Cinta adalah anugerah... tapi bagaimana jika cinta harus kamu berikan pada orang lain?
Aletta syavira levania dan Dilan Wijaya Kusuma saling mencintai sejak SMA – cinta yang tumbuh perlahan seperti bunga di musim hujan. Namun ketika sahabatnya Tamara Amelia Siregar mengaku jatuh cinta pada Dilan untuk pertama kalinya, Aletta membuat keputusan berat, melepaskan orang yang dicintainya demi menyenangkan sahabatnya.
"Dia butuh kesempatan, aku mohon Dilan, aku jaminan kamu akan lebih bahagia sama dia." Ucapnya dengan nada yang memelas sampai Dilan pun tak tega untuk menolaknya
Untuk memenuhi janjinya, Aletta mencari cinta baru melalui media sosial dan bertemu Jonathan Adista sanjaya. Sementara itu, Dilan dengan berat hati menjalin hubungan dengan Tamara. Di depan orang lain, semuanya terlihat sempurna – dua pasangan yang harmonis dan bahagia. Namun di balik senyum dan candaan, setiap tatapan Aletta dan Dilan menyimpan rasa rindu yang tak bisa disembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Keesokan paginya, kabut tipis masih tampak menyelimuti ujung jalan, menciptakan suasana yang sejuk dan tenang. Matahari baru saja mulai mengintip malu-malu dari balik bukit, menyinari dedaunan yang masih basah oleh embun malam.
Di tengah ketenangan pagi itu, Jonathan sudah menyalakan mesin motornya, menunggu Aletta siap berangkat ke puskesmas. Sepanjang malam, rasanya Jonathan tidak bisa tidur nyenyak.
Pikiran dan hatinya terus tertuju pada kejadian kemarin sore, saat dia terpaksa meninggalkan Aletta sendirian karena ada urusan mendesak yang tidak bisa dia tinggalkan. Rasa bersalah itu berat sekali, terasa seperti ada batu besar yang menindih dadanya.
Saat Aletta naik ke atas motor dan duduk di belakangnya, tangan gadis itu melingkar lembut di pinggangnya seperti biasa. Namun, diam-diam Jonathan bisa merasakan ada rasa canggung yang sedikit terselip di antara mereka, atau mungkin itu hanya perasaannya sendiri yang terlalu merasa bersalah.
Dia mengendarai motornya dengan pelan, menikmati heningnya jalanan pagi, namun hatinya bergejolak. Akhirnya, dia tidak tahan lagi menyimpan rasa itu sendirian. Dia menoleh sedikit ke belakang, suaranya terdengar pelan namun penuh dengan penyesalan yang mendalam.
“Al... maafin aku ya, soal kejadian kemarin,” ucap Jonathan, nada bicaranya terdengar berat dan penuh rasa bersalah.
“Jujur, aku rasanya nggak tenang banget dari kemarin sore. Sebenernya aku udah niat banget mau anterin kamu pulang sampai depan rumah, mau pastikan kamu aman dan nyaman." Omonganya tertahan seperti ada beban berat yang sedang dia pendam dia menarik napas kasar
"Tapi tiba-tiba ada hal yang dateng mendadak, aku beneran terpaksa harus pergi. Aku nggak ada niat sedikit pun buat ninggalin kamu sendirian kayak gitu. Kamu pasti capek banget nunggu, kan? Maafin aku ya, Al...” ucap Jonathan mengeluarkan semua keluhannya.
Aletta tersenyum lembut di balik punggung Jonathan. Dia bisa merasakan ketulusan dan kekhawatiran yang mendalam dari nada suara pria itu. Tangan gadis itu meremas pelan ujung kemeja Jonathan, seolah ingin mengirimkan rasa tenang lewat sentuhan itu.
“Jo... sudahlah, jangan dipikirin terus ya,” jawab Aletta lembut, suaranya terdengar hangat menembus udara pagi.
“Aku ngerti banget kok, kalau namanya keadaan mendesak, mana ada yang bisa duga? Aku tahu kamu orang yang paling bisa Diandelin, dan aku percaya banget kalau kamu ninggalin aku kemarin itu karena emang harus banget. Aku nggak sakit hati, aku nggak marah, dan aku nggak apa-apa kok. Kamu nggak perlu bawa beban itu terus-terusan ya, kasian diri kamu sendiri.” ucap Aletta
Mendengar kata-kata itu, dada Jonathan terasa sedikit lebih lega, seolah ada angin sejuk yang masuk dan menghapus rasa berat di hatinya.
Namun, dia berjanji dalam hati pagi itu “Hari ini, aku bakal temenin kamu sampai kapan pun. Aku bakal pastikan aku ada di sebelah kamu, buat menebus semua rasa bersalah ini.”
