NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Dicerai Karena Melahirkan Anak Sumbing

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: Desau

Hati Naomi hancur saat suaminya Zayn, tega menceraikannya karena dirinya melahirkan bayi sumbing. Padahal Zayn dan keluarganya adalah keluarga dokter, mereka harusnya lebih mengerti dari orang lain.

Setelah pulih dari pasca persalinan, Naomi diusir dari keluarga Hartanto. Ia mengurus bayinya yang sumbing sendirian. Naomi bekerja banting tulang demi kebutuhan anaknya. Seiring berjalannya waktu, bayi Naomi yang diberi nama Davin itu terus tumbuh, ia bahkan mendapatkan operasi yang membuatnya bisa tumbuh seperti anak normal lain. Bibir Davin tak lagi sumbing, dia bahkan terbilang punya wajah tampan. Selain itu Davin juga menjadi anak yang sangat jenius! Mendapat banyak prestasi dan selalu membuat Naomi bangga. Saat itulah Zayn tiba-tiba kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 - Hari Operasi

Telepon itu menjadi titik balik bagi Naomi. Setelah percakapan pagi itu, hari-harinya tidak lagi berjalan sendirian seperti sebelumnya. Ada seseorang yang benar-benar ikut memikirkan langkah-langkah kecil yang harus dia tempuh. Untuk pertama kalinya, perjuangan itu terasa sedikit lebih ringan.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas baru yang lebih padat. Naomi tetap bekerja, meskipun dalam hati ia terus memikirkan saran Junie. Namun berhenti total bukan pilihan mudah. Ia masih butuh penghasilan. Jadi dia mencoba menyeimbangkan semuanya.

Pagi hari, sebelum berangkat kerja, Naomi sudah mulai lebih disiplin.

“Sekarang kita makan lagi ya, Nak…” bisiknya lembut.

Frekuensi feeding ditambah. Waktu istirahat Davin diatur. Bahkan Naomi mencatat jam makan, jumlah asupan, dan respons Davin di buku kecil. Semua dilakukan dengan penuh perhatian.

Siang hari, di sela-sela pekerjaan cleaning service, Naomi sering berhenti sejenak. Bukan untuk istirahat. Tapi untuk Davin. Kadang dia duduk di sudut ruangan klien, memberi makan dengan sabar. Kadang ia menggendong sambil berdiri, menenangkan tangisan kecil.

Beberapa klien mulai memperhatikan.

“Capek ya?” tanya salah satu ibu suatu hari.

Naomi hanya tersenyum. “Sedikit, Bu.”

Padahal kenyataannya jauh lebih dari “sedikit”.

Namun setiap kali tubuhnya ingin menyerah, ia ingat satu hal. Target 5 kilogram. Itu cukup untuk membuatnya terus bergerak.

Di sisi lain, Junie benar-benar menepati janjinya. Ia tidak hanya menunggu di klinik. Beberapa kali, dia bahkan menghubungi Naomi untuk menanyakan perkembangan.

“Berat terakhir berapa?” tanyanya suatu sore.

“Masih 4,6, Dok…” jawab Naomi sedikit ragu.

“Bagus. Itu sudah naik. Jangan berhenti di situ,” kata Junie. Ia juga memberikan banyak saran. Dari cara meningkatkan kalori, teknik feeding yang lebih efektif, hingga posisi terbaik agar Davin nyaman.

Bahkan suatu hari, Naomi diminta datang di luar jadwal biasa.

“Cuma mau lihat langsung,” kata Junie santai.

Naomi awalnya canggung. Tapi perlahan, dia mulai terbiasa. Tanpa disadari, kehadiran Junie menjadi salah satu sumber kekuatannya.

Jihan juga tidak tinggal diam. Meskipun jadwal kerjanya padat, dia tetap berusaha membantu. Kadang ia pulang membawa makanan. Kadang dia menggantikan Naomi menjaga Davin agar Naomi bisa tidur sebentar.

“Tidur kamu itu penting, Na,” katanya suatu malam.

Naomi tersenyum lemah. “Aku nggak apa-apa.”

“Jangan bohong. Mata kamu kayak panda,” balas Jihan.

Mereka tertawa kecil. Namun suatu hari, Jihan mulai menyadari sesuatu. “Na…” panggilnya tiba-tiba.

“Hm?”

“Itu dokter kamu…” Jihan menyipitkan mata sedikit. “Perhatian banget ya?”

Naomi yang sedang menyusun botol susu langsung berhenti sebentar. “Maksudnya?”

“Ya… masa sih ada dokter yang sampai segitunya?” kata Jihan. “Pantau rutin, telepon, kasih perhatian ekstra… gratis lagi.”

Naomi tertawa kecil. “Dia baik saja, Ji.”

