Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.
Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.
Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.
Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.
Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Velmire
William tiba di rumah sakit militer beberapa menit setelah meninggalkan markas. Kendaraan hitam militer yang membawanya berhenti tepat di depan bangunan utama sebelum ia langsung turun tanpa menunggu pintu dibukakan sepenuhnya. Langkahnya cepat menyusuri lorong rumah sakit yang terang dan dipenuhi aroma antiseptik tajam. Beberapa tenaga medis dan prajurit yang berjaga langsung memberi hormat saat melihatnya lewat, namun William sama sekali tidak memperlambat langkah.
Suasana rumah sakit malam itu jauh lebih tenang dibanding markas militer yang sedang kacau akibat penyusup dan kematian tawanan beberapa waktu lalu. Tidak ada suara bentakan ataupun langkah tergesa. Hanya bunyi alat medis dan suara roda ranjang pasien yang sesekali terdengar dari lorong lain.
Seorang dokter militer segera datang menghampiri begitu melihat William mendekat ke ruang perawatan khusus.
“Tuan Kolonel.”
William berhenti tepat di depan pintu ruangan.
“Bagaimana kondisinya?”
Dokter itu langsung membuka map laporan medis di tangannya sebelum menjawab.
“Prajurit Leren mengalami benturan cukup keras di bagian belakang kepala, beberapa luka memar di tubuh, dan kehilangan darah saat ditemukan di lokasi konvoi.” Tatapannya turun sebentar membaca laporan. “Untungnya tidak ada luka tusuk ataupun luka tembak fatal, jadi nyawanya masih berhasil diselamatkan.”
William tetap diam mendengarkan.
“Kesadarannya baru stabil beberapa waktu lalu,” lanjut dokter itu lagi. “Tubuhnya masih lemah dan efek benturan di kepala membuat kondisinya belum benar-benar pulih, tetapi ia sudah bisa diajak bicara.”
“Dia ingat kejadian sebelumnya?”
“Sebagian, Tuan. Tapi kami belum menanyakan terlalu jauh.”
William mengangguk singkat.
Dokter itu akhirnya membuka pintu ruang rawat dan mempersilakan William masuk lebih dulu.
Ruangan tersebut cukup tenang dengan pencahayaan redup dari lampu kecil di sisi tempat tidur. Prajurit Leren terlihat terbaring dengan wajah pucat dan beberapa perban yang masih membalut bagian kepala serta bahunya. Salah satu lengannya dipasang infus sementara napasnya terdengar pelan dan berat.
Begitu melihat William masuk, Leren langsung berusaha bangun, meski tubuhnya jelas belum kuat.
“T–Tuan Kolonel ....”
Dokter cepat menahan bahunya.
“Jangan dipaksakan.”
Namun Leren tetap berusaha duduk sedikit walaupun wajahnya langsung menegang menahan sakit.
William berdiri di dekat ranjang sambil memperhatikan kondisinya beberapa saat. Tatapannya turun ke perban di kepala prajurit itu lalu ke memar yang masih terlihat jelas di sisi leher dan rahangnya.
“Dia masih perlu istirahat,” ujar sang dokter, hati-hati. “Jadi jangan terlalu lama.”
“Aku mengerti.”
Dokter militer menutup map laporan medisnya lalu memberi hormat singkat.
“Saya akan menunggu di luar, Tuan.”
Tak lama kemudian dokter bersama dua tenaga medis lain keluar meninggalkan ruangan. Pintu tertutup perlahan, menyisakan suasana sunyi di dalam ruang rawat tersebut.
Kini hanya tersisa William dan Leren.
Suara alat monitor terdengar pelan di sisi ranjang sementara Leren duduk sedikit membungkuk dengan napas yang masih belum stabil sepenuhnya.
William tetap berdiri tegak di dekat tempat tidur. Wajahnya tenang seperti biasa, tetapi tatapannya jauh lebih tajam dibanding sebelumnya.
“Aku ingin mendengar semuanya.”
Leren langsung menunduk.
“Maaf, Tuan ....”
William tidak memotong.
“Saya gagal menjalankan tugas.”
“Kau bisa minta maaf nanti.” Suara William rendah dan datar. “Sekarang jawab pertanyaanku.”
Leren menelan ludah pelan sebelum akhirnya mulai berbicara.