"Iya iya makasih yah walaupun kamu lagi di situ saat ini kamu masih sempat sempat nya ada waktu buat aku" Ucap Aletta mengencangkan pelukannya bukan karena dia takut jatuh dari motor tapi dia sangat bersyukur mempunyai Jonathan saat ini.
Sesampainya di depan puskesmas, keduanya terkejut melihat antrian yang sudah mengular panjang bahkan sampai keluar gerbang pagar.
Ternyata, hari itu adalah jadwal pemeriksaan kesehatan rutin warga, sehingga jumlah pasien berlipat ganda dari hari biasanya. Suasana di dalam puskesmas langsung terasa riuh, penuh suara orang-orang berbicara, anak-anak menangis, dan langkah kaki yang hilir mudik.
“Wah, ramainya minta ampun ya hari ini,” gumam Aletta sambil menatap kerumunan itu dengan serius. Dia menoleh ke arah Jonathan yang sedang memarkirkan motor.
“Jo, kayaknya hari ini aku bakal sibuk banget deh. Kamu nunggu di sini aja ya, atau pulang dulu aja? Nanti kalau udah sepi aku kabarin.”
Jonathan menggeleng tegas, lalu tersenyum lembut. “Nggak apa-apa, aku nunggu aja di sini. Kamu masuk aja, urus tugas kamu. Tenangin hati kamu, aku bakal ada di sini sampai kamu selesai, nggak bakal kemana-mana.”
Aletta mengangguk, lalu bergegas masuk ke dalam gedung. Begitu dia melangkahkan kaki masuk ke ruang pelayanan, waktunya seolah berhenti berputar. Dia langsung diserbu oleh pasien demi pasien yang mengantre untuk diperiksa.
Tangan kanannya sibuk menggunakan stetoskop, mendengarkan detak jantung dan napas para pasien, sementara tangan kirinya tidak berhenti menuliskan data-data medis, hasil pemeriksaan, hingga resep obat di atas kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan cepat.
Suaranya terdengar lembut namun tegas, bertanya keluhan, menjelaskan kondisi kesehatan, dan memberikan nasihat kepada setiap orang yang datang kepadanya.
Fokus Aletta saat itu hanya satu melayani mereka dengan sebaik-baiknya. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa jam di dinding sudah bergerak begitu jauh.
Ponselnya tergeletak diam di dalam tas yang tersimpan di bawah meja, tidak tersentuh sedikit pun. Dia lupa akan dunia luar, lupa akan rasa lelah, dan yang paling dia lupakan adalah memberi kabar kepada Jonathan yang sedang menunggunya di luar sana.
Di kepalanya hanya terbayang wajah-wajah pasien yang membutuhkan bantuannya. Dia tidak tahu, setiap menit yang berlalu, rasa khawatir Jonathan di luar sana semakin tumbuh besar.
Di bangku panjang teras depan puskesmas, Jonathan duduk dengan gelisah. Sudah hampir satu jam Dia menunggu di sana, melihat orang-orang keluar masuk, tapi sosok Aletta sama sekali belum terlihat.
Awalnya dia berpikir, “Palingan sebentar lagi dia keluar, istirahat atau minum air.” Namun menit berganti jam, dan Aletta tetap tidak muncul sama sekali.
Matahari sudah bergeser ke atas kepala, sinarnya terik menyengat kulit, tapi Jonathan sama sekali tidak peduli. Dia mengeluarkan ponselnya, menekan nomor Aletta berkali-kali.
Tuuut… tuuut… tuuut…
Tapi jawabannya selalu sama tidak ada yang mengangkat. Berkali-kali ia kirim pesan bertanya, “Kamu gimana di dalem? Aman?” atau “Udah mau selesai belum?”, tapi pesan-pesan itu hanya terkirim tanpa ada balasan apa pun.
Rasa khawatir perlahan berubah menjadi rasa cemas yang menyiksa, menusuk jauh ke dalam ulu hatinya. Berbagai pikiran buruk mulai berseliweran liar di kepalanya.
“Apa dia kenapa-napa di dalam? Apa dia pingsan karena terlalu capek? Apa ada pasien yang nakal? Atau dia sakit mendadak tapi nggak ada yang tahu?” Semua kemungkinan buruk itu membuatnya tidak tenang.
Dia mulai berjalan mondar-mandir di depan pintu, matanya tak berkedip menatap celah pintu kaca itu, berharap sosok yang dia tunggu segera melintas keluar. Rasanya satu jam itu terasa lebih lama dari sehari penuh baginya.
Akhirnya, saat jam menunjukkan pukul dua siang, pintu kaca itu terbuka perlahan. Aletta melangkah keluar dengan wajah yang sedikit pucat, mata yang sayu karena kelelahan, namun napasnya dihembuskan panjang-panjang seolah melepaskan segala beban berat yang dipikulnya seharian.
