NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Tubuh Tania seketika kaku ketika kata-kata Akram menghantam telinganya, pikirannya berputar cepat mencoba mencerna kemungkinan itu. Apakah benar dia hamil? Namun rasanya mustahil selama ini dia tak pernah lupa meminum pil kontrasepsi setiap hari.

“Tania… kau mengandung anakku.” kata Akram dengan senyum penuh tipu daya.

Tania menggeleng dengan cepat, hatinya penuh keyakinan bahwa hal itu mustahil terjadi padanya dia tidak mungkin sampai hamil.

“Tidak mungkin… Kau bohong, Akram! Aku selalu minum pil itu setiap hari. Ini tidak bisa terjadi!” teriak Tania, suaranya bergema penuh kemarahan dan kepanikan.

Bukan rasa iba atau marah, Akram justru tertawa terbahak-bahak. Ada kepuasan aneh yang menggelitiknya saat melihat Tania begitu panik dan ketakutan.

“Faktanya, itu sudah terjadi, Tania. Rawat anak itu sebaik mungkin. Jangan pernah terpikir sedikit pun untuk menyakitinya karena jika kau berani mencoba, aku sendiri yang akan menghabisimu. Paham?” ucap Akram dingin.

“Habisi saja aku kalau mau! Aku tidak peduli lagi!” jerit Tania histeris, air matanya jatuh tanpa bisa ia kendalikan.

Melihat reaksi Tania, Akram segera memerintahkan para bodyguardnya untuk mengikatnya kembali dan memberinya asupan yang cukup. Meski ada rasa khawatir di hatinya karena efek obat tidur yang dikonsumsi Tania bisa berdampak pada bayinya Akram bersikeras melakukan segala cara agar buah hatinya tetap aman dan sehat.

Tania berontak sekuat tenaga, bahkan beberapa kali meludah ke arah dua bodyguard yang mencengkeram tangannya dengan erat. Namun, dia hanyalah seorang wanita biasa, tenaganya tak sebanding dengan tubuh besar kedua pria itu yang siap menahan setiap gerakannya.

Tak lama kemudian, panggilan video dengan Akram terhenti. Dua bodyguard yang tadi menahannya, beserta beberapa teman yang berjaga di luar, sudah pergi, meninggalkan Tania sendiri di kamar itu dengan perasaan campur aduk.

“Ini semua karena Satria… karena Romeo! Dan tentu saja, karena istri sialannya itu! Andai Satria tak menjemput Romeo malam itu, aku pasti sudah punya Romeo sepenuhnya. Dan andai Romeo lebih tegas terhadap anak-anaknya yang merepotkan itu, aku yang sekarang jadi istrinya bukan wanita murahan yang masih kuliah itu!” pikir Tania dengan amarah membara dalam hatinya.

Dia menahan suaranya, takut berbicara terlalu keras. Khawatir Akram menaruh alat penyadap di kamar itu, setiap kata yang ingin ia ucapkan harus dijaga.

“Tunggu saja pembalasanku… aku tidak akan menerima hidup seperti ini, dan janin itu lebih baik aku tak pernah mengakuinya. Dalam hidupku, ia tak pernah benar-benar ada.” gumam Tania penuh tekad.

Kembali pada Romeo, yang kini bersiap menerjang istrinya dengan langkah tegas. Baru kali ini dia benar-benar menyadari betapa menawan dan menggoda Alya, kecantikannya tak terbantahkan, dan aura seksinya sulit untuk diabaikan.

Romeo sudah menyiapkan dirinya, posisi tubuhnya tepat untuk hubungan intim, tapi dia tak segera melangkah. Suaranya dalam hati menegur bagaimana mungkin dia bertindak seperti pria lemah yang memanfaatkan kesempatan di saat situasi memihaknya. 

“Tidak… tidak seperti ini. Aku tidak mau terlihat seperti memanfaatkan situasi, harga diriku akan hancur kalau sampai begitu.” Romeo menggeleng keras, menahan diri dengan tegas.

