*Sinopsis Singkat:*
Kafe Senja terkenal di Jogja karena satu hal aneh: setiap minggu, di meja nomor 7 selalu ada surat tanpa pengirim. Isinya selalu puisi, cerita pendek, atau nasihat yang seolah ditulis khusus untuk orang yang membacanya minggu itu.
Alya, barista baru di kafe itu, iseng buka salah satu surat yang ketinggalan. Sejak saat itu, hidupnya mulai berubah. Surat-surat itu seperti tahu masa lalunya, ketakutannya, bahkan orang yang diam-diam ia sukai.
Masalahnya… siapa yang menulisnya?
Dan kenapa surat terakhir yang datang, menyebut namanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19; Akad di Halaman Cafe
Persiapan nikah mereka cuma 3 minggu.
Nggak ada gedung mewah, nggak ada EO, nggak ada undangan digital 10 halaman.
Alya dan Revan sepakat: yang penting orang-orang yang sayang mereka ada di sana.
Lokasi akad dipilih di halaman belakang kafe Senja #1.
Tempat yang dulu jadi area merokok karyawan, sekarang disulap jadi pelaminan kecil.
Lampu tumblr digantung di pohon mangga. Meja kayu panjang jadi tempat duduk tamu.
Bunga kertas warna sage green dan krem dibuat Alya sendiri tiap malam selama 2 minggu.
“Ribet banget sih kamu,”
omel Revan waktu lihat Alya ketiduran di meja dengan lem dan gunting masih nempel di tangan.
Alya cuma ngangkat kepala, ngantuk.
“Supaya pas nikah, tamu kita nggak bilang ‘kreatif tapi murah’.”
Revan ketawa, selimutin bahu Alya pake jaketnya.
“Buat gue, kamu kreatif aja udah cukup. Murah mah bonus.”
Hari H tiba.
Jogja cerah. Aneh, biasanya kalau ada acara penting malah hujan.
Kali ini langit dukung.
Alya pakai kebaya sage green sederhana, kain batik cokelat, rambut disanggul rendah.
Nggak ada makeup tebal. Cuma lipstik merah muda dan maskara tipis.
Revan pakai beskap cokelat muda, sarung batik, dan senyum yang nggak bisa disembunyiin.
Akad dimulai jam 10 pagi.
Penghulunya teman lama Mas Bayu. Sederhana, khidmat, nggak panjang lebar.
Pas ijab kabul diucap, tangan Revan gemetar.
Alya yang biasanya tenang, malah jadi yang paling tenang. Dia genggam tangan Revan erat.
“Sah,”
kata penghulu.
Revan langsung peluk Alya erat.
Nggak peduli ada 40 orang nonton.
Dia kecup kening Alya pelan, bisik:
“Akhirnya, Nyonya Maharani.”
Alya ketawa kecil, matanya berkaca-kaca.
“Nggak malu? Banyak orang.”
Revan nggak peduli.
“Malu sama siapa? Mereka semua udah tahu gue gila sama kamu.”
Tepuk tangan pecah.
Mas Bayu di pojok usap mata pake tisu.
“Anak-anak sekarang… nikah aja pake perasaan. Untung rasanya enak.”
---
Resepsi kecil dimulai jam 11 siang.
Makanannya catering langganan kafe: nasi liwet, ayam suwir, es teh manis.
Nggak ada band. Cuma playlist Spotify yang Alya buat sendiri: judulnya _“Lagu Buat Tinggal”_.
Tamu yang datang sebagian besar pelanggan setia meja 7.
Ada mahasiswa yang dulu curhat skripsi di sini, ada ibu-ibu arisan yang suka nongkrong sore, ada bapak ojek online yang selalu pesen kopi hitam tanpa gula.
Mereka semua bawa kado sederhana. Buku, mug, vas bunga, dan satu amplop cokelat bertuliskan _“Buat Senja #3 nanti ya”_.
Alya dan Revan keliling meja, foto, ngobrol.
Kadang Alya berhenti sebentar buat peluk pelanggan yang nangis karena terharu.
Revan di belakangnya, bawain piring, ambilin minum, ngelapin keringat Alya pake tisu.
Pas potong kue, Alya sengaja olesin krim ke hidung Revan.
Revan balas cubit pipi Alya pelan.
“Curang,” bisiknya.
Alya cuma nyengir.
“Namanya juga istri. Boleh curang dikit.”
Mereka saling suapin kue.
Alya nggak bisa nelen karena ketawa.
Revan akhirnya suapin lagi, kali ini lebih pelan, lebih hati-hati.
“Pelan-pelan, Nyonya. Nanti keselek, gue yang repot.”
Di pojok, Mas Bayu ngerekam pakai HP jadulnya.
“Buat dikirim ke Dara di surga,” katanya pelan.
“Nanti Dara lihat, adiknya akhirnya punya rumah.”
---
Malamnya, setelah tamu pulang, kafe ditutup total.
Alya dan Revan duduk di meja 7. Capek, tapi bahagia.
Cincin mereka masih mengkilat kena cahaya lampu.
“Gimana rasanya jadi suami gue?” tanya Alya sambil nyandar ke bahu Revan.
Revan pikir sebentar.
“Rasanya… lega. Kayak akhirnya gue nggak perlu takut kehilangan kamu lagi.”
Alya ketawa pelan.
“Terus rasanya jadi istri gue?”
Revan balas nyandar.
“Rasanya pengen pulang cepet. Biar bisa manjain kamu.”
Alya cubit pelan pinggangnya.
“Manja banget sih suami gue.”
Revan nyengir.
“Kan kamu yang minta. Katanya mau suami yang nggak kabur.”
Mereka diem sebentar.
Revan ambil tangan Alya, kecup punggung tangannya lagi.
Kali ini beda. Ada cincin di sana. Ada janji di sana.
“Al,” bisiknya.
“Hari ini cuma awal. Hari-hari setelah ini yang bakal gue bikin nggak nyesel kamu pilih gue.”
Alya ngangguk.
“Gue juga janji. Nggak bakal bikin kamu nyesel milih tinggal.”
Mereka nggak ciuman panjang malam itu.
Cuma kecupan singkat di bibir.
Cukup.
Karena besok, mereka punya waktu seumur hidup buat itu.
---
*[Bersambung: ]*
---