Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20
Pagi mulai beranjak siang di Skullcrack.
Api telah padam.
Grachius berdiri.
Tanpa banyak kata.
Ia mengambil botol minumnya.
Berjalan ke arah pancuran kecil yang ia buat sebelumnya.
Air masih mengalir jernih.
Ia mengisinya.
Penuh.
Lalu kembali.
Sisa daging babi hutan diangkat.
Sebagian ia bungkus sederhana.
Sebagian lagi—
ia tinggalkan.
Untuk Daji.
Grachius tidak menjelaskan.
Tidak perlu.
Ia hanya berdiri.
“…aku pergi.”
Satu kalimat.
Sederhana.
Lalu—
ia berjalan.
Meninggalkan tempat itu.
Tanpa menoleh.
Daji duduk diam.
Tidak bergerak.
Matanya mengikuti sosok itu menjauh.
Sunyi.
"Pergi begitu saja…?"
Ia menghela napas pelan.
"Seperti biasa…"
Namun—
sesuatu tertahan.
"…aku ingin tahu."
Matanya menyipit sedikit.
"Dia ini… apa sebenarnya?"
Beberapa detik berlalu.
Ia berdiri.
Lalu—
tubuhnya berubah.
Mengecil.
Kembali menjadi rubah.
Ekor bergoyang pelan.
Tanpa suara—
ia bergerak.
Mengikuti.
Dari jauh.
Tanpa terdeteksi.
Grachius berjalan keluar dari Skullcrack.
Jalan masih terjal.
Batu-batu tajam.
Celah sempit.
Namun langkahnya stabil.
Tidak terhambat.
Beberapa saat—
gangguan pertama muncul.
Geraman.
Sekelompok goblin keluar dari balik batu.
Mata mereka liar.
Namun—
SHRAK.
Satu gerakan.
Pemimpin mereka jatuh.
Sunyi sejenak.
Lalu—
mereka kabur.
Tanpa perlawanan.
Di kejauhan—
sepasang mata kecil memperhatikan.
Daji.
"Cepat…"
Ia tidak mendekat.
Hanya mengikuti.
Beberapa waktu kemudian—
langkah berat terdengar.
Ogre.
Tubuh besar.
Beberapa ekor.
Menghadang jalan.
Grachius tidak berhenti.
Namun matanya langsung mengunci satu target.
Yang paling besar.
Pemimpin.
BOOM.
Langkah cepat.
Lompatan.
Satu tebasan.
Kepala terlepas.
Tubuh jatuh.
Sunyi.
Ogre lainnya membeku.
Beberapa detik.
Lalu—
mereka mundur.
Kabur.
Tanpa perintah.
Daji terpaku.
"Dia… langsung tahu…"
"mana yang harus dibunuh…"
Perjalanan berlanjut.
Orc muncul.
Lebih terorganisir.
Lebih agresif.
Namun hasilnya sama.
Cepat.
Efisien.
Tidak ada gerakan sia-sia.
Tidak ada emosi.
Hanya—
keputusan.
Yang selalu tepat.
Daji tetap mengikuti.
Dari jauh.
Tanpa suara.
Namun pikirannya terus berjalan.
"Ini bukan sekadar kuat…"
"Ini… sesuatu yang lain."
Ia menatap Grachius.
Yang terus berjalan tanpa henti.
"Dia seperti… sudah terbiasa."
"Membunuh."
Dan tanpa Grachius sadari—
ia tidak lagi benar-benar sendirian.
Karena di belakangnya—
ada bayangan kecil—
yang terus mengikuti.
Bukan sebagai musuh.
Belum sebagai sekutu.
Namun—
sesuatu di antaranya.
Dan perjalanan itu—
baru saja mulai menjadi lebih… menarik.
...----------------...
...----------------...
Langit mulai condong ke siang.
Setelah berjalan hampir tiga jam—
akhirnya ujung Skullcrack mulai terlihat.
Cahaya lebih terbuka.
Jalan tidak lagi sesempit sebelumnya.
“…sedikit lagi.”
Langkah Grachius tetap stabil.
Namun—
suara lain muncul.
Bukan monster.
Bukan binatang.
Langkah manusia.
Dari berbagai arah.
Dan—
mereka muncul.
Dari balik batu-batu besar.
Sekelompok bandit.
Mengelilingi.
“Berhenti di sana.”
Salah satu dari mereka maju.
Tatapannya tajam.
“…keluarkan semua yang kau punya.”
Grachius berhenti.
Matanya menatap mereka satu per satu.
Tenang.
Pemimpin mereka maju.
Ia memperhatikan Grachius dari atas ke bawah.
“…tidak banyak, ya.”
Nada suaranya meremehkan.
Lalu—
matanya berhenti.
Di pinggang Grachius.
Pedang.
Enjin.
Senyumnya melebar.
“…tapi itu…”
Ia menunjuk.
“…bisa terjual mahal.”
Sunyi.
Grachius menatapnya.
"Menyingkirlah.”
Suaranya dingin.
“…jika tidak ingin mati.”
Beberapa detik hening.
Lalu—
tawa pecah.
Keras.
“Dengar itu!”
“Dia mengancam kita!”
Pemimpin mereka tertawa paling keras.
“…bunuh dia.”
Perintah itu keluar santai.
Para bandit bergerak.
Mendekat.
Langkah cepat.
Senjata terangkat.
Namun—
Grachius menghilang.
Seketika.
Sunyi sepersekian detik.
Lalu—
ia sudah di belakang.
Tepat di belakang pemimpin mereka.
Pedang terhunus.