Jihan menggeleng. “Nggak sesimpel itu.”

Naomi menatapnya.

Jihan mendekat sedikit, menurunkan suaranya. “Menurut aku… dia suka sama kamu.”

Naomi langsung terdiam satu detik. “HAH?” dia tertawa. Benar-benar tertawa kali ini.

“Serius?” lanjutnya sambil masih tersenyum. “Kamu kebanyakan nonton drama deh.”

Jihan mendengus. “Aku serius.”

Naomi menggeleng pelan, masih tersenyum. “Enggak mungkin.”

“Kenapa nggak mungkin?”

Naomi terdiam sebentar. Lalu wajahnya sedikit berubah. Jadi lebih tenang.

“Aku lagi nggak mau mikirin hal begitu, Ji,” katanya pelan. “Cinta… laki-laki… semuanya.”

Jihan menatapnya. Tidak bercanda lagi.

“Sekarang fokus aku cuma satu,” lanjut Naomi sambil menatap Davin. “Dia.”

Jihan menghela napas kecil. “Ya… aku ngerti sih.”

Naomi tersenyum tipis. “Jadi jangan halu ya.”

Jihan mencibir. “Ih, lihat saja nanti.”

Namun di dalam hati, Naomi benar-benar tidak memikirkan itu. Ia tidak berani berharap lagi.

Waktu terus berjalan. Perjuangan Naomi tidak instan. Ada hari di mana berat Davin naik. Ada hari di mana stagnan. Bahkan ada satu hari di mana beratnya sempat turun sedikit. Hari itu, Naomi hampir menangis lagi.

“Kenapa turun…” imbuhnya panik.

Namun Junie dengan tenang berkata, “Fluktuasi itu normal. Jangan langsung panik.”

Nada suaranya yang stabil membuat Naomi sedikit lebih tenang.

“Yang penting tren jangka panjangnya naik,” tambahnya.

Naomi kembali mencoba. Hari demi hari. Dengan lelah, dengan sabar, dengan cinta. Sampai akhirnya, suatu pagi di klinik. Junie memegang catatan. Matanya membaca angka terakhir. Lalu dia terdiam sebentar.

Naomi langsung tegang. “Gimana, Dok?”

Junie mengangkat wajahnya. Senyum kecil muncul. “5 kilogram.”

Naomi membeku. “Benarkah?” suaranya nyaris tidak terdengar.

Junie mengangguk. “Kita sudah sampai target.”

Air mata langsung jatuh. Naomi menutup mulutnya dengan tangan. Tidak percaya.

“Dok…” suaranya bergetar. “Beneran…?”

Junie tersenyum lebih jelas. “Beneran.”

Naomi langsung memeluk Davin erat.

“Alhamdulillah…” ucapnya sambil menangis.

Semua lelah dan tangis. Seolah terbayar di satu momen itu. Namun kebahagiaan itu tidak datang tanpa bayangan. Karena setelah itu langkah berikutnya adalah operasi.

Junie segera menyusun jadwal. Tim mulai dipersiapkan. Prosedur dijelaskan.

Naomi mendengarkan dengan serius. Tapi semakin dekat hari itu semakin besar rasa gelisahnya.

Suatu siang, Naomi duduk di ruang konsultasi bersama tim medis. Seorang dokter anestesi menjelaskan dengan tenang.

“Operasi ini termasuk tindakan besar untuk bayi,” katanya.

Naomi langsung menegang. “Kami akan melakukan pembiusan total,” lanjutnya. “Selama operasi, kami akan memantau semua kondisi vital.”

Naomi menggenggam tangannya sendiri.

“Risiko tetap ada,” tambah dokter itu jujur. “Seperti reaksi terhadap anestesi, perdarahan, atau komplikasi lainnya.”

Setiap kata terasa berat.

“Namun,” lanjutnya, “kami akan melakukan yang terbaik.”

Junie yang duduk di samping hanya menatap Naomi sekilas. Tatapannya tenang. Seolah mengatakan, “Kamu tidak sendiri.”

Namun tetap saja malam-malam Naomi berubah lagi. Ia sering terbangun. Menatap Davin yang tertidur. Tangannya menyentuh lembut wajah kecil itu.

“Takut...” bisiknya pelan. Ia membayangkan ruang operasi. Lampu terang. Suara alat medis, dan Davin sendirian di dalam sana.

Air matanya jatuh lagi. Namun kali ini, dia tidak menangis keras. Hanya diam. Menahan semuanya sendiri.

Di sisi lain, Junie juga tidak sepenuhnya tenang. Di ruang kerjanya, ia menatap berkas Davin lebih lama dari biasanya. Semua prosedur sudah dia hafal. Semua langkah sudah disiapkan. Namun kali ini terasa berbeda.

