Zafira adalah perempuan sederhana yang hidup tenang—sampai satu malam mengubah segalanya. Ia dituduh mengandung anak Atharv, pewaris keluarga terpandang.
Bukti palsu, kesaksian yang direkayasa, dan tekanan keluarga membuat kebenaran terkubur.
Demi menjaga nama baik keluarga, pernikahan diputuskan sepihak.
Atharv menikahi Zahira bukan sebagai istri, melainkan hukuman.
Tidak ada resepsi hangat, tidak ada malam pertama—hanya dingin, jarak, dan luka yang terus bertambah.
Setiap hari Zahira hidup sebagai istri yang tak diinginkan.
Setiap malam Atharv tidur dengan amarah dan keyakinan bahwa ia dikhianati.
Namun perlahan, Atharv melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada pada perempuan licik:
Ketulusan yang tak dibuat-buat
Air mata yang disembunyikan.
Kesabaran yang tak wajar.
Kebenaran akhirnya mulai retak.
Dan orang yang sebenarnya bersalah masih bersembunyi di balik fitnah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasil Pemeriksaan
Keesokan harinya, suasana di rumah sakit terasa tegang namun serius. Zafira duduk di kursi ruang tunggu, tangan menggenggam tasnya erat. Napasnya sedikit tertahan, rasa gugup bercampur lelah karena semua tekanan yang selama ini ia rasakan.
Di sampingnya, Atharv berdiri dengan sikap protektif, matanya sesekali menatap Zafira, sorotnya penuh perhatian tapi tetap tegas.
“Tenang saja, Zafira,” ucap Atharv pelan, tangannya menyentuh pundaknya sebentar. “Kita akan memastikan semuanya jelas hari ini. Tidak ada kebohongan, tidak ada fitnah.”
Zafira menarik napas panjang.
“Aku berharap semua ini bisa berakhir, Arthav Aku lelah harus terus-menerus menghadapi gosip dan tuduhan.”
Atharv menatapnya sebentar, lalu menunduk.
“Aku tahu, tapi aku bersamamu. Kita hadapi ini bersama-sama. Tidak ada yang akan membuatmu merasa sendirian lagi.”
Panggilan dari perawat membuat mereka berdua berdiri. Zafira mengikuti perawat masuk ke ruang pemeriksaan, sementara Atharv menunggu di kursi dekatnya, matanya tidak lepas dari Zafira.
Pemeriksaan dimulai. Dokter melakukan beberapa tes, mulai dari pemeriksaan rutin kandungan hingga beberapa pemeriksaan tambahan yang diperlukan untuk memastikan keperawanan dan status kesehatannya. Zafira duduk dengan tenang, walau hatinya tetap berdebar kencang.
“Semua akan terlihat jelas,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Akhirnya, kebenaran akan muncul.”
Atharv duduk di sampingnya, menatap proses pemeriksaan dengan tegang, sesekali menggenggam tangan Zafira untuk menenangkan.
“Jangan khawatir, Zafira. Segala sesuatu akan terlihat, dan semua tuduhan akan berhenti hari ini.”
Beberapa jam kemudian, pemeriksaan selesai. Zafira menatap Atharv dengan napas masih tersengal, menunggu hasil resmi dari dokter. Dokter membuka catatan dan menatap keduanya dengan tenang.
“Tidak ada tanda-tanda kehamilan, dan kondisi kesehatan serta keperawanan Nona Zafira normal,” kata dokter dengan nada profesional. “Semua fitnah yang disebarkan sebelumnya tidak memiliki dasar sama sekali.”
Zafira menarik napas lega, rasa lelahnya perlahan mencair. Air mata tak tertahankan mengalir, tapi kali ini bukan karena sakit atau tekanan melainkan karena lega dan rasa kebenaran yang akhirnya terlihat nyata.
Atharv menatapnya, wajahnya sedikit tegang namun matanya bersinar. Ia meraih tangan Zafira, menggenggamnya erat.
“Kau lihat, Zafira? Aku selalu percaya padamu. Tidak ada kebohongan yang bisa memisahkan kita.”
Zafira menunduk, menahan air mata sambil tersenyum tipis.
“Terima kasih, Arthav. Aku, aku muak harus terus-menerus membela diriku. Sekarang semuanya jelas.”
Dokter menutup catatan, meninggalkan mereka berdua. Di luar kamar, keheningan terasa hangat, seolah dunia baru mulai terbuka bagi Zafira tanpa fitnah, tanpa kebohongan, hanya kebenaran yang menenangkan hati.
Atharv menatapnya, perlahan tersenyum.
“Sekarang, kita bisa mulai memikirkan bagaimana membangun hidup kita, tanpa gangguan siapa pun lagi.”
Zafira mengangguk, dada terasa ringan untuk pertama kalinya dalam bulan-bulan penuh tekanan itu. Meskipun jalan mereka masih panjang, langkah pertama menuju kepercayaan dan kedamaian akhirnya dimulai.
**
Saat hasil itu dibawa ke Keluarga Besar Pranata.
Bagi Zafira dan Atharv, hasil pemeriksaan itu sudah cukup untuk menegaskan kebenaran mereka. Namun, bagi keluarga besar Arthav, rasa penasaran masih tersisa.
Mereka puas dengan bukti yang ada, tetapi ada satu hal yang membuat mereka heran tidak ada tanda-tanda keintiman suami-istri selama beberapa bulan pernikahan.
Nyonya Maharani menatap keduanya dengan tatapan tajam, lalu bertanya dengan nada serius namun penasaran.
