hanya menjanjikan satu hal,” kataku. “Selama kau melangkah di sini, aku tidak akan mengabaikanmu.”

Tanganku mengepal di samping tubuhku.

“Jika kau salah, aku akan menunjukkannya. Jika kau benar, aku tidak akan mencurinya darimu.”

Aku menghembuskan napas pelan.

“Dan jika suatu hari aku tidak layak berdiri di depanmu,” kataku, “aku akan mengakuinya.”

Hening.

Kata-kata itu tidak terdengar megah. Namun setelah diucapkan, aku tahu tidak ada jalan untuk menariknya kembali.

Chen Yu menatapku lama, lalu perlahan menunduk.

Kali ini, ia tidak menempelkan dahinya ke tanah.

Ia hanya menundukkan kepala, dalam dan tenang.

Api kecil di sudut gubuk bergoyang pelan, lalu berhenti.

Di luar, malam tetap sunyi.

Tidak ada saksi.

Namun sumpah itu telah jatuh ke tempatnya.

...

Keheningan bertahan setelah kata terakhir terucap.

Api kecil tetap menyala, nyalanya lurus, tidak lagi bergetar. Asap menipis, mengalir ke atas tanpa berbelok. Tanah di bawah kakiku terasa lebih padat, seolah mengeras.

Chen Yu masih berlutut.

Ia tidak bergerak, tidak menunggu pujian, tidak mencari tanda. Napasnya stabil, punggungnya tegak. Pilihannya telah dilepaskan, dan kini ia berdiri di atasnya—meski tubuhnya masih menyentuh tanah.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada perubahan.

Tidak ada suara.

Tidak ada tekanan yang turun dari langit.

Chen Yu mengangkat kepala sedikit. Matanya menyapu ruangan sempit itu, lalu kembali padaku. Ada keraguan tipis di sana, bukan penyesalan, melainkan kehati-hatian.

“Apakah… sudah selesai?” tanyanya pelan.

Aku tidak langsung menjawab.

Di tepi penglihatanku, sesuatu menyala.

Panel itu muncul tanpa suara, tipis seperti bayangan air di kaca. Tidak menyilaukan. Tidak mendesak. Hanya hadir, stabil, seolah telah menunggu saat yang tepat.

Aku menatapnya tanpa bergerak.

Tulisan pertama terbentuk perlahan, satu baris, jelas.

Murid Pertama: Terikat.

Tekanannya halus, namun nyata. Udara di gubuk berubah, bukan menjadi berat, melainkan lebih tenang. Api kecil merapat pada sumbunya, nyalanya mengecil lalu menguat kembali, seimbang.

Chen Yu menegang.

Ia tidak melihat panel itu, namun ia merasakan sesuatu. Bahunya mengeras, lalu perlahan mengendur.

“Ada yang berubah,” katanya pelan.

Aku mengangguk sekali. “Ya.”

Panel itu berdenyut ringan.

Baris berikutnya muncul.

Hubungan Guru–Murid: Ditetapkan.

Tidak ada bunyi lonceng. Tidak ada cahaya yang memancar keluar. Namun dadaku terasa ditekan dari dalam, bukan oleh beban fisik, melainkan oleh keharusan yang tiba-tiba menjadi nyata.

Aku bukan lagi berjalan sendiri.

Chen Yu menelan ludah. Tangannya yang bertumpu di tanah mengepal, lalu terbuka kembali. Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Rasanya,” katanya, mencari kata, “seperti berdiri di tempat yang sama, tapi tidak sendirian.”

Aku tidak menyangkalnya.

Panel itu bergerak lagi.

Kali ini, satu nama muncul.

Sekte Langit Abadi.

Tulisan itu tidak berkilau. Tidak berdenyut. Ia hanya ada, seperti fakta yang sejak awal memang seharusnya demikian.

Aku menatap nama itu lama.

Langit Abadi.

Bukan janji. Bukan klaim. Sebuah penetapan.

Dinding gubuk mengeluarkan bunyi halus, kayu tua berderak pelan. Debu di sudut ruangan jatuh sedikit, lalu diam. Api kecil berkedip sekali, seolah mengakui keberadaan nama itu, lalu kembali tenang.

Chen Yu menatap wajahku.

“Apa itu?” tanyanya.

“Nama,” jawabku singkat.

Ia mengangguk, menerima tanpa bertanya lebih jauh. Nama itu belum berarti apa-apa baginya, dan mungkin memang belum perlu.

Panel itu menambahkan baris terakhir.

Fondasi Sekte: Aktif.

Beberapa simbol kecil muncul di bawahnya, redup, tertutup. Aku tidak menyentuhnya. Aku tidak perlu.

Tekanan di dadaku menetap, tidak lagi menekan, melainkan menempel. Seperti bayangan yang tidak bisa dilepaskan.

Aku menurunkan pandanganku.

“Bangkit,” kataku.

Chen Yu segera berdiri. Lututnya berderak pelan saat ia meluruskan kaki. Ia berdiri di hadapanku, tidak lagi sebagai pemuda yang mencari tempat, melainkan seseorang yang telah memilih untuk menetap—meski tempat itu masih berupa tanah kosong.

“Kau murid pertamaku,” kataku.

Ia menegang sekejap, lalu menunduk sedikit. “Aku mengerti.”

“Kau tidak punya seragam,” lanjutku. “Tidak ada tanda.”

Ia melirik pakaiannya sendiri, lalu menggeleng. “Tidak perlu.”

Aku mengangguk. “Kau tidak akan dilindungi oleh nama sekte ini.”

Ia menatapku lurus. “Aku tidak mengharapkannya.”

Aku memandangnya beberapa detik, memastikan tidak ada keraguan yang tersisa. Lalu aku menggeser satu langkah ke samping, memberi ruang.

“Mulai malam ini,” kataku, “kau berjalan di sini.”

Aku menepuk tanah di lantai gubuk.

“Tempat ini belum layak disebut apa-apa,” lanjutku. “Tapi ia akan mengingat langkah pertama.”

Chen Yu menatap tanah itu, lalu menatapku kembali. Ia mengangguk, lalu melangkah satu langkah ke depan. Telapak kakinya menjejak tanah dengan mantap.

Saat itu, panel di tepi penglihatanku berdenyut sekali lagi.

Tidak ada tulisan baru.

Namun aku tahu—sesuatu telah terkunci, dan sesuatu yang lain telah terbuka.

Aku menatap keluar melalui celah dinding. Malam masih sama. Kota fana tetap berjalan dengan urusannya sendiri. Tidak ada yang menoleh ke gubuk tua ini.

Namun di dalam ruangan sempit itu, sesuatu telah berdiri.

Belum terlihat.

Belum dikenal.

Tapi ada.

Dan cepat atau lambat, dunia tidak akan bisa mengabaikannya.

1
Arceusssxara
ah mataku sakit maaf karena satu paragraf nya panjang amat kalimatnya. 😩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!