“Kenapa jadi kepikiran…” gumam Junie. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Bayangan Naomi muncul. Wajah lelahnya. Cara dia bertahan. Cara dia tersenyum meski sedang hancur.

Junie menghela napas panjang. “Fokus…” katanya pada dirinya sendiri.

Ini bukan pertama kalinya dia menangani kasus seperti ini. Tapi ini pertama kalinya terasa sepersonal ini.

Tanggal operasi semakin dekat. Naomi berdiri di depan jendela suatu sore. Davin dalam pelukannya. Langit mulai berubah warna.

“Apa pun yang terjadi…” ujar Naomi. Ia mencium kening anaknya. “Mama akan selalu ada.”

Tangannya memeluk lebih erat. Rasa takut masih ada. Sangat besar malah. Namun di balik itu ada keyakinan kecil yang tumbuh. Bahwa semua perjuangan ini tidak akan sia-sia.

Brak!

Pintu ruang operasi tertutup. Davin dibawa masuk ke ruang operasi. Naomi kali ini hanya bisa berdoa.

1
W I 2 K
penyakit.. hyper itu anggun zayn.....
Bunda Kayla
karma
renjani
karma berlaku Zayn..siapkan mentalmu..
Uyen Uyen
dua kali lipat Zayn balasan dari perbuatan zalimmu
Rommy Wasini Khumaidi
sudah dibayar tuntas Zayn setiap fitnah dan kata² ibu Ratna yang terhormat,tinggal ibu Ratna yang belum mengetahui suaminya selingkuh juga🤣🤣
Lee Mba Young
🤣🤣🤣 puas banget Zayn dpt sisa banyak laki iuhhh mnjijik kan. anaknya lahir Dr rahim sundal.
Tiara Bella
itu perempuan yg dianggap bagus sm ibu Ratna Zayn....malah selingkuh sm banyak pria....msh mending Naomi kemana²
Tiara Bella: hooh ya perlu dipertanyakan itu
total 2 replies
Ariany Sudjana
hahahaha mampus kamu Zayn, menantu kesayangan keluarga Hartanto ternyata pelacur murahan itu 🤣😂😂 berhubungan dengan macam-macam laki-laki di luar sana, yang gitu jadi menantu kesayangan 🤣🤣😂😂 penasaran gimana reaksi Ratna, pas tahu nanti menantu kesayangan ternyata pelacur murahan 🤣🤣😂😂 jangan-jangan Ratna langsung mati atau jadi gila 🤣🤣😂😂 nikmati saja Zayn hasil perbuatan kamu dan Ratna
Eka
alhamdulillah mudah2 itu mamanya dr. junie
Eka
semoga ada orang yg menolong naomi biar ndak jadi kerja bersih2 kasihan thor mosok dokter cerdas
Ma Em
Akhirnya Zayn tau kelakuan Anggun yg sdh selingkuh dgn teman nya sendiri , Marvel kalau istrimu tau pasti rumah tanggamu juga akan berantakan dan Marvel pasti akan menyesal , semoga Naomi selalu bahagia bersama Gavin .
Eka
kamu lama2 gila zany
Tiara Bella
siap Thor....💪😍
istianah istianah
terimakasih kakak, cerita mu sangat menghibur sekali, saya sudah baca yg fotografer seson 1 , semoga yg ini jauh lebih bagus ya kak, dan menantang 🤭🤭
Ass Yfa
yuhu...kita tunggu cerita2selanjutnya..semangat kak...Adnan total bngt kerjanya bayarannya gede
Ariany Sudjana
wah mantap kerjanya Adnan, wah Bu Ratna harus tahu kalau menantu kesayangan, yang katanya menjunjung tinggi martabat keluarga Hartanto, ternyata pelacur murahan 🤣🤣😂😂 dan selingkuh beneran dengan sesama dokter 😂😂🤣🤣 dan Naomi yang dibuang karena dituduh selingkuh, hidupnya baik tuh 😄
Ma Em
Zayn itu karma untukmu juga keluargamu karena kamu sdh menyakiti Naomi istri yg baik setia serta Solehah malah pilih istri yg tdk pernah ngurus anak ngurus suami malah suka selingkuh , biar ibunya Zayn tau menantu pilihannya tdk sebaik yg dia kira .
Tiara Bella
aku pngn lihat reaksi Ratna mmhnya Zayn lihat menantu kesayangannya anggun yg ketahuan selingkuh ...dl dia yg fitnah Naomi selingkuh kan
Rommy Wasini Khumaidi
udah 3 tahun aja,perasaan kemarin pas Zayn ke apartemen baru 1 tahunan Davin...waktu cepat berlalu ya thor?
MamDeyh
Selamat menikmati ya Zayn, Anggun, dan mertua sengke.. Karma kalian otw loh/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!