“Jadi, selama beberapa bulan pernikahan kalian ini, kalian tidak pernah melakukan hubungan selayaknya suami-istri?”
Zafira menunduk, pipinya memerah, menahan rasa canggung yang tiba-tiba membebani suasana. Atharv menatap keluarganya, rahangnya menegang, lalu menatap Zafira sebentar sebelum menjawab dengan tegas.
“Kami belum pernah,” jawab Atharv singkat, suaranya rendah tapi mantap. “Ini bukan soal tidak mau tapi kami ingin perlahan. Tidak ada yang dipaksakan, dan semuanya harus jelas.”
Keluarga besar saling bertukar pandang, sebagian terkejut, sebagian lagi mulai tersenyum kecil karena memahami bahwa ini menunjukkan kehati-hatian dan rasa hormat Atharv terhadap Zafira.
Zafira menarik napas panjang, menatap Atharv sebentar, dan menambahkan pelan,
“Kami ingin membangun semuanya dengan perlahan, tanpa tekanan dari siapa pun. Aku ingin ini terjadi karena kami memang siap, bukan karena terpaksa.”
Keheningan sejenak tercipta, namun kali ini terasa berbeda tidak ada ketegangan, hanya rasa pengertian yang perlahan mulai tumbuh di antara keluarga dan pasangan muda itu.
Zafira menundukkan wajahnya, pipinya memerah, dan suaranya terdengar gemetar saat akhirnya berbicara.
“T-tapi, aku tidak ingin berharap begitu saja,” ucapnya pelan, menatap lurus ke meja di depannya. “K-karena aku takut, Arthav takut kedepannya akan lebih menyakitkan.”
Atharv menatapnya lama, sorot matanya lembut tapi penuh tekad.
“Aku mengerti, Zafira. Aku juga tidak ingin kau terluka lagi. Tapi kau harus tahu, aku ingin perlahan membuktikan bahwa kau bisa percaya padaku.”
Zafira menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa campur aduk di dadanya.
“Aku, aku ingin mencoba, tapi hatiku sudah terlalu banyak menanggung sakit. Aku tidak mau semuanya sia-sia lagi.”
Atharv meraih tangannya, menggenggamnya dengan lembut.
“Ini bukan tentang sia-sia, Zafira. Ini tentang membangun kembali kepercayaan. Aku akan sabar, dan aku tidak akan memaksamu.”
Zafira menunduk, menatap tangan mereka yang tergenggam, lalu tersenyum tipis, perlahan.
“Baiklah, tapi jangan buatku terlalu berharap terlalu cepat, Arthav. Aku belum siap untuk itu.”
Atharv mengangguk pelan, wajahnya sedikit tersenyum.
“Aku tahu dan aku akan menunggu. Sedikit demi sedikit, sesuai waktumu. Tidak ada yang terburu-buru.”
Nyonya Maharani, yang duduk di samping mereka, tersenyum tipis melihat interaksi itu.
“Kalau begitu perlahan tapi pasti, semuanya akan membaik. Yang penting, kalian saling jujur dan saling menjaga hati masing-masing.”
Zafira menatap Atharv lagi, hatinya berdebar. Meski masih ada ketakutan, tapi untuk pertama kalinya ia merasakan sedikit rasa aman dan hangat dari perhatian yang tulus tanpa paksaan, tanpa fitnah, hanya perlahan membangun kepercayaan di antara mereka.
Nyonya Maharani menatap keduanya dengan serius, lalu suaranya terdengar tegas namun tenang.
“Kalau begitu, untuk beberapa hari ini kalian tinggal saja di Mansion Utama,” ucapnya. Kata-katanya membuat Zafira terkejut, matanya melebar, bibirnya sedikit terbuka.
Atharv menatap Zafira, sorot matanya penuh arti, seolah mengatakan “Ini kesempatan untuk mulai perlahan.”
Nyonya Maharani melanjutkan, suaranya sedikit lembut tapi tetap tegas.
“Semua pendekatan kalian akan saya pantau. Saya ingin memastikan bahwa ini bukan hanya formalitas atau sekadar fitnah. Lebih dari itu, saya benar-benar ingin melihat cucu di keluarga ini suatu hari nanti.”
Zafira tersentak, dadanya berdebar cepat. Ia menunduk, menahan campuran rasa malu, takut, dan sedikit lega.
“C-cucu Ibu?” gumamnya pelan, wajahnya memerah.
Atharv menghela napas, menepuk pundak Zafira perlahan.
“Tenang, kita lakukan perlahan. Tidak ada yang terburu-buru,” bisiknya, menenangkan Zafira.
Zafira menatapnya sebentar, lalu menunduk lagi.
“A-aku akan mencoba. Tapi aku harap tidak ada yang memaksaku lagi.”
Nyonya Maharani tersenyum tipis, matanya bersinar.
“Saya mengerti, Zafira. Jangan takut. saya ingin kalian bahagia, bukan hanya mengikuti aturan keluarga. Tapi ingat, saya ingin melihat usaha kalian untuk saling mendekat. Jangan sia-siakan kesempatan ini.”
Zafira menelan ludah, dadanya masih berdebar. Ia menatap Atharv lagi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, hatinya merasakan sedikit keberanian. Meskipun masih takut, ia tahu bahwa sekarang ada kesempatan untuk membangun kepercayaan dan kedekatan, perlahan tapi pasti.
Atharv menatap Zafira dengan lembut, senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Baiklah mari kita mulai, sedikit demi sedikit,” katanya.
Zafira hanya mengangguk, rasa canggung bercampur lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa langkah kecil mereka menuju kebahagiaan benar-benar mungkin.