NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:18.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bahagia Tanpa Masa Lalu

POV Kanaya

Aku duduk di ruang tengah, memangku Nayara dengan hati-hati. Tubuhnya yang kecil terasa hangat di pelukanku, napasnya teratur, dan sesekali ia mengeluarkan suara lembut yang membuat hatiku seketika luluh.

“Nayara…” bisikku pelan sambil mengusap pipinya.

Satu bulan.

Baru 4 bulan ia hadir di hidupku, tapi rasanya… seolah ia sudah menjadi bagian dari diriku sejak lama.

Aku tersenyum tipis.

“Kalau tidak ada kamu…” gumamku lirih, “mungkin Mama sudah lama hancur.”

Aku menatap wajah mungil itu lebih lama.

Begitu tenang.

Begitu polos.

Tidak tahu apa-apa tentang dunia yang rumit.

Tidak tahu tentang luka, tentang pengkhianatan, tentang kehilangan.

Dan mungkin… itu yang membuatku bertahan.

Karena setiap kali aku merasa lelah, setiap kali bayangan masa lalu mencoba menarikku kembali

aku hanya perlu melihatnya.

Dan semuanya terasa… lebih ringan.

Langkah kaki terdengar dari arah dapur.

“Ibu,” panggilku pelan.

Ibuku mendekat, menatap kami dengan senyum hangat yang selalu berhasil menenangkan.

“Dia belum tidur?” tanyanya.

Aku menggeleng pelan.

“Baru bangun,dan minum susu” jawabku.

Ibuku duduk di sampingku, memperhatikan Nayara dengan penuh kasih.

“Anak yang kuat,” katanya pelan. “Seperti ibunya.”

Aku tersenyum kecil.

“Dia yang membuatku kuat, Bu.”

Sunyi sejenak.

Namun kehangatan itu tidak bertahan lama.

Karena aku tahu… ada sesuatu yang ingin ibu katakan.

Dan aku juga tahu… tentang siapa.

“Nak…” suara ibu terdengar hati-hati.

Aku menatapnya sekilas.

“Iya, Bu?”

Ibu terdiam sejenak, seolah menimbang kata-kata.

“Fatan sudah kembali nak” katanya perlahan.

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

Namun aku tidak menunjukkan apa-apa.

Aku tetap menatap Nayara

Dan sebelum ibu melanjutkan

aku memotongnya.

“Bu,” ucapku pelan namun tegas, “tolong… aku tidak ingin membahasnya.”

Ibu terdiam.

Aku menarik napas perlahan.

“Segalanya sudah menjadi masa lalu,” lanjutku. “Aku tidak ingin mengingatnya lagi.”

Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi.

Ibu menatapku lama.

“Tapi, Nak…” ia mencoba berbicara.

Aku menggeleng pelan.

“Bu…” suaraku lebih lembut kali ini, tapi tetap tegas, “aku sudah melewati semuanya dengan susah payah,aku sudah di titik ini,tolong jangan membahas yang sudah aku lupakan dan aku kubur dalam-dalam”

Aku menatap ibu.

Ada banyak hal yang tidak pernah benar-benar aku ceritakan.

Tentang malam-malam yang penuh air mata.

Tentang rasa sakit yang tidak pernah aku tunjukkan.

Tentang bagaimana aku harus mengumpulkan kembali diriku yang hancur.

Dan sekarang

aku tidak ingin kembali ke sana.

“Segalanya akan berjalan dengan baik,” kataku perlahan.

Aku mengusap kepala Nayara dengan lembut.

“Kehadirannya… tidak akan mengganggu kehidupan kita,” lanjutku.

Aku berhenti sejenak.

Menegaskan setiap kata.

“Kehidupanku. Kehidupan anakku. Atau keluarga ini.”

Ibu menatapku dalam.

Seolah mencari sesuatu.

Mungkin… kejujuran.

Atau mungkin… luka yang masih tersisa.

Dan aku tahu

luka itu masih ada.

Tapi aku tidak akan membiarkannya menguasai hidupku lagi.

Ibu menghela napas pelan.

“Kamu benar-benar sudah berubah,” katanya akhirnya.

Aku tersenyum tipis.