Menyadari Alya masih terlelap dan bisa saja marah jika mengetahui niatnya tadi, Romeo cepat-cepat turun dari ranjang dengan hati-hati. Entah kenapa, aura Alya malam itu terasa berbeda meski masih muda, pesonanya begitu menggoda dan sulit diabaikan.

Setelah berhasil menjauh dari istrinya, Romeo segera melangkah ke kamar mandi. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah merendam diri dalam air dingin di bathtub, mencoba menenangkan pikiran dan tubuhnya.

“Gila… lama-lama aku bisa gila, padahal dia istriku sendiri. Boleh saja aku minta, aku nggak salah, tapi… aku masih punya harga diri. Bayangkan kalau dia tahu aku diam-diam minta begitu. Arghh, sialan!” geram Romeo sambil menekuk tubuhnya.

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam, dan Romeo sudah memesan makan malam untuk langsung diantar ke kamarnya. Mungkin karena terlalu lama berendam, tubuhnya terasa sedikit tidak nyaman, membuatnya malas untuk turun ke bawah sekadar menikmati hidangan.

Alya, gadis itu, baru saja terbangun. Bulu matanya yang lentik berkedip pelan, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk ke matanya.

“Sudah tidur berapa lama aku ini…” gumamnya pelan, seolah lupa bahwa Romeo sejak tadi diam-diam menatapnya.

“Tidurmu nyenyak sekali, ya?” suara Romeo memecah keheningan, lembut tapi penuh perhatian.

“Eh… Tuan.” bisik Alya gugup, belum sepenuhnya menyadari pakaiannya. Sebuah kain tipis, mirip handuk, melilit di tubuhnya, menutupi dada dan sebagian pahanya saja.

“Apa kaki nya masih terasa sakit?” Ucapnya singkat, menekankan perhatian.

“Hah… kakiku.” gumam Alya saat baru teringat. Ia segera menyingkap selimut yang tadi Romeo letakkan di atas tubuhnya untuk memeriksa kakinya sendiri.

“Ahhh!” teriaknya nyaring, membuat Romeo yang tadinya diam terkejut dan menegang mendengar suara istrinya.

“Ada apa? Kenapa berteriak begitu?” tanya Romeo dengan nada sedikit tegas, matanya menatap Alya penuh kekhawatiran.

Alya menatap Romeo dengan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu matanya beralih ke tubuhnya sendiri yang hanya terselimuti sehelai kain putih tipis, hampir memperlihatkan semuanya sehingga tampak sangat menggoda.

Pikiran gadis itu berputar liar, tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi padanya. Matanya menatap Romeo dengan pandangan kosong, sementara Romeo menatapnya dengan heran, seolah merasakan ada sesuatu yang berubah di antara mereka.

“Tu… Tuan… apakah kita… sudah.....” Alya tersedak kata-katanya, tak mampu menyelesaikan kalimatnya.

Air matanya menetes deras, membasahi wajahnya yang cantik, sementara hidungnya memerah karena menahan tangis.

“Sudah… apa, hmm?” suara Romeo menjadi lembut, menandakan ia mengerti maksud pertanyaan Alya. Sepertinya, mempermainkan istrinya sedikit saja terasa sangat menghibur baginya saat ini.

“A-apa… apa yang tadi kita lakukan?” tanya Alya dengan suara gemetar, jelas terlihat rasa gugupnya.

“Kita… tentu saja kita melakukan sesuatu, lalu kenapa kamu masih bertanya begitu?” goda Romeo dengan senyum tipis. 

Alya terasa lemas begitu mendengar jawaban Romeo, seolah bahunya runtuh dari pundaknya. Harta yang paling ia jaga dalam dirinya kini hilang begitu saja, membuatnya menangis tersedu-sedu, bahunya bergetar hebat menahan emosi yang tak tertahankan.

“Ke-kenapa, Tuan? Orang yang tuan saya kenal melakukan itu tanpa seizinku.” lirih Alya, menatap Romeo dengan pandangan penuh ketakutan dan kebingungan.

