Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03
Samuel, dia adalah putra pertama dari keluarga Forget yang terkenal kaya, dia punya seorang adik perempuan.
Keluarga Forget dan juga Amores bersahabat sejak lama karena terjalin nya kerja sama antara papa nya Samuel dan papa nya Sofia.
Dua bulan lalu atas persetujuan kelaurga, Sofia dan Samuel yang di katakan telah lama saling jatuh cinta akhirnya bertunangan.
Namun ternyata Tara juga menyukai Samuel, dia melakukan segala cara untuk mendapatkan laki-laki tersebut termasuk menyerahkan tubuh nya kepada Samuel yang ternyata gila perempuan.
"Kak Samuel, jangan diam saja, ayo pikirkan bagaimana caranya pertunangan kalian bisa di batalkan dan kau harus menikah dengan ku," kata Tara memaksa Samuel.
"Tenang lah sayang, aku mencintaimu aku sangat mencintaimu kau tenang dan bicarakan semua ini dengan mama mu, aku tau mama mu mungkin punya solusi nya," jawab Samuel sambil mengelus rambut Tara.
"Benar, kenapa aku sampai melupakan mama ya? Ya kak, bagaimana kalau kita pulang sekarang, aku ingin segera bertemu dengan mama," ungkap Tara dengan penuh semangat.
"Sabar sayang, kita kan sekarang sedang di luar negeri untuk liburan, besok kita akan pulang, hari ini kita jalan-jalan dulu saja," ujar Samuel sambil memanja kan dirinya di samping Tara.
Melihat itu Tara pun tersenyum, dia tau kalau kini Samuel telah semakin cinta dengan nya dan dia merasa kalau dirinya memang selalu bisa mendapatkan apapun yang dia inginkan.
Sementara itu di sisi lain
Satu hari pun akhirnya berlalu begitu cepat, matahari sore mulai menampakkan keindahan nya.
"Nona muda, lihat lah, matahari sudah terbenam, ayo kita masuk sekarang," kata Luvi yang saat ini sedang menemani Sofia memberi makan ikan-ikan peliharaan nya di kolam belakang mansion.
Ya, Sofia sangat menyukai hewan, dia adalah wanita lembut yang penuh kasih sayang.
"Sabar Luvi mereka masih belum kenyang, mereka merindukan ku sudah dua hari sejak pemakaman papa, aku tidak datang ke sini," kata Sofia sambil menahan sedih ketika mengingat sang papa.
Luvi menatap Sofia yang sesekali berusaha menenggelamkan air mata nya yang sudah keluar.
Luvi tau betul, Sofia adalah anak kesayangan uan Afdan dia selalu di manjakan oleh Afdan bahkan saat memberi ikan makan saja mereka selalu bersama-sama karena rasa sayang Afdan ke Sofia benar-benar luar biasa.
"Nona muda, jujur aku penasaran dengan satu hal, kenapa ya tuan muda Samuel tidak datang ke pemakaman tuan Afdan? Dia bahkan tidak ada di saat nona sedang berduka, tuanangan macam apa dia?" ujar Luvi sambil melempar pelan butiran-butiran makan ikan ke kolam.
Seketika Sofia terdiam, ia menoleh ke arah Luvi dan kemudian tersenyum tipis.
"Luvi, dia sudah menelpon ku dan mengatakan kalau ada urusan yang tidak bisa dia tunda soal perusahaan papa nya, mereka kan juga sibuk dia juga kan sekarang sudah menjadi penganti sang papa di perusahaan," kata Sofia dengan lembut.
"Nona muda, kau sangat baik dan pengertian laki-laki yang mendapat kan mu pasti sangat beruntung, oh ya satu lagi yang membuat aku penasaran, kenapa nona Tara juga tidak kembali setelah mendengar kabar tuan Afdan kecelakaan?" Lagi-lagi ada hal yang membuat Luvi penasaran.
"Kalau itu aku tidak tau, kau tau sendiri kan dia tidak pernah dekat dengan papa dia selalu membantah dan melawan, mungkin dia memang tidak peduli," jawab Sofia yang sebenarnya juga tidak menyangka kalau Tara tidak kembali saat sang papa meningal meskipun dia hanya anak Tiri namun kebutuhannya selama ini di cukupi sang papa.
