Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"pelayan, kenapa kau diam saja?" Apa kau tidak mendengar ku?" Lagi-lagi sang kakek menuntut jawaban dari kepala pelayan.
"Tidak ada tuan boss," jawab kepala pelayan dengan wajah khawatir.
"Anak itu, kemana dia pergi," batin sang kakek mulai kembali khawatir
Sementara itu di sisi lain.
"Dokter Siho, terima kasih banyak, berkat anda operasi nya berjalan lancar," kata seorang laki-laki yang seperti nya kelaurga dari pasien yang barusan di tangani Siho.
"Sudah tugas ku," jawab Siho sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu saya permisi ke administrasi dokter," ungkap orang tersebut yang kemudian meningalkan Siho.
Siho menganggukkan kepalanya dan kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan pribadi nya.
Ia melepaskan pakaian dokter nya dan duduk di kursi dengan membuang nafas panjang.
"Huhhh, rasanya benar-benar lelah, menjadi seorang dokter membuat ku haru selalu profesional dan tidak bisa menghindari pekerjaan di malam hari, aku sangat lelah," kata Siho sambil memijit kedua alisnya.
Wajah Siho terlihat sangat kelelahan karena malam pun ia harus bekerja karena ada pasien yang membutuhkan dirinya.
"Zavier, kemana perginya dia? Mengapa dia selalu menambahkan beban pikiran ku?" batin Siho.
Hal yang membuat Siho kebingungan dan makin pusing saat ini sebenarnya bukan hanya pekerjaan nya, namun tidak tau nya di mana Zavier sepupu nya itu sekarang.
Ia menghubungi Glen namun tidak ada jawaban dari Glen.
Ia bahkan sudah mendatangi perusahaan Atharyan grup, namun tidak ada Zavier di sana.
Flashback on.
"Tuan muda Siho, ada yang bisa saya bantu?" kata scurity perusahaan yang berjaga-jaga di depan gerbang masuk perusahaan.
"Ya, di mana Zavier, aku ingin bertemu dengan nya," ucap Siho sambil menatap jam yang melingkar di tangan nya.
Jam menujukkan pukul sembilan pagi.
"Anu tuan muda Siho, tapi tuan muda Zavier tidak ada di perusahaan," kata sang secirity dengan jujur.
"Apa? Kemana dia? Kalau begitu Glen saja, aku ingin bertemu dengan nya," ujar Siho menganti nya dengan Glen.
"Maaf tuan muda, pak Glen juga tidak ada di sini, baru saja keluar, tapi saya tidak tau kemana," jawab secirity tersebut dengan wajah khawatir.
"Astaga Zavier, apa yang dia lakukan, meningalkan perusahaan seenaknya dan tidak kembali ke mansion, Glen juga sama saja, boss dan asisten tidak ada bedanya," omel Siho yang kesal.
Ia pun memilih untuk masuk kembali ke dalam mobil nya dan meningalkan perusahaan tanpa bicara lagi dengan secirity tersebut, ia memutuskan untuk kembali ke rumah sakit nya.
"Ada apa dengan mereka semua ya?" ucap sang secirity sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Flashback off.
Keesokan harinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Terdengar ketukan di luar pintu kamar Sofia, saat itu Sofia sedang mempersiapkan dirinya untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Zavier.
"Ya Tuhan apakah aku benar-benar yakin untuk melakukan hal ini? Apakah aku bisa? Usia ku baru dua puluh tahun, dan laki-laki yang aku tidak terlalu kenal latar belakang keluarga nya itu, dia sudah dua puluh tujuh tahun, muka nya tampan namun dia terlihat mengerikan," batin Sofia yang kini berdiri di depan cermin sambil menahan kegelisahan hatinya.
Tok ... Tok ... Tok ...
Sekali lagi pintu kamar nya terdengar ada yang mengetuk.
"Nona muda, apa anda ada di dalam!?" terdengar suara Glen dari luar kamar.
Hal ini pun membuat lamunan Sofia Buyar, dia segera melangkahkan kakinya menuju pintu kamar dan kemudian membuka nya.
