Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat yang Akhirnya Diberikan
Pagi itu, Elang bangun subuh.
Belum ada suara ayam berkokok. Belum ada suara orang lewat di gang. Cuma... suara angin yang menyahuti dedaunan pelan.
Dia nggak tidur sebenernya.
Semalaman melek. Ngeliatin amplop putih yang ada di meja belajar—meja kayu bekas yang catnya udah mengelupas di mana-mana.
Amplop itu... kayak bom waktu.
Siap meledak.
Siap menghancurkan... dirinya sendiri.
Tapi Elang udah bulat tekadnya.
*Hari ini.*
*Hari ini aku kasih surat itu.*
*Hari ini... aku akhiri semua rasa sakit ini.*
Dia bersiap. Mandi air dingin—keran air di kamar mandi rumahnya emang cuma bisa ngeluarin air dingin, air hangat cuma mimpi. Pake seragam. Rapi. Lebih rapi dari biasanya.
Rambutnya dia sisir. Kacamatanya dia lap sampai bersih banget.
Dia ngeliat cermin.
Ngeliat wajahnya sendiri.
Wajah yang... biasa. Nggak ganteng. Nggak menarik.
Wajah yang... mudah dilupakan.
*Tapi... setidaknya hari ini... aku harus coba.*
Elang ambil amplop itu dari meja. Pegang erat. Masukin ke saku jas seragamnya.
Tangannya... gemetar.
Keringat dingin mulai keluar.
Jantungnya... berdegup kencang banget. Terlalu kencang. Kayak mau meledak.
Dia jalan keluar kamar. Ke ruang makan kecil. Ibunya lagi masak—nasi goreng sisa kemarin.
"Pagi, Nak. Mau sarapan?"
"Nggak usah, Bu. Aku nggak napsu makan."
Ibunya noleh. Khawatir. "Kamu sakit?"
"Nggak kok. Cuma... nervous. Ada... ada hal penting hari ini."
Ibunya tersenyum kecil. "Ya udah. Semangat ya, Nak. Ibu doa-in."
Elang... tersenyum tipis. "Makasih, Bu."
Dia keluar rumah. Naik sepeda butut—sepeda ontel warisan kakeknya yang udah berkarat di beberapa bagian. Kayuh pelan menuju sekolah.
Pagi itu... langit masih gelap. Matahari belum terbit sepenuhnya. Udara dingin nyiksa kulit.
Tapi Elang... nggak peduli.
Dia cuma fokus sama satu hal.
*Aruna.*
---
Elang sampai di sekolah jam setengah enam pagi.
Gerbang baru dibuka sama pak satpam. Gedung sekolah masih sepi. Cuma ada beberapa guru yang dateng lebih awal.
Elang parkir sepedanya di tempat parkir yang masih kosong banget. Jalan pelan masuk ke halaman sekolah.
Tangannya masuk ke saku jas. Meraba amplop itu.
Masih ada.
Masih aman.
Dia jalan ke taman belakang sekolah—tempat yang sepi, jarang ada orang, kecuali... kecuali Aruna.
Aruna sering ke situ sebelum bel masuk. Duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga besar. Nulis di jurnalnya. Sendirian.
Elang tau itu karena... karena dia sering menguntit. Nggak, bukan menguntit. Cuma... observasi. Dari jauh. Tanpa Aruna tau.
Kedengerannya creepy. Elang tau. Tapi... dia nggak punya cara lain buat... buat deket sama cewek itu tanpa keliatan bodoh.
Elang bersembunyi di balik pohon besar yang ada di seberang bangku kayu itu. Nungguin.
Nungguin Aruna dateng.
Menit demi menit berlalu.
Jantung Elang makin kencang. Tangannya makin basah keringetan. Napasnya... pendek-pendek.
*Tenang. Tenang. Lu bisa. Lu harus bisa.*
Tapi... dadanya nggak tenang.
Dadanya kayak ada drum yang dipukul keras-keras nonstop.
---
Sepuluh menit kemudian.
Suara langkah kaki pelan.
Elang ngintip dari balik pohon.
Aruna.
Gadis itu jalan pelan dengan kepala sedikit nunduk. Jilbab putih rapih. Seragam bersih. Tas di pundak. Dan... jurnal cokelat dipeluk di depan dada.
