Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Persami
Dua minggu berlalu secepat kedipan mata. Kabar tentang Clarissa yang melabrak Cinta di koridor memang sempat menjadi buah bibir, namun tenggelam oleh antusiasme besar warga SMA 1 Nusa Bangsa menyambut hari Sabtu yang dinanti yaitu pelaksanaan Persami. Bagi sebagian siswa, ini adalah momen untuk melatih ketangkasan pramuka, namun bagi Cinta, ini adalah ujian bagi jantungnya yang semakin hari semakin tidak sehat tiap kali berada di dekat Rian.
Sabtu pagi itu, udara terasa sedikit lebih sejuk dari biasanya. Cinta sudah berdiri di depan teras rumahnya, mengenakan seragam pramuka lengkap dengan kacu yang terikat rapi di lehernya. Di samping kakinya, sebuah tas berukuran sedang dan satu totebag besar berisi peralatan mandi sudah siap sedia.
"Cinta, sudah siap semua?" tanya Mamah dari ambang pintu, membawa kotak bekal berisi roti bakar cokelat. "Jangan lupa makan, nanti di sekolah kegiatannya pasti padat."
"Sudah, Mah. Rian juga sebentar lagi sampai," jawab Cinta sambil mengecek kembali isi totebag-nya.
Tak lama kemudian, deru mesin motor besar yang sangat familiar terdengar mendekat. Rian muncul dengan gagah, mengenakan seragam pramuka yang entah kenapa terlihat jauh lebih keren saat ia yang memakainya. Lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Pagi, Tante, Om," sapa Rian sopan setelah memarkir motor dan menyalami Mamah Cinta.
"Pagi, Rian. Titip Cinta ya, jangan sampai telat makan," ucap Mamah sambil tersenyum penuh arti.
"Siap, Tante. Saya akan jaga terus," jawab Rian mantap, yang sukses membuat pipi Cinta merona pagi-pagi sekali.
...****************...
Perjalanan menuju SMA 1 Nusa Bangsa terasa lebih singkat dari biasanya. Mungkin karena pikiran Cinta sibuk membayangkan bagaimana dua hari satu malam ini akan berlangsung. Begitu motor Rian memasuki gerbang sekolah, suasana sudah sangat ramai. Bus-bus sekolah dan motor siswa memenuhi area parkir. Tenda-tenda sudah mulai didirikan di lapangan belakang oleh tim perlengkapan OSIS.
Rian menghentikan motornya tepat di depan area drop-off dekat lobi, tempat di mana banyak siswa kelas XI MIPA 1 berkumpul. Cinta segera turun dari boncengan dan mulai melepas helmnya.
"Sini, biar aku yang bawa," ucap Rian tiba-tiba.
Cinta baru saja hendak meraih tas dari bagasi samping motor, namun Rian sudah lebih dulu menyampirkan tas berat itu ke bahunya sendiri. Belum cukup sampai di situ, Rian juga meraih totebag kain milik Cinta.
"Eh, Rian! Jangan, biar aku bawa sendiri saja. Tas nya berat, apalagi ditambah totebag itu," tolak Cinta refleks. Ia merasa tidak enak, apalagi Rian juga membawa tas nya sendiri yang ukurannya jauh lebih besar.
"Tidak apa-apa, Cinta. Cuma begini saja tidak akan membuatku pingsan," sahut Rian santai. Ia kini berdiri tegak dengan dua tas. Miliknya di punggung dan milik Cinta di bahu depan, serta totebag di tangan kirinya.
"Rian, tapi ini memalukan! Lihat, orang-orang melihat kita," bisik Cinta panik sambil melirik teman-teman sekelasnya yang mulai kasak-kusuk.
Rian justru menatap balik teman-temannya dengan tatapan datar, lalu kembali menatap Cinta dengan lembut. "Biarkan saja mereka melihat. Aku tidak mau kamu kelelahan sebelum acara dimulai. Lagipula, bukannya kemarin kamu bilang merasa lebih aman kalau ada aku? Anggap saja ini bagian dari layanan pengamanan."
Cinta ingin membantah lagi, namun Rian sudah melangkah lebih dulu menuju area kumpul kelas XI MIPA 1 dengan langkah lebar dan percaya diri. Cinta terpaksa mengekor di belakangnya dengan tangan kosong, merasa sangat canggung namun sekaligus merasa dilindungi.
"Waduh, waduh! Lihat nih, ada kuli angkut baru di MIPA 1!" teriak Rio yang sedang duduk di atas pagar pembatas taman bersama beberapa anak laki-laki lainnya.
Sarah yang baru saja sampai langsung menghampiri Cinta dengan mata membelalak. "Cin! Kamu serius? Rian bawa semua tasmu? Gila, romantis banget kayak di drama Korea!"
Cinta menutupi wajahnya dengan telapak tangan. "Aku sudah melarangnya, Sar. Tapi dia keras kepala."
"Keras kepala demi cinta itu namanya gentleman, Cin!" goda Sarah sambil menyenggol bahu Cinta.
Rumor tentang kedekatan mereka memang sudah berhembus sejak kejadian di koridor dengan Clarissa, namun pemandangan pagi ini seolah menjadi konfirmasi bagi semua orang. Rian yang biasanya dingin, tidak tersentuh, dan menjaga jarak, kini rela direpotkan oleh barang bawaan seorang gadis.