“Awalnya semua berjalan dengan normal, Tuan.” Suaranya masih serak dan pelan. “Saya ditugaskan memeriksa bagian dalam kapal konvoi. Mesin dan area penyimpanan bawah.”
William tetap diam mendengarkan.
“Waktu itu tidak ada yang aneh.” Tatapan Leren turun ke selimut di atas pahanya. “Saya masih berada di bawah saat semuanya terjadi.”
Ia berhenti sebentar karena napasnya terasa berat.
“Saya tidak sadar kapal mulai bergerak.”
Tatapan William berubah tipis.
“Jelaskan.”
“Saya masih memeriksa bagian mesin waktu itu.” Rahang Leren mengeras pelan mengingat kejadian tersebut. “Tidak ada suara perintah ataupun panggilan apapun. Saya benar-benar pikir semuanya masih normal.”
Ruangan kembali sunyi beberapa detik.
“Ketika saya mencoba naik ke atas pada bagian lain kapal.” Tenggorokannya bergerak pelan. “Kapal sudah bergerak cukup jauh.”
Tatapan William tetap lurus padanya.
“Dan saya tidak melihat prajurit lain di kapal selain saya sendiri.”
Kalimat itu membuat suasana ruangan terasa lebih berat.
“Awalnya saya bingung.” Napas Leren mulai terdengar tidak stabil sekarang. “Karena posisi kapal kami sudah menjauh sementara di sisi lain saya masih bisa melihat konvoi satunya.”
Ia memejam mata sebentar sebelum melanjutkan lagi.
“Dan di area pelabuhan ....” Suaranya melemah sedikit. “Ada kerusuhan.”
William tetap diam.
“Saya melihat beberapa orang bertarung di dermaga.” Jemari Leren mencengkeram selimut pelan. “Situasinya kacau dan saya tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.”
Tatapan William masih belum berubah sedikit pun.
“Saya panik, Tuan.” Leren menelan ludah susah payah. “Karena kapal terus bergerak sementara konvoi satunya masih tertinggal.”
“Lalu?”
“Saya langsung bergerak menuju ruang nahkoda.” Napasnya terasa semakin berat. “Saya ingin memastikan kenapa kapal berjalan tanpa formasi penuh dan mencoba mengejar konvoi sebelah sebelum jaraknya terlalu jauh.”
Namun sebelum sampai ke ruang nahkoda, langkahnya langsung terhenti.
“Seseorang menyerang saya dari belakang.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
“Saya sempat melawan.” Rahang Leren mengeras pelan. “Tapi saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”
“Apa yang kau lihat?”
“Jubah hitam.”
Tatapan William berubah sedikit lebih tajam.
“Dan di pergelangan tangannya ....” Suara Leren melemah sedikit seperti sedang berusaha mengingat. “Ada tanda.”
“Tanda apa?”
“Tato kalajengking.”
Jawaban itu membuat sorot mata William berubah tipis untuk pertama kalinya sejak memasuki ruangan tersebut.
Ashveil.
Nama itu sudah lama berada dalam penyelidikan tertutup William, jauh sebelum insiden konvoi terjadi. Tidak banyak orang di markas yang mengetahui keberadaan kelompok tersebut karena seluruh penyelidikannya dilakukan diam-diam dan belum pernah diumumkan secara resmi. Ashveil bukan organisasi biasa. Nama mereka beberapa kali muncul dalam laporan perdagangan ilegal, penyelundupan jalur laut, hilangnya warga sipil di area pelabuhan, hingga beberapa transaksi mencurigakan yang selalu menghilang sebelum sempat disentuh pihak militer.
Namun masalah terbesar dari Ashveil bukan sekadar aktivitas mereka.
Kelompok itu hampir tidak pernah meninggalkan saksi hidup.
Beberapa kali William sempat mendekati jalur mereka, tetapi setiap bukti selalu hilang lebih dulu, orang-orang yang tertangkap mendadak mati, dan seluruh jejak seperti dibersihkan sebelum penyelidikan berkembang lebih jauh.
Dan sekarang simbol yang sama muncul tepat di jalur konvoi militer.
“Saya tidak sempat melihat lebih jelas lagi, Tuan,” lanjut Leren cepat seolah takut jawabannya tidak membantu. “Semuanya terjadi terlalu cepat.”