Aruna duduk di bangku kayu. Taruh tas di samping. Buka jurnalnya. Keluarin pulpen dari kantong baju.
Mulai nulis.
Nulis dengan wajah... tenang. Tenang yang damai. Tenang yang... cantik.
Elang... ngeliat itu semua.
Ngeliat dari jarak sepuluh meter.
Dan dadanya... sakit.
Sakit karena... karena dia tau ini mungkin terakhir kalinya dia bisa ngeliat Aruna dengan perasaan penuh harapan.
Setelah kasih surat itu...
Setelah Aruna baca...
Setelah Aruna tolak dia...
Semuanya akan berubah.
Semuanya akan... berakhir.
*Sekarang.*
*Sekarang atau nggak akan pernah.*
Elang keluar dari balik pohon. Pelan. Kakinya gemetar parah. Setiap langkah... berat banget. Kayak jalan di atas pisau.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Jarak makin deket.
Lima meter.
Empat meter.
Tiga meter.
Aruna belum sadar ada orang deketin.
Elang... berhenti.
Tangannya masuk ke saku. Keluarin amplop itu. Pegangan erat sampai amplop kusut dikit.
Napas dalam.
"A-Aruna..."
Suaranya keluar—pelan, gemetar, nyaris nggak kedengeran.
Aruna... menoleh.
Kaget.
Matanya melebar. Pulpennya hampir jatuh.
"I-iya?" jawabnya pelan, bingung.
Elang berdiri di situ. Jarak tiga meter. Wajahnya merah padam. Telinganya panas. Tangannya gemetar pegang amplop.
Aruna... ngeliat cowok itu.
Cowok berkacamata tebal. Kurus. Seragam yang kegedean dikit. Rambut agak acak-acakan meskipun udah disisir.
*Siapa ya...*
Terus... Aruna ingat.
*Oh. Dia. Cowok yang nolongin aku waktu kejadian air comberan itu.*
"A-aku... aku Elang. Elang Alfarizi. Kelas sebelas IPA 2," kata Elang terbata-bata, suaranya gemetar parah.
Aruna mengangguk pelan. "Iya... aku ingat kamu. Kamu yang nolongin aku waktu... waktu kejadian lumpur itu. Terima kasih ya... maaf aku belum sempet ngucapin terima kasih langsung." Aruna senyum kecil—senyum yang... tulus.
Elang... jantungnya hampir copot.
*Dia... dia inget aku...*
*Dia senyum... ke aku...*
Tapi... dia nggak boleh salah paham. Dia tau itu cuma senyum terima kasih. Bukan... bukan senyum cinta.
"A-ada yang bisa aku bantu?" tanya Aruna lagi, masih bingung kenapa cowok ini datengin dia pagi-pagi.
Elang... mengulurkan amplop itu.
Tangannya gemetar parah. Amplop itu hampir jatuh.
"I-ini... ini buat kamu. T-tolong... tolong dibaca."
Aruna... ngeliat amplop itu.
Amplop putih polos. Di depannya ada tulisan tangan rapi tapi sedikit gemetar: *"Aruna"*.
Aruna menatap Elang. Ada keraguan di matanya.
*Surat? Surat apa ini?*
Tapi... dia ngeliat wajah Elang. Wajah yang... pucat. Ketakutan. Gemetar.
Dan... Aruna ngerasa... nggak enak nolak.
"Terima kasih..." kata Aruna pelan, menerima amplop itu dengan hati-hati.
Elang... langsung berbalik.
Cepat.
Hampir lari.
Kakinya jalan cepet banget keluar dari taman. Jantungnya mau meledak. Napasnya ngos-ngosan.
Dia nggak sanggup.
Nggak sanggup ngeliat reaksi Aruna pas baca surat itu nanti.
Nggak sanggup ngeliat... penolakan di mata gadis itu.
Elang lari sampe ke belakang gedung olahraga. Tempat yang sepi. Nggak ada orang.
Dia bersandar di dinding. Napasnya pendek-pendek. Tangannya gemetar. Matanya... panas.
*Udah. Udah selesai. Aku udah kasih...*
*Sekarang... tinggal nunggu...*
*Nunggu... penolakan.*
---
Sementara itu.
Di taman belakang.