“Aku tak butuh izin untuk itu, Alya. Kau istriku, dan aku berhak atasnya.” jawab Romeo dengan suara tenang namun tegas.

“Istrimu? Aku bukan istri, Tuan. Aku hanyalah wanita yang menikah karena kewajiban, di atas kertas saja. Pernikahan ini akan berakhir dalam lima tahun ke depan. Hak yang kau sebut tadi seharusnya tak pernah ada, bukankah itu sudah tertulis dalam perjanjian kita?” tegas Alya, suaranya bergetar menahan emosi.

Ia sadar, suatu saat nanti harus menerima takdirnya sebagai janda. Kini, harta paling berharga dalam dirinya sudah hilang, padahal ia hanya berniat memberikannya kepada orang yang benar-benar mencintainya dan dicintai olehnya.

Romeo merasa kesal mendengar penjelasan Alya barusan. Entah mengapa, ia selalu terganggu setiap kali Alya menyebut soal perpisahan meski sebenarnya ide itu awalnya darinya sendiri. Tetap saja, hatinya tidak nyaman saat Alya melontarkan kata-kata itu padanya.

“Jadi, pernikahan ini… kau sesali?”

“Kalau kau bertanya begitu, jawabanku tidak. Aku benar-benar menyayangi kedua putrimu dengan sepenuh hati. Justru karena mereka, aku mau menerima pernikahan ini, meski awalnya hanya sebagai pengganti pembayaran hutang papaku. Tapi….”

“Tapi… apa maksudmu?” Romeo menyela dengan suara tegas.

“Tapi kalau bukan karena kedua putrimu, aku pasti menyesali pernikahan ini, Tuan. Aku akan menjadi janda, dan orang-orang akan menilai buruk diriku. Apalagi menikah dengan pria kaya seperti Anda… bagaimana aku bisa bertahan di mata masyarakat sebagai janda Anda, Tuan? Status itu akan membuat hidupku semakin sulit. ” jelas Alya dengan suara bergetar.

Romeo terkejut mendengar penjelasan Alya, hatinya tersentuh padahal awalnya ia hanya ingin menggoda istrinya. Mengapa semuanya bisa berakhir seperti ini.

“Kalau begitu, kita tak akan bercerai. Status itu tak perlu kau pikirkan lagi.” ujar Romeo berusaha terdengar tenang, meski dalam hatinya ia merasakan kecemasan yang entah dari mana datangnya.

“Mudah sekali bagi Anda mengatakan itu, Tuan. Kau seakan ingin mengurung hidupku selamanya di sisimu. Aku juga berhak bahagia, bukan hanya si kembar! Aku ingin menikah dengan pria yang benar-benar kucintai, yang bisa membalas cintaku. Hidupku akan hampa jika harus menjadi istrimu sampai akhir hayat, Tuan.” ujar Alya dengan tawa sinis, matanya menatap Romeo penuh ejekan sambil menggeleng pelan.

“Apakah kau punya kekasih? Siapa pria yang mencintaimu? Di mana dia sekarang?” tanya Alya. Mendengar kata pria amarah Romeo langsung membara, menekan dadanya seolah ingin meledak.

Alya terdiam, merasa aneh melihat ekspresi Romeo yang tampak menahan amarah dengan susah payah.

“Jawab, Alya! Siapa pria yang mencintaimu? Apakah kau juga mencintainya? Apakah pria itu Zaki, yang waktu itu di kampusmu? Jawab aku, Alya… sekarang!” desak Romeo, suaranya meninggi sedikit, terdengar seperti bentakan.

“Tak perlu kau tahu… yang jelas, Tuan, kau telah merusak hidupku sepenuhnya. Semoga tak ada nyawa yang lahir dari rahimku.” ujar Alya menatap Romeo dengan tajam sebelum melangkah pergi menuju kamar mandi tanpa menoleh lagi.

Romeo terkejut luar biasa, ia tak pernah menyangka Alya akan berkata demikian. Lebih mengejutkan lagi, sepertinya Alya sama sekali tak ingin mengandung anak darinya.