William masih tidak menjawab.
“Saya jatuh setelah dipukul.” Tatapan Leren mulai kosong mengingat ulang kejadian itu. “Dan sebelum kehilangan kesadaran ... saya sempat melihat konvoi sebelah.” Napasnya tertahan sebentar.
Rahang William langsung mengeras tipis.
“Kapal itu ditenggelamkan.” Suara Leren terdengar jauh lebih pelan sekarang.
“Saya melihat bagian bawah kapal seperti sengaja dihancurkan.” Tenggorokannya bergerak menahan rasa tidak nyaman. “Setelah itu kapal mulai miring.”
“Dan orang-orang mulai berteriak dari arah pelabuhan dan kapal.” Tatapannya turun perlahan. “Lalu saya tidak ingat apa-apa lagi.”
Tak ada suara lain, selain bunyi alat monitor di sisi ranjang. William berdiri diam cukup lama tanpa bicara.
Tatapannya tetap tertuju pada Leren, tetapi pikirannya jelas mulai menyusun sesuatu yang jauh lebih besar sekarang.
Kerusuhan di pelabuhan dipakai sebagai pengalihan. Konvoi dipisahkan saat Leren sendirian di dalam kapal.
Dan Ashveil muncul tepat di tengah jalur suplai militer mereka..
~oo0oo~
Ruangan administrasi kecil itu kembali dipenuhi suara lembaran kertas yang dibalik pelan. Adrian dan Kael masih berdiri di sisi meja sambil memperhatikan Aveline yang sejak tadi membaca daftar personel tanpa terburu-buru. Tatapannya bergerak pelan dari satu nama ke nama lain, mulai dari prajurit biasa, petugas gudang, hingga daftar perwira yang sedang tidak aktif bertugas beberapa hari terakhir.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Aveline menaruh kembali lembar terakhir ke atas meja.
“Berikan alamat mereka.”
Kael terlihat sedikit bingung.
“Alamat ... siapa, Nona?”
“Semua yang sedang tidak bertugas beberapa hari ini.”
Ruangan langsung hening beberapa saat. Adrian dan Kael saling melirik cepat seolah memastikan mereka tidak salah dengar.
“Maaf, Nona ....” Adrian berdeham pelan. “Maksud Anda alamat tempat tinggal?”
Aveline mengangkat tatapannya perlahan.
“Kalau aku meminta alamat kandang kuda, aku akan mengatakannya lebih jelas.”
Kael langsung salah tingkah dan refleks menggaruk belakang kepalanya pelan.
“I–iya juga, sih.”
Adrian mengembuskan napas pendek sebelum akhirnya membuka map lain di sisi meja. Jemarinya mulai membalik beberapa halaman sambil mencari data personel yang dimaksud. Sementara Kael ikut membantu menarik beberapa lembar tambahan dari tumpukan dokumen lain.
Suasana ruangan kembali dipenuhi suara kertas.
“Henric Loar ... distrik selatan Valdoria.” Kael membaca pelan sambil menulis ulang alamat di kertas kosong.
“Milo Vern ... Silvercrest bagian timur.”
“Edrik Hale sedang ditempatkan sementara di gudang suplai dekat Grimhaven.”
Adrian melanjutkan daftar berikutnya sebelum akhirnya berhenti sebentar di satu nama.
“Kapten Roland.” Tatapan Aveline bergerak tipis ke arah kertas itu.
“Dia tinggal di distrik militer bagian utara.” Adrian mulai menuliskan alamat lengkapnya. “Rumah dinas perwira.”
“Kalau Mayor Darius?” tanya Aveline tiba-tiba tanpa mengangkat pandangan dari daftar di tangannya. Adrian sempat berhenti menulis beberapa detik sebelum membuka lembar lain.
“Mayor Darius masih tercatat memiliki rumah dinas di Valdoria, Nona,” jawabnya hati-hati. “Tapi di formulir cutinya, beliau menulis tujuan sementara ke kawasan Eldervale untuk menemui adiknya.”
Kael ikut menambahkan pelan, “Ada alamat penginapan yang dicatat di laporan administrasi kalau sewaktu-waktu markas perlu menghubunginya.” Jemari Adrian kembali bergerak menuliskan alamat tersebut di bagian bawah kertas.