Begitu melihat wajah itu, rasa lega seketika membanjiri seluruh tubuh Jonathan, namun rasa marah karena khawatir juga ikut meledak bersamaan. Dia langsung berlari menghampiri, suaranya terdengar tinggi dan bergetar.
“Kamu kenapa lama banget, Al?! Kamu tahu nggak jam berapa sekarang?!” seru Jonathan, matanya menatap tajam namun ada genangan air mata lega di sana.
“Aku telepon nggak diangkat, pesan nggak dibales, aku nungguin kamu hampir satu jam lebih di sini! Aku pikir kamu kenapa-kenapa di dalem, aku pikir kamu sakit, aku pikir hal buruk terjadi sama kamu! Kamu nggak ngerti seberapa takutnya aku, seberapa khawatirnya aku sama kamu!”
Aletta terkejut bukan main melihat reaksi Jonathan. Dia baru sadar betapa egoisnya dia karena terlalu sibuk sampai lupa memberi kabar. Gadis itu langsung memegang kedua lengan Jonathan dengan kedua tangannya, menatap mata pria itu dalam-dalam, penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan yang tulus.
“Maaf… maaf banget ya, Jo… aku minta maaf banget…” ucap Aletta dengan suara lirih, hampir berbisik.
“Hari ini pasiennya luar biasa banyaknya, sampe ruangan penuh banget. Aku sibuk banget periksa, nulis data, ngurusin semuanya, sampai aku beneran lupa sama waktu, lupa sama Handphone aku yang ada di dalem tas. Aku sama sekali nggak bermaksud bikin kamu cemas, bikin kamu nunggu, atau nyakitin hati kamu. Aku salah banget ya, Jo? Maafin aku ya… aku janji nggak bakal ngulang lagi…”
Melihat wajah lelah Aletta dan mendengar penyesalan yang begitu dalam, kemarahan Jonathan perlahan mencair seolah salju terkena panas matahari. Dia menghela napas panjang, lalu perlahan mengusap pelan rambut dan pipi Aletta dengan penuh kasih sayang.
“Sudah… ya sudah, sudahlah nangis kalau gitu,” ucap Jonathan melembut, suaranya kembali teduh seperti biasa.
“Yang penting kamu aman, kamu sehat, dan kamu ada di depan aku sekarang. Ayo, jangan di sini terus. Kamu pasti belum makan dan istirahat sama sekali dari pagi, kan? Ayo ikut aku, aku mau ajak kamu ke suatu tempat.”
Jonathan kembali menyalakan mesin motornya, lalu membawa Aletta melaju menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Tidak lama kemudian, mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang dicat warna-warni cerah.
Di papan nama besar tertulis jelas Warung Seblak Pelangi, milik kakak Jonathan, Rosa. Tempat itu terlihat sama persis seperti beberapa bulan yang lalu yang lalu, tidak ada yang berubah sedikit pun.
Catnya masih sama cerah, jendelanya masih terbuka lebar menghadap jalan, dan aroma kuah pedas yang khas langsung menyapa hidung begitu mereka turun dari motor.
Begitu melangkah masuk dan duduk di meja dekat jendela, mata Aletta tiba-tiba melebar. Dia menatap sekeliling ruangan itu dengan pandangan kosong namun penuh rasa haru. Kenangan lama yang sudah lama tersimpan rapi di sudut ingatannya, tiba-tiba menyeruak keluar begitu saja, hidup dan nyata.
Dia masih ingat betul, dulu saat Aletta pertama kali ke sini bersama Tamara dan Ruby, tempat ini adalah saksi bisu dari semua cerita mereka. Di meja ini perasaan Aletta bercampur aduk dengan pertemuannya dengan Jonathan, dan di tempat ini dia merasa kecewa karena Jonathan telah mempermainkan perasaan nya untuk tidak menemani Aletta.
Aletta menatap Jonathan yang sedang duduk di hadapannya, matanya berbinar-binar menahan rasa haru yang meluap.
“Jo… ingat nggak?” gumam Aletta pelan, suaranya terdengar bergetar karena emosi. “Tempat ini… ini kan tempat kita janjian ketemu dan kamu gak datang menghampiri aku. Dulu kamu datang kan tapi menolak pergi gitu aja tanpa mau menemani aku terlebih dahulu. Semuanya masih sama persis… meja ini, jendela ini, baunya pun masih sama. Dulu aku nunggu kamu di sini berjam-jam.”
Jonathan tersenyum lembut, senyum yang hangat dan penuh makna. Dia menatap Aletta lekat-lekat, matanya menyiratkan ribuan rasa yang tak sempat terucap. Dia mengangguk pelan.
