Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Ingatan yang tersembunyi
Pagi di rumah sakit terasa lebih hidup dari biasanya. Perawat lalu-lalang, suara alat medis berdenting pelan, dan aroma antiseptik memenuhi udara. Raina berdiri di depan mesin penjual minuman, menimbang cukup lama sebelum akhirnya memilih teh hangat. Semalam ia hampir tidak tidur—memikirkan tatapan Julian, memikirkan bagaimana lelaki itu tampak ingin bertanya banyak hal tapi tak mampu bicara.
Ia menggenggam gelas itu erat sambil berjalan kembali menuju VVIP Suite. Rasanya aneh—Julian sudah sadar, tapi justru membuatnya semakin gugup berhadapan dengannya.
Saat pintu terbuka, Julian sedang duduk setengah berbaring. Wajahnya masih pucat, namun matanya jauh lebih fokus daripada kemarin. Begitu Raina masuk, tatapannya langsung mengarah padanya.
“Pagi,” ucap Raina pelan, meletakkan minuman di meja kecil.
“Aku beli ini… Mungkin kamu butuh.”
Julian mengangguk tipis. Gerakan kecil itu cukup untuk membuat Raina tahu ia mengerti.
Keheningan turun perlahan. Tidak berat, hanya canggung. Julian menatapnya lama, seolah mencoba menyusun potongan ingatan yang masih berantakan. Setiap kali ia ingin membuka mulut, napasnya terdengar terlalu lelah.
Raina buru-buru mengisi kekosongan itu.
“Kamu nggak perlu memaksakan diri bicara. Pelan-pelan aja ya.”
Julian mengangguk sekali lagi. Tatapannya lembut, namun penuh pertanyaan yang belum terjawab. Raina menarik napas—ia sendiri tidak tahu harus bicara apa.
Setelah beberapa menit hening, Julian menggerakkan bibirnya pelan. “Apa yang… terjadi?”
Raina sempat panik, takut menjelaskan sesuatu yang mungkin membuat Julian stres. Ia menunduk, meremas strap tasnya sebelum menjawab.
"Apa kamu ingat sesuatu?"
Julian menggeleng
Raina diam, dia tengah menimbang nimbang apakah harus di ceritakan sekarang?
"Emmm berjanjilah terlebih dahulu setelah mendengar cerita ku, kamu tak akan memaksakan ingatanmu"
Julian mengangguk dengan tatapan datar namun tersimpan rasa penasaran.
“Aku nggak tau harus mulai dari mana,.. Aku pulang kerja malam-malam, terus lihat beberapa orang kayak… buang sesuatu di pinggir jalan. Aku penasaran dengan gerak gerik mereka yang mencurigakan, jadi aku lihat.”
Suara Raina sedikit bergetar. “Ternyata yang mereka buang itu… kamu.”
Julian menatapnya tanpa berkedip.
“A... Aku panik, juga takut. Wajahmu penuh dengan darah,a...aku coba cek nadi kamu ternyata masih hidup, jadi aku langsung manggil pertolongan. Tadinya aku bawa ke klinik, tapi kondisinya kamu parah, jadi mereka rujuk ke sini.”
Ia berhenti sejenak, memastikan Julian masih kuat mendengarkan.
“Kamu nggak papa kan? "Tanya Raina khawatir.
Julian tidak memalingkan tatapannya. Ada kehangatan samar di mata itu—campuran terima kasih dan keterkejutan. Tapi jauh di baliknya, pikirannya berputar cepat.
Darah,Lokasi penemuan. Orang-orang itu.
Tidak ada satu pun yang terdengar kebetulan.
Namun ia tidak bisa menunjukkan kewaspadaan itu di hadapan Raina.
“Aku… di mana sekarang?” tanya Julian lirih.
“Bogor,” jawab Raina. “Rs Bhayangkara Bogor.”
Julian terdiam. Sebuah ketegangan halus muncul di garis rahangnya.