Tak lama kemudian seluruh alamat yang diminta akhirnya selesai ditulis.
Adrian menyerahkan lembar tersebut dengan raut wajah masih sedikit bingung.
“Maaf, Nona ... tapi sebenarnya Anda ingin melakukan apa?”
Aveline menerima kertas itu tanpa menjawab pertanyaan tersebut. Tatapannya hanya bergerak singkat membaca ulang beberapa alamat sebelum melipat kertas itu menjadi dua.
Lalu tanpa perubahan ekspresi sedikit pun, ia kembali bertanya.
“Kunci mobil?”
Kael refleks mengernyit.
“Mobil?”
“Aku tidak mungkin jalan kaki keliling Valdoria tengah malam.”
Adrian tampak ragu beberapa detik.
“Kalau Nona ingin pergi, kami bisa menyiapkan pengawal—”
“Aku hanya butuh mobil.”
Kael dan Adrian kembali saling memandang. Beberapa detik kemudian Kael akhirnya mengeluarkan kunci kendaraan dari laci meja sebelum menyerahkannya perlahan.
“Mobil markas yang di luar masih kosong.” Ia berusaha terdengar biasa. “Tapi ... jangan terlalu lama, Nona. Situasi sedang tidak aman.”
Adrian ikut menambahkan pelan, “Kalau ada masalah, segera kembali ke markas atau hubungi kami.”
Namun Aveline tidak memberi jawaban apapun. Ia langsung mengambil kunci tersebut begitu saja lalu berbalik menuju pintu.
Kael sempat membuka mulut lagi seperti ingin mengatakan sesuatu, tetapi langkah wanita itu sudah lebih dulu keluar dari ruangan tanpa berhenti sedikit pun.
Tak lama kemudian suara langkah sepatu haknya mulai menjauh dari koridor administrasi, disertai suara mesin kendaraan terdengar dari halaman markas militer.
Aveline duduk di balik kemudi mobil hitam milik markas dengan satu tangan memegang setir sementara tangan satunya lagi membuka lipatan kertas berisi alamat tadi. Lampu kota malam memantul samar di kaca depan saat kendaraan itu melaju keluar gerbang markas tanpa ragu sedikit pun.
Cara wanita itu mengendalikan mobil sama sekali tidak terlihat kaku.
Tangannya stabil.
Pergerakan setirnya tenang.
Bahkan saat kendaraan berbelok melewati jalan utama Silvercrest yang mulai sepi malam itu, kecepatannya tetap terkontrol tanpa gerakan mendadak sedikit pun.
Tatapan Aveline sesekali turun ke kertas di tangannya sebelum kembali fokus ke jalanan.
Di antara daftar nama itu ... ada sesuatu yang terasa tidak beres.
Bukan karena bukti ataupun logika yang jelas. Melainkan perasaan mengganggu yang muncul sejak ia mendengar suara pria bertopeng saat ia berada di club malam itu.
Sesuatu dalam nada bicara pria itu terasa familiar dan Aveline sangat membenci perasaan semacam itu. Karena insting seperti itu hampir tidak pernah salah.
Mobil hitam tersebut akhirnya memasuki kawasan Eisenhall beberapa waktu kemudian. Gerbang besar rumah William perlahan terbuka setelah penjaga mengenali kendaraan markas yang datang dari kejauhan. Pada akhirnya Aveline memilih untuk pulang terlebih dahulu.
Ralf yang sejak tadi berjaga di dekat pintu utama awalnya berjalan turun dengan tenang seperti biasa. Namun langkah pria itu langsung berhenti sesaat ketika pintu mobil terbuka dan yang keluar justru Aveline.
Mata Ralf sempat bergerak singkat ke arah kendaraan tersebut.
Lalu kembali ke Aveline.
Ekspresinya tidak berubah banyak, tetapi jelas ada keterkejutan kecil yang berhasil ia tekan mentah-mentah.
Karena setahunya, Aveline lama bukan tipe wanita yang bahkan mendekati kursi pengemudi.
Apalagi mengendalikan kendaraan markas sendirian malam-malam seperti ini.
Namun seluruh pikirannya itu langsung ia telan kembali tanpa berani menunjukkannya keluar.