"Rian, taruh di sini saja. Aku mau absen dulu ke Maya," ucap Cinta saat mereka sampai di titik kumpul kelas.
Rian meletakkan tas-tas itu dengan hati-hati di atas teras kelas. Ia mengusap keringat tipis di dahi dengan punggung tangannya. "Aku ke barisan cowok dulu ya. Kalau ada apa-apa, atau kalau ada yang mengganggumu terutama Rio panggil saja."
Cinta mengangguk kecil. "Iya, terima kasih ya."
Baru saja Rian berbalik, suara-suara bisikan dari kelompok siswi kelas lain terdengar cukup jelas.
"Eh, beneran ya Rian sama Cinta pacaran? Tadi lihat nggak, Rian bawain tasnya sampai segitunya?"
"Iya, padahal Rian kan cuek banget. Kayaknya fix sih mereka jadian."
"Beruntung banget ya si Cinta, bisa menaklukkan cowok tampan dan kaya raya."
Cinta hanya bisa menunduk dalam-dalam sambil pura-pura sibuk dengan daftar absensinya. Padahal, status mereka belum ada kata "pacaran" secara resmi. Rian baru menyatakan perasaannya, dan Cinta pun belum memberikan jawaban yang lugas, meskipun tindakannya sudah cukup menjelaskan segalanya.
...****************...
Upacara pembukaan Persami dimulai pukul delapan tepat. Matahari mulai terasa menyengat, namun semangat para siswa tetap tinggi. Cinta berdiri di barisan depan sebagai pengurus kelas, sementara Rian berada di barisan belakang karena tubuh jangkungnya.
Sesekali, Cinta melirik ke belakang. Tanpa disengaja, matanya selalu bertemu dengan mata Rian. Cowok itu tidak mengalihkan pandangan, justru memberikan kedipan mata singkat yang membuat konsentrasi Cinta buyar seketika.
"Fokus, Sekretaris. Nanti salah catat instruksi Kak Pembina lho," bisik Rio yang berdiri tak jauh dari Cinta.
"Diam kamu, Rio!" balas Cinta kesal, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum di sudut bibirnya.
Setelah upacara selesai, instruksi pertama adalah pendirian tenda. Area lapangan belakang SMA 1 Nusa Bangsa mendadak jadi lautan warna cokelat pramuka. Cinta dan Sarah sibuk dengan tenda regu perempuan, mencoba memasang pasak yang keras karena tanah yang kering.
"Aduh, susah banget sih ini pasaknya nggak mau masuk," keluh Sarah sambil memukul pasak dengan batu seadanya.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar mengambil alih batu tersebut. Rian sudah berjongkok di samping mereka. Tanpa banyak bicara, ia memukul pasak itu dengan satu hentakan kuat, dan langsung tertancap sempurna.
"Gunakan tenaga dari bahu, bukan cuma tangan," ucap Rian memberi instruksi singkat.
Ia kemudian beralih membantu mengikat tali temali tenda regu Cinta dengan simpul yang sangat rapi dan kuat. Beberapa siswi dari regu lain hanya bisa menatap iri.
"Wah, kalau punya asisten pribadi kayak Rian, tenda kita pasti paling kokoh nih," goda salah satu teman sekelas mereka.
Rian hanya diam, fokus menyelesaikan ikatan terakhir. Setelah selesai, ia berdiri dan menatap Cinta. "Tenda kalian sudah selesai. Jangan lupa simpan tasnya di dalam supaya tidak kena debu."
"Terima kasih, Rian," ucap Cinta tulus.
"Sama-sama. Aku balik ke tenda cowok dulu," pamitnya.
Begitu Rian pergi, Sarah langsung merangkul bahu Cinta. "Cin, jujur ya sama aku. Kalian sebenarnya sudah jadian, kan? Nggak mungkin Rian se-perhatian ini kalau cuma teman sebangku. Teman sebangku mah biasanya malah rebutan penghapus, bukan bawain tas dan pasangin tenda."
Cinta menghela napas, menatap tenda mereka yang kini berdiri tegak berkat bantuan Rian. "Belum, Sar. Dia memang sudah bilang... tapi aku belum jawab apa-apa."
"Tunggu apa lagi, Cinta? Cowok kayak Rian itu langka di Nusa Bangsa. Masa lalu dia memang berat, tapi lihat bagaimana dia memperlakukanmu sekarang. Dia benar-benar menempatkanmu di atas segalanya."
Cinta terdiam. Ia menatap ke arah tenda laki-laki di mana Rian sedang tertawa kecil karena kejahilan Rio.
Mungkin, Persami kali ini bukan hanya tentang berkemah dan api unggun. Bagi Cinta, ini adalah perjalanan untuk memantapkan hatinya. Rumor tentang mereka sudah pacaran mungkin memang hanya gosip untuk saat ini, tapi melihat bagaimana Rian memperlakukannya sepanjang pagi ini, Cinta merasa sebutan "pacaran" itu hanya tinggal menunggu waktu saja.
Kegiatan Persami baru saja dimulai, dan tantangan sebenarnya jurit malam dan api unggun yang masih menanti di depan. Namun, dengan keberadaan Rian yang selalu siaga menjaganya, Cinta merasa bahwa dinginnya malam di lapangan sekolah nanti tidak akan terasa begitu menusuk.