Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Sejak kejadian di acara amal, nama Aurora kembali menjadi bahan pembicaraan hangat di kampus. Namun kali ini berbeda. Bukan lagi karena statusnya sebagai gadis biasa yang berpacaran dengan sang pewaris takhta, melainkan karena semua orang menyaksikan sendiri bagaimana Alexander Kingsley membelanya tanpa ragu di depan umum.
---
"Kamu sekarang mendadak jadi seleb kampus, Kei," kata Lily sambil menyeruput es kopinya santai.
Aurora menghela napas panjang, menumpukan dagu di atas meja. "Itu sama sekali bukan hal yang bagus, Lily."
"Menurutku bagus-bagus aja, kok," balas Lily cuek.
Aurora menatap sahabatnya itu dengan saksama. "Lily, ayolah."
"Apa? Aku serius," Lily malah tertawa geli.
---
Aurora menunduk untuk melihat ponselnya yang bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk tertera di layar. Hanya dengan membaca nama pengirimnya, senyum kecil langsung terbit di wajah Aurora.
Alexander:
"Sudah makan?"
Aurora terkekeh pelan tanpa sadar, membuat Lily langsung menunjuk wajahnya dengan heboh. "Nah, kan! Lihat itu!"
"Apa sih?" tanya Aurora, mencoba menyembunyikan salah tingkahnya.
"Itu ekspresi mutlak dari orang yang lagi jatuh cinta," goda Lily riang.
Tanpa membuang kata, Aurora langsung melempar gumpalan tisu ke arah sahabatnya yang bermulut usil itu.
---
Sementara itu, di gedung bisnis utama Kingsley Group...
Alexander sedang mengikuti rapat penting bersama beberapa petinggi perusahaan keluarga. Meski masih berstatus sebagai mahasiswa, ia sudah mulai dilibatkan dalam berbagai urusan bisnis besar. Bagaimanapun, seluruh dinasti perusahaan ini kelak akan jatuh ke tangannya.
Namun hari itu, Alexander terlihat sangat tidak fokus. Pria paruh baya yang bertugas menjelaskan laporan keuangan bahkan sampai menghentikan presentasinya karena menyadari hal itu.
"Tuan Alexander?" panggil pria itu hati-hati.
Alexander tersentak pelan dari lamunannya. "Hm? Ya, ada apa?"
"Kami sudah menjelaskan bagian laporan ini selama lima menit terakhir, Tuan," ujar sang manajer sungkan.
Ryan yang duduk tepat di samping Alexander hampir saja menyemburkan tawanya. Sebagai sahabat, ia tahu betul siapa penyebab hilangnya fokus sang pewaris. Siapa lagi kalau bukan Aurora Quinn.
---
Begitu rapat resmi selesai dan ruang pertemuan mulai kosong, Ryan langsung menyenggol bahu Alexander dengan siku.
"Kamu parah banget hari ini, Bro," tegur Ryan menggelengkan kepala.
Alexander mengangkat sebelah alisnya. "Parah kenapa?"
"Kamu senyum-senyum sendiri pas baca pesan tadi," bongkar Ryan sarkas.
Alexander melirik ponselnya kembali. Di sana ada balasan pesan singkat dari Aurora yang baru saja masuk.
Aurora:
"Sudah. Kamu sendiri sudah makan?"
Tanpa bisa ditahan, sudut bibir Alexander kembali melengkung ke atas. Ryan yang melihat itu hanya bisa mendesah pasrah sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Sudah selesai," gumam Ryan dramatis.
"Apanya yang selesai?" tanya Alexander bingung.
"Masa-masa jomblo terhormat seorang Alexander Kingsley sudah resmi tamat," ledek Ryan, yang langsung disambut tawa renyah dari Alexander.
---
Sore harinya, Alexander sudah bersiap menjemput Aurora di depan kafe tempat gadis itu bekerja. Begitu Aurora membuka pintu dan masuk ke dalam mobil, Alexander langsung menyodorkan sebuah kantong beludru kecil.
