NovelToon NovelToon
Pria Manis Yang Ku Benci

Pria Manis Yang Ku Benci

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:214
Nilai: 5
Nama Author: ScarletWrittes

Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Di lain sisi, Arnold tidak respect ternyata hari ini ada ulang tahunnya. Tetapi kenapa dirinya tidak sadar, ya, bahwa hari ini adalah hari spesialnya?

Bahkan pasangannya sendiri pun tidak mengucapkan ulang tahun. Walaupun sebenarnya dirinya juga belum lama berpacaran dengan Alia, tapi seenggaknya Alia mengingat ulang tahun sang pacar tanpa harus dikasih tahu terlebih dahulu.

Padahal ulang tahunnya Arnold sudah terpampang di mading dengan jelas. Bahkan semua grup OSIS, bahkan guru, tahu ulang tahunnya Arnold.

Tapi tidak masalah bagi Arnold. Penting atau tidak pentingnya hari ulang tahun, yang penting tetap ada yang mengingat dan selalu dirayakan tiap tahunnya. Itu sudah cukup bagi Arnold.

“Makasih semuanya, tapi tetap sih saya marah. Ini mading siapa yang rusakin? Saya mau tahu siapa yang ngerusakin mading ini.”

“Itu emang udah rusak kok, Kak. Itu mading tahun kemarin. Lagian kita juga nggak mungkin lah ngerusakin mading yang udah Kakak buat dengan susah payah. Maaf ya, Kak, kalau misalkan kita iseng sama Kakak. Tapi kita beneran support Kakak untuk menjadi ketua OSIS kita.”

“Astaga, saya sampai kaget. Saya kira ini mading yang kemarin saya buat itu loh, selama berbulan-bulan. Ternyata bukan, ya. Kalian berhasil membuat saya spot jantung. Makasih, ya.”

Semuanya tertawa terbahak-bahak dan seketika Arnold lupa dengan janjinya kepada Alia, sampai akhirnya Alia pergi duluan tanpa menunggui Arnold.

Sepertinya Alia marah kepada Arnold yang sudah menunggu berjam-jam, tapi tidak ada hasilnya dan tidak ada kabar satupun dari Arnold.

Perasaan Alia sebenarnya tidak kecewa kepada Arnold, hanya merasa kesal dan tidak habis pikir aja mengapa seorang Arnold bisa tega-teganya membuat sang wanita menunggu terlalu lama, sampai hampir 3 jam.

Tapi dalam waktu 3 jam itu, Alia sudah pergi duluan ke TKP, di mana sudah janji dengan orang tuanya. Ia tidak menunggu Arnold lebih lama.

Namun bila Alia menunggu Arnold selama 3 jam, itu pasti akan membuat Alia marah kepada Arnold. Akan tetapi, Alia juga tidak punya hak untuk marah kepada Arnold.

Dirinya juga tahu bahwa sang pria adalah pria yang sibuk, bukan pria yang tidak ada kegiatan. Sang wanita pun harus sabar menunggu sang pria.

Arnold yang baru sadar dan teringat dengan sang wanita akhirnya merogoh kantong celananya, lalu mengeluarkan HP-nya. Ia melihat banyak pesan dan juga telepon yang tidak terjawab dari Alia.

“Aduh, marah dia cewek gue. Gue harus telepon dia nih sekarang biar dia nggak marah sama gue.”

Arnold mencoba untuk telepon Alia, tetapi tidak diangkat karena handphone Alia sedang dalam mode senyap. Jadi Alia tidak tahu bila ada telepon atau notifikasi yang berdering.

“Tuh kan dia beneran marah. Aduh, pusing deh gue. Ya udahlah, biarin aja dulu. Biar dia marah, tapi jangan lama-lama marahnya. Biarin aja dulu, besok mungkin bakal gue hubungin. Atau enggak, coba gue jemput kali ya di rumahnya.”

Sampai di pertemuan di tempat TKP orang tua Alia.

“Halo, Ma, Pa.”

“Kenapa mukanya ditekuk gitu? Udah jelek, ditekuk gimana nggak tambah jelek coba.”

“Apa sih, Mah. Masih marah aja sama aku. Lagian aku bingung nih sama Mama. Kapan sih kita baikan? Kalau marahan terus kan jadi nggak enak, jadi nggak bisa bercanda kita.”

“Kamu bucin aja sama pria kamu. Ngapain kamu mau bercanda sama Mama? Lagian memang penting bercanda sama Mama?”

Alia hanya diam, tidak berkata apa-apa. Tapi mamanya merasa kalau dirinya sudah keterlaluan kepada anaknya itu.

“Ya udah, jangan ngambek. Mama bercanda doang kali. Kamu mau pesan makanan apa? Sama pesan, kalau misalkan makanannya nggak habis, lihatin aja, bakal Mama omelin.”

“Mama mah galak sama aku. Emang Mama sudah nggak sayang aku, ya? Aku salah apa coba sama Mama?”

“Bukan nggak sayang. Mama sayang kok sama Alia. Kalau nggak sayang, mah, udah Mama tinggal dari kapan tahu kali.”

“Terus kenapa Mama tega sama Alia, seakan Alia kayak tidak penting untuk Mama?”

Mama hanya menggeleng kepala, begitu juga dengan Papa. Papa sengaja nggak mau buka suara karena tahu bagaimana sikap Alia.

Alia mencoba melihat kedua orang tuanya. Tetapi yang peduli hanya mamanya, sedangkan papanya hanya diam, cuek, dan cool kayak kulkas.

