NovelToon NovelToon
Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Kontrak Sandiwara Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: Ruang_Magenta

Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."

​Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.

​Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.

​Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gema di Balik Sunyi

Pagi di Bogor selalu punya cara untuk membuat segalanya terasa lebih lambat. Kabun teh yang membentang di belakang rumah aman ini masih tertutup embun tebal saat aku terbangun. Aku melirik jam di dinding—pukul enam pagi. Di samping tempat tidur, ada sebuah meja kayu kecil tempat aku meletakkan tablet dan catatan-catatan novelku.

Aku beranjak dari kasur, mencoba tidak membangunkan Bimo yang tidur di kamar sebelah. Setelah kejadian di kantor polisi kemarin, dia bersikeras untuk tetap tinggal di rumah aman ini bersamaku dan Ayah. Katanya, dia ingin memastikan tidak ada "kejutan" lagi dari sisa-sisa pengikut kakeknya. Tapi aku tahu alasan sebenarnya: dia hanya ingin menikmati ketenangan sebelum badai birokrasi dan hukum benar-benar menyita seluruh waktunya.

Aku berjalan ke dapur, berniat membuat kopi. Namun, di sana aku sudah mendapati Ayah sedang duduk di meja makan, menatap jendela yang mengarah ke lembah. Di depannya ada dua cangkir teh yang masih mengepul.

"Ayah belum tidur?" tanyaku sambil menarik kursi di hadapannya.

Ayah menoleh dan tersenyum. "Orang tua sepertiku tidak butuh banyak tidur, Nara. Apalagi setelah dua puluh tahun terbiasa tidur dengan satu mata terbuka karena takut tertangkap."

Aku memegang tangan Ayah yang keriput. "Sekarang Ayah aman. Bimo sudah memastikan semuanya."

"Ayah tahu," sahut Ayah pelan. "Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hati Ayah, Nara. Semalam, sebelum kalian pulang, Panji sempat menelepon rumah ini. Dia tidak tahu kalau Ayah yang angkat."

Jantungku berdegup sedikit lebih kencang. "Panji bilang apa?"

"Dia bicara soal ibunya Bimo, Ratih. Katanya, hasil pemeriksaan medisnya sudah keluar. Dia tidak hanya mengalami trauma psikologis, Nara. Ada indikasi bahwa selama di luar negeri, dia mengonsumsi obat-obatan yang merusak sarafnya. Dia mungkin tidak akan pernah bisa diadili secara normal."

Aku terdiam. Ratih Wijaya. Wanita yang menjebak ayahku, yang mencoba membunuh kami di vila itu, ternyata adalah korban dari ambisinya sendiri dan tekanan keluarga Wijaya. Ada rasa kasihan yang aneh merayap di hatiku, meski aku tahu itu tidak masuk akal setelah apa yang dia lakukan.

"Bimo sudah tahu?" tanyaku.

Ayah menggeleng. "Ayah belum memberitahunya. Ayah rasa, biar dia yang mencari tahu sendiri dari Panji. Bimo sudah terlalu banyak memikul beban kita."

Tiba-tiba, pintu dapur terbuka. Bimo muncul dengan kaos oblong hitam dan rambut yang masih berantakan. Dia tampak jauh lebih manusiawi pagi ini, bukan lagi CEO yang memakai baju zirah setelan jas mahal.

"Pagi, Ayah. Pagi, Nara," sapanya dengan suara serak khas bangun tidur. Dia langsung menuju dispenser, menenggak segelas air putih seolah-olah dia baru saja berlari maraton.

"Pagi, Bim," jawabku. "Kamu kelihatan nyenyak banget tidurnya."

"Kasur di sini jauh lebih nyaman daripada kasur di apartemenku, meski harganya mungkin cuma sepersepuluhnya," canda Bimo sambil duduk di sampingku. Dia melirik cangkir teh kami. "Ada pembicaraan serius pagi-pagi begini?"

Ayah dan aku saling pandang. "Cuma soal masa depan, Bim," sahut Ayah cepat, mencoba menutupi berita soal Ratih. "Nara bilang dia mau mulai mengelola yayasan itu."

Bimo mengangguk puas. "Itu bagus. Panji sudah menyiapkan tim hukum untuk membantumu. Tapi jangan dipaksakan kalau kamu merasa belum siap. Kamu masih punya kontrak novel yang harus diselesaikan, kan?"

Aku tertawa. "Kontrak itu... rasanya seperti dari kehidupan yang lain. Tapi kamu benar, aku harus menyelesaikannya. Editor sudah mulai menerorku lewat email."

Siang harinya, Bimo mengajakku turun ke kota untuk urusan mendesak. Katanya, ada beberapa dokumen yayasan yang harus kutandatangani di depan notaris. Tapi begitu kami sampai di depan sebuah gedung tua yang sudah direnovasi menjadi kantor modern di pusat kota, aku menyadari ini bukan sekadar kantor notaris.

"Ini apa, Bim?" tanyaku saat melihat papan nama di depan gedung: Lentera Nara Foundation.

Bimo tersenyum sambil membukakan pintu mobil untukku. "Ini markas utamamu. Aku sudah membeli gedung ini atas namamu. Di sini nanti akan menjadi pusat koordinasi bantuan untuk panti-panti asuhan yang kita bicarakan."

Aku melangkah masuk dengan perasaan campur aduk. Ruangannya luas, minimalis, dan sangat hangat. Di dinding lobi, ada sebuah kutipan yang sangat aku kenali. Itu adalah kalimat pembuka dari novel pertamaku: 'Setiap anak berhak menulis ceritanya sendiri, tanpa harus meminjam pena dari nasib yang buruk.'

