NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Cahaya fajar yang masih remang menembus celah gorden beludru kamar itu saat suara ketukan pintu yang teratur membangunkanku. Aku masih meringkuk, berusaha mengabaikan denyut nyeri di kakiku, namun pintu sudah terbuka.

Lima orang maid dengan seragam hitam-putih yang kaku masuk ke dalam kamar. Wajah mereka tertunduk, nyaris tanpa ekspresi, namun gerakannya sangat cekatan.

"Nona, saatnya mandi. Tuan Besar Erlan sudah menunggu," ucap salah satu dari mereka, yang terlihat paling senior.

"Ini masih terlalu pagi... dan aku bisa mandi sendiri nanti," jawabku parau, mencoba menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang gemetar.

"Maaf, Nona. Kami diperintah untuk membantu Anda. Tuan Besar Erlan tidak ingin ada keterlambatan sedetik pun," sahut maid itu lagi.

Dua orang dari mereka maju dan tanpa permisi menyibakkan selimutku. Saat aku mencoba memberontak, rasa perih yang luar biasa menusuk dari telapak kakiku. Aku meringis, dan saat itulah mereka membopongku dengan hati-hati namun tegas menuju kamar mandi mewah yang luasnya hampir menyamai luas toko bunga Bibi Elsa.

"Lepaskan aku! Aku bilang aku tidak mau!" teriakku sambil meronta kecil.

"Kumohon, Nona... jangan melawan," bisik salah satu maid muda dengan suara bergetar ketakutan. "Tuan Erlan sendiri yang mengawasi jadwal ini. Jika kami gagal, kami yang akan menerima hukumannya."

Melihat ketakutan yang nyata di mata gadis itu, nyaliku ciut. Aku terpaksa menurut saat mereka membersihkan tubuhku dengan air hangat yang beraroma mawar. Setiap sentuhan mereka terasa seperti persiapan untuk sebuah upacara pengorbanan.

Setelah mandi, mereka membawaku kembali ke kamar dan mendudukkanku di depan cermin besar. Aku hanya bisa diam saat mereka mengoleskan berbagai macam krim di wajahku dan menata rambutku yang berantakan.

Lalu, dua pelayan lainnya keluar dari ruang pakaian dengan membawa sebuah manekin yang mengenakan sesuatu yang membuat jantungku nyaris berhenti berdetak.

Sebuah gaun pengantin putih bersih dengan potongan off-shoulder yang elegan, dihiasi detail renda buatan tangan yang sangat rumit dan ribuan kristal kecil yang berkilau terkena cahaya lampu. Gaun itu sangat indah, namun bagiku, itu terlihat seperti kain kafan yang akan membungkus kebebasanku selamanya.

"Pakaikan sekarang," perintah sang maid senior.

"Tunggu!" aku berdiri dengan tumpuan satu kaki yang sehat, mencengkeram pinggiran meja rias. "Apa maksudnya ini? Kenapa gaun pengantin? Aku... aku akan menikah hari ini?"

Para pelayan itu saling pandang, lalu kembali menunduk. Tidak ada yang berani menjawab.

"Jawab aku!" teriakku histeris.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan dentuman pelan. Darrel berdiri di sana. Ia sudah rapi dengan setelan tuxedo hitam yang sangat pas di tubuh tegapnya. Wajahnya masih sedingin kemarin, bahkan mungkin lebih kaku.

"Keluar," perintah Darrel kepada para pelayan.

Tanpa suara, para maid itu membungkuk dan bergegas meninggalkan kamar, menyisakan keheningan yang menyesakkan di antara kami. Darrel berjalan mendekat, matanya menatap gaun putih itu sekilas sebelum beralih ke mataku yang mulai berkaca-kaca.

"Erlan tidak suka menunggu, Lily. Dan dia memutuskan bahwa perjamuan darah hari ini harus dibuka dengan sebuah ikatan," ucap Darrel datar.

"Kau gila! Kalian semua gila!" aku terisak, menunjuk gaun itu dengan tangan gemetar. "Kau bilang kau tidak mau menikah! Kau bilang kau akan menjamin keselamatanku!"

Darrel maju selangkah, memperpendek jarak di antara kami. Ia mencengkeram daguku, memaksaku menatap matanya yang gelap dan tak terbaca.

"Rencanamu untuk lari ke hutan kemarin telah membunuh semua pilihan yang kupunya, Lily. Sekarang, pakailah gaun itu. Menikahlah denganku secara hukum, atau kau akan melihat Erlan menghancurkan apa pun yang pernah kau sayangi sebelum matahari mencapai puncaknya."

Ia melepaskan daguku dengan kasar, lalu berbalik memunggungi aku. "Aku beri waktu sepuluh menit. Jika kau tidak keluar dengan gaun itu, aku sendiri yang akan memakaikannya padamu."

***

Aku jatuh terduduk di lantai, tepat di bawah gaun pengantin yang mengejekku dengan kemewahannya. Air mata mengalir deras, membasahi pipi dan merusak riasan yang baru saja dipasang dengan susah payah oleh para pelayan. Dadaku sesak. Bayangan ayah yang tersenyum saat menjemputku sekolah dulu hancur, digantikan oleh tanda tangan di atas kertas berdarah dua puluh tahun lalu.

"Kenapa, Ayah? Apa yang sebenarnya Ayah lakukan?" raungku dalam tangis yang terisak.

Suara pintu yang terbanting keras membuatku tersentak. Darrel melangkah masuk dengan kilat amarah yang lebih mengerikan dari sebelumnya. Di belakangnya, Erlan Grisham menyusul dengan wajah tenang yang justru lebih menakutkan.

"Lihat dirimu," desis Darrel, menunjuk wajahku yang kacau karena maskara yang luntur. "Aku memberimu waktu sepuluh menit, dan kau malah bertingkah seperti drama murahan!"