“Nona.”
Aveline hanya melewatinya begitu saja sambil membawa kertas di tangannya.
Langkahnya tenang memasuki mansion yang mulai sunyi malam itu sebelum akhirnya naik menuju lantai atas. Lampu-lampu lorong masih menyala redup sementara udara malam masuk pelan dari beberapa jendela besar yang terbuka sebagian.
Tak lama kemudian, Aveline segera masuk ke kamar. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Aveline langsung meletakkan kertas berisi daftar alamat tadi di atas meja dekat sofa sebelum kembali membukanya perlahan. Tatapannya turun membaca ulang nama demi nama yang tertulis di sana.
Henric, Milo, Edrik, Roland dan Darius.
Sunyi memenuhi ruangan beberapa saat. Namun tatapannya akhirnya berhenti pada sesuatu yang lain di atas meja.
Permen ceri.
Bungkus kecil berwarna putih yang tadi ditinggalkan Liora sebelum pergi. Salah satu alis Aveline terangkat tipis.
Beberapa detik kemudian jemarinya mengambil permen tersebut lalu membuka bungkusnya perlahan. Suara kertas tipis langsung terdengar kecil di dalam kamar yang sunyi.
Aveline memasukkan permen itu ke mulutnya tanpa banyak ekspresi. Rasa manis langsung terasa lebih dulu di ujung lidah.
Lalu tidak lama kemudian muncul rasa asam khas ceri yang pelan-pelan menyebar bersama sensasi dingin mint yang tipis di tenggorokan. Rasanya cukup familiar untuk ukuran permen sederhana, tetapi justru itu yang membuat Aveline diam beberapa saat sambil mengisapnya pelan.
Ia akhirnya duduk di sofa dekat jendela yang terbuka lebar.
Angin malam masuk perlahan menggerakkan tirai tipis di sisi ruangan sementara lampu kota Silvercrest terlihat samar dari kejauhan.
Namun belum lama ia duduk ....
Tok, tok.
Pintu kamar terbuka pelan.
Liora masuk sambil membawa nampan kecil berisi beberapa camilan ringan dan secangkir teh hangat yang masih mengeluarkan uap tipis.
“Nona belum tidur?” tanyanya pelan begitu masuk.
Aveline tetap duduk santai di sofa sambil memegang lembar alamat tadi.
“Belum.”
Liora berjalan mendekat lalu menaruh nampan tersebut di meja kecil dekat sofa.
“Saya pikir Nona mungkin lapar.” Suaranya terdengar hati-hati seperti biasa. “Jadi saya membawa sedikit makanan.”
Liora sempat diam beberapa saat sambil memperhatikan Aveline yang masih duduk santai di sofa dekat jendela. Wanita itu tidak banyak bergerak sejak tadi. Tatapannya terus turun pada lembar alamat di tangannya sementara permen ceri di mulutnya perlahan mulai kehilangan rasa dinginnya.
Suasana kamar terasa sedikit canggung.
Pada akhirnya Liora memilih berjalan mendekat lalu menaruh camilan dan teh hangat di atas meja kecil tanpa banyak bicara.
“Nona harus makan sedikit,” ucapnya pelan. “Dari tadi anda belum makan sejak keluar rumah.”
Aveline tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertahan pada salah satu nama di kertas itu sebelum akhirnya ia menyadari Liora terus berdiri diam di sana.
Ia mengangkat pandangan pelan.
“Liora.”
“Ya, Nona?”
“Wilayah yang berawalan huruf V selain Valdoria itu apa?”
Liora tampak sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak tersebut. Ia terdiam sambil berpikir beberapa detik, keningnya berkerut kecil berusaha mengingat.
“Hm ...,” gumamnya pelan. “Selain Valdoria ...?”
Aveline tetap menatapnya tenang.
Beberapa saat kemudian mata Liora perlahan melebar kecil seperti baru teringat sesuatu.
“Kalau tidak salah ... ada satu tempat lagi.”
Liora langsung melanjutkan ucapannya, “Velmire, Nona.”
Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi dibanding sebelumnya. Jemari Aveline perlahan berhenti bergerak di atas kertas alamat itu.
Tatapannya berubah tipis.
“Velmire ...?”
.
.
.
Bersambung