“Ya udah deh, aku makan apa aja. Daripada kena semprot.”

Mama memberi jempol kepada Alia. Alia hanya diam dan senyum saja kepada Mama.

Setelah makanan datang, akhirnya Alia makan dengan tenang dan tertib.

Dirinya sudah tidak berani lagi untuk merengek kepada mamanya, karena sudah tahu pasti mamanya bakal membela papanya, nggak membela dia.

Selesai makan, Mama melihat ke arah Alia. Tetapi Alia tidak melihat ke arah mamanya karena Alia sangat capek dengan mamanya sendiri.

“Kamu kenapa lagi, Al? Marah lagi sama Mama? Emang nggak capek apa marah terus?”

“Aku nggak marah kok. Aku diam aja. Emang aku terkesan kayak marah, ya, Ma?”

“Yaiyalah. Kalau kamu nggak marah, muka kamu nggak bakal manyun ketekuk gitu. Ada apa sih sebenarnya?”

“Mama sudah pernah liat Arnold, ya, sebelumnya?”

Mama terdiam saat Alia berkata demikian. Tetapi Mama tetap santai menjawab pembicaraan Alia kepadanya.

“Waktu kamu dihukum sekolah kan Mama ketemu dia. Kenapa kamu nanya lagi? Emang kamu lupa, atau kamu mau dihukum lagi biar bisa Mama ketemu si pria kamu itu?”

“Masa sih? Kalau aku lihat sekarang Mama lebih sering ketemu dia tanpa sepengetahuan aku. Nggak apa-apa sih kalau emang Mama sering ketemu. Tapi aku takut aja dia jadi takut sama Mama.”

Mama hanya diam dan mengerutkan dahinya. Tanpa sadar, Mama melihat ke arah Alia sambil menatap dengan dalam.

“Pacaran terus, belajar yang benar. Jangan pacaran terus. Mau jadi apa kamu kalau pacaran terus?”

“Mana ada aku pacaran. Aku belajar kok. Aku ketemu Arnold kalau di luar sekolah aja. Kalau nggak di luar sekolah, ngapain aku sama dia.”

“Masa Mama nggak percaya sama kamu? Kamu pasti main terus kan sama cowok kamu, sampai lupa waktu.”

Alia hanya mengerutkan dahi serta meronta dalam hati. Walau Mama tahu dirinya marah, Mama tidak membenarkan sifat Alia yang salah itu.

Sampai di rumah, Papa masih mendiamkan Alia. Tapi Alia berharap bisa berbicara santai dengan Papanya. Alia mencoba untuk memanggil Papa, tetapi Papa tidak menghiraukan Alia.

Alia mencoba untuk berdamai dengan Papanya, tetapi kayaknya Papanya susah untuk diajak berdamai.

Papanya pergi begitu saja tanpa memanggil Alia. Walaupun Alia sudah di depan mata, tetapi Papanya tidak melihat dirinya, seolah-olah hanya dilihat seperti tembok.

Alia yang didiamin seperti itu jadi marah dan tidak terima. Tapi sekali lagi, balik dirinya tidak bisa marah karena lelah dengan perasaan yang ada.

“Sudahlah, percuma. Kalau Papa lagi marah paling susah untuk dibujuk. Mendingan aku ke kamar aja daripada aku sakit hati sendirian.”

Sampai di kamar, Alia langsung menjatuhkan badannya ke tempat tidur. Tanpa sadar ada notifikasi kesukaan Alia.

Alia melihat, dari siapa notif itu berada. Ternyata dari Arnold, sang pujaan hati.

Tidak lama, Alia melihat isi pesan itu sambil tersenyum, membuka pesan dari Arnold.

“Kamu lagi apa? Tumben ini tuan putri aku susah banget diganggu. Padahal aku kangen banget seharian sama kamu.”

“Sejak kapan kamu jadi orang manis? Pasti ada maunya. Ada apa kamu, ha?”

“Gak ada maunya kok. Aku cuman mau tahu kamu ngapain, itu doang, sesimple itu. Emang aku nggak boleh tahu, ya, kamu lagi ngapain?”

“Bukan nggak boleh tahu. Abis kamu tiba-tiba aneh gitu kan aku jadi penasaran ada apa gitu.”

Arnold hanya senyum melihat isi pesan dari Alia, walau sebenarnya ada hal yang mau Arnold bicarakan serius dengan Alia.

“Al.”

“Apa?”

“Menurut kamu, apa hubungan kita bisa selamanya apa nggak?”

Alia yang mendengar itu bingung dan nggak tahu harus jawab apa, karena dirinya sendiri aja merasa seperti tidak ada keberanian untuk berbicara.

“Kamu marah, ya, gara-gara aku nanya kayak gitu?”

Alia hanya diam aja, nggak membalas pesan dari Arnold. Walau sebenarnya dirinya juga penasaran ada apa dengan Arnold sebenarnya.

Arnold merasa nggak enak kepada Alia. Padahal Arnold hanya ingin bertukar pikiran, tetapi dirinya salah tanggap. Ternyata Alia malah tidak mau tahu isi hati Arnold apa.

Keesokan paginya, di meja makan, Mama bingung ada apa dengan muka Alia yang masih ditekuk. Sampai tidak bisa berkata apa-apa, ingin berbicara, tapi Alia sudah pergi ke sekolah duluan dan berpamitan dengan Mama dan Papanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!