“Karena aku tidak punya pilihan lain, Bu.”

Sunyi kembali datang.

Namun kali ini… tidak terasa berat.

Aku kembali menatap Nayara

Tangannya yang kecil menggenggam jariku.

Refleks.

Sederhana.

Tapi cukup untuk membuat hatiku menghangat.

“Aku tidak bisa hidup untuk masa lalu lagi,” bisikku pelan.

Lebih pada diriku sendiri.

Dulu, mungkin aku terlalu lama bertahan pada sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.

Terlalu lama berharap.

Terlalu lama menunggu.

Dan akhirnya…

aku kehilangan diriku sendiri.

Tapi sekarang

aku tidak akan mengulanginya.

“Bu,” panggilku pelan.

“Iya, Nak?”

“sungguh,Aku tidak membenci Fatan,” kataku tiba-tiba.

Ibu sedikit terkejut.

Aku tersenyum kecil.

“Benci itu melelahkan,” lanjutku. “Dan aku sudah cukup lelah.”

Aku menarik napas panjang.

“Aku hanya… tidak ingin kembali mengingat rasa sakitku”

Itu saja.

Sederhana.

Tapi cukup.

Ibu mengangguk pelan.

“Mungkin itu yang terbaik,” katanya.

Aku tidak menjawab.

Karena aku tahu

ini bukan hanya tentang apa yang terbaik.

Ini tentang apa yang perlu.

Untukku.

Untuk Nayara

Untuk hidup yang sedang aku bangun sekarang.

Aku berdiri perlahan, masih menggendong Nayara

“Aku mau ke kamar dulu, Bu,” kataku.

Ibu mengangguk.

“Istirahatlah.”

Aku melangkah menuju kamar.

Setiap langkah terasa lebih ringan.

Bukan karena semuanya sudah selesai.

Tapi karena aku memilih untuk tidak lagi terjebak di dalamnya.

Sesampainya di kamar, aku meletakkan Nayara dengan hati-hati di tempat tidurnya.

Ia masih terjaga.

Matanya menatapku.

Aku tersenyum.

“Tenang saja…” bisikku. “Mama ada di sini.”

Aku duduk di sampingnya.

Menjaga.

Seperti janji yang tidak pernah aku ucapkan

tapi aku pegang sepenuhnya.

Aku mungkin tidak bisa mengubah masa lalu.

Tidak bisa menghapus luka yang pernah ada.

Tapi aku bisa menentukan bagaimana aku menjalani hidupku sekarang.

Dan untuk pertama kalinya…

aku merasa cukup kuat untuk melakukannya.

“Selamat malam, Nayara,kamu tidak usah cemas Nak,kita akan baik baik saja,” bisikku pelan.

Lampu kamar diredupkan.

"kenapa Fatan harus kembali"desisku

Malam terasa terlalu sunyi.

Aku berdiri di dekat jendela kamar, memeluk diri sendiri tanpa sadar. Di luar sana, lampu-lampu kota berkelip seperti biasa ,indah, tapi terasa jauh. Seperti hidupku sekarang… terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya masih menyimpan banyak hal yang belum selesai.

Aku menghela napas pelan.

“Kenapa harus dia…” bisikku lirih.

Bayangan itu muncul lagi.

Fatan.

Dengan seragam sopirnya.

Dengan sikap yang… berbeda.

Aku memejamkan mata sejenak, mencoba mengusirnya. Tapi tidak bisa. Semakin aku menolak, semakin jelas semuanya.

Hari ini terlalu banyak.

Terlalu mendadak.

Aku bahkan belum benar-benar siap menghadapi masa lalu… tapi masa lalu itu datang sendiri, berdiri tepat di hadapanku.

Aku membuka mata perlahan, menatap pantulan diriku di kaca jendela.

“Ini keputusan yang salah…” gumamku.

Menerimanya bekerja di sini.

Menjadikannya sopirku.

Itu sama saja dengan… membuka kembali luka yang sudah susah payah aku tutup.

Aku menunduk.

Tanganku mengepal pelan.

“Aku sudah sejauh ini…” bisikku. “Kenapa aku harus kembali lagi ke titik itu?”