"Maaf, aku tidak mendengar mu," jawab Sofia sambil mendudukkan kepalanya di hadapan Glen.
"Ah tidak masalah," jawab Glen sambil membetulkan letak kacamatanya nya.
"Ini untuk mu nona, pakai lah, sebenar lagi kita akan berangkat ke kantor catatan sipil," kata Glen sambil menyerahkan sesuatu kepada Sofia.
Itu sebuah paper bag, ada beberapa paper bag yang isinya belum di ketahui oleh Sofia.
"Apa ini?" tanya Sofia.
"Ambil saja nona," kata Glen sambil tersenyum.
"Ah, i-iya," ujar Sofia mengambil benda tersebut dan tersenyum kepada Glen.
"Kalau begitu aku permisi dulu," ujar Glen yang kemudian berlalu pergi dari hadapan Sofia.
"Kenapa dengan nya? Dia tidak seperti biasanya, dia tidak menatap ku seperti biasanya," batin Sofia sambil mengengam erat paper bag tersebut.
Sejak pertama kali bertemu dengan Glen, Sofia merasa sangat dekat dengan nya, kelembutan Glen membuat Sofia sangat tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.
Glen yang menurut Sofia adalah penyelamat nya itu terlihat sangat lembut saat ia membujuk Sofia di hotel, di mana saat itu Sofia sedang trauma.
Namun ternyata bukan Glen orang yang menyelamatkan nya, malah Zavier si laki-laki dingin, pemaksa,kejam, dan juga banyak maunya.
Ya begitulah penilaian Sofia terhadap Zavier yang menurutnya sangat sok berkuasa.
Sofia pun kembali masuk ke dalam kamar nya setelah menerima paper bag dari Glen.
Ia kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk menguyur seluruh tubuhnya dengan air shower.
Sepanjang mandi Sofia terus memikirkan keputusan nya yang ia ambil secara cepat ini, ia memilih untuk menikah dengan Zavier, seorang laki-laki yang tidak cukup dia kenali, ini semua karena ulah kelaurga tiri nya dan juga calon suaminya, Samuel yang berkhianat.
Dendam itu terus menggelora di pikiran dan hati seorang Sofia. Sehingga membuat nya menyetujui pernikahan kontrak dengan Zavier.
Tiga puluh menit kemudian.
Sofia kini sudah selesai mandi, dia mengambil paper bag yang tadi di berikan oleh Glen, ia kemudian membuka nya satu persatu, di sana ada sepasang high heels, dress dan juga sebuah ponsel.
Ponsel Sofia rusak karena ia sudah lama tidak pernah mengantikan nya, ia pun tak menyangka kalau Glen akan memberikan ponsel untuk nya.
"Dia sangat baik," batin Sofia yang menyangka itu pemberian Glen.
Tidak butuh waktu lama, Sofia pun akhirnya selesai bersiap-siap, ia memakai dress tersebut dan juga high heels itu.
Sementara untuk ponsel, dia memutuskan untuk menyimpan nya terlebih dahulu sampai nanti ia membutuhkan nya.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Sekali lagi pintu kamar Sofia di di ketuk oleh seseorang.
Sofia yang sudah selesai pun segera berjalan menghampiri pintu kamar, ia meraih gagang pintu dan menarik nya, ketika pintu terbuka, kedua pasang mata langsung beradu pandang.
Segera saja Sofia mendudukkan kepalanya.
Sementara Zavier menatap Sofia dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Seperti nya di sudah cocok, sudah cukup pas untuk menjadi istri kontrak ku, biarpun sekarang dia bukan apa-apa,tapi aura nona muda nya tidak pernah hilang, dia terlihat sangat pas dan aku yakin kakek tidak akan curiga dan tidak akan menolak nya," batin Zavier.
Sementara itu Sofia merasa sedikit gugup, sudah lama dirinya tidak memakai pakaian sebagus dan secantik ini karena semua hal-hal berharga dan mahal yang dia miliki selama ini selalu di ambil Tara.
Bersambung ....