"Hmm, namanya juga bukan anak sedarah ya," ucap Luvi lagi.
"Sudah lah, ayo kita kembali, sebelum hari semakin gelap," Sofia memegang pergelangan tangan Luvi dan kemudian berjalan pergi dari kolam renang tersebut.
Mereka lebih terlihat seperti sahabat karib karena pakaian mereka yang kini sama-sama memakai pakaian pelayan.
Malam harinya.
Tepat di suatu tempat, ada sebuah mansion yang luas nya cukup luas tidak cukup, tapi sangat luas, barang-barang mewah terkumpul di dalam nya, bak istana kerajaan.
Ini adalah kediaman keluarga terkaya di kota ini. Adalah kelaurga "Atharyan"
"Tuan muda!"
Tok ... Tok ... Tok ...
"Tuan muda! Zavier!"
Begitulah terdengar suara ketukan pintu dan juga seseorang yang berteriak-teriak memagil tuan muda.
Seorang laki-laki bertubuh tinggi sekitar 180cm dengan tubuh kekar, serta wajah tampan paripurna, tak ada seorang wanita pun yang bisa menolak jika melihat wajah nya kini ia tersadar dari lamunannya.
"Tuan muda!" sekali lagi suara itu terdengar.
"Aishh," desis nya yang kemudian melangkah menuju pintu kamar.
Tap ... Tap ... Tap ...
Langkah kaki nya terdengar semakin mendekati pintu dan, cklek ... Pintu kamar tersebut pun terbuka.
Seketika aura dingin menyeruak dari kamar laki-laki tersebut.
Seorang pelayan berdiri di hadapan laki-laki itu dengan sedikit gemetar.
"Tu- tu- tuan muda, ko-kondisi kakek kembali memburuk," kata nya dengan susah payah.
"Benarkah? Lalu apa yang membuat kalian menunggu?" Tanya nya sambil mencengkram gagang pintu.
"A-anu tuan muda,"
Pelayan tersebut semakin gemetar.
"Segera panggil Siho kemari!" kata nya dengan nada tinggi.
"Ba-baik!" jawab sang pelayan yang kemudian lari terbirit-birit meningalkan sang tuan muda yang memang terkenal galak dan sulit mengontrol emosi.
"Bedebah," umpat nya yang kemudian berjalan menyusuri tempat yang luas itu.
Ia kemudian masuk ke dalam lift, ia menuju lantai satu mansion.
Tak lama kemudian ia tiba di sebuah kamar utama di lantai satu yang cukup luas, di dalam nya sudah ada beberapa pelayan yang sedang mengurus satu orang yang saat ini sedang terbaring lemah di atas ranjang.
"Zavier," lirih nya setelah melihat cucu kesayangan nya datang menghampiri dirinya.
"Kakek," lirih sang tuan muda yang kini duduk di kursi tepat di samping ranjang sang kakek.
"Usia ku sudah tidak lama lagi, dan kau masih belum juga memenuhi permintaan terakhir ku, apa lagi yang kau tunggu Zavier?" Lirih orang tua itu dengan suara lemah, tangan keriput nya memegang erat tangan sang cucu.
"Kakek, aku, aku ..."
"Belum menemukan nya? ..."
Kata sang kakek yang sudah hafal dengan ucapan Zavier.
"Zavier bagaimana keadaan kakek," tepat di saat itu seseorang laki-laki berpakaian dokter tiba di kamar tersebut.
"Siho, segera periksa kakek." Kata Zavier mengambil kesempatan tersebut untuk mengalihkan pembicaraan nya.
Segera saja dokter yang di pangil Siho itu memeriksa keadaan sang kakek dengan seksama.
Sementara itu Zavier memusatkan untuk menunggu di luar kamar saja.
Beberapa puluh menit kemudian.
Sang dokter keluar dari kamar tersebut dan menarik tangan Zavier tampa bicara sepatah kata pun.
"Lepaskan tanganku," kata Zavier dingin.
Siho tidak mempedulikan nya, sampai di mana mereka tiba di sebuah lorong yang gelap di mansion, intinya sudah jauh dari kamar sang Kakek.
Bersambung ....