Aruna duduk di bangku. Ngeliat amplop putih di tangannya.
*Surat?*
*Dari... Elang?*
Aruna... bingung. Kenapa cowok itu kasih surat?
Tapi rasa penasaran lebih besar dari kebingungan.
Aruna buka amplop itu pelan. Dalemnya ada selembar kertas dilipet rapi.
Aruna buka lipatannya.
Tulisannya... rapi. Tapi ada bagian-bagian yang gemetar. Kayak ditulis sambil nangis. Atau... sambil takut.
Aruna mulai baca.
---
*Aruna,*
*Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku bahkan tidak yakin kamu mengenal aku. Tapi aku mengenalmu—sudah lama. Sejak awal semester, sejak pertama kali aku melihatmu di upacara bendera.*
*Aku tahu ini akan terdengar aneh. Aku tahu aku bukan siapa-siapa. Aku hanya cowok cupu yang bahkan tidak pernah berani menyapamu. Tapi... aku harus jujur, sebelum terlambat.*
*Aku menyukaimu, Aruna. Aku menyukai caramu menatap hujan, caramu tersenyum kecil saat membaca buku, caramu yang selalu membawa jurnal cokelat itu kemana-mana. Aku tahu kamu punya luka. Aku tahu kamu sering sedih. Dan aku... aku ingin sekali bisa jadi seseorang yang bisa menghapus kesedihanmu.*
*Tapi aku tahu aku bukan orang itu. Aku tidak sekeren Dhira. Aku tidak sepemberani dia. Aku hanya... aku.*
*Aku tidak berharap kamu akan menerimaku. Aku cuma ingin kamu tahu—ada seseorang yang melihatmu, yang menganggapmu berharga, yang berpikir kamu adalah orang paling istimewa yang pernah dia lihat.*
*Maaf kalau ini mengganggumu. Aku hanya ingin jujur sekali saja dalam hidupku.*
*— Elang*
---
Aruna... selesai baca.
Tangannya... gemetar pegang kertas itu.
Matanya... panas.
Air mata... keluar.
Tapi bukan air mata bahagia.
Air mata... sedih.
Sedih yang... nyesek banget.
Karena...
Karena Aruna tau dia nggak bisa membalas perasaan Elang.
Hatinya... hatinya udah penuh sama Dhira.
Udah nggak ada ruang buat orang lain.
Aruna baca lagi kalimat terakhir itu.
*"Aku cuma ingin kamu tahu—ada seseorang yang melihatmu, yang menganggapmu berharga, yang berpikir kamu adalah orang paling istimewa yang pernah dia lihat."*
Dadanya... sesak.
*Elang... kamu... kamu orang yang baik...*
*Kamu tulus...*
*Tapi aku... aku nggak bisa...*
*Maafkan aku...*
Aruna melipat surat itu perlahan. Hati-hati. Kayak melipat sesuatu yang... berharga tapi menyakitkan.
Dia masukin surat itu ke dalam jurnalnya. Antara halaman-halaman yang penuh tulisan tentang... Dhira.
Dan air matanya... jatuh.
Jatuh ke halaman jurnal yang terbuka.
Noda basah di atas tulisan: *"Aku mencintai Dhira. Aku tahu cinta ini mustahil. Tapi aku nggak bisa berhenti..."*
Aruna bisik pelan.
"Elang..."
Suaranya bergetar.
"Maafkan aku..."
---
Bel masuk berbunyi.
Anak-anak mulai berdatangan. Suara riuh di koridor. Suara tawa. Suara ngobrol.
Tapi Aruna... masih duduk di bangku itu.
Sendirian.
Peluk jurnalnya erat.
Dan nangis diam-diam.
Nangis untuk seseorang yang dia harus sakiti.
Nangis untuk ketulusan yang harus dia tolak.
Nangis karena...
Karena dia tau betapa sakitnya jadi Elang sekarang.
Karena Aruna... juga ngerasain hal yang sama.
Mencintai seseorang yang nggak mencintainya balik.
Dan sekarang...
Sekarang dia harus ngelakuin hal yang sama ke orang lain.
Harus nolak.
Harus nyakitin.
Meskipun... meskipun dia nggak mau.
*Ya Allah...*
*Kenapa cinta... selalu sesakit ini...*
---