Aku ingat bagaimana aku membangun semuanya dari nol.

Bagaimana aku memaksa diriku bangkit.

Bagaimana aku belajar berdiri tanpa bergantung pada siapa pun.

Dan sekarang

hanya karena satu keputusan…

semuanya terasa goyah lagi.

Aku berjalan pelan ke arah tempat tidur, lalu duduk di tepinya.

Pikiranku terus berputar.

“Kalau aku memecatnya…” aku berhenti sejenak.

Kalimat itu terasa berat.

“Apa itu lebih baik?”

Aku menggeleng pelan.

Tidak.

Itu bukan solusi.

Aku tahu keadaannya sekarang.

Aku melihatnya sendiri.

Bukan lagi Fatan yang dulu.

Bukan pria dengan segalanya di tangan.

Tapi seseorang yang… sedang berusaha bertahan.

Dan aku tahu…

tidak akan mudah baginya mendapatkan pekerjaan.

Apalagi kepercayaan.

Aku menatap kosong ke depan.

“Dia butuh pekerjaan ini…” gumamku.

Dan itu fakta.

Aku tidak bisa memungkiri.

Meskipun… bagian dari diriku ingin menjauh.

Ingin menutup pintu itu rapat-rapat.

Ingin memastikan masa lalu itu tidak pernah masuk lagi ke dalam hidupku.

Aku menghela napas panjang.

“Kalau aku memecatnya sekarang…” bisikku, “aku tidak berbeda dari orang-orang yang meninggalkannya saat dia jatuh.”

Kalimat itu membuat dadaku terasa sesak.

Aku menutup wajahku dengan kedua tangan.

“Kenapa semuanya harus serumit ini…”

Sunyi menjawab.

Aku menurunkan tangan perlahan.

Tatapanku kembali kosong.

Aku tidak ingin kembali terluka.

Itu yang paling aku takutkan.

Aku tidak ingin mengingat semua yang sudah aku lewati.

Tidak ingin kembali ke malam-malam di mana aku merasa tidak cukup.

Tidak ingin lagi merasakan bagaimana rasanya dicintai… sendirian.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak,” kataku pada diri sendiri. “Aku tidak akan kembali ke masa lalu itu.”

Namun di sisi lain…

aku juga tidak bisa menutup mata.

Fatan memang pernah menyakitiku.

Sangat.

Tapi sekarang…

dia bukan lagi orang yang sama.

Aku bisa melihatnya.

Cara dia bicara.

Cara dia menunduk.

Cara dia menjaga jarak.

Semuanya berubah.

Dan entah kenapa…

itu membuatku bingung.

Aku berdiri lagi, kembali ke jendela.

Angin malam berembus pelan.

“Apa aku harus memberinya kesempatan…?” bisikku.

Bukan kesempatan untuk kembali.

Tidak.

Tapi kesempatan… untuk memperbaiki hidupnya.

Aku terdiam lama.

Menimbang.

Memikirkan segala kemungkinan.

Kalau aku mempertahankannya

aku harus siap.

Siap melihatnya setiap hari.

Siap menghadapi perasaan yang mungkin belum sepenuhnya hilang.

Siap menjaga batas.

Namun kalau aku melepaskannya

aku tahu…

itu akan jauh lebih buruk untuknya.

Dan mungkin…

aku akan menyesal.

Aku tersenyum tipis, pahit.

“Kenapa aku masih memikirkan dia…” gumamku.

Aku menggeleng pelan.

Mungkin bukan tentang dia.

Mungkin ini tentang diriku sendiri.

Tentang bagaimana aku ingin menjadi seseorang yang lebih baik.

Tidak hanya kuat…

tapi juga adil.

Aku menarik napas dalam.

Lalu menghembuskannya perlahan.

“Baiklah…” kataku pelan.

Aku menatap ke luar lagi.

“Aku tidak akan memecatnya,aku juga tidak akan melibatkan perasaan,itu semua sudah aku kubur dalam dalam”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Namun aku tahu

itu bukan keputusan yang mudah.

“Bukan karena aku masih peduli,” lanjutku dalam hati. “Tapi karena… ini yang benar.”