Aurora mengernyitkan dahinya bingung. "Apa ini, Alexander?"
"Buka saja," titah Alexander lembut.
Aurora membukanya perlahan, lalu seketika membeku di tempat. Di dalam kantong itu terdapat sebuah kalung perak sederhana dengan liontin berbentuk bintang kecil yang sangat cantik.
"Aku... aku nggak bisa terima ini," kata Aurora cepat sambil menyodorkan kembali kantong tersebut.
Alexander tampak mengernyit tidak suka. "Kenapa?"
"Pasti mahal banget. Aku nggak enak," elak Aurora jujur.
Alexander terkekeh pelan mendengarnya. "Menurutmu aku bakal langsung bangkrut hanya karena membeli kalung sekecil ini?"
"Bukan begitu maksudku..."
"Lalu?" potong Alexander, menatap lekat kedua netra Aurora.
Aurora terdiam, bingung harus menyusun alasan apa lagi.
Alexander tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala Aurora. "Aku cuma tidak sengaja melihatnya di etalase kemarin, dan entah kenapa langsung teringat padamu."
Deg.
Aurora langsung salah tingkah di posisinya. Pria di sampingnya ini benar-benar tidak pernah memberikan peringatan sebelum membuat jantungnya berdebar menggila.
"Sini, biar kubantu pasang," tawar Alexander mengambil alih kalung itu.
Saat jemari hangat Alexander tidak sengaja bersentuhan dengan kulit lehernya, tubuh Aurora spontan menegang. Alexander yang menyadari reaksi polos itu hanya bisa tersenyum geli dalam hati.
---
Setelah itu, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan santai di area Central Park. Matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat menciptakan semburat warna jingga yang teramat indah di langit sore.
Aurora mendongak, menatap takjub ke arah langit. "Indah banget ya..." pujinya tulus dengan senyuman manis.
Namun, alih-alih melihat langit, pandangan Alexander justru terkunci sepenuhnya pada wajah di sampingnya. "Iya, indah sekali," sahut Alexander lirih.
Aurora awalnya tidak menyadari ke mana arah tatapan itu, sampai beberapa detik kemudian ia menoleh. "Lho? Kamu kok malah lihatin aku?"
Tertangkap basah, Alexander langsung membuang muka ke arah lain dengan kikuk, membuat tawa Aurora pecah seketika melihat sisi langka dari seorang pewaris Kingsley.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Aurora merasa sangat bahagia. Namun di balik kebahagiaan itu, ada rasa takut yang mendalam mulai merayap di hatinya. Ia takut kehilangan semua momen ini. Sebab makin hari, perasaannya kepada Alexander makin dalam mengakar, hingga rasanya akan teramat sulit untuk dilepaskan lagi.
---
Di belahan kota yang lain...
Sophia sedang duduk sendirian di sudut kafe mewah yang sepi. Sepasang matanya menatap dingin ke arah layar ponsel yang menampilkan foto kebersamaan Aurora dan Alexander hasil jepretan saksi mata di kampus.
Dengan gerakan lambat namun pasti, ia menekan sebuah nomor dan mendial seseorang.
"Ya? Ada perlu apa?" suara berat seorang pria terdengar dari seberang sambungan telepon.
Sophia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kelicikan. "Aku butuh bantuanmu sekarang."
Pria di seberang sana tertawa remeh. "Bantuan apa yang membuat seorang Sophia Laurent sampai meneleponku?"
Sophia kembali menatap tajam foto wajah Aurora di layarnya, lalu berbisik pelan dengan nada penuh penekanan.
"Aku ingin kamu menyelidiki dan mencari tahu semua informasi mengenai latar belakang seorang gadis bernama Aurora Quinn," pinta Sophia dingin.
Suasana di sekitar kafe itu mendadak terasa mencekam. Sophia sudah benar-benar berhenti bermain bersih. Dan ketika seorang Sophia Laurent mulai menggunakan cara kotor, maka badai yang jauh lebih besar dipastikan akan segera datang menghampiri hidup Aurora.