“Aku ingat semuanya, Al. Aku ingat banget,” jawab Jonathan pelan namun jelas.
“aku menyesal karena dulu gak nemuin kamu kalau bukan ka Rosa yang bilang kamu terus nungguin aku mungkin aku gak bakal punya keberanian buat hubungi kamu lagi.” ucap Jonathan dengan penyesalannya
Pipi Aletta perlahan memerah, hatinya terasa hangat sekali seolah dipeluk oleh rasa sedih yang kembali muncul. Di tengah kenangan pahit itu, dia sama sekali tidak menyangka, sebentar lagi kenangan pahit masa lalu pun akan terungkap kembali.
Belum sempat pelayan warung datang untuk mencatat pesanan mereka, ponsel Aletta yang tergeletak di atas meja tiba-tiba berdering panjang.
Di layar muncul wajah dua orang yang paling dekat di hati Aletta selain keluarga Tamara dan Ruby, sahabat sejatinya. Aletta langsung tersenyum lebar, lalu dengan semangat mengangkat panggilan video itu dan mengarahkan layar ponselnya ke arah dirinya dan Jonathan.
“Haiiii kalian! Wah, pas banget deh kalian nelpon!” seru Aletta ceria, suaranya riang menghapus air matanya.
“Lihat nih gue lagi sama siapa! Gue lagi sama Meldi lho, kita ada di Warung Seblak Pelangi, tempat kita dulu kesana mau menemani Jo! Kalian inget gak, tempatnya masih sama persis kayak dulu.” ucap Aletta setelah bergetar.
Namun, begitu wajah Jonathan masuk ke dalam bingkai layar, ekspresi Tamara dan Ruby yang tadinya ceria langsung berubah drastis.
Wajah Tamara langsung masam dan kaku, sementara Ruby di sampingnya langsung menghentakkan kakinya di lantai dengan kesal, bibirnya manyun jauh ke bawah seolah menahan amarah yang sudah lama tersimpan.
“Seblak Pelangi?!” seru Tamara dengan nada suara yang tinggi dan tajam, matanya menatap lurus ke arah Jonathan lewat layar ponsel.
“loh berani banget ya, Jo! Loh berani banget bawa Aletta ke tempat itu? loh lupa sama sekali apa kejadian yang pernah terjadi di sana? Loh lupa sama dosa besar loh waktu itu?!”
Ruby langsung menyambar pembicaraan, suaranya terdengar penuh emosi yang meluap-luap, marah dan kesal yang masih terasa segar.
“Iya bener banget kata Tamara! Loh lupa ya, Jo?! Loh lupa nggak kalau dulu, di tempat itu juga, loh pernah janjian ketemu sama Aletta? Loh janji bakal dateng jam dua siang, tapi loh nggak pernah muncul sama sekali! Aletta nungguin loh, Jo! Dia nungguin loh dari jam dua sampai jam lima sore, sendirian di sini, duduk diam nggak beranjak!". Ucap Ruby berbicara tanpa memberi celah sedikit pun kepada Jonathan untuk menjelaskannya.
"Dia nungguin loh sampai dia lemes, sampai dia kelaparan, sampai dia hampir pingsan di kursi itu karena capek dan kecewa berat! Loh tahu nggak seberapa sedihnya dia waktu itu? Dia pulang nangis-nangis ke rumah gara-gara loh! Dan sekarang loh santai banget bawa dia ke sini kayak nggak ada apa-apa?!” ucapnya lagi
Suasana di meja itu seketika menjadi hening total. Hanya suara hiruk-pikuk warung di latar belakang yang terdengar. Aletta menundukkan wajahnya dalam-dalam, dia tidak berani menatap Jonathan, kenangan pahit itu kembali terbayang jelas di kepalanya.
Jonathan pun terdiam kaku, tubuhnya terasa berat dan panas. Kata-kata sahabat Aletta itu seperti pisau tajam yang menancap tepat di ulu hatinya. Dia sadar, kesalahannya di masa lalu itu ternyata begitu besar, begitu membekas, dan begitu menyakiti orang-orang yang dicintainya.
Perlahan, Jonathan mengangkat wajahnya. Dia mendekatkan wajahnya tepat ke arah kamera ponsel itu, menatap mata Tamara dan Ruby satu per satu dengan tatapan yang sangat tulus, sangat dalam, dan penuh penyesalan yang tak terkira. Suaranya keluar dengan nada rendah, tenang, namun begitu menyentuh hati.
Jonathan hanya menanggapinya dengan ekspresi senyum karena memang dia juga telah menyesal perbuatannya yang pengecut.
"Aku emang pengecut Al udah nyakitin hati kamu" Ucap Jonathan membatin
~be to continuous~