NovelToon NovelToon
Istri Kecil Tuan Devano

Istri Kecil Tuan Devano

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Nikah Kontrak
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: adawiya

Alana Wijaya tidak pernah menduga hidupnya akan berubah menjadi neraka dalam semalam. Demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang diambang kehancuran, ia dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Devano Adhitama—seorang CEO arogan yang dikenal sebagai monster berdarah dingin dan harus duduk di kursi roda akibat kecelakaan misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 rahasia yang terbakar

Malam merayap semakin pekat, mengubah mansion megah keluarga Adhitama menjadi labirin sunyi yang mencekam.

Alana menatap cangkir porselen di atas nampan perak yang dipegangnya. Teh herbal hangat berselimut uap tipis. Setengah jam yang lalu, seorang pelayan senior mengetuk pintu kamarnya, menyuruhnya mengantarkan teh malam ini ke ruang kerja pribadi Devano di lantai dua.

“Tuan Muda tidak suka diganggu pelayan jika sudah larut. Karena Anda istrinya, Anda yang harus mengantarkannya,” ujar pelayan itu dengan nada acuh tak acuh.

Alana tahu ini adalah bagian dari taktik Nyonya Sandra untuk mempersulitnya. Namun, ia tidak punya pilihan. Menolak hanya akan memberinya siksaan baru besok pagi.

Dengan langkah sepelan mungkin, Alana menyusuri lorong panjang yang remang-remang. Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu hitam besar yang terletak di ujung lorong—ruang kerja rahasia Devano.

Klek.

Pintu itu ternyata tidak terkunci rapat, sedikit renggang seolah ada yang lupa menutupnya dengan sempurna.

Alana mendorong pintu itu perlahan, nyaris tanpa suara. "Tuan Devano? Saya mengantarkan teh malam Anda..." bisik Alana pelan.

Tidak ada jawaban.

Ruangan kerja itu sangat luas, dipenuhi rak-rak buku tinggi hingga ke langit-langit. Hanya ada satu lampu meja yang menyala remang, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang dramatis ke dinding. Kursi roda elektrik milik Devano terparkir rapi di dekat meja kerja.

Namun, kursi roda itu kosong.

Alana mengernyitkan dahi. Kedutan aneh mulai menyerang sarafnya. Jika Devano tidak di kursi roda, lalu di mana dia? Apakah dia merangkak ke kamar mandi?

Alana melangkah lebih dalam ke dalam ruangan, meletakkan nampan teh di atas meja kopi terdekat. Matanya menyapu sekeliling kamar yang temaram.

Tiba-tiba, pandangan Alana terkunci pada siluet tinggi yang berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman belakang.

Seorang pria sedang berdiri tegak, memunggungi Alana. Postur tubuhnya sangat tegap, bahunya lebar, dan kedua kakinya menumpu beban tubuhnya dengan sangat sempurna di atas lantai marmer. Pria itu sedang memegang segelas wiski di tangan kanannya, menatap pemandangan malam di luar.

Itu Devano.

Alana membeku di tempat. Udara di sekitarnya seolah mendadak membeku. Jantungnya berdetak begitu keras hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.

Devano... berdiri?

Pria yang selama dua tahun ini diberitakan lumpuh total oleh seluruh media nasional, pria yang semalam dan pagi tadi duduk tak berdaya di kursi roda... kini sedang berdiri tegak tanpa alat bantu apa pun.

Alana mundur satu langkah secara refleks. Sial, tumit sepatunya tidak sengaja menyenggol kaki meja kopi.

Kring!

Sendok kecil di atas nampan perak berdenting nyaring.

Siluet tinggi di depan jendela itu seketika menegang. Dalam hitungan detik, sebelum Alana sempat membalikkan badan untuk melarikan diri, pria itu berbalik. Sepasang mata elang Devano yang berkilat tajam langsung mengunci sosok Alana di kegelapan.

"Siapa?!" desis Devano dengan suara yang sangat rendah dan membunuh.