“Belum aku sentuh pun dia sudah seperti ini… aku bahkan belum menyentuhnya. Tapi kenapa setiap kata-katanya terasa menusuk hatiku?” gumam Romeo dalam hati, penuh perasaan campur aduk.

Rasa lapar di perut Romeo tiba-tiba menghilang. Ia tak menyangka Alya ternyata sepeka dan seberat rasa bencinya padanya. Romeo semula mengira, dengan melunasi hutang papanya, Alya akan menerima keadaan dengan tenang. Belum lagi nanti saat perpisahan mereka, ia sudah menyiapkan sebagian harta yang bisa digunakan Alya, termasuk pembagian harta gono-gini yang akan menjadi haknya dari semua yang dibeli Romeo selama pernikahan mereka.

Namun, semua itu ternyata tak berarti apa-apa bagi Alya. Haruskah Romeo melepaskan Alya demi kebahagiaannya, meski itu berarti si kembar kehilangan sosok ibunya.

Setelah membersihkan diri, Alya tanpa sengaja menatap ke arah meja yang sudah tertata rapi dengan berbagai hidangan makan malam.

Matanya menoleh ke arah Romeo yang sedang asyik memainkan ponselnya, kemudian pandangannya kembali tertuju pada hidangan yang tersaji di meja.

“Dia tidak makan… atau mungkin dia menungguku.” gumam Alya pelan, matanya masih menatap Romeo.

Alya segera duduk di kursi yang tersedia, membayangkan bahwa sebentar lagi Romeo pasti akan menyusulnya. Namun sampai sekarang, dia masih tetap diam, asyik memainkan ponselnya.

“Apakah dia nggak mau makan, ya? Atau aku saja yang makan makanan ini? Tapi… apa dia nggak mau makan bersamaku?” gumam Alya, bergulat dengan pikirannya sendiri.

Matanya kembali menatap suaminya, namun tidak terlihat sedikit pun tanda bahwa Romeo menyadari keberadaannya.

Karena lelah dengan pikirannya sendiri, Alya bangkit dan melangkah mendekati Romeo. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi, tapi ia masih menahan diri menunggu suaminya terlebih dahulu.

“Tuan… apakah Anda belum makan?” tanya Alya dengan suara lembut, hati-hati menatap Romeo.

“Belum… kau makan saja dulu.” jawabnya dengan suara dingin, tanpa menatap Alya.

Alya menghela napas panjang. Kalau begini terus, rasanya ia tak akan punya selera makan sama sekali. Apalagi ia tahu Romeo pasti sudah kelaparan. Dengan berat hati, ia bangkit dan naik ke ranjang, menutupi tubuhnya dengan selimut hingga leher dan membelakangi suaminya.

“Kenapa dia tidak makan?” gumam Romeo dalam hati, matanya menatap Alya yang sudah bersiap untuk tidur.

Menyadari Alya menolak makan karena dirinya, kini giliran Romeo yang bangkit dan melangkah mendekati sang istri.

“Alya… tolong, makanlah.” pinta Romeo dengan suara lembut, menatapnya penuh perhatian.

Tanpa disadari, tangannya mulai menyentuh dan mengelus lembut kepala Alya, membuatnya terkejut sekaligus tersentuh oleh perlakuan manis itu.

Alya segera memutar tubuhnya menghadap Romeo, menatap suaminya dengan seksama, seakan mencoba memastikan sesuatu.

“Saya  minta maaf ya.” Ucapnya singkat, penuh penyesalan.

“Kenapa harus minta maaf?” 

“Maaf atas semua rasa sakit yang saya berikan padamu.” katanya terdengar penuh penyesalan.

“Sudahlah, Tuan. Hal semacam ini sudah terlalu biasa bagiku.”

“Sebenarnya… saya belum menyentuhmu.” ungkap Romeo polos.

“Maksudnya gimana?”

“Alya, aku belum menyentuhmu. Aku tidak akan pernah menyentuhmu saat kau tidak sadar. Maafkan aku… tadi aku cuma ngomong sembarangan.” jelas Romeo dengan jujur, pasrah menghadapi apa pun reaksi Alya.