Aku menegakkan tubuh.

Tatapanku perlahan berubah.

Lebih tegas.

Lebih tenang.

“Tapi batas tetap batas,” bisikku.

Aku tidak akan membiarkan masa lalu menguasai hidupku lagi.

Tidak akan.

Fatan hanya sopir.

Tidak lebih.

Dan aku…

aku sudah bukan wanita yang dulu.

Aku memejamkan mata sejenak.

Lalu membukanya kembali.

“Ini hanya ujian,” kataku pelan.

Dan kali ini…

aku tidak akan kalah.

1
Chi Hoong Yap
kasihan kayana saya ingat dia masih cinta Fatan walaupun sekarang belum maaf kan.Amira bukan hanya iri dengan kayana sekarang seolah ada di awan gunakan anak untuk balas dendam
Nirna: Terima kasih komentarnya, Kak. 🤗 Pendapat Kakak menarik sekali. Memang Amira sedang berada di posisi yang rumit juga karena Bagaskara juga tidak akan membiarkan Amira menikah begitu saja dengan fatan, jadi tindakannya bisa menimbulkan banyak penafsiran. Kita lihat bersama bagaimana perjalanan Amira dan Fatan ke depannya. Semoga tetap betah mengikuti ceritanya ya. ❤️
total 1 replies
Haryati Atie
ka semangat up nya makin seru .
Nirna: Terima kasih banyak, Kak, atas semangat dan dukungannya. Senang sekali kalau ceritanya bisa menghibur dan membuat Kakak penasaran. Semoga bab-bab berikutnya semakin seru dan berkesan. Selamat membaca ya, Kak 😊❤️
total 1 replies
rina saragih
viktor jodohmu sedang otw, sabar ya.. viktor cinta terakhir dan cinta sejatinya kanaya😍
Nirna: Aamiin, Kak. Terima kasih atas doanya dan sudah setia mengikuti cerita ini. Semoga yang terbaik memang menanti Viktor. Kita lihat bersama bagaimana perjalanan mereka selanjutnya ya, Kak. ❤️😊
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk
Nirna: Siap, Kak. Terima kasih sudah setia mengikuti ceritanya. Semoga lanjutannya juga berkenan ya. ❤️
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk thoor
Nirna: Terima kasih banyak sudah mampir dan membaca, Kak. Lanjutannya segera aku up ya. 😊❤️
total 1 replies
Yanti Purnomo
sampe gk bisa berkata" terkesima dng cerita novelnya 😭
Nirna: MasyaAllah,,,Terima kasih banyak kak. Senang sekali mengetahui cerita ini bisa membuat kakak terkesima. Dukungan dan komentar seperti ini menjadi penyemangat author untuk terus melanjutkan kisah mereka. Semoga kakak selalu menikmati setiap bab selanjutnya. ❤️🥰🙏
total 1 replies
rina saragih
up yang banyak kak ceritanya bagus👍
Nirna: Terima kasih banyak, Kak. 🤗 Senang sekali Kakak menikmati ceritanya. Jangan lupa nantikan kelanjutan bab berikutnya ya. ❤️
total 1 replies
Ana Martino
kamu gak kurang, tapi kamu bego dan bodoh soal cinta. jgn krn perkara anak, kalau rujuk sm laki model kek gt.. sekali selingkuh tetap saja, krn itu penyakit dan tdk akan pernah berubah.
Nirna: Terima kasih banyak kakak sudah membaca dan meluangkan waktu untuk berkomentar. 😊 Setiap pembaca tentu punya sudut pandang yang berbeda terhadap karakter dan keputusan yang mereka ambil. Memang luka karena perselingkuhan bukan hal yang mudah untuk dimaafkan. Mari kita ikuti bersama bagaimana perjalanan dan perkembangan karakter mereka di cerita ini. Semoga tetap menikmati kelanjutannya. ❤️🙏
total 1 replies
Himna Mohamad
up nya bnyk kk ditunggu notif nya,,bagus ceritamu thoor