Aku tidak memedulikan makian Darrel. Aku merangkak di lantai, bersimpuh di depan kaki Erlan yang terbungkus sepatu kulit mahal. Aku mencengkeram celananya, memohon dengan sisa harga diriku.

"Tuan Erlan, kumohon... jangan lakukan ini," rintihku dengan suara serak. "Aku tidak ingin menikah. Aku tidak ingin tinggal di sini. Aku punya mimpi, Tuan. Aku ingin melanjutkan kuliahku, aku ingin menjadi orang berguna. Tolong, lepaskan aku..."

Erlan bahkan tidak menunduk untuk menatapku. Ia hanya membuang abu cerutunya ke lantai, tepat di samping tanganku. "Mimpi hanya milik orang yang tidak punya hutang, Lily. Di dunia ini, kau hanya punya satu kewajiban: membayar."

"Tuan!" aku beralih menatap Darrel, mencoba mencari secercah kemanusiaan di matanya. "Kau bilang kau tidak mau pernikahan ini! Katakan sesuatu!"

Darrel hanya membuang muka, rahangnya mengeras. "Sudah terlambat."

Keputusasaan yang gelap menyerang otakku. Aku melihat ke sekeliling dengan liar, mencari jalan keluar yang tidak ada. Hingga mataku menangkap kilatan logam di atas nakas. Sebuah pisau buah kecil yang tertinggal dari buah-buahan semalam.

Dalam satu gerakan cepat, aku menyambar pisau itu dan mengarahkannya ke leherku sendiri.

"HENTIKAN! ATAU AKU AKAN MATI DI SINI!" teriakku histeris.

Erlan hanya mengangkat alisnya, tidak bergerak sedikit pun. Sementara Darrel mendengus sinis, melipat tangannya di depan dada. "Kau pikir aku terkesan dengan gertakan bodoh itu? Letakkan pisaunya, Lily. Kau terlalu penakut untuk melukai dirimu sendiri."

"Kau pikir ini omong kosong?" aku tertawa sumbang di tengah tangisku. "Kalian mengambil kebebasanku, kalian mengambil masa depanku. Jika aku tidak bisa memiliki hidupku, maka kalian juga tidak bisa memiliki 'aset' ini!"

"Letakkan, Lily. Jangan membuatku kehilangan kesabaran," suara Darrel merendah, penuh ancaman.

"Tidak!"

Dengan amarah dan keputusasaan yang memuncak, aku mengalihkan pisau itu dari leher ke pergelangan tangan kiriku. Sebelum mereka sempat bereaksi, aku menekannya kuat dan menariknya dengan satu sentakan.

Srettt!

Rasa panas yang tajam seketika menjalar. Cairan merah kental langsung menyembur, membasahi lantai dan mengenai ujung gaun pengantin putih yang suci itu. Aku terkesiap, melihat darahku sendiri terus mengalir deras, membasahi kulitku yang pucat. Pandanganku mulai bergetar, namun aku menatap mereka dengan tatapan menantang.

"Sekarang... apa kalian masih mau menikahi mayat?" bisikku parau sebelum tubuhku limbung ke belakang.

Wajah Darrel yang tadinya tenang mendadak berubah pucat pasi. Ia meneriakkan namaku, tapi suaranya terdengar seperti dari kejauhan. Sebelum kegelapan benar-benar menelanku, aku melihat Darrel menerjang ke arahku, mencoba menahan pendarahan di tanganku dengan tangan kosongnya, sementara Erlan berteriak memanggil tim medis.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di mata Darrel Alaric Grisham. Dan entah kenapa, itu membuatku tersenyum dalam pingsanku.

***

Bersambung...

1
Syarwiti Aulia
episode ny sdikit,,bttul Nungguin ny lma bnget
MissSHalalalal: baik, Author usahakan lebih banyak lagi. 🙏
total 1 replies
Mia Camelia
semangat thor😄👍
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
Tuti Handayani
bagus banget
MissSHalalalal: terimakasih kk🙏
total 1 replies
Mia Camelia
lanjut thor🥰🥰🥰
Mia Camelia
thor ceritaiin dong siapa ortu nya liliy???? kepoo nih thor🥰🥰🥰🥰
Mita Paramita
lagi Thor update 🔥🔥🔥
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Vanni Sr
semkiin kereen yaaaa , mungkin lily ank angkt org tua nya dlu py kuasa
Mia Camelia
darel kejam gak mau denger penjelasan lily😔
Nanik Arifin
mengertilah Lily, Darrel hanya ingin melindungimy. dr awal hanya itu yg ingin Darrel lakukan, tapi kamu aj yg keras kepala, pakai acr kabur segala. sepertinya Darrel ingin memutus generasi klan ini. sepak terjang klan ini tak sejalan dg rasa kemanusiaan Darrel yg begitu besar. nyata dia seorang dokter yg empati & jiwa menolongnya tinggi.
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Mia Camelia
semangat thor, 🥰🥰🥰
Erna Tazmania
seru..semangat tor
Mita Paramita
lagi Thor update lagi 😘😘😘
seru banget ceritanya
Vanni Sr
kereeeen darrel mulai cmburuu
Mia Camelia
gak sabar mau ngliat pesta nya , mpe lily merasa tertekan😂
Mia Camelia
ceritaiin sedikit thor tentang kaka nya darel ky gimana ??? jdi penasaran😂
Mia Camelia
seru banget thor🥰, ayoo update lgi yg banyak☺😄
Mita Paramita
lagi Thor 🤣🤣🤣seru banget ceritanya
Mia Camelia
seru banget ini👍🥰😄
Fariza Imut: seru aku suka ceritanya
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut lagi double up 🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!