Bogor.
Padahal ia mengingat jelas terakhir berada di Bandung, mengemudi menuju hotel untuk sesi istirahat stelah menunggu kedatangan Vivienne di bandara yang ternyata tak jadi datang karena cuaca buruk.
Bagaimana ia bisa terpental sejauh ini?
Dan siapa yang ingin menyingkirkannya?
Berbagai spekulasi bermunculan di pikiran Julian saat ini.
Rasa curiga itu naik—gelap, dingin, sangat sadar.
Namun ia menekannya kuat-kuat. Belum saatnya.
"Kamu yakin tidak apa apa?" Tanya Raina kembali
Dan untuk pertama kalinya setelah kecelakaan kedua orang tuanya Julian tersenyum, senyum samar tapi cukup terlihat "Ya aku baik baik saja"
"Apa kamu mengingat sesuatu?mung...mungkin nama mu?"
Julian berpura-pura mengerutkan keningnya seolah sedang berfikir.
"Jangan di paksakan, nanti juga pasti ingin kok" Ucap Raina terlihat semakin khawatir saat melihat Julian memegang kepalanya.
Ia bahkan reflek mendekat ke tempat tidur Julian.
Aroma parfum murah namun menyegarkan sekaligus menenangkan langsung terhirup oleh hidung Julian.
"Aku baik baik saja, yang ku ingat hanya nama Julian"
"Apa itu namamu?" Tanya Raina berbinar.
"Aku tidak tau"
"Baiklah... untuk sementara kita anggap saja itu namamu" Raina tersenyum menenangkan.
Beristirahatlah,aku akan duduk di sana"Ia menunjukkan sofa yang tak jauh dari brangkar tempat Julian sekarang.
" Kalo perlu apapun kamu bisa panggil aku "
Lalu Julian mengangguk.
Beberapa jam berikutnya, ruangan kembali hening. Raina duduk di sofa kecil, fokus pada ponselnya. Ia mulai mengedit foto produk, menyusun caption, lalu mengunggah promosi untuk akun affiliate-nya. Gerakannya cekatan; seakan ia sudah terbiasa bekerja sambil menjaga seseorang.
Julian memperhatikannya diam-diam. Ada sesuatu yang menenangkan dari cara Raina bekerja—sederhana, fokus, tidak menuntut apa pun darinya.
Selain itu, pikiran Julian mulai di penuhi dengan banyak kemungkinan,siapa yang berusaha membunuhnya?
Bagaimana kondisi perusahaan sekarang?"
Saat waktu makan siang tiba, Raina pamit cepat untuk membeli makanan.
"Sepertinya sejak Julian sadar atau mungkin sejak aku menemukannya aku jadi semakin banyak berbicara" Batin Raina sambil menuju ke kantin.
Ketika ia kembali, Julian sedang berusaha meraih sendok di nampan, wajahnya menegang karena tubuhnya belum sepenuhnya kuat.
“Eh—jangan dipaksain,” kata Raina buru-buru. “Biar aku bantu.”
Ia menarik kursi, jarak mereka tidak terlalu dekat,namun cukup untuk membantu Julian makan. Raina menyuapkan makanan perlahan, memastikan Julian punya waktu mengunyah dengan nyaman.
Mereka tidak menyadari getaran-getaran halus yang menyelinap di antara keheningan itu—bukan romantis, hanya keakraban kecil yang terbentuk dari kepercayaan.
Setelah makan selesai, Raina duduk kembali. Masih ada sesuatu yang ingin ia tanyakan. Namun ia tahan,ia tak ingin membuat Julian semakin tertekan.
“Apa kamu perlu sesuatu? "
" Tidak ada, sudah cukup terimakasih "Jawab Julian sambil menatap Raina cukup lama.
Situasi kembali hening, Raina yang bingung memulai percakapan, sedangkan Julian pikirannya sudah terpenuhi dengan berbagai macam hal tentang kejadian yang telah dia Lalui.