Menempel di leher.
Mata pemimpin itu melebar.
“…apa—”
“…kalian sama sekali tidak mengerti.”
Suara Grachius pelan.
Namun—
SHRK.
Darah menyembur.
Leher terpotong.
Tubuh itu jatuh.
Sunyi.
Beberapa detik.
Bandit lainnya terpaku.
Tidak percaya.
Lalu—
mereka berteriak.
Menyerang.
Namun semuanya terlambat.
Grachius bergerak.
Cepat.
Tepat.
Tanpa ragu.
Satu—
jatuh.
Dua—
tewas.
Tiga—
terbelah.
Tidak ada yang bertahan.
Tidak ada yang kabur.
Beberapa detik—
dan semuanya selesai.
Sunyi kembali.
Hanya suara angin.
Dan darah yang menetes.
Di kejauhan—
Daji terpaku.
Matanya melebar.
"Ini… manusia…"
"dan dia… membunuh mereka… tanpa ragu…"
Tubuhnya sedikit gemetar.
"Apa dia… selalu seperti ini?"
Di tengah medan itu—
Grachius berdiri.
Diam.
Pedangnya masih di tangan.
Namun—
ia tidak bergerak.
Matanya menatap ke tanah.
Ke tubuh-tubuh itu.
Manusia.
Bukan monster.
Bukan iblis.
Manusia.
Sunyi.
Tangannya sedikit menegang.
“…ini…”
Suaranya pelan.
“…pertama kali.”
Napasnya sedikit berat.
Tatapannya berubah.
Tidak lagi dingin sepenuhnya.
“…aku…”
Ia terdiam.
Pikirannya berputar.
"Ini aku…?"
"Atau… sesuatu yang lain?"
Bayangan semalam.
Kemarahan.
Dendam.
Semua muncul.
"Apa ini yang akan terjadi…?"
"Aku akan menjadi seperti mereka?"
Sunyi.
Beberapa detik.
Yang terasa lama.
Di kejauhan—
Daji hanya bisa melihat.
Bingung.
"Apa yang terjadi padanya…?"
Namun—
perlahan—
Grachius menarik napas.
Dalam.
Lalu menghembuskannya.
Panjang.
Matanya kembali tenang.
Tidak sepenuhnya sama.
Namun… stabil.
“…jalan ini…”
Ia bergumam pelan.
“…tidak akan bersih.”
Sunyi.
Ia menatap ke depan.
Keluar dari Skullcrack.
“…aku sudah memilih.”
Tangannya kembali rileks.
Pedang diturunkan.
Lalu—
ia berjalan.
Melewati tubuh-tubuh itu.
Tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya—
Daji masih diam.
...----------------...
...----------------...
Langkah Grachius terus berlanjut.
Ia semakin mendekati ujung Skullcrack.
Tanpa ragu.
Tanpa berhenti.
Seolah kejadian tadi—
tidak meninggalkan apa-apa.
Di belakangnya—
seekor rubah kecil bergerak diam.
Daji.
Jaraknya cukup jauh.
Namun matanya tidak pernah lepas.
"Dia benar-benar… lanjut begitu saja…"
Langkahnya ringan.
Hampir tidak bersuara.
"Manusia itu… berbeda."
Daji mempersempit jaraknya sedikit.
Masih berhati-hati.
"Aku sudah bertemu banyak manusia…"
"yang kuat… yang licik… yang kejam…"
"tapi tidak seperti ini."
Ia menatap punggung Grachius.
Yang tetap lurus.
Tetap tenang.
"Tidak ragu…"
Ia mengingat kembali pertarungan tadi.
Gerakan Grachius.
Keputusan-keputusannya.
Semua tepat.
Semua efisien.
"Seolah dia sudah melakukan ini… ribuan kali."
Daji menghela napas pelan.
"Aku sudah hidup… dua ratus tahun…"
"berkultivasi sejak aku berubah menjadi siluman…"
"dan bahkan aku belum mencapai itu."
Matanya menyipit.
"Jadi… berapa lama dia hidup?"
"Seratus tahun?"
"Dua ratus?"
Ia menatap lagi.
Lebih dalam.
"…atau lebih?"
Sunyi.
Namun pikirannya tidak berhenti.
"Tapi… ada sesuatu yang lain."
Langkahnya melambat sedikit.
Ia merasakan kembali.
Perasaan itu.
Yang ia rasakan sejak dekat dengan Grachius.
"Ini… apa?"
Bukan sekadar tekanan.
Bukan sekadar kekuatan.
Namun—
sesuatu yang lebih dalam.
Lebih gelap.
Lebih liar.
Daji menelan ludah.
"Sedikit…"
"…seperti iblis."
Matanya melebar sedikit.
"Tidak… bukan sepenuhnya…"
"tapi ada… esensinya."
Ia menatap Grachius lagi.
"Bagaimana bisa…?"
"Manusia… dengan sesuatu seperti itu…"
Langkah Grachius tetap sama.
Tidak berubah.
Tidak terganggu.
Namun bagi Daji—
semakin lama ia mengikuti—
semakin ia sadar—
bahwa yang ia ikuti…
bukan sekadar manusia kuat.
Bukan sekadar petarung.
Namun sesuatu—
yang bahkan ia sendiri—
tidak bisa pahami sepenuhnya.
Dan justru karena itu—
ia tidak berhenti.
Ia terus mengikuti.
Lebih dekat.
Lebih dalam.
Karena rasa penasaran—
yang kini berubah menjadi sesuatu yang lain.
Ketertarikan.
Dan sedikit—
ketakutan.