Nara mengira kehidupan barunya setelah transmigrasi akan berjalan indah. Nyatanya, dia malah terlempar ke masa kuno dan menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang dibenci semua orang karena cacat fisik.
Pemilik tubuh yang asli mati tragis karena memotong jari keenamnya demi mencari keadilan. Kini, dengan jiwa modern yang mengisi tubuh tersebut, Nara bersumpah tidak akan membiarkan ibu dan adiknya diinjak-injak lagi.
bertahun-tahun kemudian "haaaaa mencapai puncak kekuasaan dengan enam jari emang berat"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adawiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 rencana ibu kedua
Di dalam Kamar Barat, Nara sibuk merangkai alasan logis untuk menjelaskan kemampuan bela diri yang baru saja dia tunjukkan kepada Nyonya Mu.
Dia sengaja menyeka sudut matanya, memasang wajah sedih. "Ibu, sebenarnya begini ceritanya. Waktu aku pingsan kemarin, aku bermimpi bertemu sang pencipta. Beliau kasihan melihat hidupku yang selalu menderita, jadi Beliau memberikan kekuatan ini dan mengembalikan nyawaku. Kalau tidak, aku mungkin tidak akan bisa bangun lagi buat melihat Ibu dan Yan Ning."
Nyonya Mu ikut menangis mendengar cerita itu. Dia menepuk pelan bahu Nara sembari mengomeli putrinya dengan sayang. "Kamu lagian kenapa nekat sekali waktu itu? Pakai acara potong jari segala. Kamu tahu tidak, tindakanmu itu seperti mencungkil jantung Ibu!"
"Ibu, aku janji tidak akan pernah mengulangi tindakan bodoh seperti itu lagi," sahut Nara cepat. Dia langsung menyandarkan kepalanya ke pelukan Nyonya Mu, memeluk ibunya dengan erat sambil bermanja-manja.
Nara sebenarnya merasa agak geli sendiri. Secara mental, dia adalah wanita dewasa, jadi bertingkah sok imut seperti anak kecil begini rasanya sukses membuat bulu kuduknya merinding.
"Biarpun sang pencipta berbaik hati memberikanmu kekuatan, Ara, bagaimanapun juga Yan Shong itu tetap ayah kandungmu..." Nyonya Mu bergumam bimbang.
Sebagai orang zaman kuno yang sangat memercayai hal gaib, Nyonya Mu menelan bulat-bulat alasan mistis Nara. Tanpa alasan itu, dia memang tidak punya penjelasan logis lain kenapa tabiat putrinya bisa berubah drastis dalam semalam.
Nara mulai merasa tidak sabar dengan kepasrahan ibunya, tetapi dia tetap menahan diri. "Ibu, prinsipku sederhana. Kalau orang lain tidak mengusikku, aku tidak akan menyentuh mereka. Tapi kalau ada yang berani menghinaku, aku bersumpah bakal membalas mereka seratus kali lipat. Ibu lihat sendiri kan bagaimana kejamnya Han Ruo dan Yan Shong memfitnah Ibu tadi?"
Nyonya Mu seketika bungkam, tidak mampu menyangkal fakta tersebut. Dia menatap wajah Nara yang kini tampak dingin dan tegas.
Hatinya terasa perih, diselimuti kebimbangan apakah perubahan besar pada diri Nara ini akan membawa berkah atau justru petaka bagi mereka.
Sementara itu di rumah utama, Yan Shong sedang duduk meringis memegangi pinggangnya. Dia mengomeli kejadian tadi dengan napas memburu, membuat wajah bulatnya memerah padam karena saking menahan malu.
"Mas Shong, apa telingaku tidak salah dengar?" cibir Yan Ling sambil memainkan ujung kain sulamannya.
Dia tertawa meremehkan. "Mas Shong bilang, tubuh kekar Mas bisa dibanting sampai jompo oleh si Nara? Oleh anak kurus kering yang mirip tengkorak berjalan itu? Lucu sekali."