Ketakutan luar biasa mencengkeram akal sehat Alana. Ia berbalik, berniat lari keluar dari ruangan terkutuk itu. Namun, kecepatan bergerak Devano sama sekali tidak masuk akal untuk seorang pria yang dirumorkan cacat.

Brak!

Sebelum tangan Alana sempat menyentuh gagang pintu, sebuah lengan kekar melesat dari belakangnya, menghantam pintu kayu itu hingga tertutup rapat kembali.

Dalam sekejap mata, tubuh Alana diputar dengan kasar. Punggungnya menghantam pintu dengan keras, menyisakan rasa nyeri yang membuat ia mendesis.

Belum sempat Alana berteriak meminta tolong, sebuah telapak tangan yang besar dan hangat langsung membekap mulutnya dengan kuat.

"Mencari mati, huh?"

Suara berat Devano bergema tepat di depan wajah Alana. Pria itu mengunci tubuh ringkih Alana menggunakan seluruh berat badannya. Dada bidang Devano yang keras menekan dada Alana, membuat wanita itu kesulitan bernapas. Kedua kaki Devano yang panjang dan kokoh menjepit pergerakan kaki Alana, mematikan semua celah untuk kabur.

Alana membelalakkan matanya yang berair karena panik. Kedekatan ini begitu intim, begitu menyesakkan, sekaligus memancarkan ketegangan sensual yang berbahaya. Alana bisa merasakan energi maskulin yang meledak-ledak dari tubuh Devano—tubuh seorang pria dewasa yang sangat sehat dan bertenaga, bukan pria lumpuh.

"Kau melihatnya, Alana?" bisik Devano. Wajahnya mendekat, matanya yang pekat menatap lekat-lekat pada mata Alana yang gemetar ketakutan.

Alana mencoba menggelengkan kepala di bawah bekapan tangan Devano, air matanya mulai menetes membasahi jemari pria itu. Ia mengeluarkan suara erangan tidak jelas, memohon belas kasihan.

Devano terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat seksi namun beracun. Jemari tangannya yang membekap mulut Alana perlahan bergerak turun, menekan dagu Alana dengan ibu jarinya, memaksa bibir mungil Alana sedikit terbuka.

"Kau sudah melanggar aturan kedua, Istriku," bisik Devano lagi, bibirnya kini menyentuh pelipis Alana, memberikan sensasi menggelitik yang membuat seluruh tubuh Alana meremang hebat. "Kau mencampuri urusanku. Dan kau... menemukan rahasia yang bisa menghancurkan seluruh rencana balas dendamku."

Napas Alana memburu, naik turun dengan tidak beraturan di bawah kungkungan tubuh Devano. "T-Tuan... saya tidak akan bicara pada siapa pun... saya sumpah..." cicit Alana begitu bekapan tangannya terlepas sepenuhnya, digantikan oleh tekanan intimidatif di leher jenjangnya.

Devano memajukan wajahnya hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan. Aroma wiski bercampur mint dari napas Devano langsung menguasai kesadaran Alana.

"Tentu saja kau tidak akan bicara, Sayang," desis Devano, jemarinya yang panjang meraba bekas luka tamparan Ibu Sandra di pipi Alana tadi pagi dengan kelembutan yang palsu, sebelum akhirnya meremas tengkuk Alana, menarik wajah wanita itu semakin dekat ke arahnya.

"Karena jika sampai ada satu kata saja yang keluar dari bibir manis ini tentang apa yang kau lihat malam ini... aku tidak hanya akan menghancurkan keluargamu. Tapi aku sendiri yang akan mengurungmu di ruang bawah tanah, menjadikanmu pemuas obsesiku tanpa ada satu orang pun yang bisa menyelamatkanmu."

Sebelum Alana sempat menjawab, Devano membungkuk, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang menuntut, panas, dan penuh dengan klaim kepemilikan yang absolut. Alana mencengkeram kemeja hitam Devano dengan erat, tubuhnya melemas di bawah dominasi sang tirani yang kini memegang kendali penuh atas hidup dan matinya.

Pintu pelarian telah terbakar habis. Alana kini tahu, ia telah masuk terlalu dalam ke dalam sarang iblis yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!