Nirna: MasyaAllah, terima kasih banyak kak sudah mampir dan kasih dukungan. 😊 Senang banget kakak suka dengan ceritanya. Semoga selalu terhibur dengan kisah mereka. Mohon sabar menunggu update berikutnya ya, insyaAllah akan segera saya lanjutkan. ❤️🙏
total 1 replies
Himna Mohamad
thoor tolong jgn sampai fatan ambil harta kanaya,,buat fatan dipecat,buat lg dia seperti dllu gembel
Nirna: Makasih banyak ya kak sudah baca dan kasih masukannya 😊🙏
Tenang aja kak, alurnya bakal terus berkembang dan semua akan ada balasannya di waktu yang tepat. Ditunggu kelanjutannya yaa ❤️
total 1 replies
Haryati Atie
thoor pertama nih baca nya 😄 .
msih panjang ga thoor bab nya ?
Nirna: Wah terima kasih banyak kak sudah mampir baca 😊💕
Untuk babnya masih akan lanjut terus ya kak, doakan semoga bisa update panjang dan rutin. Stay tuned yaa
total 1 replies
Ria Susanti
iya Thor bikin keduanya menyesal dan hancur😡
Nirna: Siap kak 😄 doakan aja ya semoga ceritanya makin seru dan mereka benar-benar sadar atas kesalahannya. Terima kasih sudah baca dan support 💖
total 1 replies
Himna Mohamad
thoor jgn sampai amira menikmati harta kanaya,,balikin lg fatan gk punya spa2,,kyk dllu
Nirna: Makasih banyak ya kak sudah baca dan kasih pendapat 🤍🙏
Tenang, semua alur sudah thor siapkan dengan kejutan-kejutan ke depannya 😄 Jangan lupa terus ikuti ceritanya ya!
total 1 replies
Haryati Atie
thor bikin kanaya tau kelakuan 2 manusia ini biar kanaya sadar dia juga ikut adil hancur rumah tangga nya karna memasukan amira kehidupan dia lagi.
Nirna: Terima kasih banyak kak sudah baca dan kasih pendapat 🤍🙏
Alurnya memang pelan-pelan dibuka supaya emosinya lebih terasa. Ditunggu ya kak, nanti akan ada saatnya Kanaya tahu semuanya 😉✨
total 3 replies
Umi Musringah
bertele2
Nirna: Terima kasih banyak kak sudah mampir dan komentar Semoga ceritanya bisa terus menghibur ya, ditunggu lanjutannya🙏
total 1 replies
Anonim
Maksa banget sih kanaya,demi apa coba kalau laki g cinta y run lah masa iya hati orang harus kamu paksa cinta sama kamu.
Carilah lelaki yg cinta sama kamu
Nirna: Hehe iya kak, kelihatannya memang ‘maksa’ ya 😅 Tapi justru di situ letak konflik ceritanya. Tenang, perjalanan Kanaya masih panjang kok , terimakasih banyak sudah membaca🙏
total 1 replies
Anonim
Kanaya ko lemah banget jadi cewe,masa gitu aja g paham.keliatan dari sikap aja kalau suami nya cinta sama dia,run kanaya
Nirna: makasih ya kakak pendapatnya 😊 Kadang yang kelihatan ‘nggak paham’ itu bukan berarti lemah… tunggu kelanjutannya ya🙏
total 1 replies
Haryati Atie
ko aku greget ya sama peran kanaya di sini mau d gondol lagi laki nya tpi untung nya amira sadar diri .
Nirna: Hehe iya kak, emang Kanaya di sini bikin gemes ya 😅mungkin karena saking baiknya, Terima kasih sudah baca dan ikut merasakan ceritanya. Untungnya Amira masih bisa sadar diri. Ditunggu terus ya kelanjutannya ❤️
total 1 replies
Himna Mohamad
lanjut kk ceritanya bagus kk
Nirna: Terima kasih banyak kak atas dukungannya 😊 Semoga ceritanya selalu berkenan di hati kakak. Ditunggu terus ya kelanjutannya 🙏
total 1 replies
Himna Mohamad
siippp👍👍👍👍👍 kanaya
Nirna: Terima kasih banyak kak 🙏😊 senang banget Kakak suka sama ceritanya, apalagi sama Kanaya 🤍 Doain terus ya supaya ceritanya makin seru ke depannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!