Bukan cuma Yan Ling, anggota keluarga lain yang berkumpul di sana juga menganggap cerita Yan Shong sebagai lelucon belaka. Postur Yan Shong itu tinggi besar layaknya banteng, hampir tiga kali lipat dari ukuran tubuh Nara. Jelas tidak masuk akal jika dia bisa ditumbangkan dengan mudah oleh seorang remaja putri.
"Bah, aku mau pergi ke hutan dulu," pamit Yan Ming yang sudah malas mendengarkan dongeng kakaknya. Dia mendengus pelan ke arah Yan Shong. "Mas, lain kali kalau cuma mau membicarakan hal tidak bermutu begini, jangan panggil aku."
"Ya, pergilah," sahut Kakek Yan sambil melambaikan tangan, tanda kalau dia juga tidak memercayai bualan anak sulungnya.
Yan Shong mendadak berdiri dari duduknya dengan emosi yang kembali tersulut. Dia mengacungkan jari telunjuknya ke atas langit. "Demi Tuhan! Kalau aku, Yan Shong, berbohong satu kata saja tentang kejadian tadi, biarlah aku mati tersambar petir dengan tubuh hancur berkeping-keping!"
"Shong! Jaga mulutmu!" bentak Nenek Lou kaget sampai jarum jahitnya hampir menusuk jarinya sendiri.
Sumpah mati itu terlalu ekstrem bagi orang desa. Nenek Lou langsung berteriak cemas, "Cepat meludah ke tanah! Ambil kembali kata-kata sialmu itu!"
"Kakek, Nenek," sela Han Ruo dengan raut wajah panik yang dibuat-buat. Dia buru-buru menimpali, "Semua ucapan Mas Shong itu fakta! Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana Mas Shong diangkat lalu dilempar begitu saja oleh Nara. Tolong ingat ucapan Mbah Kusno kemarin, Nara itu fiks sudah kemasukan roh halus!"
"Cukup, Mbak! Sudah kubilang dari awal kalau dukun tua itu cuma penipu yang mengincar uang kita!" bentak Yan Ming ketat, menatap tajam ke arah Han Ruo sebelum melangkah keluar.
"Nara itu sudah cukup membuat sial rumah ini dengan cap cacatnya. Tapi Mbak Han Ruo malah sengaja membesar-besarkan rumor kalau dia kesurupan! Apa Mbak mau orang-orang luar tahu kalau keluarga kita memelihara anak jadi-jadian?!" cecar Yan Ming berang.
Dia menambahkan dengan nada menuntut, "Kalau desas-desus gila ini sampai menyebar ke desa tetangga, mana ada gadis baik-baik yang sudi kunikahi? Lalu bagaimana nasib masa depan Yan Ling nanti?!"
Karena masalah ini mulai mengancam masa depannya sendiri, Yan Ling tidak bisa tinggal diam lagi. Dia cemberut dan ikut menyindir tajam, "Mas Yan Ming benar, Mbak. Kalau aku sampai gagal mendapat jodoh dan dicap sebagai keluarga terkutuk, nasib Yan Ran juga pasti bakal ikut hancur!"
Han Ruo menggertakkan giginya menahan dongkol karena diserang dari dua arah, tetapi dia pandai menyembunyikan emosinya. Wajahnya langsung berubah sendu dan dia menundukkan kepala dengan gestur bersalah.
"Aku bicara begini kan karena peduli dengan keselamatan seisi rumah ini. Kalau roh halus di dalam tubuh Nara tidak segera disingkirkan, rumah kita tidak akan pernah bisa tenang," kilas Han Ruo memelas.
Otak licik Han Ruo sebenarnya sudah menyusun rencana jangka panjang. Target utamanya tetaplah menyingkirkan Nara yang belakangan ini mendadak berubah jadi sangat berbahaya dan mengancam posisinya.
Begitu Nara yang menyeramkan itu berhasil didepak dari rumah ini, maka Nyonya Mu yang lemah dan baru saja kehilangan sandaran hidupnya otomatis akan menjadi sangat rapuh.
Han Ruo tahu pasti kalau wanita penyakitan seperti Nyonya Mu bakal langsung drop dan mati perlahan karena didera rasa rindu dan kesedihan yang mendalam. Rencana pembersihan Kamar Barat ini benar-benar matang di dalam kepalanya.