“Artinya aku masih perawan, benar begitu?” gumam Alya penuh rasa ingin tahu.

“Betul, kamu masih perawan. Aku tidak akan main-main denganmu.” kata Romeo, padahal sebelumnya ia ingin sekali menyentuh Alya.

“Tuan, kau tidak bohong, kan?” tanya Alya dengan mata berbinar.

Romeo hanya menggeleng pelan, entah mengapa hatinya terasa nyeri melihat Alya begitu senang dengan hal ini.

“Akhirnya… aku nggak bakal benar-benar jadi janda! Nanti baru jadi janda perawan.” sorak Alya girang.

“Sepertinya kamu senang sekali kalau kita sampai berpisah, ya?” nada menantang tapi lembut.

“Ah…” gumam Alya canggung, terlalu bersemangat mengetahui fakta itu.

"Bagaimana kalau kita hapus semua yang lalu dan mulai lagi dari nol?" Romeo bertanya, suaranya terdengar lirih tapi penuh maksud, seolah kata-kata itu meluncur tanpa dia sadari.

"Apa… maksudmu, Tuan?" Alya tergagap, hatinya berdebar tak menentu, bingung kenapa dirinya bisa secepat ini kehilangan kendali.

"Tidak, lupakan saja." Romeo menepisnya pelan, wajahnya datar tapi matanya tetap mengamati, lalu bersiap melangkah pergi.

"Maaf, Tuan… maksudmu apa tadi?" Alya segera meraih pergelangan tangan Romeo, matanya menatap penuh penasaran, berusaha menangkap maksud di balik kata-katanya.

"Ah, lupakan saja. Anggap saja aku tidak pernah berkata apa-apa," jawabnya dengan nada dingin, matanya tak sedikit pun menatap Alya.

Alya merasa ada sesuatu yang disembunyikan Romeo, sebelumnya ia sama sekali tak mengerti apa maksudnya.

"Aku tadi mendengar nya tadi, cuma Aku ingin memastikan, apa yang kudengar itu benar atau tidak." ucapnya hati-hati, matanya menatap lawan bicara penuh pertanyaan.

"Bagaimana kalau kita mulai semuanya dari awal lagi?" Romeo bertanya, suaranya lembut tapi penuh maksud, seolah menunggu jawaban yang ia harapkan.

"Ini… tentang hubungan kita, kan?" Alya menegaskan, suaranya lembut tapi penuh keyakinan, matanya menatap Romeo mencari kepastian.

"Mulailah kita membangun hubungan yang sehat. Ajari aku cara mencintaimu… dan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." ucap Romeo, lalu mengangguk pelan, menegaskan tekadnya.

"Tapi… kenapa tiba-tiba begini? Bukankah kita…" suaranya tercekat, mata Alya menatap penuh kebingungan. 

"Sudah cukup lama aku merenung tentang ini… tapi semuanya masih berputar di kepalaku. Aku perlu meyakinkan diri sendiri terlebih dahulu, apakah aku benar-benar layak menjadi seorang suami." tutur Romeo, suaranya serius namun lembut.

"Apakah ini… tidak terlalu terburu-buru?" Alya bertanya pelan, suaranya bergetar sedikit, hatinya dipenuhi keraguan takut semua ini hanyalah permainan Romeo.

"Tidak… aku sudah yakin dengan semua ini. Untuk surat perjanjian itu, besok akan kurobek semuanya. Semua kertas itu tak ada artinya lagi. Kamu… akan menjadi istriku yang sesungguhnya, Alya Andreas." ucap Romeo dengan keyakinan yang tak tergoyahkan, matanya menatap Alya penuh ketegasan dan cinta.

"Is-istri yang sebenarnya." Alya tergagap, dadanya berdebar kencang, hatinya dipenuhi campuran gugup dan tak percaya.

"Selamat datang, Alya Andreas… kini kamu adalah istriku, untuk selamanya. Selamat datang di hidupku, sayang," ucap Romeo lembut, matanya menatap Alya penuh kepastian dan cinta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!