"Kamu ingat kalimat ini?" suaraku bergetar.

"Itu kalimat yang membuatku tertarik untuk membacamu lebih jauh, Nara. Jauh sebelum aku tahu siapa kamu sebenarnya," jawab Bimo tulus.

Kami naik ke lantai atas, di sana sudah ada Panji yang menunggu dengan setumpuk berkas. Wajah Panji tampak kuyu, kantong matanya makin hitam, tapi dia tetap terlihat profesional.

"Selamat siang, Bu Direktur," sapa Panji dengan nada menggoda.

"Hentikan, Panji. Panggil Nara saja," balasku sambil tertawa.

Kami menghabiskan tiga jam berikutnya membahas struktur yayasan. Bimo benar-benar serius. Dia tidak hanya memberikan uang, tapi juga sistem. Dia ingin memastikan bahwa dana perwalian itu benar-benar tersalurkan dan tidak bisa disalahgunakan oleh siapa pun di masa depan—termasuk oleh keluarga Wijaya sekalipun.

Setelah urusan selesai, Panji memberikan kode pada Bimo bahwa dia ingin bicara berdua. Aku mengerti, mungkin ini soal ibunya. Aku pamit untuk melihat-lihat teras gedung yang menghadap ke arah pegunungan.

Dari teras, aku bisa melihat kesibukan kota. Mobil-mobil kecil seperti semut, orang-orang berlarian mengejar waktu. Aku meraba cincin di jariku. Seminggu lalu, aku adalah orang yang juga berlarian mengejar waktu dan tagihan, tidak tahu bahwa aku sedang menuju sebuah konspirasi besar.

Sepuluh menit kemudian, Bimo menyusulku ke teras. Wajahnya tampak sedikit mendung. Dia berdiri di sampingku, menyandarkan lengannya ke pagar pembatas.

"Panji sudah kasih tahu soal Ibu?" tanyaku tanpa menoleh.

Bimo menghela napas panjang. "Iya. Dia nggak akan bisa diadili. Tim medis bilang kondisi mentalnya sudah sangat tidak stabil. Dia akan dipindahkan ke fasilitas rehabilitasi tertutup di Swiss."

"Kamu sedih?"

Bimo diam sejenak. "Aku sedih karena aku menyadari bahwa aku tidak pernah benar-benar mengenalnya. Ibuku yang aku ingat adalah wanita lembut yang membacakan buku cerita sebelum tidur. Ternyata, itu hanya topeng yang perlahan hancur karena keserakahan. Aku sedih melihat seseorang yang seharusnya kucintai menjadi begitu asing."

Aku menggenggam tangannya. "Mungkin itu cara Tuhan menjauhkanmu dari kegelapan yang sama, Bim. Kamu melihat kehancurannya agar kamu tahu jalan mana yang tidak boleh kamu tempuh."

Bimo menatapku, matanya kembali jernih. "Kamu benar. Dan kamu adalah kompasnya, Nara. Tanpa kamu, mungkin aku sudah terjebak dalam rencana balas dendam yang lebih gelap kepada Kakek."

Malam harinya, kami kembali ke Bogor. Ayah sudah menyiapkan makan malam sederhana—nasi goreng buatannya yang sangat enak. Kami makan dalam suasana yang jauh lebih santai. Tidak ada pembicaraan soal saham, polisi, atau yayasan. Kami hanya bicara soal hobi Ayah berkebun dan impianku untuk membawa Ayah jalan-jalan ke luar negeri.

Setelah makan malam, aku duduk di ruang tengah, membuka tabletku. Aku merasa terinspirasi untuk menulis bab terakhir novelku. Judul babnya: Pulang.

Aku mulai mengetik.

Pulang bukan selalu tentang kembali ke rumah yang lama. Kadang, pulang adalah tentang menemukan tempat di mana kamu tidak perlu lagi memakai topeng. Di mana luka-lukamu tidak dianggap sebagai aib, melainkan sebagai peta perjalanan yang berharga. Aku menemukan rumahku di antara tumpukan dokumen yang dulu kutakuti, di antara rahasia pria yang dulu kucurigai, dan di pelukan ayah yang dulu kukira telah hilang.

Bimo masuk ke ruangan, membawa dua gelas cokelat hangat. Dia duduk di sampingku, melirik layar tabletku.

"Sudah mau selesai?" tanyanya.

"Hampir. Tinggal satu paragraf terakhir," kataku sambil tersenyum.

"Apa kalimat terakhirnya?"

Aku menatap Bimo, lalu kembali ke layar. Aku mengetik:

Dan pada akhirnya, cerita yang paling indah bukanlah tentang bagaimana kita memenangkan peperangan besar, tapi tentang bagaimana kita memilih untuk tetap lembut di dunia yang begitu keras.

Bimo membacanya dan mencium pelipisku. "Itu indah, Nara. Sangat indah."

Kami duduk di sana dalam diam, menyesap cokelat hangat sambil mendengarkan suara jangkrik dari kejauhan. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa kata 'selesai' di akhir novelku bukan berarti segalanya berakhir. Itu hanya berarti satu volume hidupku telah ditutup, dan volume baru yang lebih cerah sedang menungguku untuk ditulis.

Keesokan harinya, kami akan kembali ke Jakarta. Menghadapi konferensi pers, menghadapi publik yang haus akan skandal, dan menghadapi kenyataan sebagai pemimpin yayasan baru. Tapi aku tidak takut lagi. Karena sekarang aku tahu, selama aku memegang pena hidupku sendiri, tidak ada orang lain yang bisa mendiktekan akhir ceritaku.

Duniaku kini seluas langit di atas Bogor, dan aku sudah siap untuk terbang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!